Abstractal Nature: Diary

Abstractal Nature: Diary
chapter up 009


__ADS_3

"Sel dipanggil Enik tuh.."


Jhid yang sedang lewat memberitahu saat sudah selesai ditanya-tanya oleh Enik. Dia duduk bergabung dengan Jihan dan baru membuka snack yang diterimanya dari Ghost. Marcel pun pergi.


"Oke, ntar aja. Trims.. semua!"


Si petapa mengacungkan jempolnya pada tim alpha yang masih bersedia bantu Marcel di lain hal dan waktu. Dia berjalan menuju tempat Enik berada, dan lokasi tersebut jaraknya agak jauh, tak lain TKP ledakan manusia pohon.


Di perjalanannya, Marcel biarkan dua perempuan lewat menghitung permata, sebab di tempat tujuannya itu pun reward sedang dibagikan berdasarkan data scan.


Tampak Luna sibuk menempatkan pecahan keramik ke punggung patung. Perkerjaannya dalam menyusun puzzle dibantu Epsi. Luna hanya tinggal meraih pecahan yang digantung Epsi, tinggal memasangkan potongan pada patung.


"Anteng banget dia.." komen Marcel sesampainya di depan Enik. "Gak makan?"


"Apa boleh buat, gue bisa apa, Sel. Ini," kata Enik sedikit memajukan lipatan tangan. "Ini juga, liat."


Enik menekan-nekan bahunya ke patung, yang disandarinya manteng tak bergoyang. Padahal masih dipasangi, belum ada kepala dan dua kakinya.


Marcel mengangkat dua bahu, membiarkan seorang lusid pergi berjalan di belakangnya sehabis menerima batu reward.


"Gak retak-retak juga. Lo apain si Jmur? Sampe kalian lama gini, nungguin elit."


"Yaa.. ahh kali empat aja Mbak. Padahal belum upgraded lightnov-nya. Duar!"


"Marcelina..!"


Marcel melirik ke kirinya begitu mendengar sound radio. Ada dua perempuan di arah situ dengan meja apung yang ditempati kotak berisi "kelereng".


"Dih! Itu blo'on..!" kata petugas scan. "Nih orangnya. Gue bilang jangan dulu. Hihii.. hii!"


"Oh ini yaa si petapa-nya. Sori Kak. Hehe. Kita snailer medis."


Marcel membalas lambaian yang ada sambil tersenyum.


"Dia (Jhid) gak inget sama sekali gimana cara ngurung Black Soul, Sel. Kali aja kesembuhan Rey dah deket. Lo biarin dulu Jhid mau apa, nih nyangkut Rey kayaknya.


Dia pura-pura buang air, gue tungguin seharian gak balik-balik. Lo, gue, jadi saling nanya deh, dia ke mana.


Gue pikir sih, habis nanya-nanya dia nih, dia pergi keluar Panti karena pikunnya itu. Katanya ada keperluan sama Rei biar dia bisa inget lagi. Tapi Rei gak ada di Ladang. Dia ngikutin feromon Rei sampe nyasar ke sini.


Gue juga nanya ke Grim, Sel. Dia bilang Rei ada urusan soal Pnin dan Internal. Tapi Rei belum mau dihubungi.


Ya udah. Biarlah dulu kalo silent-nya nih emang nyangkut Internal."


"Mmm. No problem."


"Ada yang mau lo tanyain?"


Marcel mendadak terdiam, agak melemaskan badan. Wajahnya gamang, membuat tatapan Enik makin dalam menyelaminya. Marcel hanya sedikit gusar ditanyai Enik dengan nada perhatian itu.

__ADS_1


Sengaja atau tidak, Marcel tetap diam dalam pandangan Enik yang masih menunggunya, belum ingin pergi.


"Gue rasa.. reward udah dikasiin ke semua hunter-nya masing-masing, Sel. Tinggal punya lo nih. Cowok dekat bangunan runtuh sana tuh yang terakhir."


"Hhh.. Gak ada, Mbak. Makasih buat infonya," kata Marcel, dengan suara agak tertahan.


Luna masih sibuk memasang puzzle karena patung tersebut berisi alias bukan keramik biasa, batuan putih yang padat. Luna terkadang menyusunnya dengan cepat, kadang termenung, dan segera menaruh pecahan batu, memasangnya ke tempat yang sesuai bentuk. Luna juga membiarkan Enik pamit saat dua snailer medis pergi meninggalkan tempat.


Marcel sampai di tempat yang sedang didiami dua muda terjauh. Dekat puing-puing stasiun itu keduanya juga masih terpantau tiga cewek atau sepertinya mereka satu regu dan pilih bersantai di sini. Marcel balas sapaan dan lambaian mereka saat lewat.


Saat sudah dekat, Marcel dapati kesan yang tampaknya dua pemuda tersebut pemalu dan terpaksa ikut teman-temannya perang. Marcel menghela nafas di depan salah satunya.


"Hhh.. Kalian dah kebagian ransum?"


Kedua lusid menggangguk barengan. Tapi kemudian salah satunya kembali menunduk. Entah kenapa mendadak mereka berhenti mengobrol, terlihat seperti sedang berkabung. Padahal tak ada pengumuman atau berita meninggal.


Marcel menyeka matanya, agak terisak. Hal itu membuat teman si pemuda menggerakkan badan, berisyarat bahwa Marcel sedang menunggunya, berkepentingan padanya.


