Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 34 - Berkunjung Ke Panti


__ADS_3

...༻◐༺...


Zara menatap Anton dengan getir. Dia kembali berucap, "Aku sudah lama merencanakan perceraian ini, Mas. Bahkan semenjak Mas mengucap ijab kabul!"


Tubuh Anton bergetar hebat. Dia merasakan amarah yang memuncak. Satu tangannya segera menarik lengan dress Zara dengan kuat.


"Kau tahu apa yang akan terjadi dengan nasib panti asuhan bukan? Terutama kalau kau nekat meminta cerai dariku!" Anton melayangkan kalimat ancaman.


"Aku tahu. Tapi sekarang aku nggak akan peduli!" sahut Zara bertekad. Dia melepas cengkeraman Anton dari lengan bajunya. Lalu beranjak pergi begitu saja.


"Dasar istri tidak tahu di untung! Berhenti nggak?! Berhenti aku bilang!!" pekik Anton. Berharap Zara tidak jadi pergi.


Zara sama sekali tidak peduli. Dia terus melangkah maju sambil menarik kopernya.


"ZARAA!!!" Anton berteriak dengan putus asa. Harapannya masih belum pupus. Dia menunggu sampai punggung Zara menghilang dari pandangan.


Anton mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia menggeram kesal. Tanpa pikir panjang, dirinya langsung menghubungi seseorang melalui telepon.


Di waktu yang sama, Gamal baru saja menghentikan mobil. Dia mengantarkan Selia pulang terlebih dahulu.


Saat itu Gamal merasa memiliki kesempatan untuk bicara. Dia ingin memutuskan pertalian tunangan di antara dirinya dan Selia.


"Sel! Aku mau ngomong sesuatu," cegat Gamal. Selia yang nyaris keluar mobil, harus menoleh sejenak.


"Iya?" Selia menatap penuh tanya.


"Begini, aku pengen--" ucapan Gamal terpotong, ketika ponsel Selia tiba-tiba berdering. Seperti biasa, gadis itu selalu mengutamakan telepon lebih dari apapun. Gamal yakin panggilan tersebut pasti berkaitan dengan pekerjaan.


"Nanti aja ya, Mal. Bye!" Selia turun dari mobil. Dia melangkah cepat sembari bicara melalui telepon.


Gamal menatap sebal Selia. Gadis itu memang selalu lupa segalanya saat mendapat panggilan pekerjaan. Selia benar-benar definisi nyata seorang wanita karir.


Disertai helaan nafas panjang, Gamal mengambil ponsel. Dia tersenyum kala melihat ada pesan dari Zara. Tanpa berpikir lama, Gamal langsung menjalankan mobil. Ia pergi mendatangi panti asuhan atas usulan Zara.

__ADS_1


Setelah memakan waktu sekian menit, Gamal tiba di tempat tujuan. Dia dapat menyaksikan Zara melambaikan tangan.


Gamal tersenyum tipis. Lalu melangkah menghampiri. Zara otomatis menggandeng tangannya dengan mesra.


"Aku udah minta cerai sama Mas Anton. Kalau kau? Udah ngomong sama Selia?" tanya Zara. Menatap Gamal dengan sudut matanya.


Gamal berdecak kesal. Terutama saat mengingat sikap Selia terakhir kali. "Tadi aku mau bicara, tapi Selia langsung keluar dari mobil. Dia emang selalu gitu kalau dapat panggilan terkait pekerjaan," jawabnya panjang lebar.


Zara menampakkan raut wajah kecewa. Dia agak cemas dengan kabar yang diberikan Gamal.


"Jangan khawatir. Aku pasti ngomong sama Selia secepatnya. Lagian kalau bicara lewat telepon agak susah kan?" Gamal memegang pundak Zara. Dia tahu kalau wanita itu sedang diserang rasa gelisah.


"Ya udah." Zara mempercayai Gamal sepenuhnya. Mereka lantas saling melemparkan senyuman tulus. Binaran mata yang dipancarkan oleh keduanya penuh akan kekaguman.


Gamal perlahan memeluk. Zara tentu tidak menolak. Dia membalas dekapan Gamal yang terasa hangat dan nyaman. Debaran jantung keduanya otomatis dapat dirasakan oleh satu sama lain.


Sedari tadi, Wida menyaksikan semuanya. Dari apa yang terlihat, dia yakin kedekatan Zara dan Gamal bukan hal biasa. Wida mendadak cemas. Dia reflek menoleh ke arah Zafran. Anak itu baru saja berjalan melewati pintu.


"Zafran!" Wida menghentikan pergerakan Zafran. Dia tidak mau anak itu melihat Zara bermesraan dengan lelaki lain selain Anton. Mengingat sosok ayah yang dikenal Zafran hanyalah Anton seorang.


