
...༻◐༺...
Zara tersenyum kecut. Jari-jarinya bergerak cepat masuk ke aplikasi galeri foto. Mencoba menemukan salah satu foto lucu Zafran.
"Cepat! Kenapa lama sekali?" desak Anton.
"Lihat! Lucu bukan?" Zara berhasil menemukan foto lucu Zafran. Foto itu dia ambil dua hari lalu. Zara hanya memperlihatkan dalam keadaan memegangi ponsel. Ia tidak mau menyerahkan ponselnya kepada Anton.
"Anak kalian ganteng sekali. Tapi kok aku merasa nggak asing gitu sama wajahnya," komentar Selia sambil memicingkan mata.
"Benarkah? Emang mirip siapa?" tanya Anton.
Menyadari adanya kemiripan dengan Gamal, Zara langsung berhenti memamerkan foto Zafran. Saat itulah angin mendadak berhembus kencang. Awan hitam bahkan mulai terlihat menutupi langit yang tadinya cerah.
"Wah... harinya mendung. Kasihan banget Dika kalau cuaca tiba-tiba hujan," ungkap Selia sembari menoleh ke arah pengantin yang merupakan teman dekatnya.
Cuaca mendung berhasil menyelamatkan Zara dari timpalan pertanyaan tentang Zafran. Kini dia bisa mendengus lega. Bersamaan dengan itu, Gamal datang. Pria tersebut kembali duduk ke sebelah Zara.
"Anton! Selia! Ayo kita foto bareng dulu! Nanti hujan keburu turun." Sang pengantin lelaki berseru. Anton dan Selia lantas menurut. Keduanya juga tidak lupa untuk mengajak pasangan masing-masing.
Kali ini Gamal dan Zara berdiri di posisi yang terpisah. Mereka harus berpegangan kepada pasangan satu sama lain. Seusai siap, orang yang bertugas sebagai fotografer langsung mengambil gambar.
Beberapa saat kemudian hujan turun. Pengantin dan para tamu undangan berlarian masuk ke villa. Suasana yang tadinya syahdu dan membahagiakan, berubah menjadi ladang air dalam sekejap.
Kebetulan sebagian besar tamu undangan memilih berteduh di teras saja. Selain menunggu hujan reda, mereka juga ingin pulang secepatnya.
Hujan turun sangat deras. Mengharuskan Zara memeluk tubuhnya sendiri. Dia melirik ke arah Anton yang terlihat merapatkan resleting jaket.
Puas melihat Anton, Zara berdalih menengok Gamal. Pria tersebut tampak saling berpelukan dengan Selia.
Zara langsung merengut. Terutama saat Selia lagi-lagi bersikap manja dengan Gamal. Dari pengamatan Zara, Selia pasti orang yang pertama mengajak Gamal berpelukan.
"Cih!" Zara berdecih sebal.
Seakan memiliki koneksi kuat, Gamal menoleh ke arah Zara. Tatapan keduanya saling bersibobrok. Menyaksikan wajah Zara yang cemberut, Gamal perlahan melepas pelukan Selia.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam dan cari tempat duduk!" ajak Gamal. Dia menarik tangan Selia seraya berjalan menghampiri Anton dan Zara. "Kita ajak temanmu sama istrinya itu juga ya," tambahnya.
"Gamal... kamu perhatian benget sih," puji Selia. Matanya berbinar penuh akan kekaguman. Padahal tujuan utama Gamal adalah ingin menyelamatkan Zara dari rasa dingin yang mengikat.
__ADS_1
Sebenarnya Gamal dan yang lain bisa pulang sekarang. Tetapi keadaan hujan yang terlampau deras, hanya akan mengganggu perjalanan. Petir juga mulai terdengar bergema. Sesekali mengagetkan orang-orang yang masih berdiri di teras villa.
Anton dan Zara bersedia mengikuti Gamal masuk ke villa. Mereka segera bergabung dengan beberapa tamu yang merupakan bagian keluarga mempelai.
Gamal, Zara beserta pasangan masing-masing, saling terdiam. Mereka duduk berjejer di kursi yang ada di pojok jendela. Dari sana dapat terlihat kalau hujan belum reda.
Gamal dan Zara dihelat oleh sebuah meja kecil. Mereka juga tidak bisa curi-curi pandang seperti sebelumnya. Sebab posisi Anton dan Selia sama-sama menutupi penglihatan.
"Kalau kau tidak datang bulan, pasti aku akan mengajakmu menginap di hotel," celetuk Anton sambil melipat tangan di depan dada.
"Ngapain ke hotel. Buang-buang duit aja," sahut Zara sinis. Sikapnya tentu membuat Anton geram. Satu tangan Anton segera bergerak untuk mendorong kasar kepala Zara.
Tepat di sebelah Anton, Gamal sukses memergoki apa yang baru saja terjadi kepada Zara. Dia reflek berdiri. Tidak terima wanitanya diperlakukan begitu.
Melihat Gamal tiba-tiba berdiri, Anton dan Selia sontak bingung. Apalagi ketika Gamal menyalangkan mata tepat ke arah Anton.
"Kau kenapa?!" timpal Anton. Meringis jijik.
