
Hari kemarin tak terasa kapan terjadinya, dalam beberapa hari yang telah Jihan lalui ini, eksekusi Pnin masih saja teringat dalam benaknya.
Jarum hologram yang terpancar di sisi 'kompas' hilang bersamaan dengan berhentinya putaran jarum.
Tapi tidak dengan tangan Nina. Tangan beningnya yang merah masih berdaya apa adanya.
Yang mati adalah will Pnin atau aktifitas sang mahluk. Kesembilan jarum 'kompas' itu tak dapat berputar autospin lagi, dan tanda vital berupa hologram hilang selamanya. Kejadiannya setelah Pnin menaruh tangan Luna di ubunnya saat yang ke 369 kalinya.
Kerjap sinar las, sangat mengejutan ketiga gadis yang ada di situ, termasuk Ghost. Walau tak berbunyi, tapi silaunya itulah yang membuat suprise karena mirip kilat di musim hujan. Lagi tegang-tegangnya menunggu putusan Luna, Ghost menjerit singkat melihat tangan Luna memancarkan sinar, teriak hingga Jihan, Marcel dan Nina istighfar bersama.
Entah seperti apa raut sedih Luna jika dapat kesedihan, bagaimana mimik galaunya saat kehilangan sosok yang amat setia. Jihan lihat wajah si ABG pucat masih datar saja alias pintar menyembunyikan hati. Luna pergi usai mengamati telur rebus di tangannya.
Ada bingung, ada malu, ada sedihnya. Luna tak bisa ditebak begitu saja.
Jihan hanya bisa membayangkan lewat pengalamannya sendiri. Dia mengurai airmata bawah sadarnya sambil makan donat. Duduk sambil menghabiskan tisu dan makanan. Pengalamannya itu mungkin sudah mewakili emosi Luna. Jihan hanya ingat itu saja.
"Hikh..!"
Selesai menapaki jalanan sepi, Jihan sampai di rumah Pnin. Tempat tujuan menyambung lamunannya di sepanjang perjalanan karena interior rumah serba merah dan sudah ada bunga-bunga dari pengunjung. Bunga yang Jihan bawa telah disediakan di muka gang, Jihan menaruh seikat dan agak disandarkan ke dinding, lalu menyeka pipinya bergantian.
"Hiks."
Setelah beberapa hari ini Jihan baru bisa ke Eksternal lagi, Luna dan Pnin terus mengganyang pikiran dan perasaannya. Selentingan kabar yang didengarnya, Luna belum kelihatan beraktivitas lagi sejak aksi terakhirnya di abad 41, tidak ada boarding income di SosCamp.
Ghost bercerita bahwa dirinya tak bisa masuk, Luna terus mengurung di kamar, belum ingin makan alias masih berkabung. Jihan langsung ke tempat Pnin ini untuk mengenang si pengabdinya yang memang bersahabat. Tapi setibanya di ruang serba merah ini, ada hal lain yang lebih berharga untuk sekedar dikenang, yaitu stealth-nya Pnin.
"Ghost.."
Ghost yang sedang menyapu-nyapu halaman peron pakai ijuk berhenti dari aktivitasnya, tak jauh di depannya ada yang datang menghampiri.
"Iya Kak? Eh, Kakak. Kiraen siapa."
Di dekatnya pun mengambang setitik atom atau black marble bercincin benang glow, di situlah pintu masuk ke kamar Luna, di ketinggian setara tinggi badan Ghost jika dia berdiri di tengah rel.
Si penyapa datang mengusap-usap rambut Ghost. Terlihat tubuhnya masih di lingkari "rambut" merah menyala, dan dia membetulkan letak senapan di punggungnya tersebut. Dia memberikan kotak yang dibawanya untuk si bocah asap.
"Nih lo wajib nyoba masakan Panti. Lo jangan jerit lagi."
"Hehe. Makasih Kak."
