
...༻◐༺...
Anton kembali terdiam. Dia mematung dalam keadaan wajah memerah padam. Anton jelas sedang benar-benar marah. Dan Gamal dapat mengetahuinya dengan jelas.
"Baiklah kalau kau tidak mau tanda tangan sekarang. Aku akan memberimu waktu sampai besok." Gamal tahu dirinya tidak bisa memaksa. Alhasil dia beranjak dari rumah Anton.
Bersamaan dengan itu, Gamal menerima telepon dari Raffi. Dia akhirnya berhenti di depan mobil sebentar.
"Dasar keparat!" Anton diam-diam mengumpat. Menatap punggung Gamal yang tak kunjung pergi.
Anton bergegas masuk ke rumah. Tak lama kemudian, dia kembali keluar dalam keadaan memegang pisau dapur. Anton melangkah laju menghampiri Gamal.
"Woy!" panggil Anton. Membuat Gamal reflek membalikkan badan.
Tidak perlu basa-basi, Anton nekat menusuk perut Gamal. Hingga cairan merah segar langsung merembes ke tanah.
Mata Gamal membulat sempurna. Dia melangkah mundur dengan cepat. Tangannya reflek memegangi pisau yang masih tertancap di perut.
Sementara Anton, dia terlihat sama syoknya dengan Gamal. Setelah melakukan hal di luar dugaan, Anton jadi ketakutan. Dia akhirnya berlari meninggalkan Gamal seorang diri.
Sungguh sebuah kebetulan, telepon Gamal masih terhubung dengan Raffi. Gamal memanfaatkan kesempatan itu untuk memberitahu apa yang terjadi kepadanya.
"Ra-Raf... aku terluka... a-ada banyak darah..." ujar Gamal yang perlahan terduduk ke tanah. Dia menyandar ke mobil. Perlahan penglihatannya mengabur. Rasa pusing yang tak tertahan membuat Gamal kehilangan kesadaran.
"Mal! Kau tidak apa-apa? Gamal!" seru Raffi. Dia menunggu Gamal bersuara, namun tidak kunjung mendapat jawaban.
"Kenapa, Raf?" tanya Zara cemas.
"Gamal! Katanya dia terluka! Apa kau tahu dia ada dimana?" Raffi gelagapan. Apa yang dikatakannya sukses membuat Zara diserang rasa panik. Meskipun begitu, dia memberitahukan tempat yang didatangi Gamal.
Tanpa berpikir lama, Raffi segera menghubungi ambulan. Dia dan Zara akan lebih dulu pergi ke rumah sakit.
"Pergilah, Ra. Biar aku yang jaga Zafran dan Ramanda di sini," ucap Elsa. Dia mendapatkan dekapan terima kasih dari Zara.
...***...
__ADS_1
Zara dan Raffi menunggu di depan rumah sakit. Keduanya semakin panik, saat mendengar kabar kalau Gamal terluka karena tusukan pisau. Polisi harus ikut terlibat dalam insiden tersebut.
Mobil ambulan yang ditunggu akhirnya datang. Sosok Gamal yang bersimbah darah segera menyambut. Zara menangkup mulut dan memecahkan tangis. Dia setia menemani, ketika Gamal di antarkan ke ruang operasi.
Zara sedang berada di depan ruang operasi. Dia menanti sambil tidak berhenti menangis. Dirinya sangat menyesal sudah membiarkan Gamal pergi menemui Anton. Zara seharusnya ikut bersama lelaki itu. Namun apalah daya, segalanya sudah terlambat.
Kini Zara hanya bisa berharap operasi Gamal dapat berjalan lancar. Terlebih pria itu kehilangan banyak sekali darah.
Dari kejauhan, Zara melihat Afrijal dan Tania yang kian mendekat. Meskipun begitu, dia memilih diam di tempat. Zara tidak berniat meninggalkan Gamal hanya karena Afrijal.
Saat melihat Zara, mata Afrijal langsung membuncah hebat. Dia menggertakkan gigi dan langsung menghampiri Zara.
"Ternyata kau lagi. Pantas saja putraku kembali berbuat ulah! Pasti kau bukan, yang menghancurkan hubungan Gamal dan Selia?!!" timpal Afrijal. Menyalahkan segalanya kepada Zara.
"Pah, sudahlah. Sekarang bukan saatnya untuk marah-marah. Putra kita sedang dalam keadaan darurat." Tania berusaha menenangkan Afrijal.
"Apa uang yang aku berikan dulu masih kurang, hah?! Kau mau tambah lagi?!" tukas Afrijal. Dia malah mendorong Tania menjauh.
Mendengar semua ucapan Afrijal, Zara hanya bisa menangis. Dia mencengkeram rok selutut yang dikenakannya.
