
...༻◐༺...
Makanan pesanan Gamal baru saja tiba. Semua orang lantas menikmati makanan tersebut.
Zara duduk di sebelah Gamal. Keduanya sama-sama memperhatikan Zafran yang asyik makan bersama teman-temannya.
"Aku bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya sama Zafran," imbuh Zara. Ada kekhawatiran yang bersarang dalam kepalanya.
"Mungkin harus dilakukan pelan-pelan. Zafran tentu tidak akan langsung mengerti. Dia masih kecil," tanggap Gamal.
"Aku tahu. Tapi aku takut dia menanyakan tentang Anton. Selama ini Zafran selalu menganggap Anton sebagai ayahnya sendiri..." kening Zara mengernyit samar. Kegelisahannya mereda saat Gamal menggengam jari-jemarinya.
"Kita bisa melewati semua ini bersama." Gamal mencoba meyakinkan Zara. Dia berhasil membuat gadis itu mengembangkan senyuman.
Gamal mengambil ponsel dari saku celana. Dia menghubungi salah satu karyawannya yang mengurus bisnis properti. Gamal meminta dicarikan sebuah rumah besar. Tempat yang tentu akan dijadikan sebagai kediaman Wida dan anak-anak panti.
"Cepat siapkan semuanya secepat mungkin! Terutama fasilitas untuk tidur, makan, dan barang kebutuhan dapur!" titah Gamal berbicara kepada bawahannya melalui telepon.
"Baiklah, Tuan!" lelaki diseberang telepon tidak bisa membantah. Dia akan melaksanakan perintah Gamal secepatnya.
Gamal segera mengakhiri panggilan telepon. Dia sukses memergoki Zara menatap dengan lirikan tajam.
"Kenapa? Aku ganteng banget ya?" ujar Gamal.
Zara memutar bola mata malas. "Kesel banget deh, kalau dengar kamu sok kepedean gitu," balasnya. Dia tergelak kecil bersama Gamal.
"Oh iya. Kamu sama Zafran akan tinggal di sini?" Gamal memastikan.
"Entahlah. Tapi aku yakin, cepat atau lambat Anton pasti akan menemui kami ke sini."
"Kalau gitu, untuk sementara kamu sama Zafran tinggal di tempatku. Sekalian juga, kita beritahu Zafran pelan-pelan mengenai fakta yang tidak dia ketahui," tutur Gamal.
"Tinggal bersama? Kayaknya bahaya deh..." Zara merasa tidak yakin.
Melihat respon Zara, Gamal tidak bisa menepis. Terlalu banyak resiko jika mereka nekat tinggal bersama. Terlebih tanpa adanya ikatan yang sah.
__ADS_1
Gamal berpikir keras, sampai terlintas sesuatu dalam pikirannya. Dia berinisiatif untuk membelikan apartemen untuk Zara dan Zafran. Gamal sengaja memilih tempat apartemen yang berada tidak jauh dari kediamannya. Dengan begitu, dia dapat lebih sering menemui mereka.
Setelah cukup lama menghabiskan banyak waktu di panti asuhan, Gamal pamit pulang. Dia mengajak Zara dan Zafran untuk ikut.
"Kalian tidak tinggal serumah kan?" timpal Wida. Menatap serius Gamal dan Zara secara bergantian.
"Anu, Bi. Kami--"
"Aku baru aja pesankan apartemen untuk Zara dan Zafran. Mereka akan tinggal di sana. Bibi nggak usah cemas, kami tidak akan nekat tinggal bersama tanpa adanya ikatan yang jelas." Gamal sengaja memotong ucapan Zara. Padahal apartemen yang dia beli untuk Zara dan Zafran belum sepenuhnya siap.
"Benarkah?" Zara melebarkan kelopak matanya. Ia sedikit takjub mengetahui Gamal bisa memesan tempat tinggal secepat itu.
"Bagus deh kalau begitu. Kalian hati-hati ya." Wida mengijinkan dengan senang hati. Dia juga tidak lupa memberi nasehat agar Gamal dan Zara tidak berlebihan. "Kalian harus tahu batasan ya. Ingatlah Zafran! Dia masih kecil," ujarnya memberi nasihat.
Gamal dan Zara hanya mengangguk lemah. Tersenyum, lalu pergi dengan mengendarai mobil.
"Apartemennya benar-benar udah dibeli?" tanya Zara. Jujur saja dia masih ragu. Sebagai orang yang sudah lama mengenal, Zara tentu tahu Gamal seperti apa. Terutama saat sedang berbohong.