Crrr..! Suara air coklat di kedai minum terdengar, ini karena tempatnya yang memang sepi lagi hening dan malam hari.
Jihan sudah duduk di salah satu kursi melanjutkan lamunannya. Mug di meja itu dia gerak-gerak, agak diputarkan sedikit. Jihan kembali menatap isinya usai dimainkan.
"Hai mbak Mar."
"Hai. Met kerja yaa."
Setelah disapa dua snailer yang sedang jalan-jalan menenteng selang air, Marcel diam kembali memandangi kedai di simpang jalan ini. Dia baru sampai dan berpas-pasan dengan dua lusid tadi di kawasan yang telah aman ini.
Marcel senyum saat Jihan bingung mencari kemudian tanpa sengaja mendapatinya, menyadari kehadirannya. Wajahnya senang, tapi membuat pipi Jihan bersemu merah.
"Mmm, sepuluh meter nih baru kedetek. Mayan deh."
__ADS_1
Jihan yang memang sedang berada di halaman coffe shop ini pura-pura patah hati, menopang dagunya sambil menggores-gores meja. Dia biarkan Marcel datang menyapanya, Marcel langsung duduk menyeruput cangkir, coklat yang sama yang sudah Jihan sediakan untuknya. Jihan mendadak bergetar pundaknya karena tak bisa lama menyembunyikan rasa happy, Marcel merem mengomentari minuman mereka.
"Mmh..! Sllrrp.. Gue gak salah rasa."
"Hhh-hhh..! Najis ihh."
Jihan segera bergerak bangkit dari kursi. Sesampainya di depan Marcel, dia agak bungkuk mencicipi manis yang tersisa, mengulum Marcel. Tangan sang lusid memegang sandaran kursi dan tepi meja, sementara si petapa sedikit mendongak kepala sambil memegang pinggul Jihan yang masih terbalut seragam kerja.
Cyipph.. ciiph!
Cyiiuph..!
"Mmmh.."
Jihan dan Marcel sudah berdiri mengemut dan mengulum bibir. Kecup demi kecupan mengalun dalam cumbuan yang berlangsung. Keduanya saling mengiring dan menuntun agar bibir tetap lembut dalam hangatnya lidah. Mereka menelan suka-suka apa yang didapat dari ciuman tersebut selayak minum air.
"Uumh!"
Jihan mendekap Marcel saat nafasnya sudah naik-turun, memeluk si petapa. Dia ingin terus lengket saja. Jihan tak melihat Marcel dari pagi sampai sore tampaknya sudah addicted berat.
Marcel yang diam terengah-engah, mengelus-elus. Jihan nangis mengerang dan agak histeris. Marcel mengiyakan ajakannya.
"Iya. Onmind banyak yang liat, Yang.."
Seseorang menggeplak meja, acaranya menonton siaran live mendadak selesai di tengah jalan. Lusid lainnya menjambak rambut dan uringan, dia sama gabut atas streaming favoritnya itu, membuatnya menunduk di depan layar. Sedangkan mereka yang nobar mendadak ramai menyalahkan temannya yang banyak komen, tawa-tawa mereka riuh saking lucunya yang dikeroyok balas bicara dan dijitak lagi secara berjamaah.
Degh..
Tubuh Jihan terjaga dari tidurnya lucid-nya. Dia beranjak turun membuka wormhole ke Entrance, menyentuh cincinnya. Jihan masuk usai lawang path ke Panti itu terbuka di balik pintu balkon.
Clekh.. Pintu pun terbuka.
Jihan melangkah masuk dan menutup pintu dari dalam. Dia kunci dengan besi mini slot. Nafas Jihan mulai terengah, dadanya sudah bergemuruh, gairahnya telah naik. Saat dia berbalik suara kagetnya pecah, Marcel sambut dengan bibir dan *******.
"Kyaa!"
"Sini, Yang.."
Cyipph..! Cyiiup!!
