Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 52 - Hari Pernikahan


__ADS_3

...༻◐༺...


Pintu dibanting oleh Gamal. Dia dan Zara masuk ke sebuah ruangan. Keduanya langsung saling memeluk dan menciumi satu sama lain.


Zara menjatuhkan tas selempangnya. Membiarkan Gamal meliar dengan tangan nakalnya.


Handphone dalam tas Zara mendadak berdering. Di awal, baik Zara maupun Gamal sama sekali tidak peduli. Mereka tenggelam atas segala jamahan lembut nan penuh gairah.


Bertepatan dengan itu, atensi Zara tertuju ke jam tangan Gamal. Dia baru teringat kalau dirinya harus menjemput Zafran ke sekolah. Tanpa pikir panjang, Zara menghentikan kegiatan intimnya secara mendadak.


"Kenapa?" protes Gamal dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal. Setengah kancing kemejanya terlihat sudah terbuka.


Zara tidak menjawab. Dia bergegas menjawab panggilan telepon. Nama salah satu gurunya Zafran tertera di layar ponsel. Zara diberitahu bahwa Zafran sudah menunggu jemputan selama setengah jam lebih.


"Aku kira kau tadi menjemput Zafran!" Zara menatap tajam Gamal.


"Ah benar! Maaf, gara-gara dijemput Tirta sama Danu, aku jadi lupa." Gamal menepuk jidatnya sendiri. "Niat kami ke sini tadi hanya ingin berkunjung sebentar saja," tambahnya. Berharap Zara tidak marah.


"Ya sudah, biar aku saja yang menjemputnya. Kau selesaikan saja urusanmu di sini," tanggap Zara sembari memasang tas selempangnya kembali.


"Kau tidak marah kan?" tanya Gamal.


"Apa aku terlihat marah?" balas Zara seraya tersenyum singkat. Dia menyempatkan diri untuk menyentuh lembut pipi Gamal. "Kita lanjutkan pas udah nikah aja ya," sambungnya. Dia melangkah keluar dari ruangan.


Mendengar pernyataan Zara, Gamal gelagapan. Lelaki itu lekas-lekas mengiringi. "Apa?! Setelah nikah? Lama dong!" kritiknya dengan dahi berkerut.


Zara hanya menampakkan kekehan singkat. Seakan sengaja mentertawakan Gamal. Zara lantas berlalu pergi.


Ketika bertemu Zafran, Zara langsung meminta maaf atas keterlambatannya. Dia berniat membelikan anak itu es krim.


"Nggak apa-apa, Bunda. Lagian aku tadi di temanin sama Hilda sambil makan es krim. Dia baru aja pulang. Kita langsung pulang aja ke rumah ya! Aku mau main-main lagi sama Om Gamal!" seru Zafran yang malah antusias. Zara bahkan tak menduga hal itu.


"Oh iya, Bunda! Kata Bi Wida, Om Gamal akan jadi ayahku ya? Itu beneran?" Zafran sekali lagi bicara.


Zara berjongkok ke hadapan Zafran. "Nggak, sayang. Sejak awal Om Gamal memang ayahnya Zafran. Jadi Zafran harusnya panggil Om Gamal dengan sebutan ayah," tuturnya lembut. Hingga Zafran dapat mengerti dengan mudah.


"Kapan aku bisa memanggil Om Gamal dengan sebutan ayah?" tanya Zafran polos.

__ADS_1


"Kapan pun Zafran mau. Sekarang juga boleh," sahut Zara. Dia mengukir senyuman simpul.


Hari demi hari terlewat. Dalam satu bulan lebih, Gamal mempersiapkan pernikahannya sambil mencari pekerjaan. Dia dan Zara juga baru saja membeli sebuah rumah. Tentu saja dengan uang hasil menjual kalung berlian. Mereka akan tinggal di sana setelah menikah nanti.


Gamal baru saja turun dari busway. Dia mengenakan setelan hitam putih. Persis seperti pejuang pencari kerja pada umumnya. Sesekali Gamal meringiskan wajah saat berjalan melewati debu dan bersentuhan dengan orang asing. Pria itu tentu belum terbiasa pada kehidupan sulit.


Nafas dihela oleh Gamal. Dia kebetulan baru melakukan wawancara kerja di sebuah perusahaan. Satu wawancara yang dilakukannya perlu menunggu waktu seharian. Karena Gamal memiliki pesaing yang lumayan banyak. Jadi dia harus menunggu antrian cukup lama.


Gamal memilih duduk sebentar di sebuah halte bus. Dia memeriksa ponsel dan melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Tania. Terlihat ada juga pesan dari ibunya tersebut.