Zara menggeleng pelan. Dia memberi kode kepada Gamal agar tidak menanggapi timpalan Anton.
"Maaf, petir membuatku kaget." Gamal memberikan alasan asal. Padahal saat dia berdiri tadi, tidak ada petir yang terdengar.
"Aku mendadak terpikir dengan ucapan Anton tadi. Dia bilang kau suka menggigit, apa maksudnya coba?" ujar Gamal.
Selia tergelak lepas. "Astaga... jadi itu yang tiba-tiba bikin kamu berlagak sangar?" simpulnya sembari melambaikan tangan ke depan wajah.
"Itu bukan apa-apa, Mal. Aku pas waktu sekolah pernah berantem sama teman cewek aku. Nah pas berantem, aku ngelawan dia dengan cara gigit tangannya. Parah banget sih kelakuanku dulu." Selia menceritakan perihal masa sekolah. "Tapi tenang aja. Aku nggak bakalan begitu lagi kalau marah," lanjutnya. Tangan Selia perlahan bertaut ke jari-jemari Gamal.
"Pasti kau kesal banget bisa sampai gigit segala," komentar Gamal. Dia sebenarnya tak peduli dengan cerita Selia.
"Kamu tahu aja," balas Selia. Dia menyenderkan kepala ke pundak Gamal.
Hujan sudah agak mereda. Anton mengajak Zara untuk pulang. Gamal dan Selia lantas menyusul. Namun Gamal harus pergi belakangan, karena Selia harus pergi ke toilet sebentar.
"Kami duluan ya, Mal!" tegur Anton. Mengangkat satu tangan ke depan wajah. Kaca jendelanya sedikit dibuka agar dapat menyapa Gamal dengan leluasa.
Gamal balas melambaikan tangan. Dia melemparkan senyuman yang dipaksakan. Sedangkan bola matanya sibuk mengarah kepada Zara. Gadis itu tampak memasang ekspresi datar.
Sesak rasanya. Menyaksikan orang terkasih malah pergi bersama lelaki lain. Gamal menatap nanar mobil Anton yang kian menjauh. Ada perasaan tidak rela di hatinya. Terutama saat melihat Zara sempat diperlakukan kasar oleh Anton.
__ADS_1
'Ternyata itu yang membuat Zara tidak bahagia dengan rumah tangganya,' batin Gamal. Dia terdiam cukup lama.
Sementara Zara, dia juga merasakan perasaaan yang sama seperti Gamal. Entah sudah berapa kali dirinya menghela nafas panjang. Hingga pemandangan lautan air dari arah depan, membuyarkan emosinya.
"Bisa lewat nggak, Mas? Kayaknya airnya dalam." Zara tampak khawatir.
"Pasti bisa deh!" Anton melajukan mobil untuk menembus air yang menggenang jalanan. Dia terus memaksakan mobilnya berjalan.
"Eh, eh, eh! Jangan dipaksakan, Mas! Airnya dalam banget!" seorang warga mencoba memberi peringatan kepada Anton. Namun lelaki itu sama sekali tidak menggubris. Dia justru menginjak pedal gas sekuat mungkin.
Benar saja, lama-kelamaan air semakin dalam. Bahkan sampai masuk ke dalam mobil.
"Mas! Kayaknya kita nggak akan bisa deh! Airnya dalam banget. Mobilnya nanti mogok!" Zara sontak panik. Dia berpegangan begitu erat.
"Jangan banyak bacot!" bentak Anton. Dia masih saja keras kepala.
Semakin Anton memajukan mobil, air menjadi tambah dalam. Ketika air sudah menggenang ke dekat jendela, barulah Anton gelisah.
"Kita balik aja, Mas. Tadi warga juga udah ingatin kita." Zara menyarankan baik-baik. Dia yang sangat mengetahui perangai Anton, berupaya menahan amarah.
Dengan helaan nafas berat, Anton akhirnya memundurkan mobil. Dia tidak punya pilihan selain kembali.
Anton langsung memutar mobil saat telah keluar dari air. Belum sempat satu meter dijalankan, mesin mobil mendadak mati.
"Sial! Sial! Sial!" Anton memaki berkali-kali.
Zara sangat ingin mengomel. Tetapi ditahan sebisa mungkin. Keadaan akan tambah parah jika dia nekat memarahi Anton.
Bertepatan dengan itu, mobil Gamal muncul. Anton bergegas meminta bantuan.
Gamal dan Selia dengan senang hati membantu. Mereka menyuruh beberapa warga untuk menjagakan mobil Anton.
"Kita sama-sama nggak bisa pulang. Mending kita cari tempat penginapan terdekat dulu," usul Selia.
"Benar banget. Jalanan sekarang tidak memungkinkan untuk dilewati. Kebetulan nggak ada jalan pintas juga." Gamal sependapat dengan Selia.
"Ya udah, kalau begitu ayo kita pergi." Anton setuju. Dia segera masuk ke mobil Gamal. Di ikuti oleh Selia setelahnya.
Zara dan Gamal saling mematung sepersekian detik. Keduanya melemparkan tatapan penuh arti. Lalu masuk ke mobil di waktu bersamaan.
__ADS_1