Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 60 - Keajaiban


__ADS_3

...༻◐༺...


Gamal terbangun karena seruan Raffi. Dia segera duduk tegak sembari mengusap matanya yang lelah.


"Mal, kenapa kau tidak mengangkat teleponku?" tanya Raffi sembari berkacak pinggang.


"Hah? Kau ada telepon aku?" Gamal memastikan. Dia bergegas meraih ponsel. Tetapi Gamal menemukan ponselnya kehabisan baterai. Ia lantas memberitahu Raffi mengenai hal tersebut. Temannya itu hanya bisa mendengus kasar.


"Memangnya kau mau apa?" tanya Gamal.


Raffi duduk ke samping Gamal. Dia menceritakan perihal keadaan Firman. Bahwasanya ayah kandung dari Selia itu telah berhasil menjalani operasi.


"Sudah kubilang dia akan membaik." Gamal ikut senang mendengar kelancaran proses operasi Firman. Dengan begitu, rasa bersalahnya dapat berkurang. "Lalu, kenapa Selia bilang kalau ayahnya memakai kursi roda?"


"Itu hanya masa penyembuhan. Dia tidak boleh banyak bergerak," jawab Raffi.


Gamal mengangguk-anggukkan kepala. "Ah benar, kenapa kau tidak ada memberitahuku tentang operasi yang dijalani Om Firman?" tanya-nya.


"Karena acara pernikahanmu. Aku tidak mau membicarakan tentang Selia di hari bahagiamu. Bahkan jika itu kabar baik sekalipun." Raffi memberikan alasan.


"Kau benar, aku terlalu bahagia sampai melupakan kondisi Om Firman..." ungkap Gamal lirih.


"Sayang!!" Zara berteriak dari dapur.


Gamal dan Raffi sontak kaget. Mereka reflek berdiri. Lalu berlari memeriksa Zara.


Menyaksikan Zara hanya mengenakan handuk, Gamal menyuruh Raffi menunggu di luar. Sementara dirinya, lanjut memeriksa keadaan Zara.


"Kenapa?" Gamal menuntut jawaban.


"Alat vitalku berdarah," jawab Zara.


"Mungkin kau lagi datang bulan kali." Gamal asal duga sekenanya.


"Enggak, yang ini beda. Darahnya cuman sedikit kok. Udah berhenti juga, tapi aku merasa aneh." Zara tampak cemas.


"Kebetulan Raffi ada di luar. Kita bisa tanya dia aja. Kamu pakai baju dulu gih!" ujar Gamal seraya berderap mendatangi Raffi.

__ADS_1


Gamal menceritakan apa yang baru saja di alami Zara kepada Raffi. Temannya itu hanya terdiam dan memasang wajah datar.


"Apa kalian baru saja berhubungan badan?" Raffi memastikan.


"Bagimana kau tahu?" Gamal menatap tak percaya.


Raffi memutar bola mata jengah. "Nggak apa-apa. Saranku, kau lebih baik memeriksakan Zara ke rumah sakit besok," imbuhnya.


"Jangan bikin takut deh. Zara kenapa?" desak Gamal yang sudah tidak sabar.


"Udah! Pokoknya kalau mau tahu, datang aja ke rumah sakit ya," terang Raffi. Menyebabkan Gamal sontak merasa cemas. Namun Raffi justru melahap martabak yang ada di atas meja dengan santainya.


"Ada apa denganku, Raf?" Zara yang baru mengenakan pakaian, berlari ke hadapan Raffi. Ternyata sedari tadi dia menguping pembicaraan Gamal dan Raffi.


"Biar aku tanya. Darah yang keluar nggak banyak kan?" balas Raffi.


"Iya... aku nggak apa-apa kan?" Zara dirundung perasaan khawatir. Begitupun Gamal.


Raffi terkekeh geli. Dia bersikap sangat aneh. Entah apa alasannya. Yang jelas Gamal langsung melayangkan tamparan ke wajahnya.


"Kenapa malah ketawa coba. Kau bikin kami takut tahu nggak!" pungkas Gamal.


Raffi bertamu cukup lama ke rumah Gamal. Dia singgah sebentar karena kebetulan harus menghadiri acara pertemuan. Mereka mengobrol sambil menikmati sajian martabak yang sempat dibeli Gamal.


Sesekali Gamal akan merasa mual, dan berlari ke kamar mandi. Sebagai dokter, Raffi semakin yakin dengan kesimpulan awalnya. Meskipun begitu, dia tidak mau memberitahu. Raffi akan membiarkan Zara dan Gamal tahu di tangan ahlinya.