"Bunda bentar lagi datang. Bunda harus ketemu sama temannya dulu ya," ujar Wida. Dia membawa Zafran kembali memasuki panti.


Selepas puas memadu kasih, Zara mengajak Gamal masuk ke rumah panti. Dia hendak memperkenalkan Gamal kepada semua anak yatim piatu.


"Zara!" Wida memanggil. Tepat ketika Zara dan Gamal hampir masuk ke rumah panti. Dia mendekati dua pasangan sejoli itu. Wida menatap selidik ke arah Gamal. Berusaha mengenali wajah yang terasa tidak asing tersebut.


Wida memang pernah bertemu Gamal. Namun itu terjadi saat tujuh tahun yang lalu. Tepat ketika Gamal dan Zara sama-sama SMA dan masih dalam status pacaran.


"Siapa dia?" tanya Wida serius.


Zara dan Gamal sama-sama tersenyum. Tangan mereka terus bertautan. Seakan tidak sudi untuk melepaskan.


"Bibi masih ingat Gamal nggak? Dia cowok yang pernah cari aku ke sini. Itu emang udah lama banget sih. Pas aku masih SMA," jelas Zara.

__ADS_1


"Gamal?..." Wida berupaya mengingat. Tetapi tidak bisa. Usianya yang cukup tua tidak bisa mengingat peristiwa pertemuannya dengan Gamal.


"Udah deh, Bi. Pokoknya Gamal akan bantu kita pindah dari sini. Dengan begitu, Bibi nggak perlu khawatir lagi sama Anton dan kroco-kroconya," ucap Zara.


"Bantu? Maksudnya?" Wida mengerutkan dahi. Dia masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi.


"Aku akan mencarikan tempat baru untuk Bibi dan anak-anak," sahut Gamal pelan.


"Kenapa tiba-tiba?" Wida terus saja bertanya. Kali ini Zara tidak punya pilihan selain mengatakan yang sebenarnya.


Zara menyuruh Gamal menemui anak-anak panti lebih dulu. Sementara dirinya akan mencoba bicara dengan Wida. Zara memberitahu wanita paruh baya itu tentang rencana perceraian.


"Apa?! Cerai?!" Wida melotot tak percaya.


Zara menunduk sendu. Dia berusaha membuat Wida mengerti. Demi meyakinkan wanita paruh baya tersebut, Zara mengatakan kebenaran kalau Gamal adalah ayah kandung Zafran.


Wida kehabisan kata-kata. Pikirannya bahkan jadi runyam saat mendengar betapa rumitnya hubungan Zara dan Gamal.


"Anton masih sering menyakiti kamu ya?" Wida memastikan. Terakhir kali dia tahu Zara dianiaya adalah saat enam tahun lalu. Sebab di tahun setelahnya, Zara sengaja menyembunyikan penderitaannya dari Wida. Ia hanya tidak mau wanita paruh baya itu khawatir.


"Hampir setiap hari, Bi... aku--"


"Astaga, Ra... kenapa kamu nggak pernah bilang ke Bibi? Kenapa?" tanpa sengaja Wida memotong ucapan Zara. Dia mendekap Zara dengan rasa kepedulian. Keduanya berakhir menangis penuh haru.


Bertepatan dengan itu, Gamal sedang sibuk bermain bersama Zafran dan anak-anak panti. Dia tampak menikmati momennya.


Karena merasa terbawa suasana, Gamal memesankan makanan lezat untuk semua orang yang tinggal di panti. Dalam sekejap, dia berhasil menarik perhatian Wida. Wanita paruh baya tersebut merasa kalau Gamal adalah lelaki yang baik.


Kini Wida dan Zara duduk bersebelahan. Mengamati Gamal, Zafran dan anak-anak lain bermain bersama.


"Berarti hubunganmu dan Gamal sekarang adalah hubungan gelap ya?" Wida menoleh ke arah Zara.


"Begitulah, Bi. Tapi kami akan segera mengurus masalah yang ada. Aku dan Gamal akan menikah secepatnya," tanggap Zara. Meski dia sendiri tidak begitu yakin.

__ADS_1


"Aku harap semua berjalan lancar. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak mendukung hubungan yang kau jalani sekarang. Kenapa kalian tidak berteman saja, sambil menunggu waktu pernikahannya tiba?"


"Teman? Aku dan Gamal nggak akan sanggup kalau punya hubungan sekedar berteman." Zara menarik sudut bibirnya ke atas. Dia berpikir, tidak ada orang yang bisa memahami bagaimana hubungan dirinya dan Gamal. Hubungan mereka memang tidak bisa dimengerti semenjak masih SMA dulu. Penuh gairah, ambigu, dan tidak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata.


__ADS_2