Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 24 - Perasaan Tak Rela


__ADS_3

...༻◐༺...


Gamal bergegas mengejar Selia. Dia ingin menghentikan gadis itu melangkah terlalu jauh. Takut kalau keberadaan Zara akan diketahui. Gamal hanya tidak mau Zara dihina oleh Selia yang diketahui bermulut pedas.


"Aku dengar apartemenmu ada di sini. Makanya aku terus nelepon kamu. Mobilku tadi mogok di dekat sini," jelas Selia sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan.


"Kamar mandinya ada di sana. Bersihkanlah badanmu dulu. Aku akan ambilkan pakaian yang cocok." Gamal menunjukkan letak kamar mandi. Posisinya agak jauh dari tempat persembunyian Zara.


"Baiklah." Selia tersenyum tipis. Ia sempat terpaku menyaksikan Gamal dalam balutan pakaian biasa. Pria tersebut dua kali lipat lebih gagah dan tampan. Meskipun begitu, tatapan Selia tidak berlangsung lama. Sebab Gamal terlanjur beranjak ke dalam kamar. Selia otomatis berjalan memasuki kamar mandi.


Di sisi lain, Gamal diam-diam mengunci pintu kamar. Berjaga-jaga kalau nanti Selia mendadak datang.


"Mal! Kamu lempar bra aku kemana?! Aku nggak sempat cari tadi!" ujar Zara yang nampak panik.


"Hah?! Bra? Jangan bohong deh." Gamal segera memastikan dengan cara menyentuh salah satu buah dada Zara. Mimik wajahnya langsung berubah datar, saat mengetahui yang dikatakan Zara bukanlah kebohongan.


"Kita harus temuin benda itu sebelum Selia keluar!" ucap Zara sembari berderap melalui pintu. Di ikuti Gamal dari belakang.


"Gamal!! Bisa tolongin aku nggak?" seruan Selia menghentikan pergerakan Zara. Gadis itu bergegas masuk kembali ke kamar.


Sedangkan Gamal, dia cepat-cepat beranjak menemui Selia. Gadis tersebut muncul dalam balutan handuk kimono. Rambut panjangnya masih dalam keadaan basah.


"Kenapa?" tanya Gamal.


"Kamu punya pengering rambut nggak? Oh iya, kebetulan aku juga lapar banget. Aku pengen makan steak." Selia memegangi perutnya. Memasang raut wajah memohon sebaik mungkin. Dia sengaja bersikap manja agar Gamal merasa gemas. Tetapi sayang, sikap gadis dengan tipe begitu bukanlah kesukaan Gamal.


"Ya udah. Aku akan pesankan. Nih! Kamu sebaiknya pakai bajuku dulu." Gamal menyodorkan setelan pakaian olahraga untuk Selia. Seterusnya, dia segera memberikan alat pengering rambut dan menghubungi restoran untuk memesan steak.


"Makasih ya..." ungkap Selia senang. Seusai berganti pakaian dan mengeringkan rambut, dia duduk ke sofa. Selia mengamati keadaan apartemen Gamal untuk yang kedua kalinya.


"Kamu mau minum sesuatu?" tawar Gamal yang baru selesai memesankan steak untuk Selia.


"Boleh. Teh hangat aja ya..." sahut Selia yang langsung direspon Gamal dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Gamal segera kembali sambil membawa secangkir teh. Dia duduk agak jauh dari Selia. Lalu menyalakan televisi. Niat Gamal sebenarnya adalah mencari bra milik Zara. Dia celingak-celingukan ke sana kemari.


"Mal..." panggil Selia. Menatap dengan sudut matanya.


"Hmm?" Gamal sontak menoleh. Menghentikan pencarian sejenak. Saat itulah atensinya tertuju ke belakang Selia. Tepat di balik punggung gadis itu, ada bra Zara yang tertindih dengan bantal. Bokong Selia hampir menduduki benda tersebut.


Gamal tersentak, ketika Selia tiba-tiba memeluknya dari samping. Namun Gamal memanfaatkan kesempatan itu untuk meraih bra milik Zara.


"Kamu hangat banget, Mal..." lirih Selia. Dia memejamkan mata dengan rapat.


Zara dapat melihat semuanya melalui pintu yang sedikit terbuka. Dia tentu merasa cemburu. Terlebih Gamal dan Selia tampak sangat dekat.


Kecemburuan Zara pudar seketika. Tepat saat Gamal sukses mengambil bra miliknya. Zara reflek menutup mulut. Dia nyaris memecahkan tawa yang nyaring.


Gamal yang tahu Selia asyik memejamkan mata, menggunakan peluang itu untuk menoleh ke belakang. Kemudian melempar bra ke arah kamar.


