
...༻◐༺...
Zara tak pernah menduga ide yang diberikannya bisa berdampak baik. Terlebih gara-gara hal tersebut, Afrijal lebih menghargai kehadirannya. Semuanya terasa seperti keajaiban bagi Zara.
Perusahaan keluarga Laksana semakin sukses besar. Properti bangunan mereka terus bertambah dari hari ke hari. Gamal yang merasa harus melakukan sesuatu pada para karyawan Relangga Group, akhirnya membeli perusahaan itu lagi. Lalu menarik seluruh karyawan untuk kembali bekerja di sana.
Delapan bulan terlewat. Kini Zara tengah berada di rumah sakit. Ia menanti momen anak keduanya lahir. Wanita itu duduk sambil menatap keluar jendela.
Zara membuka jendela tersebut. Kemudian memejamkan mata. Pikirannya tidak pernah sedamai ini.
Ingatan betapa sulitnya hidup Zara semenjak kecil, sekarang hanya tinggal kenangan. Masa-masa dirinya terperangkap di dunia yang salah juga telah berlalu. Apalagi kehidupan nerakanya ketika bersama Anton.
Walau jalan menuju kebahagiaan begitu sukar digapai, tetapi semuanya tidak akan sia-sia jika terus diperjuangkan. Zara tenggelam dalam rasa syukur dan tenang.
Angin menerpa rambut Zara yang mulai sedikit memanjang melewati garis bahu. Tidak lama kemudian, Gamal muncul dari balik pintu. Dia segera duduk ke sebelah Zara.
"Kenapa melamun? Apa ada sesuatu yang mengganggu?" tanya Gamal.
"Justru pikiranku sangat damai sekarang. Aku tidak pernah merasa senyaman ini. Semuanya karenamu juga." Zara menoleh dan menggenggam jari-jemari Gamal.
"Aku pikir karena kita sudah membayar semua kesalahan kita," tutur Gamal. Ia mengecup kening Zara dengan lembut. "Jujur ya, sayang. Aku nggak pernah menyangka kalau kaulah perempuan yang akan menjadi istriku. Kau tahu saat pertama kali kita saling kenal, aku selalu menghinamu. Aku benar-benar minta maaf atas segala kekasaranku dulu, dan--" ucapan Gamal terhenti, ketika Zara meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Semua kesalahanmu sudah tenggelam dengan rasa cintaku. Yang terpenting, kau sudah berhasil membuatku nyaman. Aku yang harusnya minta maaf. Dulu aku sering memeras uangmu. Jadi kita sama-sama salah," ucap Zara seraya menangkup wajah Gamal. Keduanya lantas saling menorehkan perasaan bahagia.
Zara mendadak meringiskan wajah. Dia memegangi perutnya yang terasa sakit. Nampaknya Zara akan segera melahirkan.
"Aku pikir, anak ini ingin cepat-cepat bergabung dengan kita..." lirih Zara sambil menahan rasa sakit. Gamal otomatis membawanya telentang ke kasur. Lalu memanggil dokter yang bersangkutan.
Selama proses persalinan, Gamal memutuskan untuk berada di samping Zara. Hal itu dia lakukan berdasarkan inisiatifnya sendiri.
__ADS_1
"Aaaarkkhhh...." Zara mengejan sekuat tenaga. Tentu saja atas bimbingan dokter yang bertugas.
Bersamaan dengan itu, Gamal ikut merintih kesakitan. Bukan karena mengejan, namun karena Zara tiba-tiba menarik rambutnya dengan sangat kuat.
"Sayang... jangan--" Gamal mencoba mengalihkan pegangan Zara. Akan tetapi dia tidak bisa. Sebab Zara sedang dalam proses berjuang.
Peluh sudah membasahi separuh wajah Zara. Dia akan berusaha melahirkan dengan cara normal. Persis seperti yang terjadi kepada Zafran sebelumnya.
Gamal yang sebenarnya telah kewalahan, mencoba tetap bertahan di sisi sang istri. Dia juga tidak lupa untuk memberikan semangat dan dorongan agar Zara tidak menyerah. Perlahan Gamal mengalihkan pegangan Zara ke genggaman tangan.
"Sakit sekali... sayang! Rasanya sakit banget!..." rintih Zara. Cairan bening membanjiri sudut matanya. Wajahnya memerah padam. Sedangkan rambut Zara sepenuhnya basah karena keringat.