Afrijal segera mengambil semua uang dari dompet. Lalu melemparkan uang itu kepada Zara. Lembaran-lembaran uang ratusan ribu tersebut jadi berhamburan kemana-mana.
"Pah, hentikan... kasihan dia..." sekali lagi Tania mencoba menghentikan Afrijal. Akan tetapi dia lagi-lagi kembali mendapat dorongan keras. Kali ini Tania nyaris terjatuh ke lantai.
Tangisan Zara sudah mencapai sesegukan. Dia merasa sangat terhina. Namun cercaan Afrijal sama sekali tidak meruntuhkan tekad Zara.
Bertepatan dengan itu, Afrijal merebut tas milik Tania. Dia ingin mencari uang lebih banyak untuk diberikan kepada Zara.
Tania tidak terima. Dia mempertahankan tasnya. "Jangan berlebihan! Apa kau tidak malu? Bersikap seperti itu di depan umum?!" timpalnya. Membuat Afrijal sontak tertohok.
"Duduk dan tenanglah! Ini rumah sakit, bukan tempat untuk membuat keributan!" tambah Tania. Dia mengajak Afrijal duduk. Ke tempat yang agak jauh dari Zara.
Proses operasi berlangsung selama dua jam lebih. Kenunculan Raffi, menyebabkan Zara dan yang lain bangkit dari tempat duduk.
"Operasi Gamal berjalan lancar. Dia akan segera kami pindahkan ke ruang VIP," ujar Raffi. Kabar yang diberikannya membuat semua orang merasa lega.
__ADS_1
"Ra, ikut aku." Raffi berbisik diam-diam. Zara lantas mengikutinya.
Raffi mengajak Zara untuk makan ke kantin yang ada di rumah sakit. Dia menyuruh Zara untuk mengisi perut terlebih dahulu.
"Kau yakin hanya mau makan sebungkus roti dan kopi?" tanya Raffi.
"Ini membuatku lebih baik. Terima kasih," jawab Zara. Dia sudah menghapus air matanya dengan tisu.
"Apa rencanamu selanjutnya? Kau tidak bisa berada di satu ruangan bersama Om Afrijal dan istrinya kan?" Raffi kembali memulai pembicaraan.
"Aku tahu. Tapi aku yakin, saat Gamal terbangun, dia pasti langsung mencariku." Zara menghela nafas panjang. Lalu menyesap secangkir kopi. "Sambil menunggu Gamal sadar, aku ingin menemui Anton sebentar," lanjutnya.
"Sekarang?" Raffi memastikan.
Zara mengangguk yakin. Dia segera pergi ke kantor polisi. Kebetulan Anton sudah berhasil dibekuk.
Setibanya di tempat tujuan, Zara dipersilahkan menemui Anton. Pria itu tampak duduk lesu di balik jeruji besi. Zara perlahan mendekat.
"Mas Anton..." panggil Zara.
Anton sontak menoleh. Dia berdiri dan berlari ke hadapan Zara. "Bagaimana keadaan Gamal? Sungguh, aku tidak bermaksud ingin membunuhnya! Aku hanya merasa sangat kesal," jelasnya gelagapan.
"Dia baik-baik saja." Zara menjawab dengan tenang. Dia sebenarnya sangat marah kepada Anton. Bagaimana tidak? Anton telah berani menyakiti lelaki yang sangat disayanginya. Namun karena Gamal masih bisa diselamatkan, Zara memilih bersabar. Lagi pula dia akan memanfaatkan kesalahan Anton sebaik mungkin.
"Maafkan aku, Dek... Maafkan aku..." tanpa diduga Anton memegangi kaki Zara. Dia bersujud sambil menangis histeris.
Zara dibuat kaget. Dia berusaha menghentikan, tetapi tidak bisa. Anton berpegang sangat erat ke kakinya. Terus saja melantunkan kalimat permohonan.
"Mas, jangan begini..." ujar Zara. Tangisan Anton membuatnya merasa tidak enak.
"Hiks... ampuni aku, Dek..." rengek Anton.
"Tenanglah, Mas." Zara berjongkok. Dia perlahan melepas pegangan Anton dan kembali berucap, "aku akan memaafkan, kalau Mas bersedia menandatangani surat perceraian."
Zara mengambil surat perceraian dari dalam tas. Kebetulan surat itu dikembalikan oleh seorang polisi yang kebetulan memeriksa rumah Anton. Zara segera menyerahkannya kepada Anton.
__ADS_1
"Nggak, Dek. Aku nggak mau menceraikanmu... aku nggak mau berpisah sama kamu dan Zafran..." Anton menggeleng berulang kali. Dia tidak menerima surat yang diberikan Zara.
"Aku tidak peduli kau sudah disentuh oleh lelaki lain. Asal kau tetap bersamaku... kumohon beri aku kesempatan..." mohon Anton yang belum juga menyerah.