Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 59 - Pijit-Memijit Berujung Birah*i


__ADS_3

...༻◐༺...


Zara kembali dengan membawa sebotol kecil minyak urut. Dia menyuruh Gamal untuk tengkurap di kasur. Suaminya itu terlihat agak kewalahan.


"Apa kau sudah menyuruh orang memperbaiki atap kita?" tanya Gamal. Melirik ke arah Zara yang duduk di sebelah. Wanita itu tampak mengusap minyak urut ke tangan.


"Sudah, aku jamin atap kita tidak akan bocor lagi. Tapi bayarannya lumayan mahal juga," jawab Zara sembari duduk ke atas bokong Gamal. Dia mulai mengusap punggung suaminya dengan minyak. Memberikan pijitan sekuat tenaga.


Gamal menelan salivanya sendiri. Dia tidak tahu kenapa sekujur badannya tiba-tiba meremang. Terutama saat Zara duduk mengapit bokongnya.


Padahal Zara hanya berusaha memberikan pijitan agar kondisi Gamal lebih baik. Dia mengusap punggung sang suami dengan telapak tangannya yang lembut.


"Sayang, kenapa kau duduk di pantatku coba? Perasaan orang kalau pijit nggak sampai gitu," celetuk Gamal.


"Iya, kau kan sering pijit di tempat mewah. Mana ada yang pakai gaya begini. Ini gaya pijit khusus dari istri untuk suaminya," sahut Zara seraya tersenyum tipis.


Tubuh Gamal berguncang seiring dengan pergerakan Zara. Wanita itu mengusap naik turun di punggung Gamal.


Semakin Zara memberi pijitan kuat, maka akan tambah menekan pula tubuhnya ke badan Gamal. Perbuatannya berhasil membuat sang suami gagal fokus.


Gamal memejamkan mata. Mencoba menahan birahinya yang entah kenapa tiba-tiba muncul.


"Eummghh..." Zara melenguh. Bukan lenguhan nikmat akibat bercinta. Tetapi erangan sebagai bukti kalau dirinya memberikan pijitan bertenaga maksimal.


Gamal kali ini menoleh ke belakang. "Kau kenapa malah mendessah? Jangan mancing-mancing deh," ujarnya. Meski tidak bisa melihat ke arah Zara sepenuhnya.


"Apa? Siapa juga yang mendessah. Kamu halu deh." Zara tak mengerti.


Gamal masih dalam posisi menengok ke belakang. Atensinya terfokus ke pangkal paha Zara. Istrinya itu kebetulan mengenakan daster pendek. Sehingga ketika duduk, daster Zara otomatis menyusut. Memperlihatkan pangkal pahanya yang putih nan mulus.


"Sayang, sekarang kamu balik badan. Aku akan memijit perutmu juga," saran Zara seraya duduk ke kasur sejenak. Membiarkan Gamal memalingkan badan menjadi telentang.


Setelah Gamal dalam posisi telentang, Zara kembali duduk ke atas badan. Tepat di atas bagian perut suaminya tersebut.


Zara tidak berpikir yang aneh-aneh. Dia hanya fokus dengan niatnya untuk meredakan mual yang di alami Gamal.


"Badan kamu ini keras juga ya. Jadi susah pijitnya," komentar Zara. Baru kali ini dia memperhatikan dengan seksama tubuh atletis sang suami.


Gamal hanya diam. Ia terpaku menatap Zara yang sibuk mengusap dada bidangnya.

__ADS_1


Zara tersenyum menyaksikan tatapan Gamal yang tidak teralihkan darinya. Mulut sang suami juga terlihat sedikit menganga. "Kenapa? Aku cantik banget ya? Sampai mulutnya mangap begitu," tegurnya sambil terkekeh.


Selesai memberi pijitan ke dada, Zara beralih ke perut. Dia perlahan duduk lebih ke belakang. Saat itulah Zara merasakan sesuatu yang mencuat di organ intim Gamal.


"Astaga, kamu terangsang sama pijitanku?" timpal Zara dengan mata membulat. Dia juga segera menoleh ke kamar dimana Zafran sedang tertidur. Takut kalau anaknya itu sudah bangun.


"Sayang..." panggil Gamal seraya merubah posisi menjadi duduk. Dia memutar kepala Zara agar bisa menghadapnya. Lalu barulah pagutan demi pagutan di bibir dilakukannya.


Zara tidak kuasa menolak. Dia malah membalas ciuman Gamal dengan menggebu-gebu. Kemudian melingkarkan dua tangannya ke leher Gamal.


Zara kian mengapit pinggul Gamal dengan kakinya. Ia mulai merasa nafasnya mulai tak terkontrol.


Zara melepas ciumannya sejenak. Dia berucap, "Kau bau minyak urut."


"Diamlah! Minyak urut nggak membunuh kan?" Gamal tak peduli. Dia menyambung sesi ciumannya lagi.


