
...༻◐༺...
Gamal dan Zara keluar dari ruang bioskop secara bergantian. Rambut dan pakaian mereka tampak acak-acakan. Keduanya segera ke kamar mandi terlebih dahulu.
Zara menjadi orang pertama yang beranjak dari kamar mandi. Dia hendak menyusul Zafran ke halaman belakang.
Langkah Zara terhenti, saat melihat Zafran sudah cukup akrab dengan Tania. Senyumannya mengembang puas. Sungguh, Zara tidak pernah menyangka dia ada di sampai titik ini. Apalagi dengan segala penerimaan dari Afrijal.
Setelah memastikan semua orang makan, Tania mengantarkan Gamal, Zara, dan Zafran ke kamar. Ia menunjukkan kamar yang telah disiapkannya untuk Zafran.
"Aku sudah menyiapkan kamar ini setelah tahu kalian akan datang," ujar Tania. Tatapannya segera teralih ke arah sang cucu.
"Zafran, kamu berani kan tidur sendiri?" tanya Tania.
Gamal dan Zara reflek menoleh. Pemikiran keduanya tentu sedang memikirkan hal yang sama. Mereka hanya saling bertukar senyuman.
"Berani. Tapi Ayah sama Bunda tidur dimana?" Zafran menatap Zara.
"Bunda sama Ayah akan tidur di kamar sebelah. Nggak jauh kok," jawab Tania.
Zafran kegirangan. Dia segera menaiki ranjang empuknya dan melompat-lompat di sana.
Sementara itu, Gamal dan Zara berjalan beriringan memasuki kamar pribadi mereka. Hampir sama seperti Zafran, Gamal langsung menghempaskan diri ke kasur.
"Apa kau akan kembali bekerja di perusahaan Relangga Group?" tanya Zara seraya duduk ke tepi kasur.
"Sepertinya tidak. Lagi pula perusahaan itu sudah dijual Papah," sahut Gamal.
"Apa?!" Zara kaget. Dia mengkhawatirkan teman-teman cleaning service-nya. Jujur saja, semenjak menikahi Gamal, Zara tidak pernah lagi berhubungan dengan Susan dan kawan-kawan.
"Kenapa?" Gamal bertanya sambil mengerutkan dahi.
"Aku hanya teringat dengan teman-temanku," jawab Zara. Dia lantas merebahkan diri ke bahu Gamal.
"Mereka akan baik-baik saja. Kau sebaiknya cemaskan dirimu sendiri." Gamal mengusap lembut kepala Zara.
"Ah benar..." Gamal tiba-tiba mengambil sesuatu dari saku celana. Dia mengeluarkan dompet dan menyerahkan dua kartu kredit kepada Zara.
__ADS_1
"Untukku?" Zara membulatkan mata tak percaya.
"Belilah apapun yang kau mau," ujar Gamal.
Zara masih tercengang. "Apa tidak--"
Cup!
Gamal membungkam mulut Zara dengan sebuah kecupan. "Udah ambil aja. Aku masih punya banyak," ucapnya.
Zara mengulum senyuman. Dia mengeratkan pelukannya ke pinggul Gamal. Perlahan keduanya jatuh ke dalam lelap.
Keesokan harinya, Gamal langsung pergi bekerja. Sedangkan Tania dan Zara membawa Zafran pergi ke sekolah. Untuk yang kesekian kalinya anak itu harus pindah sekolah. Zafran dimasukkan ke sekolah elit milik Afrijal sendiri.
Sehabis membawa Zafran sekolah, Tania mengajak Zara pergi ke salon. Di sana Zara mendapatkan segala macam perawatan dan dimanjakan dengan sempurna. Dari mulai ujung kaki sampai kepala.
Kini Zara dan Tania sedang mendapatkan relaksasi pijat bersama. Mereka dalam posisi tengkurap di tempatnya masing-masing. Dua orang pekerja salon tampak memberikan pijatan lembut ke punggung mereka.
"Aku harap dengan begini pikiranmu bisa lebih tenang," celetuk Tania.
Selepas puas menghabiskan waktu di salon, Tania mengajak Zara pergi ke mall. Namun saat baru sampai, Tania mendapatkan panggilan mendesak terkait pekerjaan. Kebetulan Tania bekerja sebagai pengelola beberapa yayasan milik keluarga Laksana.
