Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 31 - Saling Bercurah Hati


__ADS_3

...༻◐༺...


Kasur bergerak senada dengan pergerakan intim Gamal dan Zara. Suara lenguhan mereka menderu-deru. Keduanya saling merasakan gairah yang memuncak. Mengingat Zara sudah setuju untuk menjalin hubungan lebih serius.


Sekarang Zara berada di atas badan Gamal. Jika sudah sangat bergairah, dia akan menjadi lebih agresif. Itulah yang disukai Gamal dari seorang Zara.


Gamal hanya bisa mengerang. Dia terus menatap tubuh Zara yang tak mengenakan sehelai benang pun. Membiarkan gadis itu menghentak lepas sampai menggetarkan tubuhnya sendiri.


Perlahan Gamal bangkit sambil memegangi pinggul Zara. Lalu mendongakkan kepala.


Zara yang mengerti, segera memadukan bibir dengan mulut Gamal. Keduanya menggeram dalam gumam. Keringat mulai membasuh dua insan itu. Mereka saling melepaskan ciuman dan meneruskan dengan tatapan lekat.


Gamal tersenyum. Dia menghempaskan tubuh Zara ke kasur. Lelaki itu berniat ingin mengambil alih posisi Zara. Ia lanjut melakukan pergerakan.


Setelah puas berhubungan intim, Gamal dan Zara tidak berhenti. Seakan sedang dimabuk cinta, keduanya terus bermesraan. Memanjakan tubuh satu sama lain. Satu belaian dan ciuman saja tak cukup untuk mereka.


Ketika waktu menunjukkan jam satu dini hari, Gamal dan Zara akhirnya berhenti. Keduanya rebahan sambil berpelukan. Dibalut oleh selimut tebal yang melindungi tubuh bugil mereka.


"Ra, mulai sekarang aku bisa panggil kamu sayang kan?" imbuh Gamal.


Zara tersenyum tipis. Dia yang masih lemas, melemparkan tatapan sayu kepada Gamal. "Hmmm... kalau kau panggil aku sayang, berarti aku juga harus panggil kamu sayang juga dong," tanggapnya.


"Ya iyalah! Masa cuman aku sendiri yang panggil sayang," balas Gamal. Mengeratkan pelukan, lalu mengelus leher Zara dengan wajah. Ulah Gamal sukses membuat Zara terkekeh geli.


Mendengar tawa Zara, Gamal ikut tergelak. Dia perlahan telentang menghadap gadis itu. Gamal menatap Zara lamat-lamat.


"Aku sayang banget sama kamu, Ra..." ungkap Gamal.


Zara lantas membalas tatapan Gamal. Dia menyentuh wajah lelaki itu. Tersenyum lega untuk sejenak. Dunia memang terasa berbeda saat Gamal ada di sampingnya.


"Aku juga sayang sama kamu," sahut Zara. Tangannya segera mendapat sentuhan Gamal. Mulai dari belaian tangan hingga bibir.

__ADS_1


"Ceritakan kepadaku semuanya dari awal. Terutama saat kau pergi dan menghilang dariku," ucap Gamal. Dia ingin tahu alasan Zara mengakhiri hubungannya tujuh tahun lalu.


"Berjanjilah kau tidak akan marah," kata Zara yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Gamal.


Zara merubah posisi menjadi telentang biasa. Dia berhenti menghadap ke arah Gamal. Zara bercerita sambil menatap langit-langit pelafon.


Satu per satu kebenaran terkuak. Kenyataan tentang keterlibatan Afrijal benar-benar membuat Gamal syok. Lelaki itu langsung duduk tegak. Memasang pelototan tak percaya. Kedua tangannya mengepalkan tinju.


"Jangan marah. Kau sudah berjanji kepadaku." Zara berusaha menenangkan. Dia membawa Gamal masuk ke dalam pelukan.


"Kau harus tahu satu hal. Aku tidak pernah marah kepada ayahmu... aku menghilang karena peduli dengan masa depanmu. Dan lihatlah kau sekarang. Kau bisa jadi orang pintar dan sukses." Zara berhenti mendekap. Kini dia menangkup wajah Gamal.


"Kamu juga harus tahu satu hal, Ra. Aku tidak pernah merasa bahagia selama tujuh tahun tanpamu," tutur Gamal. Dia dan Zara kembali berpelukan.


