
...༻◐༺...
Seusai bicara dengan Raffi dan Elsa, Gamal langsung kembali ke kamar Firman. Di sana dia sudah tidak melihat lagi keberadaan Afrijal dan Tania. Kemungkinan kedua orang tuanya itu telah pulang.
"Bagaimana?" tanya Selia yang mendekat.
"Raffi akan mengusahakan segalanya untuk menyembuhkan ayahmu," jawab Gamal.
"Benarkah?" Selia tersenyum senang. Itu untuk pertama kalinya dia lakukan hari ini. Gadis tersebut memeluk Gamal dengan erat.
"Apa kau dan ibumu sudah makan? Ayo kita makan sebentar," ajak Gamal seraya melepas dekapan Selia. Dia berpikir usulan Elsa ada benarnya. Jadi Gamal sekarang berencana akan mengakhiri hubungan dengan Selia.
"Belum." Selia menggeleng. Dia menoleh ke arah Cintya yang selalu setia duduk di samping Firman.
"Kau pergi saja, Sel. Biar aku yang menjaga ayahmu. Toh kamu belum makan sejak datang ke sini." Seolah mengerti, Cintya angkat suara. Ia tentu tidak mau putrinya merasa kelaparan.
"Baiklah, aku akan kembali membawakanmu makanan." Selia dan Gamal segera pergi bersama. Selia tidak berhenti menggandeng lengan pria itu. Bak anak ayam yang tak mau terpisah dengan induknya.
Jujur saja, Gamal mulai risih dengan sikap berlebihan Selia. Dia tidak sanggup jika harus terus berpura-pura. Gamal juga tidak mau memberikan harapan palsu.
Kini Gamal dan Selia sedang berada di sebuah restoran terdekat. Kebetulan Selia tidak pernah mau di ajak ke tempat makan biasa. Gadis itu memiliki kebiasaan hidup enak sejak kecil.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Sepertinya kau melupakannya karena ayahmu," imbuh Gamal. Memulai pembicaraan.
"Kau benar. Aku harus mengorbankan pekerjaanku demi Papah." Selia tersenyum singkat. Selanjutnya, dia terpaku menatap Gamal. "Terima kasih sudah bertahan sampai sekarang. Apa kau tahu? Sebenarnya aku tidak punya teman dekat dalam hidupku. Kalau pun ada, mereka selalu berakhir meninggalkanku," sambungnya.
Gamal menanggapi dengan senyuman tipis. Dia sebenarnya paham kenapa Selia tidak punya banyak teman. Kemungkinan karena sikapnya yang sombong dan terlalu memimpin.
"Mas!" Selia memanggil seorang pelayan. Dia lagi-lagi minta dipotongkan steak yang sedang dimakannya. Entah kenapa Selia selalu melakukan itu saat berada di restoran.
Pelayan yang memotongkan steak Selia terlihat gelagapan. Kebetulan dia memiliki kesibukan lain, sehingga fokusnya terganggu.
"Sudahlah, Mas. Biar aku saja yang potongkan steaknya." Gamal mengajukan diri. Dia merasa tidak enak kepada pelayan lelaki yang tampak sibuk itu.
__ADS_1
"Nggak usah, Mal. Biar dia kerjain pekerjaannya. Ini hak kita kok minta pelayanan semaksimal mungkin," tukas Selia. Dia tidak membiarkan pelayan lelaki itu pergi.
Gamal memandang Selia dengan perasaan sebal. Walau sedang sedih, sikap sombong gadis itu tidak pernah pudar. Keinginan untuk memutuskan hubungan dengan Selia semakin melonjak.
'Mungkin inilah yang terbaik. Aku juga sudah lelah bersandiwara. Setidaknya aku bisa memberikan batas kepada Selia. Tidak baik juga kalau dia semakin terbawa perasaan,' gumam Gamal dalam hati.
Pelayan yang bertugas memotongkan steak Selia telah pergi. Saat itulah Gamal bersiap untuk bicara.
"Sel... ada yang ingin aku bicarakan," ujar Gamal.
"Ah benar, kau terakhir kali juga ingin mengatakan sesuatu. Kau mau membicarakan apa? Tentang pernikahan kita?" tanggap Selia yang sepertinya membayangkan ekspetasi tinggi.
Gamal menarik sudut bibirnya ke atas. Dia tahu dirinya keterlaluan. Sebelum bicara, Gamal menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita lagi. Maafkan aku..." tuturnya dengan gamblang.
