Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 53 - Hukuman


__ADS_3

...༻◐༺...


Gamal menatap malas Raffi dan Tirta. "Mau kalian apa coba? Aku capek tahu nggak," cetusnya sebal.


"Sabarlah, Mal. Lagi disiapin juga," sahut Raffi sembari memainkan ponsel. Sepertinya dia sedang berkirim pesan dengan seseorang.


Sementara itu, Zara juga sama kesalnya seperti Gamal. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan suaminya. Zara bahkan beberapa kali mencoba membuka pintu. Tetapi Danu selalu saja menghalangi.


"Sabar..." ujar Danu, yang kemudian tertawa kecil bersama Elsa.


Selepas lama menunggu, barulah Zara diperbolehkan pergi. Danu dan Elsa membawanya pergi ke sebuah hotel mewah bintang lima.


"Ini hadiah terakhir kami hari ini." Elsa menyerahkan kunci kamar VIP ke tangan Zara.


"Kami tahu kau dan Gamal sudah sering melakukannya. Tapi jadikanlah malam setelah pernikahan kalian berkesan," ucap Danu.


"Terima kasih banyak. Bicara tentang malam yang berkesan, aku jamin akan begitu." Zara percaya diri. Dia melambaikan tangan saat Elsa dan Danu pergi.


Sebelum masuk ke kamar, Zara menghubungi Wida terlebih dahulu. Memastikan keadaan Zafran baik-baik saja.


Zara menjadi orang yang pertama memasuki kamar. Dia langsung berdecak kagum dengan segala hal yang disiapkan teman-temannya. Dari mulai bunga mawar berbentuk hati, sampai lampu disko yang tergantung di pelafon.


"Ya, aku dan Gamal memang sering pergi ke klub malam. Harusnya mereka nggak perlu sampai begini," komentar Zara. Perhatiannya tertuju ke tumpukan pakaian dengan tulisan namanya.


Zara memeriksa satu per satu pakaian yang tersedia. Ada setelan lingerie seksi sampai dress sederhana.


"Lingerie? Aku tidak butuh itu. Pakai daster pun aku tetap seksi dimata Gamal!" gumam Zara sambil membuang lingerie ke lantai. Dia lebih memilih dress sederhana untuk dipakai. Zara bergegas melepas gaun putihnya.


Selang beberapa menit, pintu terdengar diketuk. Zara yakin kalau orang yang datang adalah Gamal. Dia perlahan membukakan pintu.


Zara sengaja tidak menampakkan diri. Setelah membuka kunci, dia langsung bersembunyi. Zara bersembunyi di balik dinding dimana Gamal tidak akan bisa melihat.


Benar saja, orang yang datang tidak lain adalah Gamal. Dia mengedarkan pandangan sambil menyiulkan sebuah lagu tak dikenal.


"Sayang?" panggil Gamal. Dari pemberitahuan Raffi, dia tahu kalau Zara sudah lebih dulu tiba di hotel.


"Ayolah, apa kau mencoba menarik ulur lagi? Kali ini aku ingin menagih janjimu," ujar Gamal. Masih mencoba mencari-cari Zara.

__ADS_1


Diam-diam Zara mematikan listrik. Lalu menyalakan lampu disko yang membuat mata Gamal memicing. Saat itulah Zara keluar dari tempat persembunyian.


"Kau menyalakan lampu disko, tapi musiknya tidak ada." Gamal mengangkat salah satu alisnya. Dia mulai memasang tatapan nakal.


Tanpa menanggapi, Zara membuka televisi dan mencari chanel musik dari sana. Sebuah musik langsung terputar. Zara melangkah ke hadapan Gamal.


"Aku ingin membuat tantangan untuk kita berdua. Ini demi malam yang berkesan setelah sesi pernikahan dilakukan," desis Zara.


"Beritahu aku apa itu." Gamal menuntut jawaban.


"Aku menantang kita untuk saling menahan diri. Jika salah satu di antara kita tidak berhasil, maka dia harus menerima hukuman apapun itu. Bagaimana?" Zara berseringai. Sisi beraninya selalu kembali ketika berduaan bersama Gamal.


"Setuju!" Gamal melangkah lebih dekat ke hadapan Zara. Jarak wajah di antar mereka hanya helat beberapa senti. Keduanya sedang berada di ruangan yang hanya bersinarkan lampu disko.


"Kita boleh saling melumpuhkan lawan," cetus Zara. Dia melangkah mundur. Lalu menggerakkan badan sesuai irama musik.


"Wow! Ahli klub malam kembali lagi. Jujur, aku rindu melihatmu begini," ucap Gamal. Dia melepas dasinya. Kemudian menanggalkan kemeja lebih dulu.


