Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 37 - Memberitahu Zafran


__ADS_3

...༻◐༺...


"Aku mau pipis..." ujar Zafran sambil mengusap-usap salah satu matanya.


Zara hampir bergerak untuk mengurus Zafran. Namun Gamal langsung mencegat dan lebih dulu menghampiri Zafran.


"Biar aku saja," kata Gamal. Sikapnya tentu membuat Zara merekahkan senyuman. Gamal yang sekarang memang begitu manis.


Zara memperhatikan perlakuan Gamal terhadap Zafran. Menurutnya mereka sudah lumayan dekat sebagai ayah dan anak. Zafran bahkan terlihat baik-baik saja. Seolah tidak terganggu dengan apa yang dilakukan Gamal.


Saat terpaku menatap pemandangan di hadapan, ponsel terdengar berbunyi. Zara segera mengambil ponsel yang kebetulan diletakkan di kamar. Kedua alisnya langsung bertaut, ketika melihat ada nomor yang tak dikenal sedang menelepon.


Dengan perasaan ragu, Zara lantas mengangkat panggilan tersebut. Dia ternyata mendapatkan telepon dari Raffi.


"Eh, Raf. Kenapa kau telepon aku?" Zara terheran.


"Begini, aku tadi udah berapa kali telepon Gamal. Tapi nomornya nggak aktif. Jadi aku nggak punya pilihan selain menghubungimu. Kau tahu dimana Gamal sekarang?" tanggap Raffi dari seberang telepon.


Zara terkesiap. Dia bingung kenapa Raffi menanyakan perihal Gamal kepadanya. Padahal setahunya, hanya Wida yang mengetahui tentang hubungan gelapnya dan Gamal. Setelah berpikir cukup lama, Zara tentu dapat menyimpulkan satu hal. Bahwasanya Gamal-lah orang yang telah memberitahu Raffi.


"Ra?" panggil Raffi. Dia dan Zara saling terdiam sejenak. "Kau pasti bingung kenapa aku menanyakan Gamal sama kamu ya?" tebaknya. Sadar kalau Zara tidak kunjung angkat suara.


"Iya. Apa Gamal yang..." Zara enggan bertanya. Jujur, siapa yang tidak malu menjalani hubungan gelap. Mengingat Zara dan Gamal sudah memiliki pasangan masing-masing.


"Dia yang kasih tahu aku semuanya..." lirih Raffi. "Sekarang bisa aku bicara sama Gamal nggak?" mohonnya.


Zara menganggukkan kepala. Dia segera menyerahkan ponsel kepada Gamal.


Kening Gamal hanya bisa mengernyit, tatkala menerima telepon dari ponsel Zara. Tetapi setelah mendengar suara Raffi di seberang telepon, Gamal tentu kaget.


Raffi langsung mengatakan tentang keadaan ayahnya Selia. Kini Gamal tahu, alasan dibalik tangisan Selia tadi.


"Om Firman sakit apa?" tanya Gamal sembari melepas handuk kimono. Zara yang duduk tidak jauh, dapat mendengar segalanya.


"Jantung. Dia belum sadarkan diri tau nggak. Di sini cuman kau yang belum datang. Bokap sama nyokapmu udah pada datang tuh," ungkap Raffi.

__ADS_1


"Oke, makasih infonya." Gamal menjawab singkat. Dia memutuskan sambungan telepon lebih dulu.


Gamal sama sekali tidak diserang rasa kalut. Meski mengetahui Firman sedang sakit, dia tetap berniat akan mengakhiri hubungannya dengan Selia. Saat itulah Zara melangkah ke hadapannya.


"Kamu kasih tahu hubungan kita sama Raffi?!" timpal Zara yang merasa tak habis pikir.


"Iya, memangnya kenapa? Kau tahu dia dapat dipercaya kan? Raffi nggak berubah, Ra!" jawab Gamal. Dia mengambil pakaian dari dalam lemari.


"Terus gimana tanggapan dia?" tanya Zara.


Gamal tersenyum sambil memegang lembut jari-jemari Zara. "Dia kaget dengar kita punya anak," terangnya.


"Jangan bohong deh." Zara tak percaya.


"Beneran." Gamal menjawab singkat.


Zara hanya mendengus kasar. Matanya memicing penuh selidik, kala menyaksikan Gamal memakai setelan rapi. "Mau kemana? Kok rapi banget?" tanya-nya, yang mendadak merubah topik pembicaraan.


"Aku mau ke rumah sakit bentar. Raffi tadi kasih tahu kalau ayahnya Selia sakit," jelas Gamal yang terkesan biasa saja.


