
...༻◐༺...
Gamal menemui Zara di toilet. Namun gadis itu tidak terlihat dimana-mana. Padahal Gamal sudah nekat masuk ke toilet umum wanita.
"Jangan main-main deh, Ra." Gamal membuka satu per satu pintu bilik toilet. Ia sekarang fokus memperhatikan sekeliling.
Gamal tiba-tiba mendapatkan pesan. Zara memberitahukan kalau dirinya harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Kini Gamal hanya bisa berdecak kesal. Ia segera menghubungi Zara melalui via telepon.
"Sengaja ya?! Gara-gara kelakuanmu tadi, aku kelimpungan tau nggak!" timpal Gamal.
"Hahaha... nggak baik kalau kita terlalu sering begituan di tempat kerja," ujar Zara. Tawanya terkesan seperti mengejek.
"Pokoknya malam ini harus main lagi! Kamu sama Zafran akan bermalam lagi kan?" balas Gamal penuh harap.
"Emm... kayaknya nggak bisa deh. Sorry ya Mal..." Zara lagi-lagi menolak. Dia sengaja memakai nada suara menyebalkan. Padahal tadi dirinya sendiri yang menyulut api gairah Gamal.
"Apa?! Tapi--" Gamal tidak bisa melanjutkan, karena Zara memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Zara punya alasan menghentikan pembicaraan teleponnya dengan Gamal. Sebab Susan muncul dari balik pintu. Gadis itu langsung mengajak Zara mengobrol seperti biasa.
Setelah setengah jam bersih-bersih, Zara mendapatkan panggilan telepon dari Gamal lagi. Dia awalnya mengabaikan panggilan itu. Namun karena tidak kunjung berhenti, Zara tidak punya pilihan selain mengangkat. Ia harus menjauh dari keramaian agar bisa bicara dengan leluasa.
"Datang ke kantorku! Bikinkan aku teh!" titah Gamal.
Belum sempat Zara menjawab, Gamal sudah lebih dulu mematikan telepon. Ia sekarang terpaksa melakukan perintah Gamal.
"Mau kemana, Kak? Nggak mau makan siang dulu?" tegur Susan. Ketika melihat Zara membawa secangkir teh dengan nampan.
"Pak Gamal tiba-tiba pesan teh. Tadi Pak Andre datang kasih tahu aku." Zara tentu saja berbohong.
"Wah... jadwal Pak Gamal pasti padat banget. Dia sampai nggak mau menyempatkan waktu untuk makan siang," komentar Susan. Zara lantas berlalu pergi keluar dari ruangan cleaning service.
Sesampainya di lantai tempat kantor Gamal berada, Zara sama sekali tidak menyaksikan keberadaan Elena. Kursi sekretaris tampak kosong. Dia otomatis mengukir senyuman. Zara paham maksud panggilan Gamal terhadapnya.
"Dia pasti akan mengganas karena sudah aku kerjai," gumam Zara. Dia merapikan rambut pendek sebahunya. Lalu melangkah masuk ke ruangan Gamal.
Penglihatan Zara langsung tertuju ke arah Gamal. Pria itu duduk sambil meletakkan kedua kaki ke atas meja.
__ADS_1
"Mau ngapain?" tanya Zara. Setelah meletakkan teh ke atas meja. Dia menatap Gamal sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Pakai nanya segala lagi." Gamal berucap disela-sela tawa kecil.
Zara memutar bola mata jengah. Dia menarik dasi yang dikenakan Gamal. Memaksa lelaki itu untuk bangkit dari kursi.
Gamal dan Zara saling tersenyum. Keduanya perlahan mendekatkan bibir satu sama lain.
Tanpa diduga, suara derap langkah kaki terdengar dari luar. Zara dan Gamal sontak saling menjauhkan diri.
Pemilik langkah kaki itu tidak lain adalah Tania. Ibu kandungnya Gamal yang dikenal cantik dan awet muda.
Ceklek!
Ketika pintu terbuka, Zara berpapasan dengan Tania. Gadis itu berusaha tenang sebisa mungkin. Lalu beranjak dalam keadaan menundukkan kepala.
Tania mengernyitkan kening. Dia yang tidak pernah bertemu Zara, hanya mengggedikkan bahu tak peduli. Tania segera berderap menghampiri sang putra.
"Mamah bawain makan siang untukmu hari ini. Sekalian juga mau melihat bagaimana perusahaan milikmu yang katanya udah berhasil," imbuh Tania seraya meletakkan kotak berisi makanan ke atas meja. Dia bertepuk tangan dan tersenyum. Menatap kagum ke arah Gamal.
"Kamu sibuk nggak malam ini?" tanya Tania. Dia sudah duduk tenang di sofa.
"Nggak juga. Paling aku mau istirahat," sahut Gamal. Ia tampak menyibukkan diri dengan berkas-berkas serta laptop. Hubungannya dengan Tania memang agak canggung. Gamal seringkali tidak tahu harus bicara apa.