"Belum. Kalian tinggal di tempat aku untuk sementara." Gamal menjawab dengan senyuman lebar.
Zara memukul kepala Gamal dengan spontan. Dia tidak habis pikir, kenapa lelaki itu masih saja kukuh untuk mengajak tinggal bersama.
"Jangan gila deh, Mal! Kan aku udah bilang, kalau--"
"Satu malam aja... ya? Ya?" mohon Gamal lembut. Dia sekali lagi menjeda.
"Kita mau kemana?" Zafran mendadak angkat suara. Dia menatap dua orang yang ada di kursi depan. Kebetulan Zafran duduk sendirian di kursi belakang. Dalam balutan sabuk pengaman yang tadi sudah dipasangkan Gamal.
"Kita--"
"Kita ke rumah Om lagi ya." Untuk kali ketiga, Gamal memotong ucapan Zara.
"Ke rumah Om yang mewah itu lagi? Mau banget! Mau!" tanpa diduga Zafran justru bersemangat. "Berarti aku juga dapat mainan lagi kan?" harapnya, berekspetasi tinggi. Sebagai anak-anak, dia sudah membayangkan banyak mainan dalam kepalanya.
"Zafran... jangan mainan terus. Yang kemarin aja sudah pada kamu rusak semua," ujar Zara. Dia bukan tipe orang tua yang terlalu memanjakan anak.
__ADS_1
"Udah lah, sayang. Biarin aja. Kita singgah sebentar ke toko mainan." Sama seperti Zafran, Gamal juga merasa senang.
Mendengar perkataan Gamal, raut wajah Zafran langsung berubah. Dia menatap datar ke arah Gamal.
"Sayang? Kok Om panggil Bunda aku sayang? Ayah aku aja nggak pernah panggil Bunda begitu," ucap Zafran dengan polosnya. Di usia tujuh tahun, dia pasti sudah mengerti makna kata sayang.
Gamal dan Zara sontak gelagapan. Keduanya saling bertukar tatapan tajam. Bingung harus menjawab apa. Sungguh, mengatakan kebenaran kepada anak kecil seperti Zafran sangatlah sulit.
Dari belakang, Zafran masih sibuk memandangi Gamal. Menanti jawaban lelaki yang dia kenal hanya sebagai teman sang ibu.
"Li-lihat! Ada toko mainan!" Gamal merubah topik pembicaraan. Keberadaan toko mainan, sukses menyelamatkannya dari pertanyaan Zafran.
"Yeaaayyy!!!" perhatian Zafran langsung teralih. Dia otomatis melupakan pertanyaannya tadi.
Mobil segera berhenti. Zafran dibiarkan berlari memasuki toko mainan. Saat itulah Gamal dan Zara bicara empat mata.
"Sudah kubilang. Susah kan? Gimana kita ngomong sama Zafran coba?" Zara menghela nafas panjang.
"Kamu sih, nggak bilang sama Zafran dari awal. Harusnya kau katakan aja kalau Anton bukan bokapnya," balas Gamal.
"Apa? Kamu nyalahin aku?" tanggap Zara.
"Bukan gitu. Aku cuman kasih pendapat aja." Gamal melemah. Dia tidak bermaksud memancing kemarahan Zara.
"Sama aja kali! Aku nggak pernah nyangka bisa balikan sama kamu tahu nggak?! Makanya aku nggak pernah bisa bilang yang sebenarnya sama Zafran! Lagian kan dia masih kecil. Aku..." Zara terdiam saat Gamal meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Udah... maafin aku kalau gitu. Kita fokus sama yang sekarang aja ya," tutur Gamal. Dia mengelus pelan pundak Zara. Usahanya berhasil menenangkan perempuan tersebut.
Seusai membeli mainan, Gamal, Zara, dan Zafran pergi ke apartemen. Zara sebenarnya enggan bermalam di sana walau satu malam. Namun karena Gamal terus memohon, dia tidak kuasa menolak. Terlebih lelaki itu sudah memberikan banyak bantuan kepadanya.
Zafran dibelikan satu kardus mainan oleh Gamal. Dia di ajak Zara bermain ke kamar. Sedangkan Gamal tengah sibuk mengurus sesuatu di ruang tamu.
Ponsel Gamal mendadak berdering. Ia mendapat panggilan dari Selia. Awalnya Gamal mengabaikan panggilan tersebut mentah-mentah. Tetapi karena dering ponsel yang terus berbunyi, Gamal terpaksa mengangkat panggilan Selia.
Dahi Gamal berkerut, ketika mendengar suara tangisan Selia. Baru kali ini dia mendengar gadis itu menangis histeris.
__ADS_1