Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 007


__ADS_3

Stasiun tampak rata dengan tanah dibelit akar hidup setebal betis. Jalarnya bergerakan mirip ular dan tentakel cumi.


Zreelt.. Wrrlleett..!


Akar tersebut pun tak menyisakan keutuhan properti yang ada di lokasi, lebih kuat dari rel dan hanya terkelupas, gerbong dan lokomotif dibuatnya ringsek hingga tak berfungsi, tinggal boogie alias ban kereta yang masih "selamat".


Tampak di jalurnya, si ulat besi hancur. Tiga gerbong sudah diposisi terguling senasib dengan lokomotif. Tapi dari sepuluh gerbong tersebut, rangkaiannya "terputus", gerbong nomer 7 hilang. Tiga gerbong terakhir menjungkir.


Beberapa "ranting" besar bergelimpangan, rata-rata potongan akar berujung lancip. Patahan tersebut ada di sekitar puing runtuhan. Namun lebih banyak di luar stasiun, letak rangakaian terguling.


Marcel berada di tengah situ, memegangi pedangnya. Tak jauh di depannya sosok manusia pohon mondar-mandir, mirip Groot di Marvel Universe, permukaan keras alias kulit tubuh si pemuda hanya ditumbuhi tunas dan ranting kecil.


"... bisa saja. Heuh! Dia (Luna) takkan pernah mau menelanku cuma karena data Server. Emang kenapa kalo dua puluh dua? Heu..?"


"Itu nyawa orang, profile yang harusnya tetap ada di sana, tanpa ghibah kalean. Dah lah, Toge. Lo mendingan nyerah. Gak usah nambah korban lagi. Hariwang nyaho. Aing pake diteang-teang sagala. Pas dah ketemu diajak gelud."


- Pusing tau. Aku kok dicari-cari segala


"Aku sudah tau bagaimana pegang benda itu secara anywhere Mercy Belegug. So, may be show?"


Grrteekh!


Sebatang tangan muncul di punggung Toge. Tangan tersebut memiliki jempol yang statusnya ditinta hitam. Lalu ditarik kembali, masuk ke dalam tubuh penyimpannya.


"Kau bersedia membunuh wanita (Reinita) itu? Aku yang akan lakukan jika elo menolak mentah, Mercy. Hheu..!"


Set!


Toge menggerakkan tangannya. Tanah pun tersembur mengeluarkan lima akar lentur nan runcing lagi mengepung Marcel.


Teng! Tang..! Ting-ting!


Tang..!


Brugh..! Bragh! Brugh! Brigh!


Empat tentakel ambruk ke tanah setelah memercikkan cairan. Begitu cepat terpotong, hingga semuanya jatuh usai lima bunyi barusan. Tapi suara jatuh tersebut hanya ada empat sound.


Zreelt!!


Lima akar yang diputus tersebut kembali masuk ke dalam tanah secara bersamaan pula.


"B*jingan.. Sembunyi lagi."


Toge melihat arah kirinya, kemudian tengok kanan sambil menggerutu.


"Gimana nangkepnya kalo gini? Pecundang kakap. Dasar jal*ng. Kau gak begitu horor. Keluar kau, Bodoh! Bukankah kau mencariku?! Hah!"


Swuing!!


Bruaakh!!


Manusia Pohon berhasil mundur saat "batu" runcing melesat turun ke arahnya, diserang dari atas.


"Hahaah!" gelak Toge dengan senangnya. "Belegug sia! Nembak ge teu beunang-beunang! Hahahh!"


- Bodoh kau! Menembak pun tak pernah kena


Marcel mengambang di ketinggian tiga tinggi badannya. Tatapannya dingin pada lawan yang berada di bawahnya. Marcel diam menatap kepala yang sedang tengadah mencari dan memanasinya.


"Ka dieu sia! Mun wani!" teriak Toge.


- Ke sini lo! Kalo berani!


"Apa gue dah ngelanggar aturan gue sendiri.." gumam Marcel. ".. ngomong sama kalean?"


"Hahah! Lawan aing, Jal*ng. Hahahaa!"


"Eerrgg.. ghh!"


Swuutth!


Marcel melepaskan pedangnya ke arah kepala yang ada di bawah, menombak mulut yang terus mengangga itu.


Gcraatth!


Marcel berhasil menancapkan samurainya hingga ujung benda tembus keluar.


Grrteekh!


Mendadak Toge mengeluarkan tangan ketiga dan tinggal memegang bilah pedang. Pusaka pun tercengkeram. Sementara handle pedang tetap dipegang tangan bawaan.