Selia tak bisa langsung mencerna semuanya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, Gamal tiba-tiba berkata seperti itu. Padahal dia sedang merasa sayang-sayangnya kepada pria tersebut.
"A-apa maksudmu?..." bibir Selia bergetar. Dia menatap tak percaya.
"Ke-kenapa tiba-tiba? Apa salahku, Mal..." Selia yang merasa hatinya terhujam, otomatis terisak. Cairan bening merembes dari sudut matanya. Gadis itu menepuk dada berulang kali.
Gamal tahu dirinya kurang ajar. Tetapi dia tidak punya pilihan lain. Semakin lama menunda, maka hati Selia akan tambah sakit. Kenyataan tentang sakitnya Firman tetap tidak bisa menjatuhkan tekad Gamal.
"Tentang apa yang terjadi kepada ayahmu, aku akan berusaha membantu sebisa mungkin," ucap Gamal. "Sekali lagi maafkan aku, Sel..." tambahnya sembari menundukkan kepala.
"Beritahu aku alasan kenapa kau tiba-tiba mengakhiri hubungan kita? Bukankah di awal kau sudah sepakat?! Harusnya kau tidak pernah menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tua kita!" timpal Selia. Kekesaannya mulai bangkit.
"Awalnya aku memang setuju. Tapi ada sesuatu hal yang membuatku harus mengakhiri hubungan kita."
"Apa itu?" Selia memancarkan tatapan nanar.
"Aku... sudah memiliki anak dengan seorang wanita. Aku tidak bisa--"
"Kau keterlaluan! Kenapa kau baru mengatakannya kepadaku, hah?!" geram Selia. Amarahnya seketika menuncak. Mendengar kenyataan Gamal sudah memiliki anak, hanya menambah rasa sesak di dadanya. Dia dan Gamal langsung menjadi pusat perhatian semua orang di restoran.
__ADS_1
"Aku baru saja tahu, Sel. Andai aku tahu sejak dulu, tidak mungkin aku menerima perjodohan yang dilakukan orang tua kita!" balas Gamal.
"Kamu jahat!!" tukas Selia. Ia meluruhkan sakit hatinya dengan tangisan meraung. Selia pergi dari restoran begitu saja.
Gamal yang merasa cemas, akhirnya mengikuti. Dia berjalan mengekori Selia yang tak tentu arah.
Merasa Gamal ada di belakang, Selia berbalik. "Pergilah! Aku ingin sendiri!" hardiknya. Kemudian kembali melangkah maju.
Gamal mendengus kasar. Dia memutuskan kembali ke rumah sakit. Gamal tidak lupa membelikan makanan untuk Cintya. Dirinya yang merasa tidak enak, merasa harus melakukan sesuatu.
Sesampainya ke kamar Firman, Gamal langsung memberikan makanan kepada Cintya. Ibunya Selia itu tersenyum hangat. Dia terenyuh akan perhatian Gamal.
"Mana Selia?" tanya Cintya.
"Dia pergi ingin membeli sesuatu." Gamal menjawab singkat. Dia memberikan alasan alakadarnya.
Cintya mengangguk. Dia segera menikmati makanan pemberian Gamal. Keduanya terus mengobrol, sampai Selia akhirnya muncul dari balik pintu.
Wajah Selia tampak sembab. Ditangannya terdapat tas berbahan karton. Ekspresi datar Selia tidak dapat diartikan.
Menyaksikan kedatangan Selia, Gamal langsung tertunduk. Dia bersiap akan menerima segala resiko. Andai menerima cercaan, Gamal merasa dirinya pantas mendapatkannya.
"Aku udah menduga, pasti Gamal beliin Mamah makanan. Jadi aku beli buah-buahan untuk kita," seru Selia. Dia menghampiri Gamal dengan senyuman mengembang.
Gamal termangu. Dia heran kenapa Selia bersikap seakan tidak ada yang terjadi.
"Sel, apa yang kau lakukan?" cicit Gamal. Memastikan Cintya tidak mendengarkan. Wanita paruh baya itu sedang sibuk menikmati makanan.
Selia tak acuh. Dia justru sibuk menggigit sebuah apel. Gadis itu duduk ke sebelah sang ibu.
"Mal, cincin kamu mana?" tanya Selia. Membuat atensi Cintya seketika teralih. Dia tentu menatap lelaki yang kini sedang menyandang calon suami Selia.
Gamal tercengang. Dia tidak menyangka Selia akan semakin bersikap menyebalkan.
__ADS_1