Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 21 - Misi Mengambil Sampel DNA [2]


__ADS_3

...༻◐༺...


Gamal membawa Zafran ke toko mainan terlebih dahulu. Di sana dia menyuruh anak itu memilih apa saja yang ingin dibeli. Akan tetapi Zafran justru ragu.


"Om yakin? Kalau uang Om nanti habis gara-gara aku gimana? Aku nggak punya uang untuk ganti," ucap Zafran dengan ekspresi polos.


Gamal tergelak kecil. Dia berjongkok dan mendekatkan mulut ke telinga Zafran. "Percaya saja sama, Om. Pilih saja mainan yang paling kamu mau..." bisiknya.


Zafran tersenyum simpul. "Makasih ya, Om!" ungkapnya. Lalu langsung berlari mengambil mainan yang didambakan. Dari mulai pesawat-pesawatan sampai mobil-mobilan.


Melihat kegirangan Zafran, Gamal ikut senang. Atensinya lantas tertuju ke arah rambut anak tersebut. Dia segera teringat dengan niat awalnya. Gamal lantas mengambil ponsel dari saku celana. Kemudian segera menyambungkan panggilan kepada Raffi.


"Gimana?" sambut Raffi dari seberang telepon.


"Aku akan membawa Zafran ke tempatmu," ujar Gamal.


"Oke. Aku nggak sabar mau lihat anak itu." Obrolan Raffi dan Gamal berakhir disitu. Selanjutnya, Gamal mengurus pembayaran barang yang dibeli Zafran.


"Jumlah semuanya sebesar lima ratus dua puluh delapan ribu rupiah, Mas." Sang kasir memberitahukan biaya yang harus dibayar Gamal.


Zafran yang mendengar langsung memasang mimik wajah sedih. Dia menatap Gamal dengan nanar. Namun semburat wajah itu langsung pudar, tatkala menyaksikan Gamal mengeluarkan banyak uang dari dompet.


"Wah... uang Om banyak banget!" seru Zafran terkagum. Gamal hanya membalas dengan senyuman gemas. Ia mengusap pelan puncak kepala Zafran.


Selepas membelikan banyak mainan, Gamal membawa Zafran keluar dari toko. Keduanya singgah ke mini market untuk membeli es krim. Mereka menikmati es krim itu saat berada di mobil.


"Zafran sekarang ikut Om ketemu sama teman ya? Zafran mau kan?" tanya Gamal sembari fokus mengemudi.


Zafran lekas mengangguk. "Siap, Om! Anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih aku ya," terangnya. Membuat Gamal terkekeh untuk kesekian kalinya.


"Kau sangat lucu, Zafran..." kata Gamal. Dia mengarahkan mobil memasuki area rumah sakit.


"Kok kita ke rumah sakit? Om sakit ya?" tanya Zafran dengan binaran matanya yang masih bening. Urat-urat merah bahkan tak terlihat di sana.


"Om Nggak sakit. Cuman ada sesuatu yang mau di urus. Dan Zafran harus bantuin Om. Oke?" balas Gamal. Zafran otomatis mengangguk. Mereka keluar dari mobil bersama-sama. Kemudian masuk ke rumah sakit sambil berpegangan tangan.


Sebelum menemui Raffi, Gamal tentu menghubungi terlebih dahulu. Dia dipersilahkan untuk mendatangi ruang kerja Raffi.

__ADS_1


Sesampainya dia ruang kerja Raffi, Gamal menyuruh Zafran duduk ke sebuah kursi. Anak itu tidak melepaskan pesawat-pesawatan yang sudah dibelikan Gamal tadi.


Raffi memperhatikan wajah Zafran dengan teliti. Dia berjongkok tepat ke hadapan anak tersebut. Pupil matanya membesar. Sesekali Raffi juga menoleh ke arah Gamal. Memastikan kemiripan wajah yang ada di antar keduanya.


"Coba duduk ke sebelahnya!" titah Raffi seraya memposisikan kursi ke samping Zafran. Dia memaksa Gamal untuk duduk di sana. Kini Raffi dapat membandingkan dengan leluasa.


"Ini sih nggak perlu tes DNA lagi!" komentar Raffi sambil berkacak pinggang.


Zafran mengerucutkan bibir. Keningnya mengernyit heran. Anak kecil sepertinya, tentu tidak dapat langsung memahami apa yang dibicarakan Raffi.


Sementara Gamal, dia bangkit dari tempat duduk. Mendengus kasar sembari memutar bola mata jengah. Ia perlahan mendekati Raffi.


"Kemiripan wajah kami tidak cukup membuktikan kalau Zafran memang benar anakku. Aku butuh bukti yang kuat seperti hasil tes DNA!" bisik Gamal.


"Aku tahu." Raffi menanggapi singkat. Dia berdiri tegak dan melemparkan senyum kepada Zafran.


"Om Dokter ya?" tanya Zafran. Dia sepertinya kagum dengan jas putih yang dikenakan Raffi.


