
...༻◐༺...
"Maaf, kalau pun aku tetap bersama Mas, aku tetap nggak bahagia. Perasaanku sama Gamal nggak pernah berubah. Dia juga adalah ayah kandungnya Zafran. Kamu harus mengerti, Mas..." ungkap Zara panjang lebar.
Apa yang dikatakan Zara berhasil membuat tangisan Anton semakin menjadi-jadi. "Aku nggak punya siapa-siapa selain kalian... pokoknya aku akan segera keluar dari sini. Teman-temanku sedang berusaha mengurusnya."
"Aku sudah kasih Mas kesempatan selama bertahun-tahun. Sekarang kesempatan itu sudah habis, Mas. Ini pilihan akhirku!" Zara meninggikan nada suaranya. Dia meneruskan, "lagian kesalahan Mas sekarang adalah melakukan percobaan pembunuhan, teman polisi Mas nggak akan ada yang bisa bantu!"
Lama-kelamaan tangisan Anton mereda. Dia mengambil surat perceraian. Tetapi pandangannya mengarah ke wajah Zara.
"Apa kau tahu? Aku sudah menyukaimu semenjak kau SMA. Aku sering melihatmu berjalan melewati rumahku. Tapi aku bukan lelaki yang pandai mendekati wanita. Jadi aku menggunakan cara paksaan untuk membuatmu jadi milikku..." Anton tiba-tiba menceritakan masa lalu.
"Aku tahu Mas suka sama aku. Tapi... apa yang Mas lakukan selama bertahun-tahun, membuatku tidak akan pernah bisa membalas perasaan Mas. Padahal aku sudah kasih Mas kesempatan tujuh tahun! Bayangkan! Tujuh tahun, Mas! Dan saat aku sudah berhasil menemukan kebahagiaan, barulah Mas begini?! Ingin aku tetap bersama Mas?!" timpal Zara sembari mengusap kasar wajahnya.
Kepala Anton tertunduk. Dia tertohok dengan semua ucapan Zara. Sebab itu memang benar adanya.
"Kalau Mas tetap tidak mau tanda tangan, maka jangan harap aku mau memaafkan Mas! Dari mulai apa yang dilakukan Mas sama aku, Zafran, dan Gamal!" ucap Zara.
"Baiklah! Berhentilah menyebut-nyebut kesalahanku!" pekik Anton. Dia akhirnya mengalah dan menandatangani surat cerai. Setelahnya, Zara langsung pergi dengan membawa surat cerai yang ditandatangani Anton.
"Aku akan secepatnya menyelesaikan urusan perceraian ini!" pungkas Zara. Sebelum benar-benar meninggalkan lapas Anton.
Zara beranjak dalam keadaan mendengus lega. Sekarang hanya tinggal mengesahkan perceraian melalui sidang.
Pesan dari Elsa diterima Zara. Teman lamanya itu memberitahu kalau dia dan Zafran sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kebetulan Zafran bersikeras ingin menemui ibunya.
Ingat ada Afrijal di rumah sakit, Zara buru-buru berangkat. Dia takut anaknya ikut-ikutan mendapat hinaan.
...***...
Afrijal dan Tania sedang berada di ruangan Gamal. Keduanya terus menanti kesadaran putra mereka.
Agar Zara tidak bisa masuk, Afrijal sengaja menyewa dua lelaki untuk menjaga di depan ruangan. Lelaki paruh baya itu bertekad tidak akan membiarkan Gamal bertemu lagi dengan Zara.
Di sisi lain, Zara baru tiba di rumah sakit. Dia tidak langsung pergi ke kamar Gamal dirawat. Dirinya harus mencari Zafran terlebih dahulu. Kebetulan Elsa membawa anak tersebut ke kantor Raffi.
__ADS_1
"Bunda!" seru Zafran. Saat menyaksikan Zara datang. Dia berlari ke dalam pelukan sang ibu.
"Om Afrijal menyewa dua pengawal untuk menjaga kamar Gamal. Aku ragu kau bisa masuk ke sana," ujar Elsa. Merasa ikut sedih.
"Tidak apa-apa. Kan ada Raffi. Aku akan mengetahui perkembangan Gamal lewat dia saja," sahut Zara sembari mengajak Zafran duduk ke kursi.
Suasana hening menyelimuti. Zara memeluk Zafran dengan erat. Membiarkan putranya itu berdiri membelakanginya.
Perlahan air mata Zara bercucuran. Dia tidak tahu kenapa dirinya mendadak menangis. Zara hanya merasa lega ketika melampiaskan segalanya dengan tangisan.
"Bunda kenapa nangis?" tanya Zafran cemas. Dia memutar tubuhnya menghadap Zara. Tangan Zafran sigap menghapus cairan bening yang ada di pipi Zara.
"Nggak apa-apa. Bunda hanya kangen aja sama kamu..." kilah Zara. Mencoba berhenti menangis.
"Apa Om Gamal baik-baik saja? Atau ayah menyakiti Bunda lagi?" terka Zafran. Berupaya mencari tahu alasan ibunya menangis.
