
...༻◐༺...
"Bunda, apa benar kita tidak akan kembali pulang ke rumah ayah?" cetus Zafran, saat dalam perjalanan. Dia kali ini duduk bersama Zara di kursi depan.
"Iya, sayang. Kita nggak bisa kembali lagi. Ini semua demi kebaikan Bunda dan Zafran sendiri." Zara bertutur kata lembut. Dia memeluk erat Zafran yang tengah duduk di atas pangkuannya.
Zafran membisu. Dia menatap serius ke arah Gamal. Seolah ada sesuatu di pikirannya.
Gamal dan Zara baru saja tiba di rumah panti yang baru. Mereka memastikan segalanya berjalan lancar. Selanjutnya, Gamal langsung mengajak Zara dan Zafran berkunjung ke apartemen baru.
"Apa apartemennya sudah siap?" tanya Zara.
"Aldi baru saja mengirimiku pesan. Semuanya sudah siap. Nanti aku akan bawakan barang-barang kalian ke apartemen itu. Tempatnya ada di lantai yang sama denganku." Gamal berucap sambil fokus mengemudikan mobil.
"Berarti tempatnya tidak jauh dari apartemenmu?" Zara memastikan.
"Iya, biar aku bisa jagain kalian juga," tanggap Gamal.
Zara geleng-geleng kepala. Dia sebenarnya cukup senang terhadap segala perhatian Gamal.
Sekian menit berlalu, Zara dan Zafran tiba di tempat tinggal baru mereka. Sebuah unit apartemen yang sama mewahnya dengan Gamal. Zafran kegirangan. Dia langsung memindahkan semua mainannya ke tempat tersebut. Dalam sekejap kejadian tidak mengenakkan dengan Anton tadi terlupakan.
"Aku akan pergi dulu. Reza mendadak meneleponku. Katanya Elena bikin ulah lagi. Aku akan biarkan kau memegang kunci." Gamal menyerahkan dua kunci apartemen sekaligus. Satu miliknya, dan satunya lagi milik Zara sendiri.
"Hati-hatilah," ujar Zara. Dia dan Gamal saling terpaku bertukar pandang. Ingin berciuman, tetapi Zafran sedang ada di dekat mereka.
"Kau juga," balas Gamal. Dia akhirnya hanya memegangi tangan Zara dengan lembut. Lalu beranjak pergi dari apartemen.
Ketika sudah tiba di perusahaan, Gamal dipersilahkan untuk memasuki ruang rapat. Dia melihat investor yang harusnya ikut rapat sudah pergi.
"Ada apa?" tanya Gamal.
Semua orang hanya membisu. Meskipun begitu, sebagian besar menatap ke arah Elena. Sepertinya sekretaris Gamal itu melakukan kesalahan lagi.
"Maaf, Tuan. Aku rasa sekarang kau bisa memecatku. Aku benar-benar melakukan kesalahan besar hari ini," ungkap Elena mengakui kesalahannya.
"Apa yang kau lakukan?!" timpal Gamal.
"Aku lupa menyimpan file untuk presentasi," jelas Elena. Sedari tadi dia hanya menundukkan kepala.
__ADS_1
Gamal menghela nafas berat. Dia menarik sebuah kursi, kemudian mendudukinya. Gamal menekan jidat dengan satu tangan.
"Elena, sebaiknya kau ambil semua barang-barangmu. Kau dipecat!" pungkas Gamal. Tanpa menoleh ke arah Elena. Gadis itu memang sudah terlalu banyak mengacaukan pekerjaannya.
"Sekali lagi maafkan aku..." ujar Elena. Ia segera pergi meninggalkan ruang rapat. Memilah-milih barang penting dari meja kerjanya. Hari itu Elena berhenti menjadi sekretaris Gamal. Posisi tersebut jadi kosong untuk sementara.
Tiga hari terlewat. Surat perceraian sedang dalam proses pembuatan. Zara harus beberapakali melakukan konseling ke kantor pengadilan.
Gamal dan Zara menjadi tetangga untuk sementara. Apartemen Zara kebetulan terhelat dua buah dari kediaman Gamal.
Dengan keadaan rumah yang berdekatan, Gamal berharap bisa lebih sering menghabiskan waktu bersama Zara dan Zafran.
Bel pintu berbunyi. Sekarang waktu sedang menunjukkan jam sebelas malam. Gamal malah datang bertamu ke apartemen Zara.
Ceklek!
Pintu dibuka oleh Zara. Ia tersenyum saat menyaksikan sosok Gamal.
"Ada apa?" tanya Zara sambil menahan senyuman. Dua tangannya terlipat di depan dada.