"Aku juga akan sekalian bicara dengan Selia. Kau tidak perlu cemas. Hal seperti ini tidak akan bisa menggangguku." Gamal memegangi pundak Zara. Tekadnya tidak akan runtuh walau banyak halangan yang menerjang.


Ketika Gamal nyaris pergi, Zara sigap menghentikan. Dia mencengkeram lengan pria itu dengan kuat.


"Jangan katakan sekarang!" imbuh Zara.


"Apa?!" Gamal tidak mengerti.


"Maksudku, jangan putuskan hubunganmu sekarang! Selia sedang sedih. Lebih baik kau lakukan saat ayahnya Selia pulih dari sakit." Zara memohon.


Gamal terdiam seribu bahasa. Karena ucapan Zara, hati nuraninya ikut muncul. Memang sekarang bukan waktu yang tepat untuk bicara tentang pemutusan hubungan.


"Lagian aku juga harus mengurus perceraianku sama Anton. Kita nggak bisa langsung nikah begitu aja. Kalau serius sama tujuan, aku yakin kita pasti akan berakhir bersatu. Aku percaya itu," ucap Zara. Dia memancarkan tatapan yang meneduhkan. Membuat Gamal tidak tega untuk menolak.


"Kau benar. Tidak ada yang bisa menghalangi kalau tekad kita sudah bulat. Aku janji, kaulah satu-satunya wanita yang harus menyandang status sebagai istrinya Gamal. Harus kamu! Pegang janjiku!" Gamal bicara dengan serius. Dia tidak main-main dengan semua yang diucapkannya.

__ADS_1


"Aku percaya kepadamu." Zara tersenyum tenang. Dia dan Gamal berpelukan sejenak. Sekali lagi, ulah mereka dipergoki oleh Zafran. Anak itu segera bersembunyi ke balik dinding.


Gamal pamit pergi ke rumah sakit. Dia meninggalkan Zara dan Zafran di apartemennya. Kini dua ibu dan anak itu hanya berduaan di rumah.


"Bunda..." panggil Zafran lirih. Dia menampakkan mimik wajah sendu.


"Kenapa, sayang?" respon Zara. Ia baru selesai berganti pakaian.


"Kenapa Bunda dekat banget sama Om Gamal? Kenapa kita nggak pulang ke rumah?" ungkap Zafran. Ekspresinya berubah menjadi masam. Seolah menuntut Zara untuk melakukan sesuatu.


"Sayang... untuk sementara kita nggak akan pulang ke rumah ya." Zara memberitahu baik-baik.


"Ayo kita pulang, Bunda! Aku takut..." rengek Zafran sambil menghentakkan salah satu kakinya.


"Zafran..." Zara menelan salivanya sendiri. Dia merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk memberitahu Zafran semuanya.


"Bunda! Ayo kita pulang... hiks... hiks..." mohon Zafran sekali lagi.


Zara sigap menenangkan. Dia memeluk lembut putranya tersebut. Mengelus pelan punggung Zafran berulang kali. Setelah anak itu tenang, Zara langsung angkat bicara.


"Dengerin Bunda. Ada sesuatu hal yang harus Zafran tahu." Zara menjeda sejenak, karena sibuk mengusap air mata Zafran. "Om Gamal itu adalah ayah Zafran yang sebenarnya. Bunda merahasiakan fakta itu dari semua orang. Termasuk Om Gamal sendiri," jelasnya.


"Ayah? Terus Ayah yang selama ini bareng sama kita?" tanya Zafran. Dia tentu tidak langsung mengerti.


"Dia bukan ayahmu. Bunda terpaksa menikah sama dia, agar Zafran bisa punya keluarga yang lengkap." Zara berucap seraya memegangi wajah Zafran.


"Bunda ngomong apa? Aku nggak ngerti sama sekali." Zafran menggelengkan kepala beberapa kali.


Mendengar tanggapan Zafran, Zara tidak tahu harus bagaimana. Jika menjelaskan fakta secara lengkap, Zafran tentu tidak akan mengerti.


"Pokoknya ayah Zafran yang asli itu adalah Om Gamal. Kamu pasti akan mengerti saat besar nanti," tutur Zara.


"Apa ayah nggak akan marah kalau tahu kita tidak kembali ke rumah? Aku takut Bunda dipukulin lagi," cetus Zafran. Dia memecahkan tangis. Terbayang dalam benaknya tentang perlakuan Anton kepada sang ibu.


Zara sedikit kaget, ternyata alasan Zafran ingin pulang karena mengkhawatirkan dirinya. Padahal awalnya, Zara mengira Zafran merindukan Anton.

__ADS_1


__ADS_2