
...༻◐༺...
"Kau harus secepatnya menceraikan suamimu yang kasar itu!" celetuk Gamal dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Satu menit lalu, dia dan Zara baru selesai melakukan hubungan intim.
Zara melirik Gamal dan menyahut, "Tentu saja. Tapi aku ingin mengatakan satu hal, kau dulu juga sering memperlakukanku dengan kasar. Kau tidak akan melakukannya lagi bukan?"
"Ayolah, sayang! Apa kau pernah menerima pukulan tanganku setelah tujuh tahun berlalu? Aku sudah berubah! Gamal yang pemabuk sudah musnah! Andai tanganku melayang untuk menyakitimu dan Zafran, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri." Gamal menegaskan. Ia bahkan sampai bicara panjang lebar.
Zara terkekeh. Dia merasa lucu melihat tanggapan Gamal yang begitu serius. Zara tentu tidak ragu kalau Gamal telah berubah. Lelaki tersebut menjadi lebih baik dan dapat dipercaya. Jika memimpin perusahaan saja dia mampu, berarti keluarga juga pasti bisa.
"Malah ketawa lagi," tukas Gamal seraya memutar bola mata jengah.
Zara yang gemas, mencubit hidung Gamal. Lalu memeluk erat dari samping.
"Kita mulai dari mana rencana kita?" tanya Zara. Dia menjadikan dada bidang Gamal sebagai bantalan kepala.
"Setelah pulang dari sini, kita harus bicara jujur dengan pasangan masing-masing. Kau bisa melakukannya bukan?" Gamal memberi usul.
Zara membisu dalam sesaat. Dia perlahan mendongak agar bisa melihat wajah tampan Gamal.
"Aku bisa. Tapi ada sesuatu yang kutakutkan," ujar Zara sambil memasang raut wajah yang dipenuhi keragu-raguan.
"Apa?" Gamal menuntut jawaban.
"Aku takut Anton akan menggunakan panti asuhan lagi sebagai bahan ancaman. Aku takut dia membuat semua anak yatim terlantar," jawab Zara. Ia menghela nafas berat.
"Katakan kepadaku, siapa pemilik panti asuhan itu? Apa dia Anton?" Gamal bertanya dengan serius.
Zara mengangguk untuk menjawab pertanyaan Gamal. Dia menilik raut wajah pria itu baik-baik. Dari kesimpulannya, ada tekad jelas yang terpampang di paras Gamal.
"Begini saja. Biar aku mengurus nasib panti asuhan itu. Aku akan menyiapkan tempat baru untuk anak-anak panti. Pokoknya serahkan saja semuanya kepadaku!" Dua alis Gamal terangkat secara bersamaan. Hal serupa juga dilakukan Zara setelahnya.
"Kau ternyata benar-benar sudah pintar? Kau buang kemana otak kosongmu yang dulu?" Zara bermaksud memuji.
__ADS_1
"Astaga... udah deh. Jangan ingatin aku lagi sama otak bodohku. Itu sudah kadaluwarsa." Gamal berdalih. Dia dan Zara lantas tergelak kecil bersama.
"Kau tidak masalah dengan urusan Selia kan? Dan ayahmu..." manik hitam Zara sekali lagi mengarah kepada Gamal.
"Percayalah kepadaku. Yang terpenting kita sudah kembali bersama." Gamal yakin semuanya akan berjalan mulus. Sesi obrolannya dan Zara berakhir di situ. Keduanya mencoba untuk tidur sejenak.
Satu jam lebih terlewat. Zara menjadi orang pertama yang bangun. Betapa kagetnya dia, ketika melihat hari sudah pagi. Zara dapat melihatnya dari pendar cahaya di balik gorden.
"Sayang! Bangun!" Zara bergegas membangunkan Gamal. Dia mengguncang badan lelaki itu sekuat tenaga. Hingga Gamal langsung terbangun dari tidur.
"Cepat! Hari sudah siang. Kita harus kembali ke kamar masing-masing! Kau tidak mau hubungan kita ketahuan dalam keadaan begini kan?" Zara baru selesai mengenakan pakaian. Merapikan rambut, lalu beranjak lebih dulu keluar kamar. Gadis itu tidak lupa membawa ponselnya yang kebetulan sudah kehabisan baterai.
Sedangkan Gamal, mematung sejenak. Matanya masih mengantuk karena kegiatan tadi malam. Dia berusaha mengumpulkan kesadaran. Kemudian meraih handphone dari nakas.
Gamal menemukan puluhan panggilan tak terjawab dari Selia. Meskipun begitu, Gamal tetap tenang. Kemarahan Selia bukan masalah besar baginya. Ia justru bergerak pelan untuk memakai baju.
...***...
Zara kembali ke kamar dimana Anton berada. Dia langsung masuk ke kamar mandi. Bahkan mengabaikan Anton yang menyambut dengan pelototan marah.