"Iya... kenalin nama Om Raffi. Teman dekat ayah, eh maksudnya Om Gamal." Raffi saling bersalaman dengan Zafran.


Raffi tersenyum kecut. Dia tidak punya pilihan selain mengangguk. Perlahan dia berbisik kepada Gamal, "Ambil gunting yang ada di mejaku."


Gamal menuruti perintah Raffi. Dia tidak perlu butuh waktu lama untuk mengambilkan gunting.


Sekarang Raffi kembali berjongkok ke hadapan Zafran. Dia menyembunyikan gunting dari balik punggung.


"Om boleh potong sedikit rambutnya kan? Nanti rambut Om Gamal juga akan dipotong kayak Zafran biar adil ya." Sebagai dokter, Raffi tahu cara bertutur kata lembut. Memberikan pelayanan terbaiknya.


"Boleh, tapi buat apa?" Zafran menatap penuh tanya.


"Untuk penelitian Om aja. Ini bukan apa-apa kok." Raffi merekahkan senyuman ramah. Membuat keraguan Zafran seketika memudar.


Setelah mendapat persetujuan, Raffi memotong ujung rambut Zafran secukupnya. Rencana pengambilan sampel DNA berjalan mulus.


"Jadi dokter susah nggak Om?" tanya Zafran seraya memainkan dua kakinya tidak karuan. Dia sedari tadi mengagumi sosok Raffi.


"Kalau niatnya tulus, nggak ada kata susah," jawab Raffi. Dia menyimpan rambut Zafran ke dalam plastik khusus. Kemudian segera beralih ke hadapan Gamal.

__ADS_1


"Mau digundul sekalian nggak?" canda Raffi.


"Potong burungku aja sekalian!" sahut Gamal. Paham dengan candaan Raffi. Keduanya tertawa kecil sejenak. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Sebab Raffi tampak memperlihatkan ekspresi serius.


"Kalau Zafran beneran anakmu... apa rencanamu selanjutnya? Kau kan udah tunangan. Jangan bilang kamu mau rebut hak asuh Zafran dari Zara?" Raffi menuntut jawaban.


Gamal membisu dalam sesaat. Dia menyempatkan diri melirik Zafran. Memastikan anak itu tidak mendengar.


Zafran nampak sibuk bermain dengan pesawat-pesawatan. Dia sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Gamal memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberitahu Raffi.


"Aku balikan lagi sama Zara," cicit Gamal. Membuat mata Raffi sontak terbelalak tak percaya.


"Gila! Kau udah gila, Mal!" Raffi merasa sangat tercengang.


"Aku dan Zara sama-sama nggak bisa nahan. Yah... kau tahulah maksudku," jelas Gamal ambigu. Meskipun begitu, Raffi bisa memahami apa yang dimaksud olehnya.


"Kau sama Zara sampai ke tahap berhubungan itu? Maksudku..." Raffi tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Gamal yang mengerti, langsung menganggukkan kepala.


"Kami udah beberapa kali melakukannya," ungkap Gamal.


Raffi mangangakan mulut. Dia tidak tahu bagaimana cara menanggapi pernyataan Gamal. Jelas apa yang dilakukan Gamal dan Zara merupakan kesalahan fatal.


"Aku nggak masalah sama tanggapan Selia sama bokap. Masalah besar di sini adalah fakta kalau Zara udah punya suami." Kenyataan selanjutnya membuat Raffi membalikkan badan dari Gamal. Pria itu memijat-mijat kepalanya sendiri.


"Terus? Kau mau apa?" Raffi bertanya sambil melipat tangan di depan dada.


Gamal menghembuskan nafas berat. Dia menyandar ke meja. "Aku akan merebut Zara kembali. Aku--"


"Kau beneran udah gila tahu nggak?!" timpal Raffi. Saking terkejutnya, dia sampai memotong ucapan Gamal.


"Dengerin aku dulu, Raf! Denger dulu penjelasanku!" Gamal ingin Raffi mengerti. Dia segera menjelaskan segalanya kepada Raffi. Bahwasanya Zara tidak bahagia dengan rumah tangga yang sedang berlangsung.


"Setelah memastikan Zafran anakku, saat itulah aku beraksi. Aku akan mencari tahu siapa sebenarnya suami Zara. Aku merasa ada sesuatu yang janggal. Zara sering berusaha kabur dari rumahnya sendiri. Itu aneh kan?" cetus Gamal yang sekarang menahan dagu dengan satu tangan.


Raffi menatap malas Gamal. "Terserah apa maumu deh. Di sini aku hanya akan berusaha membantumu dengan keahlianku. Aku harap kau tidak salah jalan lagi, Mal..." katanya. Berusaha memahami pilihan Gamal.


"Thanks. Rahasiakan ini dari siapapun. Aku percaya sama kamu," balas Gamal. Dia akan menunggu hasil tes DNA yang mungkin memakan waktu dua sampai empat minggu.

__ADS_1


__ADS_2