Zara yang mengerti, lekas-lekas memungut bra yang dilempar Gamal. Dia segera memakai bra tersebut.


Gamal telah beranjak dari sofa. Langkahnya terhenti, saat Selia tiba-tiba memanggil. Kebetulan Gamal berhenti tidak jauh dari tempat persembunyian Zara.


Tak disangka Selia melayangkan sebuah ciuman ke bibir Gamal. Pria itu dibuat sangat terkejut. Matanya terbelalak tak percaya.


Zara yang juga melihat, tentu ikut kaget. Dia membekap mulut sendiri untuk kali kedua. Berupaya keras tidak menimbulkan suara sedikit pun. Zara langsung menyandar ke dinding. Ia tidak sanggup menyaksikan kedekatan Gamal dan Selia lebih lama.


Belum sempat Selia bertindak lebih jauh, Gamal dengan cepat mendorong. Hingga tautan bibirnya terlepas dari mulut Selia.


"Kau kenapa?!" timpal Gamal. Masih dalam keadaan mata yang membuncah hebat.


"Emangnya aku nggak boleh cium bibir tunanganku?" balas Selia yang justru melebarkan senyuman.


Gamal menyurai rambut cepaknya dengan kasar. Dia menoleh ke arah Zara sebentar. Gamal mengkhawatirkan keadaan gadis itu dibanding Selia.


"Kau kenapa sih, Mal?!" timpal Selia. Ia sepertinya marah dengan penolakan Gamal.

__ADS_1


"Aku capek banget hari ini. Aku pengen istirahat," tutur Gamal. Dia sebenarnya sedang menahan diri dari amarah.


"Sikapmu aneh banget tau nggak! Aku nggak..." perkataan Selia terjeda, ketika bel pintu berbunyi.


"Steakmu pasti datang!" imbuh Gamal seraya melenggang ke arah pintu.


Benar saja, kurir pengantar makanan datang. Steak menyelamatkan Gamal dari perdebatan hebat yang hampir terjadi. Dia dan Selia menikmati makanan bersama di ruang tengah.


Sementara itu, Zara perlahan merapatkan pintu. Dia duduk sambil melipat lutut di lantai. Menyandar ke dinding sembari memancarkan tatapan kosong.


Sungguh, Zara sakit hati kala melihat Gamal berciuman dengan Selia. Ini mungkin bukan pertama kalinya dia melihat Gamal berciuman dengan wanita lain. Sebelumnya Zara juga pernah melihat hal serupa saat masih duduk di bangku SMA.


Tetapi keadaan sekarang berubah. Zara sudah tidak remaja lagi. Perasaannya untuk Gamal benar-benar dalam. Entah kenapa kali ini dia tidak terima Gamal disentuh oleh wanita lain. Tanpa sadar, air mata berjatuhan melalui pipinya.


Zara tenggelam dalam pikiran sendiri. Tekad ingin membina hubungan serius dengan Gamal akhirnya muncul. Namun keraguan mengganggu, ketika dirinya terpikirkan sosok Anton.


"Aku pulang dulu ya, Mal. Ada pekerjaan mendesak. Nanti aku pasti mampir lagi!" ujar Selia. Suaranya dapat terdengar sampai kamar. Zara dapat menduga kalau gadis itu akan pulang.


"Maaf ya. Aku nggak bisa mengantarmu pergi. Tapi aku akan mengurus mobilmu di bengkel," kata Gamal yang juga dapat didengar oleh Zara dari kamar.


Beberapa saat kemudian, Selia pergi. Gamal segera menemui Zara.


"Ra! Kau nggak apa-apa kan? Kamu nangis?!" Gamal cemas menyaksikan Zara yang terlihat sendu. "Apa ini gara-gara ciuman tadi?" tebaknya. Namun Zara tidak menjawab dengan satu patah kata pun. Diamnya gadis itu membuktikan adanya kemarahan. Gamal tahu kalau Zara akan terus diam saat sedang marah.


"Zara! Jawab dong!" desak Gamal. Dia menggenggam erat pergelangan tangan Zara.


"Lepasin aku!" Zara memberontak. Ia ingin lekas-lekas pergi meninggalkan Gamal.


"Kau pasti cemburu kan?" cetus Gamal. Memancarkan keseriusan melalui sorot matanya. "Kalau kau nggak rela aku disentuh sama Selia, maka bekerjasamalah denganku! Ayo kita jadikan hubungan kita lebih serius! Kita pasti bisa, Ra!" sambungnya, bertekad.


Zara melepas paksa pegangan Gamal. Dia sekali lagi menggantung pertanyaan Gamal. Lalu melangkah cepat keluar dari apartemen.


"Aaarggghh!!!" Gamal hanya bisa menggeram kesal.

__ADS_1


__ADS_2