Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 45 - Menerima Kebencian


__ADS_3

...༻◐༺...


"Kau pasti semakin dekat dengan wanitamu itu," komentar Selia. Setelah menyaksikan cap bibir dengan lipstik merah di kerah baju Gamal.


"Maksudnya?" Gamal mengerutkan dahi. Dia baru tahu, saat Selia memperlihatkan apa yang ada di kerah bajunya.


"Aku akan menghapusnya ke toilet." Gamal pergi ke toilet sebentar.


Selia mematung di tempat. Air matanya hampir berjatuhan lagi. Dia benar-benar mencintai Gamal. Tetapi ketika melihat banyak bukti kalau lelaki itu tidak mencintainya, Selia tahu dirinya tidak bisa memaksakan. Yang ada malah dia yang terus-terusan sakit hati.


Gamal kembali setelah selesai membersihkan kerah bajunya. Dia dan Selia segera menemui Firman. Ayah kandung Selia itu memang sudah terlihat sadar.


"Aku melihat apa yang kau lakukan di depan toko mainan. Wanita dan anak yang bersamamu, apakah dia keluargamu?..." tanya Firman dengan pelan dan parau. Dia menatap nanar Gamal.


Deg!


Jantung Gamal serasa di sembar petir. Dia tidak menyangka kalau penyebab Firman jatuh sakit karena dirinya. Semuanya benar-benar di luar dugaan.


Gamal juga baru teringat, kalau Selia pernah memberitahu kalau Firman jatuh ketika ingin membeli mainan untuk keponakannya. Mungkin saat itulah Firman melihat kebersamaannya dengan Zara dan Zafran.


"I-iya... Om..." Gamal menundukkan kepala.


Firman menampakkan garis-garis penuh amarah di wajahnya. "Beruntung aku tidak mati karenamu. Mungkin Tuhan masih mencoba memberimu kesempatan... Tapi tidak denganku! Mulai sekarang... jangan pernah muncul lagi ke hadapanku! Jangan pernah lagi bicara kepada Selia. Aku pastikan keluargaku tidak akan berhubungan lagi dengan keluarga Laksana!" tegasnya. Tubuh Firman tampak bergetar hebat. Mungkin dia sedang mencoba bertahan.


"Aku minta maaf... aku tidak pernah menyangka--"


"Pergilah!" geram Firman sambil membuang muka. Ia merasa jijik.


Gamal terhenyak. Ia berusaha memahami sikap Firman. Dirinya langsung mendapat tatapan sinis dari Cintya. Meskipun begitu, Gamal membeku di tempat. Bingung harus berbuat dan melakukan apa. Semuanya terasa serba salah.


"Aku tidak menyangka kau ternyata lelaki yang buruk! Kau tidak pantas menikahi anakku!" hardik Cintya.


"Kau dengar itu kan?! Cepat pergi! Per..." Firman tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba diserang rasa sesak. Mesin EKG juga terdengar darurat.


Tanpa pikir panjang, Gamal langsung memanggil dokter. Dia tetap menunggu di sana. Memastikan keadaan Firman baik-baik saja.

__ADS_1


Raffi yang bertugas sebagai dokter Firman, telah datang. Dia segera menggunakan alat pacu jantung untuk menormalkan keadaan Firman.


Pacuan pertama yang dilakukan Raffi tidak langsung membuat Firman membaik. Dia terpaksa melakukan pacuan kedua. Dengan cara meninggikan kejutan pada alat pacu jantung.


"Raf, kau harus bisa membuat Om Firman membaik!" ujar Gamal. Dia dan yang lain tentu sedang panik bukan kepalang.


Raffi hanya diam. Ia memilih fokus dengan pasiennya. Raffi memberikan kejutan kedua. Hingga akhirnya detak jantung Firman kembali normal. Kini semua orang dapat bernafas lega.


Selia bergegas menyeret Gamal keluar ruangan. Dia ingin pria itu pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


Plak!


Selia menampar keras pipi Gamal. Dia melampiaskan kemarahannya dengan cara begitu. Dia terlampau kecewa.


"Karena ayahku lebih dulu tahu dibanding aku, maka hubungan kita benar-benar berakhir. Kembalilah kepada jala*ng dan anak harammu itu!" tukas Selia. Penghinaannya terhadap Zara sukses membuat Gamal mengeratkan rahang.


"Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah menghina Zara dan Zafran!" sahut Gamal.


Selia terperangah. Dalam keadaan seperti sekarang, Gamal masih saja memikirkan wanita dan anak simpanannya.