Tibalah saatnya Raffi pamit. Zara, Gamal dan Zafran melepas kepergiannya.


"Besok aku akan menemanimu ke rumah sakit," ujar Gamal sembari merangkul pinggul Zara.


"Tentu saja. Dari tadi sore kita memang berniat pergi ke rumah sakit besok. Mualmu kan juga belum hilang," balas Zara. Dia dan Gamal sepakat akan pergi ke rumah sakit besok.


...***...


Satu malam terlewat. Gamal dan Zara menemani Zafran pergi ke sekolah baru terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah mereka pergi ke rumah sakit.


Baik Gamal maupun Zara, keduanya sama-sama melakukan pemeriksaan. Zara menjadi orang yang lebih dulu diperiksa.

__ADS_1


Anehnya, setelah Gamal ikut diperiksa, dokter yang bertugas justru tersenyum. Dokter yang bernama Jihan itu menyuruh Gamal dan Zara duduk berdampingan.


"Selamat Mbak Zara. Anda hamil!" ungkap Jihan.


Mata Zara dan Gamal terbelalak bersamaan. Lalu reflek saling bertukar pandang. Walaupun begitu, keduanya tidak langsung percaya. Padahal sudah jelas orang yang ada di hadapan mereka adalah ahlinya.


"Be-benarkah? Tapi kenapa aku tidak mual?" tanya Zara tergagap.


"Karena mualnya dirasakan oleh suami anda. Ini juga bisa disebut kehamilan simpatik. Yang mana, saat istri mengalami hamil, malah suaminya yang harus merasakan mual." Jihan menerangkan dengan jelas.


"Lalu darah yang sempat keluar kemarin, itu tidak apa-apa kan?" Zara memastikan.


Jihan terkekeh sambil menutup mulut dengan punggung tangan. "Selama trimester pertama, sebaiknya jangan terlalu sering melakukan hubungan intim. Apalagi Mbak Zara pernah mengalami keguguran sebelumnya kan? Kalian beruntung, kondisi janin masih terjaga," ucapnya panjang lebar.


Wajah Zara dan Gamal sontak memerah bak tomat matang. Keduanya sadar, kegiatan intim kemarin nyaris membuat anak kedua mereka meregang nyawa.


"Kami sama-sama nggak tahu, Dok. Jadi..." Gamal memberikan alasan sambil mengusap tengkuk karena malu.


Zara lantas menyenggol Gamal dengan sikunya. Memberi kode kepada sang suami agar tidak membicarakan tentang kemesuman mereka.


"Nggak apa-apa. Yang penting sekarang udah tahu kan? Ngomong-ngomong usia kandungan Mbak Zara udah jalan dua minggu tiga hari ya. Diharapkan agar terus berhati-hati saat dalam beraktifitas." Itulah pemberitahuan akhir dari Jihan.


Ketika penjelasan Jihan selesai, Gamal dan Zara diberikan resep obat. Kemudian keluar bersama dalam keadaan berpegang tangan. Keduanya perlahan saling menatap lekat.


"Zafran akan punya adik!" ujar Zara dengan senyuman simpul. Lesung pipitnya yang mungil terukir di pipi.


Gamal balas tersenyum. Dia segera merangkul Zara. Lalu pergi ke apotek bersama.


Rangkulan Zara dan Gamal tidak terlepas walau sedang melangkahkan kaki. Keduanya sedang dirundung perasaan bahagia.


"Usia kandunganmu udah dua minggu ternyata. Berarti kau udah hamil sebelum kita nikah ya?" cetus Gamal.


"Iya... keajaiban banget janin kita baik-baik aja. Padahal kita sering banget main kuda-kudaan loh," tanggap Zara. Dia memeluk Gamal dari samping. Meletakkan kepalanya ke dada bidang sang suami. "Kau harus tahan dulu sampai kandunganku nggak rawan lagi," sambungnya.


"Astaga..." keluh Gamal seraya mendongakkan kepala.


Zara terkekeh geli. "Sabar ya sayang..." katanya. Satu tangan Zara menepuk pelan pipi Gamal.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Zara dan Gamal, Selia mengamati dari kejauhan. Gadis itu berada di mobilnya. Menyaksikan semua kemesraan Gamal dan Zara.


"Aargghh!!!" Selia menggeram sebal. Semakin dia sering melihat kebahagiaan Gamal dan Zara, maka bertambah pula perasaan dengki merenggut dirinya.


__ADS_2