...'Mal, Mamah ingin bertemu denganmu. Apa kau punya waktu? '...


Begitulah pesan yang diterima Gamal. Sebenarnya sudah cukup lama Tania berusaha menghubungi. Namun hingga sekarang Gamal tidak terpikir untuk memberikan jawaban.


Gamal berjalan menyusuri jalanan trotoar. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sampingnya. Kaca jendela mobil itu perlahan terbuka. Sosok Selia tampak menatap remeh Gamal.


"Udah jadi orang susah ya?" ujar Selia. Belum sempat Gamal menjawab, dia langsung melajukan mobilnya.


Gamal yang kesal hanya bisa melayangkan tendangan ke udara. Giginya menggertak kesal.


Sementara itu, Zara baru saja selesai memasak bersama Wida. Dia menyiapkan makan malam untuk semua orang.


Pintu tiba-tiba terbuka. Gamal datang dan langsung merebahkan diri ke samping Zafran.


"Mal! Kenapa ke sini?! Nanti kalau Bi Wida tahu kita bisa di usir loh!" tegur Zara seraya mengguncang-guncang tubuh Gamal. Akan tetapi pria tersebut tak bergeming. Ia justru memejamkan mata.


Akibat belum terikat dengan pernikahan, Wida menempatkan Gamal dan Zara tidur secara terpisah. Jarak kamar mereka bahkan cukup jauh. Di helat oleh kamar-kamar anak panti yang lain.


"Aku capek..." keluh Gamal yang perlahan merubah posisi menjadi duduk.


"Ya udah, mending istirahat di kamarmu aja gih!" usul Zara.


Gamal membalas dengan tatapan nakal. Kemudian menyingkap daster yang dikenakan Zara. Namun pergerakannya terhenti, saat Zara sigap menghentikan.


"Kan aku sudah bilang. Pas setelah kita nikah aja." Zara menjauhkan tangan Gamal dari pahanya.


"Ini sudah satu bulan lebih setelah kita melakukannya terakhir kali. Aku udah mencapai kesabaran maksimal!" cetus Gamal sembari mengangkat dua tangan ke udara.

__ADS_1


"Tiga hari lagi, sayang... tiga hari lagi ya!" Zara memaksa Gamal berdiri. Lalu mendorongnya keluar dari kamar.


Gamal berdecak kesal. Dia berjalan gontai menuju kamar miliknya.


...***...


Hari yang dinanti telah tiba. Sekarang Zara sedang dirias sedemikan rupa untuk menjadi pengantin wanita. Dia tampak cantik jelita dengan balutan gaun putih yang menjulang ke lantai. Zafran dan Ramanda bahkan sampai tidak mengalihkan perhatiannya dari Zara.


"Bunda cantik banget kayak bidadari!" puji Zafran bersungguh-sungguh. Matanya menampakkan binar penuh kekaguman.


"Kamu bisa aja," sahut Zara sembari mengusap pelan puncak kepala Zafran.


Tidak lama kemudian, Gamal melangkah masuk. Dia terpana menyaksikan penampilan Zara. Matanya bahkan kesulitan untuk mengedip.


"Kau kenapa?" timpal Zara. Dia jadi malu sendiri.


"Kamu cantik banget," puji Gamal.


Zara berjalan ke hadapan Gamal. Lalu memperbaiki dasi lelaki itu. "Kau juga sangat tampan..." ucapnya dengan tatapan lekat.


"Udah deh! Kalian harus nikah dulu!" seru Elsa. Berusaha menghentikan kemesraan Zara dan Gamal. Dia tidak mau dua sejoli itu bertindak lebih jauh seperti biasanya.


Proses pernikahan Gamal dan Zara berlangsung khidmat. Selepas ritual pengesahan dilaksanakan, keduanya melakukan sesi foto bersama.


Banyak teman lama berdatangan. Para anak panti juga terlihat memenuhi tempat acara. Hanya pihak dari keluarga Gamal yang tidak terlihat datang sama sekali.


Ketika seluruh tamu undangan telah pulang, Raffi dan kawan-kawan memisahkan Gamal dan Zara ke tempat berbeda. Mereka memang sengaja melakukannya karena ingin memberi kejutan rahasia.


Gamal dan Zara dipaksa menunggu di tempat dengan penerangan remang. Zara ditemani oleh Elsa dan Danu. Sementara Gamal bersama Raffi dan Tirta.


Teman-temannya yang iseng itu bergegas mengambil foto Gamal dan Zara saat sama-sama termangu. Jujur saja, dua pasutri tersebut sama-sama meminta ingin cepat-cepat pulang.


..._____...


...Ilustrasi Zara dan Gamal saat menunggu :...


__ADS_1


..._____...



__ADS_2