Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 44 - Kandidat Sekretaris


__ADS_3

...༻◐༺...


Gamal dan Zara rebahan bersama di atas ranjang. Tubuh bugil keduanya sedang dibalut oleh selimut tebal. Ujung kaki mereka sesekali saling menyentuh dengan lembut.


"Aku punya ide! Bagaimana kalau aku memilihmu untuk jadi sekretarisku." Gamal melirik Zara penuh harap.


Zara menggigit bibir bawahnya. Dia berpikir sejenak. Apapun pilihannya, Zara tahu satu hal. Bahwasanya hubungan dirinya dan Gamal tidak akan bisa disembunyikan selamanya. Zara tahu, suatu hari nanti dia harus menerima segala resiko. Jadi sia-sia saja jika Zara terlalu berhati-hati. Cepat atau lambat semua orang akan tahu.


"Baiklah... aku mau. Tapi apa kau bersedia menerima orang tidak berpendidikan sepertiku?" balas Zara.


Gamal menghela nafas sebal. Dia tidak menyangka Zara akan berucap begitu. Dengan cepat dirinya memegangi wajah cantik Zara.


"Jangan berucap begitu. Apa kau lupa saat sekolah dulu? Kau salah satu murid terpintar! Elsa saja bisa kau kalahkan," ujar Gamal. Ia tahu Zara adalah perempuan yang cerdas. Namun karena tidak ada biaya yang memadai, Zara tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.


Zara tersenyum simpul mendengar ucapan Gamal. Dia segera memeluk erat lelaki itu.


"Aku yakin kau akan menjadi sekretaris terhebat yang pernah ada," ucap Gamal melebih-lebihkan.


"Apaan sih! Lebay banget." Zara tergelak mendengar pujian berlebihan Gamal. Dia memukul pelan dada lelaki tersebut.


Seusai puas menghabiskan waktu bersama, Zara mengenakan pakaian. Dia segera kembali ke apartemen. Dirinya tentu tidak akan melupakan Zafran yang sedang tidur sendirian.


...***...


Pemilihan sekretaris telah tiba. Ketua tim HRD, membantu Gamal untuk memilih kandidat yang ada.


Satu per satu, semua orang menjalani sesi wawancara. Gamal bersikap seolah tertarik dengan beberapa kandidat. Padahal pilihan hatinya sudah bulat untuk memilih Zara. Dia hanya perlu menunggu perempuan itu muncul.


Di sisi lain, Zara sibuk berdandan di toilet. Dia tidak sendiri, ada Susan yang kebetulan juga ikut mendaftar sebagai kandidat sekretaris Gamal.


"Kak Zara itu udah cantik. Sekarang tambah cantik lagi kalau dandan. Pasti Kakak salah satu kandidat kuat yang terpilih. Aku yakin!" imbuh Susan sembari mengamati Zara yang asyik merapikan lipstik.


"Ya ampun, Susan. Jangan berlebihan. Kamu itu malah lebih cantik dariku," tanggap Zara. Dia telah selesai membenahi dirinya.

__ADS_1


'Lumayan!' komentar Zara dalam hati. Saat menyaksikan dirinya dalam setelan kerja. Dengan kemeja merah muda dan rok ketat berwarna hitam. Rambut pendek sebahunya tergerai rapi.


"Sudah siap?" seru Susan yang sepenuhnya sudah siap.


"Ayo kita bergabung dengan yang lain!" sahut Zara. Dia dan Susan pergi bersama untuk melakukan wawancara.


"Bagaimana kita membuat taruhan? Kalau Kak Zara terpilih, Kakak harus traktir aku makan di restoran. Begitupun sebaliknya. Kakak setuju nggak?" cetus Susan. Dia terlihat lebih bersemangat dibanding Zara.


"Boleh juga." Zara mengangguk. Entah kenapa dia mendadak merasa bersalah kepada Susan. Sebab Zara tentu sudah tahu, kalau dirinya yang akan terpilih sebagai sekretaris.


Belum lagi para karyawan yang tampak bersemangat di sekitar. Zara sadar kalau ulahnya dan Gamal cukup berlebihan. Menipu separuh karyawan perusahaan sebanyak itu.


Karena pemanggilan wawancara sesuai dengan abjad, Zara menjadi orang terakhir yang diwawancara. Susan bahkan lebih dulu pergi dibanding dirinya.


Detik berubah menjadi menit. Zara telah cukup lama menunggu.


"Zara Karlina!" giliran Zara akhirnya tiba. Lamunannya pudar seketika.


