
Setelah kuliah singkat selesai, Marcel mengajukan pertanyaan pada Jihan. Tes hapalan tersebut mengenai topik yang baru diceritakan, yaitu paradok.
"Gimana, gimana? Apa alesannya harus ngumumin protokol ke dewan laen??" tanya Jihan agak bolot, minta Marcel mengulang pertanyaan.
"Iya," jawab Marcel. "Apa yang bakal terjadi kalo salah satu dewan berhenti dari estafet protokol?"
Jihan menatap bibir-atas Marcel yang agak tipis pinggirannya itu.
"Umm.." gantung Jihan, sementara Marcel diam menunggu. "Napa.. suara kamu sampe ke hatiku?"
"..?!"
Marcel agak heran, sedikit tegak duduknya mendengar pertanyaan Jihan yang tampak sering menggebu.
"Kalo protokol gak diterusin, dewan tersebut bakal jadi paradok."
"Hmm.. terus?" timbang Marcel, lanjut meminta keterangan, pandangan fokus ke mata Jihan yang berkornea pekat seperti kornea miliknya.
"Terus.. empat dewan bakal misah diri dari salah seorang paradok mereka ini. Tapi kalo paradok itu kamu, aku pilih diem di hatimu."
Pipi Marcel langsung merah menor, memancarkan make up ajaibnya. "Njir.. Lebay amat sih lo nih, Han. Serius, kalo tindakan lo gitu, gak cocok jadi dewan."
"Khan misinya dewan tuh kepanjangan dari debut wanita idaman, Sel."
"Aaa..!"
"Kok tereak? Muka aku serem banget ya, Beb? Ntar aku dandan kok."
"Hapalan lo mantep. Apa yang gue terangin, emang ketangkep."
"Aku tuh emang lagi demen sama dosen kayak kamu ini. Kamu gak nyadar bibirnya diliatin sama aku."
Marcel merah-merah sambil menggigit bawah bibirnya. Dia sedikit malu namun justeru lawan bicaranya tak berkedip pada warna yang digigit tersebut.
Lalu Marcel pura-pura cuek, mengekorkan mata ke arah Jihan dalam duduknya di depan monitor itu. Jihan segera bicara padanya.
"Mau aku basahin gak? Kamu ratu versi hatiku. Kamu nomer satu di kelompoknya, Beb."
"Hehe.."
Marcel biarkan pandangan yang ada, terbiasa dengan gadis menggoda gadis. Dia tak bisa menutupi warna wajahnya itu.
"Please, Beb. Mau ya, sama aku..?"
"Iya, Sayang."
Degh! Jihan mendengar kata sakti itu serasa menimpa jantungnya.
Jihan diam membiarkan gemuruh yang ada, warna pipinya berubah rona mewakili hati dan perasaan yang ada. "Duh. Kena banget, pengen punya guling kayak kamu, sekarang sampe seterusnya bisa dihaluin. Kapan pun, aku tuh padamu Dea, Erika, Mercy, Marcelina.."
Sementara Marcel sudah mengetik, pura-pura sibuk mengawas Nina yang masih jalan-jalan di kota. "Kok diem ya? Godain lagi dong, Han."
"Kamu favoritku, Beb. Ngalahin hobiku."
"Emang hobinya apa?"
"Ijab kabul di ka-u-a."
"Ahaaha. Nikah tha."
"Iya. Mau gak jadi guling aku di kamar?"
"Njir.. Kenapa gue yang karung beras ini lo pilih?"
"Dih, kok karung beras? Gue suka yang empuk."
"Kalo isi bantalnya anget, orangnya pedulian, big pillow ini enak pas dinaikin, Han."
"Ahahaaa! Parah kita ya. Ihh.. gini amit maennya."
Gwit! Dit! Marcel lanjut meremote sorotan kamera, berganti sudut menyoroti punggung Nina yang jalan kaki sambil baca hape di trotoar. Jihan lalu bertanya pada si petapa berwajah anggun ini.
"Ehh, Beb. Kalo ntar aku ikut kamu nikah, gimana?"