Zara terkekeh saat melihat Gamal sudah bertelanjang dada. Dia segera melakukan pembalasan.


Zara melepas dressnya. Hingga hanya menyisakan bra dan sabuk segitiganya. Wanita itu lanjut menari. Dia bahkan sesekali menggigit bibir bawahnya dengan gaya seksi. Kemudian menyisir rambut pendek sebahunya dengan jari-jemari.


"Kamu nggak capek? Aku mau joget tapi rasanya capek banget," kilah Gamal agar Zara bisa secepatnya berhenti.


Gamal menarik pinggul Zara. Lalu melakukan serangan dengan sentuhan tangan dari perut sampai dada. Wanita tersebut reflek mendongak. Darah disekujur badannya berdesir hebat.


"Kau sepertinya hampir kalah," tukas Gamal. Membuat Zara sontak menjauh darinya.


"Aku pastikan malam ini kau akan menerima hukumanku," balas Zara. Kali ini dia nyaris melepaskan bra yang dikenakannya.


"Itu curang!" Gamal tidak terima. Bagian tubuh Zara di bagian dada memang salah satu favoritnya.


"Kau juga bertelanjang dada," sahut Zara.


"Tapi kan punyamu beda!"


"Lebih cantik ya?" Zara justru tersenyum. Sampai menampakkan deretan gigi atasnya. Bra yang tadi dia pakai, akhirnya benar-benar dilepas.

__ADS_1


Gamal terkesiap. Dia yang tadinya mencoba bersabar, akhirnya tidak tahan. Gamal langsung mencumbu Zara dengan buas.


Karena Gamal kalah, Zara sigap melakukan perlawanan. Dia menjadi orang yang akan memberi hukuman.


"Apa-apaan? Kau ingin menghukumku sekarang?" Gamal tercengang.


"Aku bilang, ini kulakukan demi malam istimewa ini. Cepat! telentanglah ke ranjang. Aku akan segera memberi hukuman," ujar Zara.


"Ranjang?" Gamal tiba-tiba tersenyum. "Kau yakin ingin menghukumku?" tanya-nya, memastikan.


Zara mengangkat bahunya sekali. Dia mendorong Gamak ke atas kasur. Tanpa basa-basi, Zara segera mengambil lingerie dan merobeknya menjadi beberapa bagian.


"Mau ngapain, Ra?" Gamal tentu penasaran.


Zara hanya diam. Ia menggunakan robekan kain lingerie untuk mengikat tangan Gamal ke tiang kasur.


"Sayang... jangan bercanda deh. Kenapa tanganku di ikat coba? Kau pikir aku akan jadi seliar apa?" Gamal geleng-geleng kepala. Heran dengan hukuman Zara yang masih terasa seperti teka-teki.


Setelah mengikat tangan Gamal, Zara melepas seluruh celana yang dikenakan lelaki itu.


Zara duduk ke atas perut. Dia sukses membuat lelaki tersebut menelan saliva untuk kali kedua. Meskipun begitu, Gamal masih memandang remeh apa yang dilakukan wanita di hadapannya.


Zara berbisik, "Aku akan memberikan hukumannya sekarang..."


Tangan Zara mulai bergerak menelusur lembut ke tubuh Gamal. Sementara bibirnya sibuk mengecup dada bidang pria tersebut.


"Ra..." lirih Gamal yang mulai merasakan adanya gairah.


Demi membuat hasrat Gamal semakin bangkit, Zara melepas celana yang masih tersisa. Kini dia telanjang bulat seperti Gamal.


Gamal tidak tahan lagi. Dia ingin menerkam Zara habis-habisan. Akan tetapi keadaan tangannya sedang terikat kuat ke tiang tempat tidur. Zara benar, itu semua adalah hukuman bagi Gamal.


Atensi Gamal tertuju ke bagian bawah perut Zara yang terlihat seperti huruf V. Pemandangan tersebut benar-benar membuatnya menggila. Gamal ingin bertindak namun tidak berdaya.


"Ra! aku akui kau menang! Cepat lepaskan tanganku sekarang!" desak Gamal. Nafasnya sudah ngos-ngosan. Dia hanya bisa menatap Zara dalam keadaan mulut menganga.


"Ini masih permulaan," jawab Zara seraya menggesekkan alat vitalnya ke perut Gamal. Hal tersebut menyebabkan Gamal bergerak tidak karuan. Dia berulang kali mencoba melepas ikatan ditangannya.

__ADS_1


"Sialan!" umpat Gamal putus asa. "Plis, Ra!" mohonnya. Apa yang dilakukan Zara terhadap Gamal, benar-benar seperti sebuah hukuman.


__ADS_2