
...༻◐༺...
Musik masih terputar. Lampu disko juga belum dimatikan. Kini Zara mengungkung Gamal. Ia terus saja merekahkan senyuman nakal. Lalu menggigit pelan bibir bawah Gamal.
Seperti singa yang baru terbangun dari tidur, Gamal memanfaatkan peluangnya. Dia bergerak cepat untuk memagut bibir Zara. Tetapi sayang, wanita itu sigap menjauh.
"ZARA!" teriak Gamal dengan dahi berkerut dalam. Dia merasakan gairahnya telah mencapai ubun-ubun. "Kau membuat burungku menganggur! Cepetan, Ra! Satukan anumu ke sana!" ucapnya serampangan. Organ intimnya sudah menegang sedari tadi.
"Anu? Anu apanya coba?" Zara malah mentertawakan Gamal.
"Ingat apa yang kita lakukan di ruang bioskop pirbadimu dulu nggak? Aku ingin kau melakukannya lebih dari itu," kata Zara sembari memegangi buah dadanya sendiri. Dia memang sengaja menarik ulur Gamal, karena ingin sang suami lebih bergairah dari biasanya. Padahal lelaki itu selalu berhasrat meski tidak dipancing dengan cara begitu.
"Kau ingat?" Gamal sudah berulang kali menelan ludah. Apalagi saat Zara mulai bermain-main sendiri dengan buah dadanya.
"Ya, tapi tidak sedetail itu," jawab Zara. Dia menelungkupkan telapak tangannya ke wajah Gamal. Membiarkan pria itu mengendus bekas sentuhannya sendiri.
Gamal otomatis menikmati suguhan Zara. Dia mengendus tangan Zara seperti anjing kelaparan. Gamal menciumi telapak tangan sang istri dengan penuh gairah.
Menyaksikan yang dilakukan Gamal, Zara mengatup bibirnya dengan kuat. Saat itulah Gamal merasakan sesuatu yang mengalir di atas perutnya.
"Kamu udah basah. Kita lakukan sekarang aja," imbuh Gamal.
Kali ini Zara yang telan ludah. Dia segera mellumat bibir Gamal. Bersamaan dengan itu, tangannya berusaha melepas ikatan tangan Gamal. Namun karena melakukannya sambil berciuman, Zara jadi kesulitan membukanya. Alhasil dia melepas tautan bibirnya terlebih dahulu.
Zara membuka ikatan tangan Gamal dalam keadaan tergesak-gesak. Saat ikatan tersebut terbuka, Gamal segera memposisikan diri ke atas badan Zara. Dia memegang erat kedua tangan istrinya.
Tidak perlu berlama-lama, Gamal langsung menyatukan tubuh. Menghentakkan badannya hingga membuat Zara seketika mendessah. Di satu sisi, bibirnya sibuk mengecup dalam ceruk leher sang istri.
Zara mencengkeram kuat bahu Gamal yang tampak berotot. Lenguhan keduanya saling sahut menyahut.
"Oke, Ra... kalau kau mau aku melakukan lebih dari apa yang terjadi di ruang bioskop..." ucap Gamal disela-sela erangannya.
"Eumgh... ya... lakukan lebih dari itu.." sahut Zara yang kesulitan berkata-kata karena serangan nikmat bertubi-tubi.
Zara dan Gamal sama-sama merasa tubuh mereka begitu ringan. Hantaman udara dari pendingin ruangan, tidak membuat peluh mereka berhenti mengalir.
__ADS_1
Gamal mendadak melepaskan diri. Padahal dia belum sepenuhnya selesai.
"Kenapa, sayang?" tanya Zara yang merasa masih belum puas. Namun Gamal tak menjawab. Lelaki itu justru memaksa Zara berdiri. Lalu menyudutkan ke nakas. Menyuruh Zara dalam keadaan posisi membelakangi.
Gamal melipat salah satu kaki Zara ke atas nakas. Barulah dia melakulan penyatuan kembali. Lenguhan kembali terdengar. Bahkan lebih intens dari sebelumnya. Apalagi ketika Gamal memberikan lumattan ke kuping Zara.
Ulah Gamal membuat erangan Zara menjadi-jadi. Wanita itu mengacak-acak rambut sendiri dengan brutal. Apa yang dilakukannya dan Gamal, sesekali menyebabkan beberapa barang di nakas berjatuhan. Mereka melakukannya sampai merasa saling terpuaskan.
...***...
Hari sudah siang. Keadaan di kamar sangat berantakan. Terutama di sekitaran area kasur. Seprei kasur mereka bahkan terlepas dan berhamburan seperti kapal pecah.