Bilah logam dijalari cahaya dari kulit tangan yang memegangnya. Fluks-nya persis Rubber Glove milik Raven. Sedikit demi sedikit terus merambati badan pedang.


Di tempat sembunyi, ada pemuda tampan sedang memegangi kepalanya.


"Arrgh!"

__ADS_1


Ray kembali mengintip targetnya dengan wajah meringis menahan denyut di kepala. Telunjuk jarinya bergetaran di trigger senapan. Saat menyorotkan Arc di tempatnya ini, sang khodam mendapat gangguan dari urat kepala.


"Hhhss!" ringis Ray, mengatupkan rahangnya.


"Ray..??" gumam Marcel, di udara ini matanya mengarah ke sisi sebuah rumah yang terletak agak jauh di Timur sana.


Marcel tunggu detik demi detik, belum juga ada tembakan.


Marcel kembali diam memperhatikan Toge. Objeknya sedang diterangi sinar yang tengah susut-kembang. Tampak ada tarikan dan tolakan suatu energi. Dua enegi silang.


Marcel deg-degan sebab pedang tersebut terus dirambati cahaya "kryptonite-nya".


Drriee..eeww..!!


Tanpa disangka-sangka meluncur bersamaan empat tembakan dari sudut persegi atau arah Barat Laut - Timur Laut - Tenggara - Barat Daya.


Dhuaargh!!


Tubuh manusia pohon jadi batubara saat ditembus empat laser. Satu sinar saja cukup menghancurkannya. Namun tanpa sepengetahuan melesat empat tembakan. Maka target pun tak hanya gosong, Toge langsung berantakan jadi serpihan keramik.


Prulikh.. takh! Tukh!


Takh! Tukh! Takh-takh!


Di dekat pagar sebuah rumah, Marcel berhenti dari kelebatnya. Datang memeriksa kondisi Ray.


"Hhh!! Aku pening Non. Kuat banget denyutannya."


"Lo bisa kalah taroan gini sih? Makanya, gue bilang wallahu alam."


"Namanya juga prediksi. Hhh.. hhh..!" engah Ray dengan badan terlihat meriang, agak pucak.


Digh!


Gadis berjas hitam jongkok mendarat di dekat bekas ledakan. Empat orang pemuda menyusul mendatangi TKP, ternyata mereka penembak Toge, para pemuda Prancis.


Nina memungut pedang yang terus ditodong empat sekawan, lalu mengamati bilah logam tersebut.


Beberapa orang atau lusid lainnya berdatangan, keluar dari balik gerbong yang terguling itu. Mereka berpakaian ala hero dan bawa tombak, basoka, pistol panjang, atau senjata favoritnya.


Salah seorang berhenti di sebelah Nina untuk turut melihat pedang. Didapatinya permukaan logam masih mengkilap dan anehnya lagi tak ada debu.


"Khodam-nya di sono. Dia aman," kata pemuda yang bawa tombak. "Gue duluan."


Mereka berenam segera pergi menuju arah kota. Di susul tujuh anak yang baru bergerak usai mengawasi zona. Setelah mereka menjauh, datang lagi regu berikutnya dari balik gerbong.


"Kkwwiiuuk..!!"


"Kalean taunya yang bantuin. Oke. Mantap. Good job," ucap Marcel.


"Si!!" hormat empat sekawan, langsung tegak badan menaruh tangan dekat kepala.


"Keras nih duel. Kasian kalo dibiarin," kata Nina sambil mengasongkan pedang. "Anak Library ada yang pada ikut."


"Iya lah. Emang banyak permata di sarangnya nih. Nambang day."


"Gue mantau di sini deh, Kak. Assassin juga dah turun, mereka dateng buat nyerbu kaumnya sendiri. Kita gak bodoh kayak yang diomong dia nih."


"Cukup khan, infonya?" tanya Marcel.


"Belum."


"Maksud lo?"


"Gue belum bisa liat pake mata polos di sini."


"Bisa kali," kata Marcel sambil memandangi tanduk yang menyembul di kening Nina. "Gigit aja tanduk lo nih, Sanin. Al Hood yang bilang."


"..??"


"Iya. Mau liat?"


Marcel mengangkat senapannya, membidik kepala Nina.


"Tunggu-tunggu! Stop, Kak. Jangan tembak. Nih bukan tanduk."


"Apa tuh?"


"Nih kepala."


"Hhh-hhh! Katanya lo pengen liat Eksternal."


