
...༻◐༺...
Satu malam berlalu. Pagi yang cerah menyambut. Gamal yang mulai perlahan pulih, bangun lebih dulu dibanding Zara dan Zafran.
Pintu terbuka pelan, Raffi terlihat muncul dalam keadaan rapi. Jelas dia baru saja datang untuk bekerja.
"Kau emang nggak pernah berubah. Pasti sekarang kau menyandang predikat dokter teladan kan?" sapa Gamal. Menyindir Raffi yang datang pagi-pagi sekali.
"Kau juga nggak pernah berubah. Selalu bikin masalah!" balas Raffi yang sudah tahu mengenai masalah Gamal. "Aku baru saja diberitahu bagian adminsitrasi rumah sakit, kalau walimu belum membayar biaya operasi dan perawatan. Pihak rumah sakit berniat mendepakmu keluar dari kamar VIP," jelasnya.
"Bagus! Papah sepertinya langsung beraksi. Dia benar-benar ingin melihatku menderita," tanggap Gamal sambil mendengus kasar.
"Ya, tapi berterima kasihlah kepadaku. Aku sudah mengurus semuanya untukmu." Raffi memperbaiki kerah bajunya. Berharap Gamal mengerti apa yang dia maksud.
"Maksudnya kau sudah memilihkan kamar untukku?" tebak Gamal.
"Ya ampun, Mal. Maksud Raffi itu, dia sudah mengatasi masalah pembayaran rumah sakitmu." Zara tiba-tiba menyahut. Entah sejak kapan dia terbangun.
Kelopak mata Gamal melebar. Mulutnya melengkung membentuk sebuah senyuman. "Waah... makasih ya, Raf. Nanti beliin rumah buatku dan Zara juga ya," candanya. Membuat mata Raffi langsung mendelik.
"Beliin mobil juga sekalian." Zara menambahkan.
"Parah kalian ya." Raffi memutar bola mata jengah. Mencoba memaklumi dua pasangan yang ada di hadapannya. Raffi tentu tahu kalau Gamal dan Zara hanya bercanda. Ia bahkan tidak bisa membendung senyuman.
Beberapa saat kemudian, Elsa datang. Dia membawakan makanan untuk semua orang. Kebetulan Elsa sedang menjalankan bisnis restoran, jadi menyediakan makanan adalah hal sepele baginya.
Zara segera membangunkan Zafran. Dia menyuruh anak itu untuk mandi dulu, lalu sarapan dengan menu makanan bawaan Elsa.
Semua orang makan bersama di kamar Gamal. Termasuk Raffi sendiri.
"Jika Om Afrijal menarik semuanya dari Gamal. Bukankah berarti kalian juga kehilangan tempat tinggal?" celetuk Elsa.
"Begitulah..." Gamal menunduk sendu. Dia tidak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
Zara terkesiap kala melihat ekspresi Gamal. Dia perlahan menurunkan makanan yang hampir disuap ke mulut. Dirinya tiba-tiba merasa bersalah.
"Mal, maafkan aku... semuanya karena--"
"Ra! Aku nggak mau dengar kau minta maaf! Semuanya bukan salahmu!" potong Gamal. "Sebaiknya kau fokus menyelesaikan persidangan. Setelah itu, barulah kita bisa mempersiapkan pernikahan."
Zara setuju dengan usulan Gamal. Sedangkan Raffi dan Elsa mendukung apapun keputusan keduanya. Semenjak itu, pertemanan mereka semakin erat. Raffi dan Elsa selalu datang menjenguk Gamal. Anak mereka bahkan menjadi tambah akrab.
Kabar tentang sakitnya Gamal telah menyebar luas. Dari mulai teman-teman dekat, sampai orang-orang di perusahaan. Kabar tentang perselisihan Gamal dan Afrijal juga tidak luput menjadi topik utama. Meskipun begitu, hanya beberapa orang saja yang bersedia datang menjenguk.
Tiga hari terlewat. Gamal masih tidak diperbolehkan Raffi untuk pulang. Dia harus mendapat perawatan sampai luka di perutnya benar-benar pulih.
Sementara Zara, dia baru saja selesai menjalani sidang perceraian. Zara langsung pergi ke rumah sakit untuk menemani Gamal. Ia juga tidak lupa sekalian menjemput Zafran ke sekolah.
Kini Gamal sedang berada di kamar mandi. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Atensi Gamal terpaku ke arah kalung yang dipakainya.