Gamal menjadi orang yang lebih dulu membuka mata. Dia dan Zara dalam keadaan tengkurap di lantai. Tepat di atas karpet yang ada di dekat kasur. Tubuh bugil keduanya tertutupi akan selimut.
Gamal perlahan duduk. Lalu menatap Zara yang masih terlelap. Tangannya perlahan mengusap pucuk kepala Zara. Merapikan rambut istrinya tersebut.
Gamal segera mengenakan celana. Dia memindahkan Zara ke atas kasur. Sehingga istrinya itu dapat tertidur dengan nyaman. Selanjutnya, Gamal beranjak ke kamar mandi.
Zara terbangun ketika Gamal di kamar mandi. Dia merasa badannya begitu lemas. Bergerak sedikit saja terasa malas.
"Hah..." Zara menghela nafas panjang. Mengerjapkan matanya dengan pelan.
Zara tersenyum lembut sambil memegangi wajah Gamal. Saat itulah Gamal menghamburkan ciuman ke punggung tangan Zara.
"Aku mencintaimu..." ungkap Gamal.
"Sama," sahut Zara.
Gamal cemberut. "Malas banget sih kamu ngomong cinta. Sama? Cuman gitu doang?"
"Apaan sih. Sensitif banget. Kan kau udah tahu kalau aku cinta banget sama kamu," jelas Zara yang masih dalam posisi telentang. Tatapannya terlihat sayu.
Gamal memutar bola mata jengah. Meskipun begitu, dia tersenyum tipis.
"Aku akan pesan sarapan untuk kita berdua," ujar Gamal sembari mengambil telepon yang tersedia di kamar. Setelah memesan, dia mengenakan pakaian.
__ADS_1
Atensi Gamal lagi-lagi terfokus kepada Zara. Istrinya itu tidak berniat bergerak atau pun bangun sama sekali.
"Kenapa masih tidur? Kita harus bersiap ke rumah baru kan?" tanya Gamal yang sudah menghampiri Zara kembali. "Kau sakit karena tadi malam?" tanya-nya cemas.
"Nggak... badanku lemas banget. Aku malas banget mau mandi..." lirih Zara seraya menguap lebar.
Gamal menarik sudut bibirnya ke atas. Mungkin saatnya dia melakukan pembalasan atas kelakuan Zara tadi malam.
"Mau aku mandiin nggak?" tawar Gamal.
Zara lekas menggeleng. Lalu berbalik membelakangi Gamal. Dia masih enggan beranjak dari kasur.
"Aku siapin bath tub-nya dulu," ujar Gamal bersikeras.
Zara hanya diam. Ia asyik tenggelam dalam kemalasan.
Rupanya Gamal benar-benar ingin memandikan Zara. Dia menyiapkan air dan sabun ke dalam bath tub. Selepas semuanya siap, Gamal kembali mendatangi Zara.
Tanpa persetujuan Zara, Gamal langsung menyingkap selimut yang menutupi istrinya itu. Tubuh Zara yang masih telanjang terpampang nyata.
"Sayang! Aku--" belum sempat Zara bicara, Gamal sudah menggendongnya dengan ala bridal.
Zara menggerakkan tubuh dan kakinya sekuat tenaga. Dia menggelepar bagaikan ikan yang keluar dari air. Raut wajahnya tampak merengek. Gamal justru merasa gemas. Lelaki itu tidak kuasa menahan tawa.
Gamal berusaha mengerahkan tenaganya agar Zara tidak lepas dari gendongan. Dia melangkah cepat masuk ke kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Gamal memasukkan istrinya ke dalam bath tub yang sudah di isi air dan sabun. Busa terlihat menggenangi permukaan bath tub tersebut.
"Aku kan sudah bilang nggak mau mandi dulu," rengek Zara seperti anak kecil.
"Apa kau meniru Zafran? Ayolah, sayang..." tanggap Gamal. Dia segera membilas salah satu tangan Zara.
Gamal tidak berhenti tersenyum ketika melihat ekspresi Zara yang mengerutkan separuh wajah. Alhasil terlintas dalam benaknya untuk membuat wanita itu tertawa.
Tangan Gamal akhirnya iseng membilas ke bagian perut Zara. Kemudian menggelitiki dengan jari-jemarinya.
Benar saja, usaha Gamal berhasil membuat Zara mengikik geli. Zara berusaha keras menghentikan Gamal. Sesekali dia menjerit saat suaminya iseng mencubit beberapa titik tubuhnya.
__ADS_1
Gamal menirukan jeritan Zara sambil terkekeh. Jeritannya nyaris menyerupai seorang banci yang memperagakan suara wanita. Kamar mandi dipenuhi keributan tak terduga.
Suasana hati Zara seketika berubah. Dia tidak berhenti tertawa bahagia bersama Gamal.