Kini Anton hanya bisa menggedor dan mengomel tidak jelas. Ia sangat frustasi dengan sikap Zara yang mulai berani melawan.
"Jika kau terus begini kepadaku, awas saja. Aku tidak akan berbelas kasih dengan Bibi dan saudara-saudaramu di panti! Ingat itu! Cepat buka pintunya!!" geram Anton.
Zara tak acuh. Dia sibuk membilas badan dengan sabun. Membersihkan seluruh tubuhnya dari aktifitas yang dilakukan tadi malam.
"ZARA!!" pekik Anton sebal. Dia masih setia berdiri di depan pintu.
Sekian menit kemudian, Zara akhirnya keluar. Dalam keadaan hanya mengenakan handuk kimono. Rambut pendek sebahunya tampak basah menggoda.
Kali ini Zara tidak memancarkan tatapan ketakutan. Dia yakin Gamal akan membantunya. Jadi mulai sekarang, Zara bertekad melakukan perlawanan.
Anton terkesiap. Lalu menelan ludahnya sendiri. Dengan tatapan kuatnya, Zara terlihat lebih mempesona. Anton bahkan membiarkan gadis itu melingus melewatinya.
__ADS_1
Karena tampilan Zara sangat menggoda, Anton tak bisa menahan diri. Dia langsung menangkap Zara dengan pelukan. Kemudian menciumi tubuh istrinya tersebut.
"Sial! Kalau kau begini, aku tidak sanggup memarahimu... makanya beginilah setiap hari..." desis Anton. Nafasnya mulai tak terkontrol.
Merasakan sentuhan Anton, Zara merasa bergidik ngeri. Dia segera melepaskan diri dan menjaga jarak.
Anton tidak terima. Dia bersikeras memegangi Zara. Tangannya mencengkeram kuat handuk kimono yang dikenakan sang istri. Hingga saat Zara menjauh, handuk kimono itu sedikit terbuka. Menampakkan tanda merah yang ada di salah satu bahu Zara.
"Apa-apaan itu?!" timpal Anton. Atensinya tertuju ke arah tanda merah yang ada di bahu Zara.
"Ini cuman nyamuk. Semalaman aku lebih memilih tidur di luar dari pada bersamamu!" sahut Zara seraya memperbaiki handuk kimononya.
Sekali lagi Anton tidak membiarkan. Dia ingin melihat lebih jelas tanda merah di kulit istrinya. Tidak tanggung-tanggung, Anton memaksa Zara untuk melepaskan handuk kimono.
"Mas!" Zara mengerutkan dahi. Ia tentu memberontak. Akan tetapi Anton masih saja keras kepala.
Kekuatan Zara memang tidak sebanding dengan Anton. Handuk kimono yang dia kenakan, akhirnya terlepas. Pakaian berwarna putih itu terjatuh ke lantai. Zara sekarang dalam keadaan telanjang bulat.
Anton tercengang. Dia menyaksikan ada banyak tanda merah lain di tubuh Zara. Anton mengeratkan rahang. Urat-urat lehernya mulai menegang. Suami mana yang tidak marah, saat melihat tubuh istrinya dipenuhi tanda merah mencurigakan.
Sebagai orang dewasa, Anton pasti bisa membedakan tanda merah buatan manusia dan binatang. Tanda-tanda merah itu juga terletak di titik badan sensitif Zara. Sudah jelas tanda merah tersebut bukan dibuat oleh seekor nyamuk.
Selagi Anton mengamati tubuh bugilnya, Zara bergegas mengambil handuk kimono. Dia langsung mengenakan kembali pakaian itu.
Zara tidak mengatakan apapun. Dia berjalan menjauh dari Anton. Kemudian sibuk mengeringkan rambut.
"Katakan kepadaku, pergi dengan siapa kau tadi malam, hah?!" timpal Anton. Dia masih mematung di tempat. Akibat saking terkejutnya.
"Pergi?" Zara menoleh sambil menampakkan garis-garis kecil di kening. "Sudah kubilang aku tidur di luar. Mengenai tanda merah di tubuhku, itu jelas perbuatan nyamuk. Apalagi sekarang sedang musim hujan kan?" lanjutnya. Kembali berkutat dengan cermin yang ada di hadapan.
"Cepat katakan!!!" desak Anton. Dia berjalan menghentak ke belakang Zara. Berniat mencengkeram rambut gadis itu seperti biasa.
Tahu dengan apa yang akan dilakukan Anton, Zara lekas berbalik. Kini dia berdiri menghadap Anton. Lalu menarik kerah baju pria itu.
__ADS_1
"Mas, kita bicarakan semuanya saat pulang saja..." bisik Zara. Dia menyempatkan diri melayangkan satu ciuman lembut ke pipi. Ulahnya sukses membuat amarah Anton mereda. Pria itu malah merasa sekujur tubuhnya merinding hebat.