"Sama cowok yang gimana dulu, Sayang?"
"Bebas, deh.. siapa yang kamu mau, dia juga ada buatku, Beb."
__ADS_1
"Gak. Ahh.. nanti gak ngimbang. Pas nikah, yang ada dianya yang bikin kita misah. Nih cowok pastinya gak bakal kuad."
"Satu penjara aja. Biar gak ke mana-mana."
"Hahaa.. Ogah jadi napi mah, ah."
"Daripada diiket langsung pake tambang, gue jadi gak bisa nindih kamu."
"Njir.. bisa kalo talinya tambang karet."
"Itu gak bener-bener kecelup, Beb. Aku beresin kamar dulu ya?"
Marcel diam, tak langsung bicara. Jihan menunggu sahutan si teman. Marcel tetap senyum atas topik 'sadis' ala mereka berdua. "Hhmm.. Ya udah. Iya. Aku talk away dulu sama Nina, biar dia gak bingung."
Jihan bangkit dari duduknya. Entah, saat sibuk manteng layar itu Marcel memajukan pipi. Jihan yang mendapatinya pun langsung tau permintaan yang ada.
Chupph!
Jihan agak bungkuk badan mengecup pipi Marcel. Tangannya memutar kepala si teman, Jihan segera melabuhkan bibir ke mulut Marcel.
Chiipp! Chyiuupph..!
Sepuluh detik, Jihan lepas ciumannya. Nafasnya pun langsung terengah-engah. Sementara Marcel diam menatap dan menunggu lanjutan.
"Kenapa Sayang?"
"Hhh, hhh, hhh.. Aku beresin kamar dulu. Hhh, hhh.. pengen di sana aja."
"Iya.. aku bilang dulu sama Nina, yaa."
Jihan sudah membuka pintu, membawa pergi gemuruhnya.
----+++++++++++---- teks ulang ---++--- lewat aj
setelah update ada peraturan baru, bahwa naskah bab tidak lagi diperbolehkan 500 kata, sekarang harus lebih dari 1000 kata.
Jujur, gak ada pemberitahuan dulu ini.
Readerku Sayang, maaf yaa. Aku lagi nyari lapak baru.
++++-+++----++++++---+++
Setelah kuliah singkat selesai, Marcel mengajukan pertanyaan pada Jihan. Tes hapalan tersebut mengenai topik yang baru diceritakan, yaitu paradok.
"Gimana, gimana? Apa alesannya harus ngumumin protokol ke dewan laen??" tanya Jihan agak bolot, minta Marcel mengulang pertanyaan.
"Iya," jawab Marcel. "Apa yang bakal terjadi kalo salah satu dewan berhenti dari estafet protokol?"
Jihan menatap bibir-atas Marcel yang agak tipis pinggirannya itu.
"Umm.." gantung Jihan, sementara Marcel diam menunggu. "Napa.. suara kamu sampe ke hatiku?"
"..?!"
Marcel agak heran, sedikit tegak duduknya mendengar pertanyaan Jihan yang tampak sering menggebu.
"Kalo protokol gak diterusin, dewan tersebut bakal jadi paradok."
"Hmm.. terus?" timbang Marcel, lanjut meminta keterangan, pandangan fokus ke mata Jihan yang berkornea pekat seperti kornea miliknya.
"Terus.. empat dewan bakal misah diri dari salah seorang paradok mereka ini. Tapi kalo paradok itu kamu, aku pilih diem di hatimu."
Pipi Marcel langsung merah menor, memancarkan make up ajaibnya. "Njir.. Lebay amat sih lo nih, Han. Serius, kalo tindakan lo gitu, gak cocok jadi dewan."
"Khan misinya dewan tuh kepanjangan dari debut wanita idaman, Sel."
"Aaa..!"
"Kok tereak? Muka aku serem banget ya, Beb? Ntar aku dandan kok."
"Hapalan lo mantep. Apa yang gue terangin, emang ketangkep."
"Aku tuh emang lagi demen sama dosen kayak kamu ini. Kamu gak nyadar bibirnya diliatin sama aku."
