
...༻◐༺...
Gamal melenggang di lorong rumah sakit. Dia sudah sempat menghubungi Selia. Menanyakan tentang dimana letak kamar Firman dirawat.
Saat Gamal muncul ke hadapan semua orang, Selia bangkit dari tempat duduk. Gadis itu langsung memberikan pelukan. Dia menangis dalam dekapan Gamal. Aksi mereka otomatis menjadi pusat perhatian semua orang. Termasuk Afrijal dan Tania.
"Gimana perkembangan ayahmu?" tanya Gamal sembari menatap Firman yang telentang tak berdaya. Dia perlahan melepas pelukan Selia.
"Seperti yang kau lihat. Ayahku masih belum sadar sampai sekarang," terang Selia. Dia menghapus air mata yang bercucuran dari pipi.
Gamal berjalan menghampiri Firman. Memperhatikan keadaan lelaki tersebut dengan serius. Bersamaan dengan itu, Afrijal ikut mendekat.
"Kenapa kau sangat terlambat?" bisik Afrijal. Dia reflek menyentuh pundak putranya yang baru datang.
Gamal menjauhkan tangan Afrijal dengan sinis. Dia sangat membenci ayahnya, setelah mendengar semua cerita Zara.
"Kau kenapa?" dahi Afrijal berkerut. Matanya menyalang lepas.
Gamal tak menggubris teguran Afrijal. Atensinya terfokus menatap Firman. "Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya-nya. Ingin mengetahui alasan Firman bisa tiba-tiba sakit.
"Ayahku memang sudah lama menderita penyakit jantung. Dia tadi jatuh saat kebetulan ingin pergi ke suatu tempat. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya sangat terkejut." Selia menceritakan semuanya.
"Apa dia menyetir sendiri?" Gamal kembali bertanya.
"Iya, tapi untung saja dia jatuh saat keluar dari mobil. Jadi banyak warga yang langsung menolongnya," tanggap Selia. "Katanya dia ingin membeli mainan untuk keponakanku," tambahnya.
"Mainan?" Gamal menuntut jawaban.
"Iya, ayahku sangat menyukai anak kecil." Selia menyahut sambil memperbaiki selimut yang menutupi Firman.
Gamal hanya membisu. Tidak ada hal yang ingin dia lakukan selain pergi keluar dari ruangan. Gamal juga merasa malas terus melihat wajah Afrijal. Ia sebenarnya sangat ingin mengungkit banyak hal tentang Zara kepada ayahnya itu. Namun Gamal tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat.
"Aku ingin menemui Raffi sebentar. Permisi... aku akan segera kembali," pamit Gamal. Dia beranjak keluar dari ruangan.
__ADS_1
Afrijal hampir menyusul Gamal, namun Selia lekas mencegat. "Biarin aja, Om. Dokter yang menangani Ayahku adalah temannya Gamal. Mungkin Gamal bisa mencari jalan keluar dengan bicara kepadanya," tutur Selia. Membuat Afrijal mengurungkan niat.
Gamal masuk begitu saja ke ruangan Raffi. Dia terkejut ketika melihat Raffi berciuman dengan seorang wanita. Kebetulan Gamal tidak bisa melihat lebih jelas perempuan yang bersama Raffi.
Mendengar pintu terbuka, Raffi dan wanita itu saling melepaskan diri. Sekarang perhatian Gamal tertuju ke wajah perempuan yang bersama Raffi.
"Astaga! Aku kira tadi Raffi selingkuh." Gamal mengelus dadanya berulang kali. Terutama ketika menyaksikan wanita yang bersama Raffi adalah Elsa. Istri Raffi sendiri.
"Apaan sih, Mal! Datang nggak ketuk pintu dulu. Bikin kaget tahu!" timpal Raffi.
"Kau emang nggak pernah berubah ya!" Elsa ikut menimpali.
Gamal tak peduli dengan segala cercaan dua temannya. Ia hanya sibuk menenangkan diri. Jujur saja, pikiran Gamal sedang runyam sekarang. Serunyam masalah yang sedang menimpa dirinya.
Ekspresi Gamal menunjukkan betapa berat masalah yang dia hadapi. Raffi dapat melihat jelas hal itu dari temannya tersebut.
"Kenapa? Pasti kau bingung kan?" tukas Raffi. Dia perlahan menyandarkan pinggul ke depan meja. Memposisikan diri menghadap Gamal.
"Banget. Semuanya rumit banget, Raf!" sahut Gamal. Tanpa menatap lawan bicara. Dia menyandarkan diri ke sofa. Mendongakkan kepalanya.