Puas berciuman, Gamal dan Zara saling membantu melepas pakaian. Selanjutnya, Gamal mulai bergumul dengan suguhan tubuh Zara yang sudah telanjang. Menikmati satu per satu kulit putih istrinya dengan mulut serta jari-jemari.


Melenguh dengan pelan, itulah yang bisa dilakukan Zara ketika Gamal mulai meliar.


Mengetahui istrinya sudah bergairah, Gamal bergeser untuk duduk menyandar ke dinding. Dia membimbing Zara untuk bergerak di atas badannya.


"Aku ingin melakukannya di atas, tapi badanku capek. Jadi--"


Bunyi hentakan yang menepuk itu terdengar. Di iringi dengan suara dessahan pelan dari dua pasutri yang tak pernah puas itu. Mereka berusaha tidak berisik agar Zafran tidak terbangun.


Zara berpegang kokoh ke dinding yang menjadi sandaran Gamal. Dia berusaha membungkam mulut sekuat tenaga. Rasa nikmat yang tiada tara membuatnya ingin terus-terusan mendessah.


Gamal sibuk mengulum buah dada Zara yang tak berhenti bergetar. Apa yang dilakukannya sukses membuat Zara merasakan puncak gairah berulang kali.


"Akhhh! Sayang..." ada suatu waktu Zara kelepasan. Dia tidak bisa membendung lenguhan yang ingin terus menuntut keluar.


Gamal memegangi pinggul Zara dengan erat. Dia masih tidak ingin berhenti.


Sementara Zara yang sudah kewalahan, berharap suaminya berhenti. Meskipun begitu, dia berniat ingin menjadi istri yang baik. Membiarkan Gamal melakukannya sampai puas.


Zara tidak tahu kenapa, gairah Gamal semakin meningkat. Terutama setelah menikah. Ketahanannya menjadi lebih lama dibanding sebelum-sebelumnya.


Waktu terasa panjang dari biasanya. Tibalah Gamal melantunkan erangan panjang. Dia segera melepaskan diri dari Zara. Istrinya itu langsung menghempas ke ranjang. Mengambil waktu istirahat sebentar.

__ADS_1


Sedangkan Gamal memilih tetap duduk menyandar. Perlahan rasa mual kembali menyerang perutnya.


Gamal lekas-lekas mengenakan celana. Lalu berlari ke kamar mandi.


"Sayang? Mualnya masih belum sembuh?" Zara sontak cemas. Dia bergegas memakai dasternya kembali.


"Hueeek!" Gamal muntah lagi. Dia tidak tahu kenapa dirinya begitu. Selain merasakan gairah yang memuncak, Gamal juga merasa fisiknya terasa lelah.


Zara memandangi Gamal dari ambang pintu. Kini dia tidak tahu harus bagaimana.


"Lebih baik kita periksa ke rumah sakit. Aku takut kamu kena magh akut," ujar Zara seraya membimbing Gamal kembali rebahan ke kasur.


"Dasar! Harusnya kalau capek nggak usah ngajak begituan," omel Zara dengan dahi berkerut.


"Mau gimana lagi. Birahiku nggak bisa ditahan. Padahal tubuhku capek banget," jawab Gamal. Dia meletakkan satu tangan ke atas jidat.


Zara menggaruk bagian belakang kepala. "Ayo! Kita ke rumah sakit aja," usulnya.


"Malas banget. Harinya juga udah malam. Besok aja deh." Gamal memejamkan matanya rapat-rapat.


Zara mendengus kasar. Dia tahu kalau dirinya tidak bisa memaksa. Jadi Zara membiarkan Gamal beristirahat sejenak.


Waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam. Penerang dari cahaya matahari seketika berubah menjadi sinar lampu.


Tok!


Tok!


Tok!


Pintu terdengar diketuk. Namun Gamal masih tidak kunjung beranjak dari kasur. Sementara Zara masih sibuk berada di kamar mandi.


"Gamal? Zara? Ini aku Raffi!" seru orang di depan pintu. Dia ternyata Raffi yang masih setia menunggu pintu dibuka.


Zafran yang sudah lama tertidur, akhirnya terbangun. Dia menjadi orang yang membukakan pintu untuk Raffi.


"Makasih ya Zafran. Ayah sama Bundamu mana?" sapa Raffi sembari membungkukkan badan.


"Ayah lagi tidur. Kalau Bunda kayaknya di dapur deh." Zafran membuka pintu lebih lebar.

__ADS_1


"Om masuk ya," ucap Raffi seraya melangkah masuk ke dalam rumah. Dia langsung menghampiri Gamal yang rebahan di ranjang.


"Ya ampun, Mal. Kau habis dipijit?" Raffi dapat mencium bau minyak urut yang menyeruak.


__ADS_2