Tania memang kurang mengurus Gamal sejak kecil. Saat Gamal SMA pun, Tania lebih sering menghabiskan waktu dengan selingkuhannya. Meskipun begitu, sekarang Tania sudah sadar. Kesempatan dan kebaikan hati yang dimiliki Afrijal, membuatnya membuang semua ego. Kini Tania ingin menjadi ibu dan istri yang baik.
Hening menyelimuti suasana. Tania akhirnya memutuskan untuk pulang. Gamal lantas bisa mendengus lega.
"Canggung banget, sumpah!" gumam Gamal. Menghembuskan nafas melalui mulut.
...***...
Seperti biasa, salah satu jadwal penting Zara adalah menjemput Zafran. Untuk kali kedua, dia didahului orang lagi.
Bu Lily mengatakan kalau Zafran sudah dibawa Wida pergi. Zara langsung memeriksa ponsel. Kebetulan dia belum sempat memeriksa ponsel semenjak menemui Gamal tadi siang.
Benar saja, ada pesan dari Wida. Wanita paruh baya itu membawa Zafran ke tempat wisata bersama anak panti yang lain.
__ADS_1
'Maaf tidak mengajakmu, Ra. Kursi busnya sudah penuh. Anggap saja ini sebagai waktu luang agar kau bisa beristirahat.'
Begitulah pesan yang diterima Zara dari Wida. Pikiran Zara langsung memikirkan Gamal. Tidak ada tempat yang ingin dia tuju selain bersama pria itu.
"Waktunya masih panjang. Aku bisa pulang pas sore aja," gumam Zara. Ia pergi menemui Gamal dengan menggunakan angkot.
Kebetulan Gamal sudah ada di apartemen. Dia tentu menerima dengan senang hati kedatangan Zara. Mereka melakukan kegiatan seperti biasa. Mesra dan intim. Segala hal yang belum dilakukan di tempat kerja tadi, sekarang dapat berlanjut.
Di saat cuaca sedang hujan deras, Gamal dan Zara asyik bersenggama di sofa. Keringat yang bercucuran membuat tubuh mereka agak mengkilap. Mesin pendingin ruangan bahkan tak mempan mengalahkan adegan panas tersebut. Keduanya sama-sama kesulitan mengontrol nafas yang terus memburu.
Zara berada di atas pangkuan Gamal. Mereka sama-sama tidak mengenakan satu helai benang pun. Zara terus mengerang nikmat sambil menghentakkan badan berulang kali.
Saking terbuai akan kenikmatan, Gamal sampai mengabaikan ponsel yang terus berdering. Ada nama Selia yang tertera di sana. Gadis itu sudah puluhan kali menelepon.
Saat telah merasa puas, Gamal memeluk erat Zara. Membuat Zara tak kuasa untuk tidak membalas pelukannya. Zara mendongakkan kepala. Membiarkan mulut Gamal bergelayut manja di leher.
Bel pintu mendadak berbunyi. Awalnya Zara dan Gamal tak acuh. Tetapi karena bel terus bergema, Zara bergegas melepaskan diri dari Gamal.
Nafas Zara masih terengah-engah. Tubuhnya bahkan terasa lemas. Namun dia memaksakan diri untuk mengenakan pakaian.
"Kenapa tiba-tiba pakai baju?" Gamal menghentikan pergerakan Zara. Dia masih belum puas. Tangannya mencengkeram erat lengan Zara.
"Kau tuli ya?! Bel pintumu bunyi terus loh." Zara menghempaskan tangan Gamal. Lalu lanjut menutupi badan dengan pakaian.
Gamal memutar bola mata sebal. Dia menggeram sambil mengenakan celana pendek. Gamal juga tidak lupa untuk mengenakan kaos baju hitamnya. Dengan kaos baju tersebut, bentuk tubuh atletis Gamal terlihat lebih jelas.
"Aku sembunyi ke kamar ya!" ucap Zara seraya berlari ke kamar. Dia membiarkan pintu sedikit terbuka. Zara pasti penasaran dengan tamu yang berkunjung.
Sambil memasang raut wajah datar, Gamal membukakan pintu. Sosok Selia yang basah kuyup terlihat memprihatinkan.
"Aku udah telepon kamu berkali-kali. Kamu lagi sibuk ya?" tanya Selia.
Gamal meneguk salivanya sendiri. "Aku tadi ketiduran. Maaf ya, Sel..." kilahnya. Gamal menilik penampilan Selia sekali lagi dan berucap, "Kamu baik-baik aja kan?"
"Kamu lihat aku sedang basah kuyup kan? Ini jelas nggak baik-baik aja!" Selia menghentakkan salah satu kakinya. Dia melingus masuk ke apartemen Gamal begitu saja.
"Selia!" Gamal gelagapan.
__ADS_1