
...༻◐༺...
Selia benar-benar frustasi melihat kemajuan perusahaan yang dipimpin Gamal. Apalagi setelah mendengar keberadaan Zara sudah direstui oleh Afrijal.
Walau perusahaan miliknya tidak bangkrut, rasa iri Selia masih belum pudar. Kebenciannya justru kian tambah parah.
"Aaarghh!" geram Selia sambil menghentakkan dua kakinya secara bergantian.
"Kau tidak apa-apa, sayang?" Cintya mendekati Selia. Mencoba menenangkan putrinya tersebut.
"Aku kesal banget, Mah. Kenapa orang jahat seperti Gamal dan Zara selalu mendapat kebahagiaan! Itu tidak adil bukan?!" ujar Selia dengan wajah yang memerah padam.
"Sel, kamu sebaiknya kamu fokus menjalani kehidupanmu. Berhentilah mengurus kehidupan orang. Kau juga harus pikirkan kebahagiaanmu, oke?" tutur Cintya. Dia mau Selia melupakan segala hal tentang Gamal.
Selia hanya terdiam dan membuang muka. Dia menghela nafas berulang kali. "Apa Mamah lebih membela mereka dibandingkan aku?" simpulnya.
"Sayang, Mamah bilang begini bukan berarti melupakan semua kesalahan keluarga Baskara. Tetapi Mamah hanya ingin melihatmu bahagia. Itu saja," ungkap Cintya. Dia perlahan membawa Selia ke dalam pelukan.
"Bagaimana kalau kau pergi berlibur sebentar? Mungkin itu lebih baik," saran Cintya.
Selia kembali membisu. Seberapa keras dia mencoba merelakan, tetapi hatinya masih tidak bisa. Selia tidak akan pernah bisa memaafkan apa yang dilakukan Gamal dan Zara.
__ADS_1
Parahnya, beberapa minggu kemudian, kakak dan kakak ipar Selia mengalami kecelakaan mobil. Keduanya meninggal secara bersamaan. Hal itu membuat hidup Selia semakin suram.
Demi meredakan pikiran yang kalut, Selia pergi ke luar negeri. Dia juga tidak lupa membawa anak kakaknya yang bernama Lika. Kebetulan Selia mengambil hak asuh atas keponakannya tersebut. Gadis itu akan menjaga Lika dengan baik.
Waktu berlalu dengan cepat. Tiga tahun terlewat. Namun keluarga Baskara masih tetap bermusuhan dengan keluarga Laksana. Persaingan mereka bahkan kian menjadi-jadi. Selia juga melarang keluarganya untuk berhubungan dengan keluarga Laksana.
Tidak jarang hinaan dilontarkan Selia dan keluarganya. Lama-kelamaan kebencian mereka membuat keluarga Laksana tidak tahan. Alhasil Afrijal dan Gamal juga melarang keluarga mereka untuk tidak berhubungan dengan keluarga Baskara.
...***...
Permusuhan di antara keluarga Baskara dan keluarga Laksana terjadi selama bertahun-tahun. Bahkan ketika Zafran sudah menginjak usia remaja.
Satu hal yang pasti. Musuh Zafran adalah Lika. Gadis yang merupakan keponakan Selia sekaligus bagian dari keluarga Baskara.
Zafran dan Lika bersekolah di tempat yang sama. Karena itulah mereka juga terus saling adu kehebatan dalam prestasi. Keduanya selalu bertengkar saat bertemu.
Jika Zafran hebat dibidang olahraga, maka Lika ahli dalam hal akademik. Lika memenangkan banyak kejuaraan olimpiade. Reputasi Lika hampir sama dengan Zafran. Gadis itu juga populer di antara kaum adam. Bisa di ibaratkan posisi Zafran dan Lika seperti raja dan ratunya sekolah. Tidak jarang keduanya saling menjatuhkan satu sama lain.
Di suatu waktu, ketika Lika baru saja keluar dari mobil. Sebuah bola basket mendadak menghantam kepalanya. Gadis itu sontak mengaduh. Dia nyaris terjatuh ke tanah.
"Sorry... sengaja. Bwahahaha..." orang yang melempar bola tidak lain adalah Zafran. Cowok itu justru tertawa bersama teman-temannya.
__ADS_1
Lika mengepalkan tinju di kedua tangan. Matanya mendelik penuh amarah. Tanpa pikir panjang, Lika segera mendatangi guru BK dan mengadukan semua yang sudah dilakukan Zafran.
"Bu Rita!" panggil Lika sembari mendatangi ruang BK.
Tidak lama kemudian, Bu Rita muncul. Dia langsung menghampiri Lika.
"Zafran tadi lempar--"
"Eh, kamu Lik. Ibu lagi sibuk. Kamu mending ke kelas saja sana ya." Bukannya mencemaskan Lika, Bu Rita malah berusaha mengusir muridnya tersebut. Bagaimana tidak? Ini bukan pertama kalinya Lika mengadukan kelakuan Zafran. Masalah pertengkaran di antara Zafran dan Lika sudah membuat para guru kewalahan. Apalagi untuk guru BK seperti Bu Rita.
"Eh, Bu. Aku belum selesai ngomong. Zafran tadi lempar kepala aku pakai bola basket!" adu Lika. Namun Bu Rita tetap menyarankannya untuk kembali ke kelas.
Jujur saja, seberapa banyak para guru memberikan teguran kepada Zafran dan Lika, tidak ada yang bisa meredam kebencian mereka. Jadi Bu Rita merasa apapun yang dilakukannya akan sia-sia. Semua guru hanya berharap, keluarga Baskara dan keluarga Laksana bisa secepatnya berbaikan.
..._____...
Catatan Author :
Aku promosi novel terbaruku yang juga bertema perselingkuhan. Buat yang penasaran silahkan cek profilku ya...
__ADS_1