Perang antar lusid dan parasas berlangsung di perempatan jalan. Tawuran jarak dekat terjadi di situ antara kaum jahiliah dengan jauhilah.


Trang! Treng..! Traang..!


"Heaa!"

__ADS_1


Bugh! Bugh!


"Aakhh!"


Agak jauh dari perempatan, tepatnya di lokasi kedai para "kanibal", perang jarak jauh sedang berlangsung. Kubu pertama mereka yang bersenapan lightnov. Sedang kubu kedua mereka yang hitam-hitam bermasker lagi gesit kian kemari.


Swung!!


Btaakh!


Salah seorang yang turut sembunyi serta terpisah dari kelompoknya, jongkok merunduk. Serpihan dinding beton di situ menghujani sang defens. Dia sadar kecepatan lawannya.


"Sialan. Assassin upgraded. Hhh.. hhh.. Arrggghh!"


Dziiieew! Dziw!! Dziw!!


Tembakan random tersebut mengenai salah satu ninja yang tengah berkelebat di dekatnya. Hanya tangan penembak yang menyembul di persembunyian. Dan anehnya tepat sasaran.


Dzaph!


Bruugh!!


Sang ninja berkulit nikel jatuh dalam kaku tubuhnya. Posenya sedang melipat satu lutut dan merentangkan dua tangan alias jurus terbang. Tubuh sang assassin langsung terbius laser lightnov.


Tak seperti patung umumnya, batu tersebut melentur sendiri jadi padatan karet.


Krrrttkh..! Tangannya mulai bergerak.


"Aneh dilihat lolos, ditembak malah kena," komen si penembak yang berompi Ironman. Dia tidak tahu 2 meter di dekatnya ada patung yang sedang berproses pulih.


Swwi.. wiit!


Dia menoleh pada suara mirip peluit. Ternyata sumber suitan milik teman dari regunya. Sang defens melihat si teman mengorek-ngorek kuping, berbahasa isyarat supaya dia mengaktifkan radio komunikasi. Sang defens segera menyentuh punggung tangannya.


Gliitt!


Intevoice team alpha diaktifkan


"Tetra! Lo denger? Halo?"


"Roger that!"


"Careful! Musuh antinov! Lightnov hanya efek semenit! Menjauh dari situ! Perlahan! Gue ulang.. Perlahan!"


"Lapan enam!"


"Tunggu!"


Saat hendak pergi dan merangkak, Tetra berhenti mendengar suara perempuan. Dia segera rebah, membalikkan badan demi melihat arah belakangnya. Tetra juga siaga dengan senapannya.


"Don't shoot!" kata Jired, jongkok mengangkat dua tangan. "Pegang erat bedilnya, Bro. Gue mau refill tuh bedil elo."


Zzztt!!


Saat ditembak kalung Jired, Tetra mengamati senapannya tersebut. Dia melihat perubahan di bagian amunisi, cairan bedil jadi agak terang warnanya. Lusiferin putih tersebut berhasil diperbarui.


"Oke thanks. Bisa tenang kalo gini. Kalian jalan terus lewat sini. Ada tim dua stanby."


"Lo telkin?"


"Bisa, tapi cuma di bawah dua kilogram, radius gue sepuluh meter."


Jired mencopot kepingan di dadanya. Dia berikan pada Tetra. "Tolong bagiin ke yang laen, Bro."


Dengan tatapan bingung, Tetra mengamati benda gepeng di tangannya. "Apaan nih?"


"Ayo, Jhid." ajak Jired, bergerak duluan sambil tetap merunduk.


"Tempelin aja di amunusi kalean, Bro. Happy war," kata Jhid, kemudian selesai bicara dia lanjut mengendap.


"..??!" Tetra masih diam menatap benda yang baru diterimanya.


Mereka ada di balik tembok pagar setinggi perut. Sementara di seberang jalan, di sisi aman, tembakan masih berlangsung dari tim lainnya yang tetap menembaki ninja-ninja.


Dziw! Dziw!!


Dziiieew!!


Tetra menaikkan badan mengintip medan, dia mendadak jongkok begitu tahu ada ninja di dekatnya. Di mengulangi aksinya, mengangkat satu tangan sambil tetap berlindung. Senapannya diarahkan ke tempat assassin yang baru pulih dari pembiusan.


Dziw!


Sang ninja yang baru bangun dari siuman jongkok mengancang dan meloncat terbang. Tapi sudah bergerak tiba-tiba malah mendarat.


Set..!


Bruugh!!

__ADS_1


-


-


__ADS_2