Si pemuda menoleh dan bertanya pada temannya, dia juga lalu menatap Marcel. Kini tampaklah wajahnya, dia adalah orang yang videonya diarsipkan.


"Hiks.. Lo fokus di mana sekarang?"


"Ngng.. Snail, Mbak."


"Dia emang pindahan," sambung si teman. "Heh, biasa aja. Gue malah gak dapet stone.."


Marcel dapat tahu kondisi trauma sang lusid tak hanya dari teman si pemuda, wajah di situ jadi bawaan sang snailer, putus asa.


Marcel menyodorkan sekotak batu reward di mana penutupnya terdapat dua kaca fingerprint. Tangannya gemetar karena dia masih terngiang erangan snailer tersebut. Bukan sedih, itu membuatnya ingin marah. Marcel dapat tetap menahan, agar kotak yang diberikannya tak jatuh, jempolnya sudah ditempatkan sehingga tinggal di- approve si penerima.


Jihan meletakkan tanda, batuan yang dibawanya ke situ baru didapatnya. Dia langsung menempatkan batu-batu di garis yang telah dibuat. Dan melengkung begitu mungkin sedang membuat lingkaran. Pohon di dekatnya membisu, Jihan tak begitu terganggu.


Sore ini Jihan sendirian di tanah tertutup dedaunan kering, di tengah belantara. Lokasi masih agak terang. Mungkin jika tidak berada di sini, tempat lainnya takkan begitu terang mengingat di jauh sana banyak pohon berdekatan. Si gadis asyik saja sendirian di hutan.


Tidak juga, karena yang meliuk-liuk terbang ala nyamuk di dekatnya itu adalah jins. Jihan hanya masih fokus menaruh batu, jadi membisu adanya.


"Lo cepet banget dapetnya, Kak."


Nina datang dan berhenti melayang sambil protes menjinjing sekarung beban, bawa batuan. Nina juga di temani oleh Kunang Kunangnya.


Jihan berdiri menepuk-nepuk dua tangan. Dia lanjut me-ngelapkannya ke piyama. Jihan menoleh dan terjaga melihat Nina.


"Ehh.. Ukhti Sanin."


"Udah dapet aja. Karung lo mana, Kak? Dasar telkin."


"Ada dong. Di sini," kata Jihan menarik bagian bawah mata.


Nina sudah menapak di tanah, menghamburkan isi karungnya. Dia tarik bagian bawah kantong hingga kosong dari isinya. Nina lempar begitu saja karung tersebut, Kunang Kunangnya langsung melingkari kantong.

__ADS_1


Srrkh!!


Karung yang Nina buang mengerut seperti kertas diremas. Kemudian hilang di pusat lingkaran kunang.


"Kita dikerjain second generation kayaknya."


"Hhh.. bodo amat," sahut Jihan. "Lo pencat-pencet stik apa gak dikerjain?"


Jihan bersandar ke batang pohon.


"Ya beda. Gue gak suka puzzle sama game detiktif, Kak."


"Tapi nih multiplayer."


Nina mulai bekerja, menaruh batu-batu sungai yang tampaknya seukuran semua. "Bantuin Kak."


Beberapa lama kemudian, Jihan dan Nina lanjut 'perang' kata sambil jongkok di situ. Keduanya hanya 'rukun' di tangan, sangat 'bersahabat' di mulut. Topiknya sepitar by one dan kata judes.


Saat manyun-manyun, Jihan tak sengaja melihat Marcel datang. Wajahnya sumringah dan bangkit menghampiri. Jihan membantu si petapa yang datang memikul sekantong batu.


"Egh, udah Beb, turunin di sini aja," kata Jihan memegangi bawaan. "Kuli semen gini. Bedil elo di mana?"


Marcel menurunkan badannya perlahan-lahan. Jihan segera pegang kantong berat itu, lalu setelah berhasil diturunkan dia membawanya dengan langkah mengangkang. Marcel diam mengatur nafas.


"Hhh.. hhh! Hhh..."


"Dah aku bilang, kau bakal disebut kuli semen, Non," komen Ray yang datang memanggul Arc.


Marcel menyambar wadah minuman di tangan sang khodam. Dia tak menimpali perjudian info-nya. Wajahnya dia seka dengan lengan baju.


Marcel segera memutar penutup wadah, isinya langsung dia teguk demi peluh dan lembab di sekujur badan.


"Hhh.. Hhh!"


"Lagi gak?" tanya Ray, menyodorkan Arc, pakaiannya selalu sama dengan yang dipakai Marcel, PDL loreng tapi si tampan ini ABRI gadungan.


"Gak ahh. Wallahu alam," jawab Marcel sambil meraih bedil lalu melangkah pergi.


"Habis ya?"


Jihan lanjut lari sambil dipandangi Marcel.


Set!


Jihan datang-datang menyambar botol minuman yang hendak Ray teguk. Si tampan diam mematung dengan tangan masih menggantung, di pose minum. Jihan sudah pergi sambil menggerutu.


"Non muhrim. Khusus kuli semen. Minum seenaknya aja."


Glukh..! Hlukh!

__ADS_1


"..??"


Ray melipat dua tangannya memandangi gelagat Jihan. Mungkin memang kepo, karena dia tak mendeteksi kedatangannya. Ray juga menghela nafasnya. "Bawel.."


__ADS_2