Zara melanjutkan ceritanya. Dari mulai saat dia menikahi Anton, sampai memiliki Zafran dalam hidupnya.


"Setelah Zafran lahir, aku merasa tidak sendiri. Zafran-lah yang membuatku bisa bertahan hingga sekarang. Aku tidak pernah menyesali kelahirannya." Zara berucap sembari membayangkan wajah Zafran. Dia dan Gamal kembali telentang ke kasur. Mereka terlena akan curahan hati yang terjadi. Keduanya bahkan sampai lupa waktu. Jarum jam terlihat sudah menunjuk angka dua.


...***...


Anton terbangun dari tidur. Dia menyadari Zara tidak ada. Dahinya sontak mengerut. Anton merubah posisi menjadi duduk.


"Zara!" panggil Anton. Tetapi tidak ada siapapun yang menyahut. Hanya suara desiran pendingin ruangan yang berbunyi.


Anton bangkit dari tempat tidur. Ia memeriksa kamar mandi. Memastikan keberadaan Zara. Namun istrinya tersebut juga tidak ada di kamar mandi.


"Sialan! Kemana perginya dia? Padahal ini masih dini hari." Anton melihat ke jam dinding. Waktu menunjukkan jam setengah tiga dini hari.


Anton berdecak kesal. Dia mencoba menghubungi Zara melalui telepon. Dirinya mendadak diserang rasa panik. Meskipun sering berbuat kasar, Anton sebenarnya sangat menyayangi Zara. Ia tentu punya alasan jelas untuk menikahi Zara tujuh tahun lalu.


Nomor Zara tidak aktif. Sekarang Anton memutuskan keluar dari kamar. Ia melenggang menelusuri koridor hotel.

__ADS_1


Anton pergi ke balkon. Dia tetap tidak menemukan Zara di sana. Alhasil Anton pergi ke lantai satu. Keadaan di sana begitu sepi. Bahkan tidak ada orang yang berjaga di meja resepsionis.


'Jika resepsionis saja tidur jam segini, lalu dimanakah Zara?' Anton bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


Anton mendengus kasar. Dia akhirnya meneruskan pencarian ke lantai tiga. Jika tidak kunjung menemukan Zara, Anton memutuskan menunggu di kamar saja.


Setibanya di lantai tiga, Anton langsung berjalan melewati koridor. Langkah demi langkah dia lakukan. Hingga telinganya sukses mendengar sesuatu yang samar, tetapi menarik perhatian.


Anton reflek menoleh ke pintu bernomor 20. Dia yakin sumber suara berasal dari sana.


Perlahan Anton mendekat dan menempelkan telinga ke pintu. Saat itulah dirinya dapat mendengar lebih jelas dua pasangan yang sedang bercinta. Erangan demi erangan membuat Anton harus menelan saliva sendiri.


"Parah, jam segini masih bisa aktif. Pasti pengantin baru. Bikin iri saja," komentar Anton. Dia sama sekali tidak terpikir kalau erangan gadis yang didengarnya tadi adalah Zara.


Anton malah kembali berjalan. Dia mencari Zara ke balkon yang ada di lantai tiga. Anton menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mencari.


Di sisi lain, Selia perlahan membuka mata. Dia terbangun karena tenggorokannya terasa kering.


Selia merubah posisi menjadi duduk. Dia mencoba mengumpulkan kesadaran terlebih dahulu. Sungguh, Selia sangat malas bangkit dari ranjang.


"Mal... bisa ambilin aku air nggak? Aku haus." Selia menyuruh tanpa melihat keberadaan orang yang dia suruh.


"Mal?" Selia akhirnya menoleh ke tempat Gamal seharusnya berada. Namun dia tidak menemukan sosok lelaki itu.


"Gamal?" sekali lagi Selia memanggil. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Matanya langsung membulat.


Selia langsung mencari Gamal. Ia memeriksa setiap sudut ruangan sampai ke dalam kamar mandi.


"Dia kemana coba?" gumam Selia yang merasa cemas. Dia takut Gamal pulang lebih dulu. Tidak ada terbersit sedikit pun dalam pikiran Selia, kalau Gamal pergi untuk menemui perempuan lain.


Selia menelepon Gamal. Tetapi tidak mendapat jawaban sama sekali.

__ADS_1


Kini Selia hanya bisa gigit jari. Dia akhirnya menghubungi Afrijal untuk menanyakan apakah Gamal sudah pulang atau tidak.


__ADS_2