Zara melangkah masuk ke dalam ruangan. Matanya langsung menatap Gamal. Detak jantung Zara tidak pernah berhenti berdebar ketika melihat lelaki tersebut.


"Tuan, sekarang giliranmu untuk bertanya." Kala Reza memanggil, barulah Gamal tersadar dari keterpakuan.


"Zara Karlina. Hmmm..." Gamal berlagak sedang berpikir. "Apa alasanmu mendaftarkan diri untuk menjadi sekretarisku?" tanya-nya sambil menyilangkan tangan ke depan dada.


"Aku cukup ahli mengatur perencanaan dengan baik," jawab Zara formal.


"Oh begitu. Aku kira kau ingin lebih dekat denganku. Sayang sekali," komentar Gamal. Membuat Reza terkekeh.


Zara yang mendengar, langsung melotot. Dia memberikan kode agar Gamal tidak berlebihan. Untung saja Reza menganggap ucapan Gamal sebagai candaan.


Handphone Reza mendadak berdering. Dia mengangkat panggilan itu dan ingin segera pergi. Reza harus mengurus hal penting yang berkaitan dengan perusahaan. Dia meminta izin kepada Gamal untuk pergi.


"Pergilah! Aku akan menyelesaikan wawancara ini. Lagi pula dia orang terakhir bukan?" kata Gamal. Dia tentu dengan senang hati membiarkan Reza pergi. Terlebih ada Zara yang masih duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan. Aku harap kau bisa menemukan sekretaris yang kau inginkan." Reza membungkukkan badan sejenak. Kemudian berderap keluar ruangan.


Kini hanya tinggal Zara dan Gamal berduaan. Mereka bertukar tatapan serius. Gamal yang iseng memajukan bibir dan menyuarakan kecupan dari mulut. Dia sengaja menggoda Zara.


"Astaga..." Zara memutar bola mata malas. Dia membuang muka dari Gamal sebentar. Namun saat dia menoleh kembali, wajah Gamal tiba-tiba ada di depannya. Pria tersebut sengaja berjongkok untuk menatap lekat Zara.


"Wawancaranya sudah selesai bukan? Aku lebih baik pergi. Nanti semua orang pada curiga," ujar Zara sembari bangkit dari kursi.


Gamal sigap mencegat. "Kau harusnya jangan berdandan cantik-cantik. Aku ngiler tahu nggak!" tukas Gamal.


"Oke, aku ngerti apa maksudmu." Zara melingkarkan tangan ke leher Gamal. Sementara tangan Gamal melingkar di pinggulnya.


Bukannya memberi sentuhan, Zara malah meniupi leher Gamal dengan mulut. Dia memang tidak menyentuh, tetapi hembusan angin lembut dari tubuhnya itu sukses membuat sekujur badan Gamal meremang.


Gamal memejamkan mata. Dia terbuai dengan permainan Zara. Di saat tenggelam dalam suasana memadu kasih, pintu mendadak terbuka.


Zara sontak terkejut. Wajahnya sempat menabrak kemeja Gamal. Dia dan Gamal reflek saling menjauh.


Ternyata Susan yang tiba-tiba masuk tanpa permisi. Matanya tampak meliar ke segala arah.


"Maaf, Tuan Gamal. Aku kira Tuan sudah pergi dari ruangan ini," ungkap Susan yang merasa tidak enak. Dia sebenarnya hanya ingin menemui Zara.


"Tidak apa-apa." Gamal menjawab sambil mengusap tengkuk tanpa alasan. Dia mempersilahkan Zara dan Susan untuk pergi.


Gamal mendengus lega, saat Susan dan Zara keluar ruangan. Bersamaan dengan itu, dia menerima panggilan dari Selia. Raut wajah Gamal otomatis berubah menjadi datar.


Selia menyuruh Gamal datang ke rumah sakit. Gamal yang berusaha membayar kesalahannya, terpaksa menurut. Dia butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke rumah sakit.


Sebelum benar-benar mendatangi kamar Firman, Gamal tentu tidak lupa membawa buah tangan.


"Ayahku sudah sadar! Dia ingin bertemu denganmu," sambut Selia. Dia bangkit dari tempat duduk untuk menghampiri Gamal.


"Benarkah? Apa keadaannya sudah membaik?" tanggap Gamal.

__ADS_1


"Entahlah. Dokter tidak bisa..." Selia menjeda ucapannya. Karena atensinya terfokus ke lipstik bentuk bibir yang tertempel di kerah baju Gamal.


__ADS_2