
...༻◐༺...
Afrijal baru saja mendapatkan alamat Gamal. Dia langsung pergi dengan ditemani oleh Hendra.
Walau sudah tahu dimana kediaman Gamal, Afrijal hanya memperhatikan dari dalam mobil. Dia menyaksikan keadaan rumah tampak sepi.
Sampai akhirnya pintu terbuka. Gamal dan Zara keluar secara beriringan. Dua pasutri itu terlihat sedang bicara serius. Tak lama kemudian Gamal beranjak. Meninggalkan Zara yang berdiri di ambang pintu.
Afrijal menyuruh Hendra untuk mengikuti Gamal. Dia penasaran dengan tempat tujuan sang putra. Gamal nampak menaiki sebuah angkot.
"Ya ampun, aku tidak percaya anakku mau menaiki angkot. Itu pasti membuatnya tidak nyaman," gumam Afrijal. Tanpa sadar dia menunjukkan kepedulian.
Hendra yang menyetir jadi tersenyum. Dia mengikuti angkot yang dinaiki Gamal.
Mobil berhenti, saat Gamal turun di suatu tempat. Lelaki itu berjalan ke depan bangunan SD. Berdiri sebentar sambil memainkan ponsel.
"Ayah!" panggilan Zafran yang cukup nyaring, membuat Afrijal menoleh. Dia melihat Zafran berlari ke pelukan Gamal. Keduanya tampak sangat dekat. Benar-benar seperti ayah dan anak.
Afrijal terpaku menatap pemandangan yang dilihatnya. Dia tidak pernah melihat Gamal tersenyum sebahagia itu.
Puas melihat keadaan Gamal, Afrijal menyuruh Hendra untuk mencari penginapan terdekat. Dia masih belum puas menyaksikan keadaan putranya.
Bersamaan dengan kepergian Afrijal, Gamal menerima telepon dari Zara. Istrinya memberitahu kalau Raffi dan Elsa berkunjung ke rumah. Katanya mereka juga membawa Ramanda.
"Ayo, Zafran! Ramanda datang ke rumah kita," seru Gamal dengan rekahan senyuman lebar.
"Benarkah?" Zafran merasa antusias. Dia dan Gamal segera pulang bersama-sama.
Raffi dan Elsa mengajak keluarga Gamal untuk makan di restoran. Yaitu salah satu restoran milik ibunya Raffi.
Kini Gamal dan Zara duduk berhadapan dengan Raffi dan Elsa. Sesekali mereka menengok ke arah Zafran serta Ramanda. Dua anak itu asyik memilih es krim.
"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Elsa. Menatap Gamal dan Zara secara bergantian.
"Mungkin ini hukuman untukku dan Gamal. Kami akan mencoba bertahan," jawab Zara. Menambahkan senyuman kecut.
"Sayang..." lirih Gamal. Dia tidak suka Zara bicara begitu.
"Adem banget aku dengar kalian udah panggil pakai sayang-sayangan," imbuh Raffi. Ia menopang dagu dengan satu tangan.
"Kayak sendirinya enggak," balas Gamal. Perdebatan singkat itu sedikit menimbulkan gelak kecil.
"Kalian nggak mau kasih Ramanda adik? Kayaknya waktunya udah tepat loh," celetuk Gamal. Memberi topik pembicaraan untuk dibahas.
__ADS_1
"Jangan tanyakan, Mal. Kami bikin hampir tiap hari. Tapi--"
Elsa lekas memukul pundak Raffi. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Dia tidak suka sang suami menceritakan perihal ranjang di tempat umum.
"Loh kok aku dipukul," protes Raffi seraya memegangi pundak bekas pukulan Elsa.
"Udah nggak usah malu, El. Kami udah biasa bicara masalah begituan," imbuh Gamal.
"Yang jelas aku dan Raffi masih berusaha. Mungkin Tuhan belum mempercayai kami untuk punya anak kedua," terang Elsa. Memancarkan senyuman singkat.
Kehadiran Raffi dan Elsa sangat bermakna. Zara dan Gamal perlahan melupakan kesulitan yang melanda.
Sekarang Zara dan Elsa melangkah senada. Keduanya pergi lebih dulu keluar dari restoran.
"Kamu lebih baik nggak usah lihat internet dulu. Berita yang ada bisa jadi beban pikiranmu." Elsa memberikan saran.
"Itu yang sedang aku lakukan, El. Aku nggak tahu harus gimana. Aku takut suatu hari wajahku dan Gamal ada dimana-mana," ujar Zara.
"Enggak kok. Aku yakin orang-orang akan segera melupakannya. Toh kalian kan bukan selebriti," tanggap Elsa. Dia ingin Zara berpikir positif.
...***...
Satu malam terlewat. Gamal berusaha menjalani hari seperti sebelumnya. Dia akan pergi mencari kerja lagi. Bagaimanapun caranya, Gamal harus mendapat pekerjaan tetap.
Zara termangu menatap kepergian Gamal. Atensinya teralih saat ada seorang lelaki paruh baya yang berjalan mendekat.