"Oh jadi namanya Zara. Ayolah, Mal! Berkacalah! Aku yakin, orang di luar sana pasti setuju denganku. Kalau wanita yang bernama Zara itu adalah jala*ng murahan!" sinis Selia. Dia menghina Zara habis-habisan.


"Kau sebaiknya pergi..." cicit Raffi sembari memaksa Gamal menjauhi Selia.


"Bajingan dan jala*ng memang cocok! Aku penasaran anaknya akan seperti apa. Iblis mungkin!" Selia masih saja mengucapkan hinaan pedas. Dia melakukan itu karena merasa saking kesalnya.


"Tutup mulutmu itu!!!" geram Gamal yang tidak bisa terus diam. Dia melepaskan pegangan Raffi dan hendak kembali ke hadapan Selia.


"Sabar, Mal! Kalau kau melawan, masalahnya akan tambah parah." Raffi berusaha keras menghentikan Gamal. Dia bergegas membawa Gamal menjauh dari Selia


"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU!!!" Selia berteriak keras. Dia langsung dihampiri oleh Cintya. Ibunya itu mencoba menenangkan. Selia akhirnya hanya bisa menangis. Semua kalimat pedas yang dia ucapkan tidak memberikan efek apa-apa.


...***...


Sekarang Gamal sedang berada di ruangan Raffi. Dia disuguhi teh hangat agar bisa lebih tenang.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mencemaskan Om Firman. Besok dia akan melakukan operasi transplantasi jantung. Operasinya memang tidak mudah, tapi kami akan bekerjasama dengan seorang dokter profesional." Raffi sengaja memberikan kabar baik kepada Gamal.


Gamal hanya mengangguk lemah. Dia menekan jidatnya berulang kali.


"Ambil sisi positifnya, Mal. Setidaknya kau dan Zara tidak perlu mengkhawatirkan gangguan Selia lagi." Raffi memandang teduh Gamal.


"Aku tahu..." tanggap Gamal sambil menutupi wajah dengan dua tangan.


"Aku akan mengabarimu tentang perkembangan Om Firman," ucap Raffi. Dia menepuk pelan pundak Gamal.


"Terima kasih. Aku beruntung bisa punya teman dokter." Gamal akhirnya menoleh. Dia tersenyum tipis untuk menghargai sikap Raffi.


"Kau bisa tinggal di sini dulu. Aku ingin mengurus sesuatu sebentar." Raffi beranjak dari ruangan. Dia harus menangani pasiennya yang lain.


Gamal berusaha menenangkan diri. Dia menjernihkan pikirannya dari segala amarah dan hinaan Selia.


Di waktu tak terduga, Gamal mendapatkan panggilan telepon dari Zara. Rekahan senyum langsung terukir di wajahnya.


"Mal, kapan kau akan pulang?" tanya Zara dari seberang telepon.


"Kenapa, sayang?" sahut Gamal.


"Tidak apa-apa. Aku hanya membuat rencana makan malam untuk kita bertiga."


"Ya sudah, kalau begitu aku akan cepat-cepat pulang." Gamal bergegas pergi dari rumah sakit. Jika Selia dan keluarganya ingin dia pergi, maka Gamal benar-benar akan pergi. Dia juga tidak mau mendengar lebih banyak caci maki.


Sesampainya di apartemen, Zafran menjadi orang yang membukakan pintu untuk Gamal. Kemunculan anak itu membuat segala penatnya hilang.


Karena merasa emosional, Gamal perlahan menggendong Zafran. Dia sukses membuat anak itu tertawa.


"Om, aku sudah besar. Kenapa digendong?" ujar Zafran.


"Om gemas! Kamu ganteng banget. Mirip banget sama Om." Gamal iseng mencubit pelan pipi Zafran. Keduanya terlihat begitu akrab.


"Lihat! Om bawa mainan baru dan cemilan untukmu," ungkap Gamal. Kebetulan dia sempat membeli banyak hal ketika dalam perjalanan pulang tadi.

__ADS_1


Zara dapat melihat interaksi Gamal dan Zafran. Ada sesuatu hal yang menarik perhatiannya saat itu. Yaitu tentang bagaimana cara Zafran memanggil Gamal. Dia berjanji, akan membuat Zafran terbiasa memanggil Gamal dengan sebutan ayah. Terutama saat hubungannya dan Gamal sudah berada di jenjang pernikahan.


"Sayang, gantilah bajumu. Ayo kita makan malam bersama," ajak Zara.


__ADS_2