
...༻◐༺...
Zara baru selesai mengepel lantai. Saat itulah dia mendengar kabar dari salah satu karyawan. Zara mendengar kalau Gamal sedang membuka lowongan kerja untuk kursi sektretaris.
Menariknya, Gamal tidak memperdulikan pendidikan. Dia mengutamakan keahlian dan kecepatan dalam bekerja.
Awalnya Zara tidak peduli dengan hal yang dilakukan Gamal. Namun setelah mendengar kabar dari Susan, Zara merasa terganggu.
"Tuan Gamal mencari sektretaris wanita! Selain tidak peduli dengan pendidikan akhir, dia juga tidak mementingkan umur. Jadi Emak bisa daftar loh," ujar Susan. Mengajak wanita paruh baya bernama Irma.
"Kamu ngejek aku ya!" timpal Irma sembari mengarahkan jari telunjuk ke wajah Susan.
"Eng-enggak kok. Aku ngomong serius. Tanya aja langsung sama Tuan Gamal," sahut Susan yang agak menciut.
Zara tergelak menyaksikan tingkah lucu Susan dan Irma. Dia keluar dari ruangan untuk melihat keadaan. Topik tentang lowongan sekretaris Gamal, menjadi berita hangat di perusahaan. Zara juga berhasil melihat banyak karyawan-karyawan cantik yang ingin ikut.
Sekarang Zara melanjutkan pekerjaannya. Dia harus membersihkan toilet di lantai lima. Di sana kebetulan Zara mendengar dua karyawan cantik sibuk mengobrol di depan cermin.
"Mas Gamal ganteng. Siapa sih yang nggak mau lihat dia tiap hari."
"Ya ampun? Mas? Mas kau bilang? Sok-sokan banget. Ngomong-ngomong dia udah punya tunangan kan?"
"Ish! Masih tunangan juga. Masih bisa ditikung kan. Tapi jadi selingkuhanya pun aku rela. Bos nggak pelit kayak dia itu idaman semua wanita."
Zara yang sibuk membersihkan closet, menggertakkan gigi dengan kesal. Dia dapat mendengar dua karyawan cantik itu membicarakan Gamal.
"Elena pernah cerita, katanya Tuan Gamal nggak goyah sama godaannya. Mungkin itu yang bikin Elena nggak semangat kerja. Dia nggak bisa indehoy sama bosnya seperti dulu."
"Oh, jadi karena itu kerjaan Elena jadi serampangan? Lagian Elena juga nggak terlalu cantik. Tapi bagus deh. Soalnya kalau dia masih jadi sekretaris, kita kan nggak bisa dapat kesempatan ini."
Obrolan masih saja berlanjut. Dua wanita bernama Hesti dan Windy itu membuat hati Zara semakin geram. Dia mengambil ember berisi air, lalu menyiramkannya ke lantai dua karyawan cantik itu berdiri.
"Arkkh! Sepatuku basah!" Hesti sontak kaget. Dia gelagapan menghindari air yang membasahi sepatu flat-nya.
__ADS_1
"Mbak Zara kenapa sih?" tukas Windy yang juga dibuat terkejut dengan serangan air Zara.
"Eh, maaf. Aku nggak sengaja. Aku melamun soalnya," sahut Zara. Dia jelas berdalih. Zara bahkan mengembangkan senyuman canggung. Usahanya berhasil membuat Hesti dan Windy pergi dari toilet.
Zara langsung menghubungi Gamal. Dia kesal kepada lelaki itu. Kenapa tiba-tiba membuat lowongan tentang posisi sekretaris? Harus wanita lagi? Bagaimana Zara bisa tenang?
Puluhan kali Zara menelepon, Gamal tidak kunjung mengangkat. Dia akhirnya tidak punya pilihan selain mendatangi kantor Gamal.
Sebelum pergi, Zara tidak lupa membuat secangkir kopi. Dia melakukannya agar orang lain tidak curiga.
Kehadiran Zara dapat diketahui Gamal saat lift terbuka. Perempuan itu memasang raut wajah merengut.
Gamal yang mengerti, berusaha keras menahan tawa. Dia yakin Zara marah terhadap berita yang telah disebarluaskan.
Zara melangkah cepat memasuki ruangan Gamal. Namun lelaki itu malah beranjak keluar.
"Gamal!" Zara reflek memekik. Dia tidak sadar kalau ada tim HRD di ruangan Gamal. Semua pasang mata sontak tertuju ke arahnya.