Mata Zara membola, tatkala menyadari lelaki itu adalah Afrijal. Dia perlahan menundukkan kepala. Zara siap menerima segala amarah yang akan diberikan Afrijal.
"Ma-maafkan aku, Om..." gagap Zara yang seketika menciut. Apalagi saat Afrijal sudah berdiri di hadapan.
Helaan nafas panjang dilakukan Afrijal. Dia mencoba menperhatikan Zara baik-baik. Namun tetap saja perasaan tidak sukanya masih bersarang.
Segala insiden buruk yang pernah di alami Gamal selalu datang ketika Zara muncul. Sekarang Afrijal sedang berpikir keras untuk membuat keputusan. Dia terpikir untuk membawa Gamal kembali. Akan tetapi semua itu tidak akan bisa jika Zara tidak ikut.
Setelah berpikir cukup lama, Afrijal akhirnya memilih keputusan akhir. "Berkemaslah! Aku akan membawamu dan Gamal pergi dari sini!" ujarnya.
Zara terperangah tak percaya. Itu adalah kalimat yang tak pernah dia duga akan keluar dari mulut Afrijal.
"A-aku, Om?" Zara menunjuk dirinya sendiri. Memastikan sekali lagi keseriusan Afrijal.
"Ya, kau! Berkemaslah!" Afrijal berucap tanpa membalas tatapan Zara. Lalu beranjak pergi begitu saja.
Zara termangu di tempat. Jujur saja, dia masih sulit untuk percaya. Apalagi raut wajah Afrijal tampak kurang bersahabat.
__ADS_1
Usai menemui Zara, Afrijal berniat menyusul Gamal. Dia tahu sang putra pasti mengantarkan Zafran ke sekolah.
Afrijal pergi bersama Hendra. Dia langsung keluar dari mobil saat melihat Gamal. Menghentikan pergerakan Zafran yang nyaris berlari melewati gerbang sekolah.
"Halo, nak. Hari ini kamu harus ikut Kakek ya?" ucap Afrijal.
Gamal tercengang. Dia bergegas menjauhkan Zafran dari Afrijal. Gamal mengira ayahnya sedang merencanakan yang tidak-tidak.
"Kenapa Papah ke sini?!" timpal Gamal dalam keadaan mata yang melotot.
"Ayo ikut Papah pulang. Aku akan menerimamu kembali. Maafkan Papah..." tutur Afrijal. Ekspresinya tampak bersungguh-sungguh. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari yang ditunjukkannya pada Zara.
Gamal terdiam seribu bahasa. Dia tidak mau mempercayai ucapan Afrijal begitu saja. Mengingat Afrijal pernah membohonginya selama tujuh tahun.
"Ayah, dia siapa?" tanya Zafran yang masih berpegangan tangan dengan Gamal.
Afrijal tersenyum mendengar pertanyaan Zafran. Dia perlahan menyentuh wajah anak itu. Mengamati kemiripan wajahnya dengan sang putra.
"Kau sangat mirip dengan Gamal. Bagaimana bisa aku baru menyadari ini," ungkap Afrijal. Terpana akan paras Zafran yang nyaris menyerupai Gamal.
Di sebelah Afrijal, Gamal memandangi gelagat ayahnya. Jika dilihat baik-baik, dia merasa Afrijal serius ingin membawanya kembali.
"Ayo, Pah. Kita sebaiknya bicarakan ini di tempat lain," cetus Gamal. Dia menyarankan Zafran masuk ke lingkungan sekolah. Kemudian mengajak Afrijal mendatangi sebuah cafe terdekat.
Gamal ingin tahu alasan Afrijal yang tiba-tiba berubah pikiran. Dia yakin, hal itu berkaitan dengan berita yang sedang beredar sekarang.
"Aku pikir kau akan semakin membenciku karena berita yang sedang tersebar." Gamal jadi orang yang memulai pembicaraan.
"Tidak." Afrijal menggeleng. "Aku ingin kau kembali," lanjutnya.
"Aku tidak akan kembali jika Zara dan Zafran tidak ikut." Benar dugaan Afrijal, Gamal pasti tidak akan menurut jika dia bersikeras menjauhkan Zara.
"Baiklah. Bawalah mereka! Aku akan mengembalikan semua fasilitas milikmu. Berhentilah berkeliaran seperti orang bodoh di jalan. Aku tidak rela melihatmu begitu," sahut Afrijal.
"Papah yakin? Membiarkanku membawa Zara dan Zafran?"
"Iya! Aku tidak bercanda. Aku bahkan sudah menyuruh Zara berkemas." Afrijal serius dengan perkataannya.
..._____...
Catatan Author :
Beberapa bab lagi novel ini akan tamat ya guys. Tapi aku akan bikin beberapa epilog-nya kok.
__ADS_1
Kalian bisa request mau minta diceritakan tentang karakter siapa di bab epilog nanti. Salah satu yang aku siapin itu epilognya Zara sama Gamal pas pertama kali saling kenal. Ya udah itu aja, love you...