"Aku harus pergi. Apa kau mau ikut atau pulang saja?" tanya Tania kepada menantunya.
"Nggak keduanya, Mah. Aku mau ke mall sendiri. Ada sesuatu yang ingin aku beli," sahut Zara.
"Ya udah. Nanti Mamah akan suruh sopir untuk jemput kamu."
"Nggak usah, Mah. Aku bisa pulang sendiri." Zara menolak baik-baik.
"Jangan nolak deh. Biar kau nggak mau, Mamah akan tetap suruh sopir buat jemput kamu." Tania bersikeras. Dia segera pergi dengan sopirnya
Zara merasa bahagia bukan kepalang. Perlakuan Tania membuatnya merasa memiliki seorang ibu. Setelah terlena dengan perasaan, Zara segera melangkah memasuki area mall.
"Aku sudah lama menunggu hal seperti ini seumur hidupku," gumam Zara. Melirik kesana-kemari baju-baju bermerek yang terpajang.
Zara bersenang-senang seorang diri. Hari itu dia membeli semua baju yang sudah lama ingin dibelinya.
__ADS_1
Keluar dari toko, Zara membawa banyak sekali barang belanjaan. Dia kembali melenggang mengelilingi mall. Hingga toko perhiasan menarik perhatiannya. Bagaimana tidak? Zara kebetulan melihat kalung berlian yang sama persis dengan kalung pemberian Gamal dulu.
Tanpa pikir panjang, Zara bergegas masuk ke toko perhiasan. Dia langsung memperhatikan kalung berlian dari dekat. Dugaannya benar, kalung itu memang sama persis seperti miliknya dahulu.
Zara meletakkan barang belanjaannya ke lantai. "Mbak, aku mau kalung--"
"Aku mau kalung in!" seseorang tiba-tiba memotong perkataan Zara. Dia ternyata adalah Selia. Entah sengaja atau tidak, Selia ingin membeli kalung yang sama dengan milik Zara.
Kening Zara mengernyit. Dia tentu kesal terhadap sikap Selia. Belum lagi saat dirinya mengingat apa yang sudah dilakukan Selia terhadapnya dan keluarga Laksana. Zara tidak akan tinggal diam. Jiwa pemberontaknya seketika bangkit.
"Jangan, Mbak! Aku yang lebih dulu melihatnya, jadi bungkuskan kalung itu untukku!" tegas Zara.
Selia langsung mendelik. Dia tidak menyangka Zara akan melawan. Terlebih selama ini Zara memang selalu mengalah dan menundukkan kepala.
"Bungkuskan kalungnya untukku! Aku akan bayar dua kali lipat!" seru Selia tak ingin kalah.
Zara terpelongo. Dia lekas-lekas memberikan tawaran lebih. "Untukku saja! Aku akan bayar lebih tiga kali lipat!"
"Empat kali lipat!" Selia tak ingin kalah.
Pramuniaga yang tidak sempat bicara tidak tahu harus bagaimana. Dia sudah mengambil kalung berlian dan meletakkannya ke atas meja. Satu hal yang pasti, pramuniaga tersebut senang harga kalung berliannya semakin mahal.
Pertandingan tawar-menawar masih berlanjut. Zara dan Selia masih bersaing dengan sengit.
"Aku kasih lima kali lipat!" Zara melakukan penawaran lagi.
"Enam kali lipat!" harga berlian melonjak drastis.
Zara kali ini terdiam. Sebab dia tidak yakin uang yang dibawanya akan cukup. Hingga atensinya terfokus ke kalung berlian yang sudah ditaruh di atas meja.
Sementara Selia, dia menyeringai senang ketika melihat Zara terdiam. Gadis itu merasa menang. Namun dia dibuat kaget tatkala Zara tiba-tiba mengambil kalung berlian lebih dulu.
"Hei!" pekik Selia.
"Cepat, Mbak! Bungkuskan untukku!" desak Zara seraya menyodorkan kalungnya kepada pramuniaga.
Selia mengeratkan rahang sebal. Dia buru-buru merampas kalung yang ada di tangan Zara. Akan tetapi Zara berhasil mempertahankan genggamannya. Aksi tarik-menarik pun terjadi.
__ADS_1