"Bertahanlah, sayang. Aku ada di sampingmu..." Gamal jadi gelagapan sendiri. Dia ketakutan menyaksikan Zara tersiksa begitu. Sementara itu dokter dan perawat yang bertugas terlihat tenang saja.
"Kenapa kalian sangat tenang! Istriku semakin kesakitan!" omel Gamal kepada dokter yang bernama Lena tersebut. Namun tidak ada satu orang pun yang menggubris ucapannya.
"Sayang!!!" Zara kembali berteriak kesakitan. Dia menggenggam erat tangan Gamal sekuat tenaga. Wajahnya kian pucat dari waktu ke waktu.
"CEPAT LAKUKAN SESUATU!" geram Gamal kepada para pihak medis. Dia melotot dalam keadaan wajah yang sembab.
"Ayo, sedikit lagi ya, Mbak Zara... sedikit lagi..." Dokter Lena memilih fokus pada proses persalinan Zara. Dibanding menanggapi omelan Gamal.
Setelah berjuang dengan maksimal, akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Suara tangisan bayi menyambut pendengaran Gamal. Dia merasa lega sekaligus senang.
Gamal menatap Zara dengan rasa haru. Memastikan keadaan sang istri baik-baik saja. Zara terlihat lemas dan membalas tatapannya. Saat itulah keduanya saling menangis bersamaan.
"Maafkan aku, sayang... saat melahirkan Zafran aku tidak ada bersamamu. Pasti itu lebih sakit. Maafkan aku..." Gamal memeluk Zara sambil menangis. Sebagai lelaki, dia baru tahu betapa besarnya perjuangan seorang wanita. Terutama dalam hal mengandung sampai melahirkan.
Zara hanya menangis dan menggeleng berulang kali. "Kau tidak ada bersamaku, karena aku memilih pergi... kau tidak salah..." ungkapnya sambil mengusap kepala Gamal.
__ADS_1
Dari samping, seorang perawat perlahan mendekat. Dia menggendong anak kedua Gamal dan Zara.
"Lihat, dia sangat cantik..." ungkap perawat itu. Membuat Gamal dan Zara sontak menoleh.
"Cantik? Dia perempuan?" tanya Gamal. Sang perawat lantas langsung mengangguk. Lalu membiarkan Gamal menggendong bayinya.
Zara tersenyum hangat. Terutama ketika Gamal memperlihatkan wajah bayi perempuannya tersebut.
"Dia cantik sepertimu," imbuh Gamal sambil meletakkan bayinya ke sebelah Zara.
"Kau sudah menyiapkan nama bukan?" ujar Zara.
"Revita Adelia Laksana. Itulah namanya." Gamal menatap lamat-lamat sang buah hati.
Paska melahirkan, Zara harus melakukan perawatan di rumah sakit sampai pulih. Teman-temannya dan Gamal datang silih berganti untuk menjenguk.
Dari semua orang itu, ada teman-teman yang Zara rindukan. Yaitu semua rekan kerja cleaning service-nya. Terutama Susan. Gadis itu langsung memeluk Zara.
"Aku nggak nyangka, Kak Zara yang nikah sama Pak Gamal. Kenapa Kakak nggak pernah bilang kalau Pak Gamal mantan Kakak pas sekolah dulu?" tukas Susan. Ia duduk di sebelah Zara.
Mendengar perkataan Susan, Zara melirik lebih dulu ke arah Gamal. Suaminya itu tampak sibuk mengobrol dengan para karyawan Relangga Group yang datang.
Zara tersenyum tipis. Dia segera menatap Susan dan memberitahu, "Tidak, San. Dia bukan mantanku. Tapi cinta pertama dan terakhirku."
...~TAMAT~...
Catatan Author :
Oke guys, akhirnya kita tiba di akhir cerita. Tapi tenang saja, aku akan siapkan dua bonus chapter untuk cerita ini. Satu flashbacknya Zara sama Gamal pas pertama kenal. Terus bonchap yang terakhir adalah nasib keluarga Baskara.
__ADS_1
Pokoknya aku ucapkan terima kasih buat yang selalu menunggu update novel ini. Maaf kalau ada banyak kesalahan dari segi penulisan sampai cerita.
Sampai ketemu di karya baru author yang lain ya... 😘