"Harusnya kau sama Zara jangan sampai bertemu lagi. Tapi sepertinya takdir berkata lain," kata Raffi. Melipat dua tangannya ke depan dada.
"Aku nggak bisa ninggalin Zara sama Zafran begitu aja. Apalagi Zara benar-benar menderita sama suaminya yang sekarang." Gamal menghela nafas berat.
"Kalian ngomongin apa sih?" Elsa menatap Raffi dan Gamal secara bergantian. Ia menuntut penjelasan.
"Mal, aku kasih tahu Elsa semuanya ya." Manik hitam Raffi menatap lurus ke arah Gamal.
"Ceritain aja. Tapi pastikan dia bisa menutup mulutnya," ujar Gamal seraya memejamkan mata. Ia masih mencoba menenangkan pikiran.
Raffi segera memberitahukan Elsa tentang hubungan gelap Gamal dan Zara. Dia juga tidak lupa menceritakan masalah yang di hadapi Gamal sekarang.
Elsa mempelototi Gamal. Dia mengambil bantal sofa, lalu memukuli Gamal dengan benda tersebut.
__ADS_1
"Aaa! Aduh..." Gamal pasrah dengan serangan Elsa yang tak berarti. Serangannya memang tidak menyakitkan, tetapi cukup mengganggu.
"Sayang, udah! Semuanya nggak sepenuhnya salah Gamal. Zara sendiri yang merahasiakan fakta tentang Zafran dari Gamal." Raffi memegang lembut Elsa. Berusaha menghentikan amukan yang sedang dilakukan istrinya itu.
"Ah, satu hal lagi! Aku juga baru saja tahu kenapa Zara menghilang tujuh tahun lalu!" seru Gamal. Dia mendadak duduk tegak.
"Kenapa?!" Raffi dan Elsa bertanya serentak.
"Karena papahku sendiri," jawab Gamal.
Raffi dan Elsa tercengang. Mereka sama-sama membeku. Meskipun begitu, keduanya mendengarkan baik-baik keterangan Gamal selanjutnya.
"Sebenci itukah Om Afrijal sama Zara? Kasian banget Zara..." komentar Elsa sembari menunjukkan emosi kesenduan di parasnya. Hal serupa juga dilakukan Raffi. Dia yang awalnya tidak menyukai kemunculan Zara, sekarang merasa iba dengan perempuan tersebut.
"Penderitaan Zara tidak sampai disitu. Dia juga sering dipukuli sama suaminya. Jadi, salahkah aku dan Zara menjalani hubungan?" pungkas Gamal. Satu tangannya memegang bagian dada.
"Menurutku salah! Karena status kalian masih terikat dengan orang lain," sahut Raffi. Membuat Gamal merasa tertohok dan kehabisan kata-kata.
"Kenapa bingung? Tinggal bilang aja yang sebenarnya sama pasangan kalian masing-masing," usul Elsa yang tak tahu apa-apa perihal kepelikan Gamal.
"Nggak semudah itu. Apalagi sekarang ayahnya Selia sedang jatuh sakit." Raffi menanggapi ucapan sang istri.
Gamal tiba-tiba bangkit dari sofa. Dia baru teringat dengan hal yang ingin diberitahukannya kepada Raffi. Gamal hendak meminta bantuan Raffi untuk mencari cara agar Firman bisa sembuh.
"Nggak bisa, Mal. Masalahnya di sini, Om Firman menderita penyakit jantung. Satu-satunya jalan adalah melakukan transplantasi. Penyakit yang dideritanya cukup kronis. Aku nggak tahu ayahnya Selia akan bertahan berapa lama," terang Raffi panjang lebar.
Gamal berdecak kesal. Ia mengacak-acak rambut frustasi. Dirinya tidak mau terlalu lama mengulur waktu. Mengingat Gamal sudah kukuh untuk menikahi Zara.
"Apa tidak apa-apa, jika sekarang aku memutuskan hubunganku dengan Selia?" imbuh Gamal. Menatap Raffi dan Elsa secara bergantian. Dia berharap bisa mendengar pendapat dua temannya tersebut.
"Memangnya sikap Selia sekarang bagaimana?" respon Elsa memastikan.
"Kayaknya Selia udah mulai suka sama Gamal. Aku bisa melihat dari tatapannya pas hari pertunangan." Raffi menjawabkan pertanyaan Elsa. Gamal bahkan tidak bisa membantah akan hal itu.
__ADS_1
"Jika sudah begitu, hal terbaik adalah mengatakan yang sebenarnya. Selia akan tambah sakit hati bila kau terus mengulur waktu," saran Elsa. Sebagai seorang perempuan, dia menyuarakan pendapat terbaik.