'Ah benar! Kalung berlian itu!' batin Gamal. Mengingat kalung berlian yang sempat di ambilnya dari rumah Anton. Dia bergegas keluar dari toilet. Gamal berniat mengumpulkan uang untuk kebutuhan pernikahan dan masa depannya bersama Zara.
"Gamal! Lihat siapa yang akhirnya datang," seru Danu sembari memegangi pundak Tirta.
"Gila! Rambut kau kenapa, Ta!" sapa Gamal yang terfokus pada rambut Tirta yang dipirangi warna biru. Teman lamanya tersebut tampak kurus.
"Harusnya aku yang tanya kenapa! Raffi udah cerita semuanya ke kami. Apa yang kau lakukan sama Zara benar-benar gila tahu nggak!" ucap Tirta sambil geleng-geleng kepala.
"Mereka emang pasangan liar dan nekat sejak dulu. Ingat pas di klub malam nggak?" Danu ikut masuk ke dalam pembicaraan.
"Udah deh! Jangan dibahas. Itu masa kelam buat Raffi dan Elsa." Zara menyela. Dia tidak mau mendengar pembicaraan para lelaki lebih lanjut.
"Emang kenapa, Dan? Kok aku penasaran?" Elsa justru mendesak Danu untuk bercerita.
Bersamaan dengan itu, Zafran dan Ramanda muncul dari balik pintu. Keduanya berlarian ke dalam pelukan ibu mereka masing-masing.
"Ya ampun, ini anakmu sama Gamal, Ra?" tanya Danu seraya mengamati wajah Zafran. "Anjir! Mukanya mirip banget sama Gamal. Secinta itu ya kau sama Gamal," komentarnya. Mengharuskan Zara melayangkan pukulan ke pundak.
__ADS_1
"Sumpah, aku senang banget bisa kumpul kalian lagi. Kita ke klub malam lagi yuk!" seru Tirta. Ia langsung mendapat pelototan dari semua temannya. Termasuk Gamal sendiri. Sosok yang dikenal sebagai lelaki paling nakal saat SMA.
"Wajar dia begitu. Tirta kelamaan tinggal di luar negeri," cetus Danu. Dia menyuruh Gamal dan kawan-kawan memaklumi Tirta.
Kedatangan Danu dan Tirta bukan tanpa alasan. Mereka ingin memberi bantuan kepada Gamal sebisa mungkin.
"Raf, kau yang panggil mereka semua ke sini kan?" timpal Gamal.
"Aku juga berpikir begitu!" Zara ikut mendelik ke arah Raffi. Dia dan Gamal tentu tidak mau merepotkan banyak orang.
"Eng-enggak kok." Raffi membantah dengan tergagap. Kemungkinan besar dugaan Gamal benar.
"Udah! Kami di sini cuman mau balas budi kok. Pas waktu sekolah kau sering traktir kami." Danu segera angkat suara. Dia ingin Gamal mengerti.
"Benar! Kami semua udah sepakat akan membiayai acara pernikahanmu dan Zara nanti. Anggap ini hadiah dari kami. Jujur aja ya, kami senang banget bisa lihat kalian bersama." Tirta berucap sambil merangkul Raffi serta Danu.
Gamal dan Zara reflek bertukar pandang. Mereka merasa terenyuh dengan segala bantuan teman-temannya. Siang itu, mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bernostalgia.
Kala malam sudah tiba, Zara dan Gamal rebahan bersama. Sedangkan Zafran dibiarkan ikut menginap ke rumah Raffi. Akibat terlalu seru berteman dengan Ramanda, Zafran jadi ingin terus-terusan bermain.
"Ra, kita harus susun rencana mulai sekarang," imbuh Gamal. Dia menjadikan dada Zara sebagai bantalan kepala. Wanita itu memang sangat memanjakan Gamal. Terutama saat Gamal sedang sakit.
"Aku terus terpikir tentang panti asuhan. Mereka akan baik-baik saja kan?" Zara mengelus kepala Gamal dengan lembut.
"Ya ampun, sayang... aku sudah membeli rumah itu. Aku juga menyerahkan surat rumahnya kepada Bi Wida. Kau tidak perlu khawatir. Justru aku terpikir untuk tinggal di sana sambil menunggu acara pernikahan kita." Gamal memeluk erat pinggang Zara.
Satu per satu masalah teratasi. Gamal juga berniat menjual kalungnya dan kalung berlian Zara. Dia akan menggunakan uang itu untuk membeli rumah sederhana.
..._____...
Catatan Author :
Untuk semua readers, di undang ke pernikahan Gamal sama Zara besok ya. Dipersilahkan standby dari pagi :v
__ADS_1