Zara merasa malu bukan kepalang. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Sedangkan Gamal, terlihat berdiri di ambang pintu. Menatap tajam ke arah Zara.
"Maaf... aku tidak bermaksud begitu..." Zara otomatis ikut bermain. Padahal dari lubuk hati terdalam, dia sangat ingin menggeplak kepala Gamal.
"Lupakan! Aku akan memaafkanmu kali ini," ucap Gamal. Dia mempersilahkan Zara meletakkan kopi ke meja, kemudian keluar ruangan.
"Awas saja kalau dia pulang nanti!" gumam Zara seraya berjalan menjauh dari kantor Gamal.
Seperti sebuah karma, Zara yang kali ini menunggu Gamal sambil menyender ke pintu. Dia melakukan gaya persis layaknya Gamal tadi pagi.
Hari kebetulan sudah cukup larut. Zafran bahkan sudah tertidur di kamar.
Sekian menit terlewat, Gamal akhirnya muncul dari balik pintu lift. Zara langsung menyambut dengan pelototan kesal. Akan tetapi Gamal sama sekali tidak acuh.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin mencari sekretaris baru?!" tanya Zara.
__ADS_1
Gamal memutar bola mata jengah. Dia menjawab, "Apa tidak boleh? Lagi pula aku kesulitan melakukan pekerjaanku jika tidak ada sekretaris."
"Tapi kan tidak harus wanita?! Kenapa tidak laki-laki saja?!" saking sebalnya, Zara sampai menghentakkan salah satu kakinya.
"Sekretaris yang dulu juga wanita kan? Kenapa kau tiba-tiba mengkhawatirkan itu?" Gamal sengaja bersikap tidak mengerti.
"Itu berbeda! Elena kan jelek! Semua orang tahu dia cantik karena make upnya yang kayak mak lampir. Cantikan mak lampir malah!" balas Zara.
Gamal sekali lagi berupaya menahan tawa. Jujur saja, sikap Zara saat cemburu begitu menggemaskan. Perlahan dia membuka pintu apartemennya.
"Ya ampun, Ra. Aku--" belum sempat selesai bicara, Zara menyeret Gamal masuk ke apartemen. Dia mengerahkan semua tenaga hingga sukses memaksa Gamal terhentak ke sofa.
Gamal menikmati apa yang dilakukan Zara terhadapnya. Dia bahkan sempat-sempatnya tertawa. Gamal tahu Zara akan segera menyerangnya dengan cumbuan. Ia tahu, memang seliar itulah wanita tersebut.
Benar dugaan Gamal, Zara langsung menyambar bibirnya dengan sebuah lumattan dalam. Nafas Gamal otomatis menderu-deru.
Zara tidak membiarkan Gamal mendominasi. Dia memaksa pria itu mendongak, lalu kembali memberikan pagutan demi pagutan di bibir.
Kini Zara dalam posisi menungging. Dia bergegas melonggarkan dasi, serta melepas seluruh kancing kemeja Gamal. Tetapi atensi Zara mendadak terpaku ke kalung Gamal yang tak pernah dilepas.
"Apa kalung itu penting untukmu? Kau tidak pernah melepasnya." Zara menatap penuh tanya.
"Kalung?" Gamal tersenyum sambil meraih kalung emas putih yang ada di leher. "Aku membeli ini dengan uang hasil jerih payah pertamaku. Aku sempat bekerja sebagai paruh waktu saat di London," terangnya.
"Bicara tentang kalung, mana kalung yang aku berikan untukmu? Anton tidak menjualnya kan?" Gamal menyelidik.
Zara menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa membawa kalung pemberian Gamal pergi bersamanya. Kalung tersebut mungkin masih tersimpan dalam lemari yang ada di kamar Anton.
"Wah... wah..." Gamal menggeleng kecewa. Dia segera bangkit dari sofa.
"Aku lupa! Kemarin aku ingin cepat-cepat pergi dari sana," jelas Zara. Berharap Gamal mengerti. Dia menyusul Gamal yang sudah melangkah jauh.
"Sepertinya kalung itu tidak penting bagimu." Gamal menyimpulkan.
__ADS_1
Zara mencengkeram lengan Gamal. Memaksa pria tersebut berbalik menghadapnya. "Aku meninggalkan kalung itu, karena kau lebih penting. Benda semahal apapun, tidak sebanding denganmu!" katanya.
"Sialan!" Gamal merutuk karena Zara sangat mempesona. Dia segera mengulum bibir Zara dengan buas. Malam itu keduanya menghabiskan waktu bersama. Mereka lagi-lagi melupakan batasan yang ada.