"Uumh..!"
Jihan pegang kepala Marcel, balas mencium senada dengan gemuruh nafas dalam dadanya. Dia kemudian sengaja menjungkitkan dua kaki membuat kepala Marcel sedikit terdongak. Jihan menciumi bibir si petapa lalu ke dagu dan segera turun mengecupi leher Marcel selagi pemiliknya melenguh.
"Mmmh.."
Cwuuph! Chup..!
Jihan lumuri leher putih Marcel dengan basah bibirnya. Dia hangati kulit si teman dengan sedikit menghisap secara berkali-kali. Jihan turunkan bibirnya, berpindah setahap demi setahap, menghangati sambil bersih-bersih.
Marcel hampir jatuh sambil mendesah begitu kecupan di lehernya diperkuat oleh jemari sang lusid. Dia dipijat bagian dadanya.
Jihan pun berhenti dari kegiatannya, menahan badan sambil menatap Marcel yang tampak lemas dan terengah-engah.
__ADS_1
"Hhh... hhh.. hhh.. Beb?"
"Di.. em.. hhh.. tangan.. nya.. hhh, hhh.." jawab Marcel, memegangi punggung tangan Jihan yang bertengger di dada.
Keduanya kembali bergumul saat sudah di ruang kamar. Marcel biarkan Jihan bersih-bersih menghisap kulit leher. Jihan tak lagi menyerang bagian dada, daerah itu dapat membuat gelinya naik memuncak.
Jihan sudah tahu hal finishing tersebut, dia pun masih ingin berlama-lama di kamar ini bersama penghuninya. Kini tempat labuh bibirnya berganti ke leher sebelah, lalu ke tengah-tengah karena Marcel kian tengadah. Jihan tak menghentikan kegiatannya saat ada di atas tubuh si petapa.
Cwuuph! Cuuph!
"Mmmh.."
Jihan dan Marcel sudah berselimut bareng saat rebah bersebelahan membicarakan boarding income.
Belum lima menit mengobrol, Jihan mendekatkan badannya, dia naikkan satu kakinya ke paha Marcel di balik selimut mereka. Hanya bagian tangan dan kepala yang terlihat, tubuh keduanya sama-sama putih mulus.
"Gue nyidik soalnya siapa tau nyangkut radiatif bodi (Heart) gue, Han."
"Mendingan bobo yuk?"
"Aagh..!"
Jihan kembali jahil, tangannya lagi-lagi memijat buah dada Marcel. Pundaknya bergetaran. Marcel hanya menghela nafas, membiarkan jemari si teman tetap di "lapangan"nya.
"Ngantuk gak?" tanya Jihan. "Lagi deh biar full watt, yuk? Hhh-hhh!"
"Lo nginep deh, Han. Temenin gue."
Marcel membalikkan badannya, berhadapan dengan lawan bicaranya.
"Mau," jawab Jihan dengan nada manja.
Marcel mendekatkan jempolnya ke bulu mata Jihan. Jarinya tersebut membuat Jihan berkedipan, tapi dibiarkan saja. Marcel memainkan lagi lentik mata si teman.
"Ngapain sih.."
"Nginep ya, Han?"
Jihan mengangguk-angguk. Marcel bergeser maju, merapatkan badannya. Jihan dapat langsung menghirup wangi rambut Marcel.
Beberapa menit kemudian, Marcel tertidur dengan posisi kepala di bawah dagu Jihan. Rambutnya sedang dielus-elus. Sementara Jihan sudah menguraikan air matanya sambil terus melamun di situ.
Jihan mencium kepala Marcel sambil tersenguk dan segera memeluknya, merasa Marcel akan hilang esok hari, tidak terlihat dan sulit ditemukan lagi. Jihan eratkan pelukannya.
"Mmmh! Love you.. Beb. Hiks!"
Nb:
to D, jangan dimaem HP-nya yaa😆
-
-
__ADS_1
-