"Semuanya baik-baik saja. Bunda janji," jawab Zara. Dia menghela nafas panjang. Lalu tersenyum tipis. Agar Zafran bisa mempercayai perkataannya.
"Bunda Zafran benar! Semuanya akan baik-baik saja." Elsa yang masih ada di ruangan, ikut masuk ke dalam pembicaraan.
"Makasih ya, El. Aku nggak tahu akan gimana kalau kau dan Raffi tidak ada," kata Zara bersungguh-sungguh.
Sementara itu, Gamal masih telentang di hospital bed. Salah satu tangannya mulai memperlihatkan ada pergerakan. Perlahan Gamal membuka matanya. Cahaya lampu yang terang benderang menghantam penglihatan.
Gamal mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia menyaksikan Afrijal bergegas mendekatinya. Hal serupa tentu juga dilakukan Tania.
"Gamal! Akhirnya kau siuman juga," imbuh Tania. Dia lega melihat putranya kembali membaik.
Afrijal hanya sibuk memperhatikan Gamal. Dia bukan orang tua yang pandai menunjukkan kasih sayang. Apalagi dengan kata-kata. Di dalam lubuk hati Afrijal, dia merasa bahagia bisa menyaksikan sang putra tersadar.
Gamal membisu. Bola matanya bergerak ke segala arah untuk mencari Zara. Akan tetapi dia sama sekali tidak melihat kehadiran wanita tersebut.
"Mana Zara?" tanya Gamal. Menatap penuh selidik kepada Afrijal.
"Dia tidak akan menemuimu. Dia kali ini benar-benar pergi jauh!" sahut Afrijal. Bertekad menjauhkan Zara sampai titik penghabisan.
__ADS_1
Gamal mengerutkan dahi. Dia memaksakan diri untuk duduk.
"Gamal! Kamu nggak boleh banyak gerak." Tania berusaha menghentikan pergerakan Gamal. Namun dia tidak bisa.
Gamal sudah terlanjur duduk. Wajahnya meringis, karena bagian perutnya masih terasa nyeri.
"Gamal! Dengarkan Mamah kamu! Kau harus masih banyak istirahat!" titah Afrijal. Dia memaksa Gamal untuk kembali rebahan ke kasur.
"Tidak. Aku mau bertemu Zara..." Gamal bersikeras.
"Kau sangat keras kepala! Sudah kubilang dia telah pergi!" geram Afrijal yang akhirnya tidak bisa menahan amarah.
"Papah pikir aku akan percaya?! Setelah tujuh tahun lamanya Papah membohongiku?!" timpal Gamal. Menatap tak percaya kepada Afrijal.
"Maksudmu tentang apa yang aku lakukan tujuh tahun lalu?! Kenapa kau menyalahkanku? Jelas-jelas wanita itu yang memilih uangku daripada dirimu! Kenapa kau berpikir semua ini sepenuhnya salahku?!"
"Semuanya memang salah Papah! Papah udah mengancam Zara sampai takut buat dekatin aku lagi! Papah tahu nggak?! Dia menjaga anakku sendirian selama tujuh tahun!!" Gamal menjawab dengan nada penuh penekanan. Membuat luka diperutnya semakin terasa sakit.
"A-apa kau bilang? A-anak?!" mata Afrijal bergetar.
"Iya! Aku sudah punya anak, Pah. Makanya aku mau tanggung jawab dan akan menikahi Zara secepatnya." Gamal mulai merendahkan nada suara.
Afrijal menatap tajam Gamal. Ia menegaskan, "Itu tidak akan pernah terjadi! Kau tidak akan pernah mendapatkan restu, bila nekat menikahi wanita kotor itu!"
"Jangan pernah menghinanya!" sungut Gamal.
Bertepatan dengan itu, Raffi datang. Dia menyarankan Gamal untuk kembali telentang di hospital bed.
"Zara ada di ruanganku. Kau tenang saja," ucap Raffi.
Gamal lantas tersenyum. Dia menuruti arahan Raffi untuk telentang. "Aku ingin bertemu dengannya. Suruh dia datang ke sini. Dia tidak perlu mengkhawatirkan kedua orang tuaku," pintanya.
"Jangan coba-coba membawa wanita itu ke sini! Jika kau nekat melakukannya, maka aku pastikan Gamal akan menderita." Afrijal memberikan ancaman.
"Dan kau, Gamal. Jika kau nekat menikahi wanita itu, maka aku tidak akan menganggapmu sebagai anak lagi! Semua harta yang kau miliki sekarang akan aku tarik sepenuhnya!" sekarang Afrijal mengancam putranya sendiri.
__ADS_1
Gamal terlihat datar saja. Dia menoleh ke arah Raffi dan berucap, "Cepat suruh Zara ke sini!"
Raffi mengangguk. Dia memutuskan menuruti keinginan temannya. Bukan karena dirinya tidak menghormati orang tua, tetapi karena Raffi tahu kalau pilihan Gamal merupakan niat yang baik.