Marcel merah-merah sambil menggigit bawah bibirnya. Dia sedikit malu namun justeru lawan bicaranya tak berkedip pada warna yang digigit tersebut.
Lalu Marcel pura-pura cuek, mengekorkan mata ke arah Jihan dalam duduknya di depan monitor itu. Jihan segera bicara padanya.
__ADS_1
"Mau aku basahin gak? Kamu ratu versi hatiku. Kamu nomer satu di kelompoknya, Beb."
"Hehe.."
Marcel biarkan pandangan yang ada, terbiasa dengan gadis menggoda gadis. Dia tak bisa menutupi warna wajahnya itu.
"Please, Beb. Mau ya, sama aku..?"
"Iya, Sayang."
Degh! Jihan mendengar kata sakti itu serasa menimpa jantungnya.
Jihan diam membiarkan gemuruh yang ada, warna pipinya berubah rona mewakili hati dan perasaan yang ada. "Duh. Kena banget, pengen punya guling kayak kamu, sekarang sampe seterusnya bisa dihaluin. Kapan pun, aku tuh padamu Dea, Erika, Mercy, Marcelina.."
Sementara Marcel sudah mengetik, pura-pura sibuk mengawas Nina yang masih jalan-jalan di kota. "Kok diem ya? Godain lagi dong, Han."
"Kamu favoritku, Beb. Ngalahin hobiku."
"Emang hobinya apa?"
"Ijab kabul di ka-u-a."
"Ahaaha. Nikah tha."
"Iya. Mau gak jadi guling aku di kamar?"
"Njir.. Kenapa gue yang karung beras ini lo pilih?"
"Dih, kok karung beras? Gue suka yang empuk."
"Kalo isi bantalnya anget, orangnya pedulian, big pillow ini enak pas dinaikin, Han."
"Ahahaaa! Parah kita ya. Ihh.. gini amit maennya."
Gwit! Dit! Marcel lanjut meremote sorotan kamera, berganti sudut menyoroti punggung Nina yang jalan kaki sambil baca hape di trotoar. Jihan lalu bertanya pada si petapa berwajah anggun ini.
"Ehh, Beb. Kalo ntar aku ikut kamu nikah, gimana?"
"Sama cowok yang gimana dulu, Sayang?"
"Bebas, deh.. siapa yang kamu mau, dia juga ada buatku, Beb."
"Gak. Ahh.. nanti gak ngimbang. Pas nikah, yang ada dianya yang bikin kita misah. Nih cowok pastinya gak bakal kuad."
"Satu penjara aja. Biar gak ke mana-mana."
"Hahaa.. Ogah jadi napi mah, ah."
"Daripada diiket langsung pake tambang, gue jadi gak bisa nindih kamu."
"Njir.. bisa kalo talinya tambang karet."
"Itu gak bener-bener kecelup, Beb. Aku beresin kamar dulu ya?"
Marcel diam, tak langsung bicara. Jihan menunggu sahutan si teman. Marcel tetap senyum atas topik 'sadis' ala mereka berdua. "Hhmm.. Ya udah. Iya. Aku talk away dulu sama Nina, biar dia gak bingung."
Jihan bangkit dari duduknya. Entah, saat sibuk manteng layar itu Marcel memajukan pipi. Jihan yang mendapatinya pun langsung tau permintaan yang ada.
Chupph!
Jihan agak bungkuk badan mengecup pipi Marcel. Tangannya memutar kepala si teman, Jihan segera melabuhkan bibir ke mulut Marcel.
Chiipp! Chyiuupph..!
Sepuluh detik, Jihan lepas ciumannya. Nafasnya pun langsung terengah-engah. Sementara Marcel diam menatap dan menunggu lanjutan.
"Kenapa Sayang?"
"Hhh, hhh, hhh.. Aku beresin kamar dulu. Hhh, hhh.. pengen di sana aja."
"Iya.. aku bilang dulu sama Nina, yaa."
Jihan sudah membuka pintu, membawa pergi gemuruhnya.
-
-
__ADS_1