"Aku boleh menginap malam ini? Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba merasa takut tidur sendirian. Aku--"
"Maaf. Kami tidak punya tempat untuk menampung lelaki dewasa yang ketakutan." Zara sengaja memotong perkataan Gamal. Dia langsung menutup pintu begitu saja.
Ponsel Gamal berdering. Dia mendapatkan telepon dari Zara. Tanpa pikir panjang Gamal langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Cepat buka pintunya!" seru Gamal.
"Sayang, dengarkan aku baik-baik. Kita memang berencana untuk membangun keluarga. Tapi semua masalah belum sepenuhnya selesai. Aku pikir, kita harus membatasi kelakuan kita yang berlebihan. Mengerti?" Zara menjelaskan dari seberang telepon.
"Tapi aku hanya--" Gamal tidak sempat bicara, karena Zara mengakhiri panggilan lebih dulu. Lelaki itu hanya bisa mendecakkan lidah.
"Ya ampun, kapan dia peduli dengan batasan," keluh Gamal seraya berjalan gontai kembali ke apartemen. Untuk sekarang dia akan memahami Zara.
Pagi-pagi sekali, Gamal sudah siap dengan setelan rapi. Dia menunggu Zara di depan pintu. Dalam keadaan menyender tenang dan melipat tangan di dada. Dia menunggu setengah jam lebih. Sesekali Gamal mencoba menghubungi Zara. Namun nomornya tidak aktif.
Kini Gamal tidak punya pilihan selain memencet bel pintu. Penantian Gamal sirna, saat Zara membuka pintu. Wanita itu terlihat berpakaian rapi sambil menggandeng Zafran yang telah mengenakan seragam sekolah.
"Ayo! Kita pergi bersama lagi," ajak Gamal. Dia yakin kali ini Zara tidak akan bicara tentang batasan.
__ADS_1
Zara memegang pundak Gamal. Lalu berbisik, "Kau harus tahan sampai aku mengirim surat perceraianku kepada Anton. Lagi pula, kau dan Selia belum putus kan?"
Setelah berucap begitu, Zara mengajak Zafran pergi. Dia berlagak tidak peduli dengan Gamal. Entah sengaja atau tidak, dia sukses membuat Gamal gelisah.
"Aku sudah putus dengan Selia. Tapi hanya Selia saja yang tahu. Aku belum bicara kepada keluarganya!" seru Gamal. Membuat langkah kaki Zara sontak berhenti.
Gamal memang sengaja merahasiakan masalahnya dengan Selia selama beberapa hari. Dia tidak mau membuat Zara terlalu cemas.
"Apa?!" Zara memutar badan menghadap Gamal.
"Aku harus mengatakannya, karena tidak mau mengulur waktu. Toh ini semua demi kebaikan kita dan Selia juga," jelas Gamal lebih lanjut.
Zara terdiam seribu bahasa. Setelah dipikir-pikir, ucapan Gamal memang ada benarnya.
"Bagaimana respon Selia? Dia pasti sangat sedih." Zara memancarkan tatapan serius.
"Ya, tapi itu lebih baik dari pada aku harus terus membohonginya," tanggap Gamal.
Zara tersenyum tipis. Dia dan Zafran masih diam di tempat. Menyebabkan Gamal merasa harus menawarkan tumpangan sekali lagi.
"Jadi, kita akan pergi bersama kan?" tukas Gamal.
"Tidak. Aku dan Zafran akan naik angkot," tolak Zara. Dia segera menuntun Zafran melangkah memasuki lift.
Gamal bergegas mengejar. Dia berhasil masuk ke lift bersama Zara dan Zafran. Hanya ada mereka bertiga di sana.
Gamal menyengir. Dia menghimpitkan diri ke badan ramping Zara. Satu tangannya melingkar ke pinggul wanita itu. Lalu perlahan turun ke bokong.
Merasakan sentuhan Gamal, Zara lekas memukul perut pria itu. "Aku bilang, tahan dulu! Kita sudah terlalu sering melakukannya. Apa kau mau Zafran tiba-tiba punya adik?" timpalnya dengan nada mengomel.
Gamal hanya bisa mengaduh. Dia berusaha bersabar dengan batasan yang diberikan Zara.
"Adik? Aku akan punya adik?" Zafran yang mendengar, langsung merespon. Matanya berbinar-binar penuh harap.
"Zafran, Bunda sedang tidak mau membicarakannya!" sahut Zara. Sedangkan Gamal sibuk cekikikan di sampingnya. Membuat Zara semakin tidak ingin dekat-dekat dengannya. Entah kenapa perempuan itu menjadi sangat emosional.
Gamal lantas pergi ke perusahaan seorang diri. Setibanya di kantor, dia langsung disibukkan dengan banyak pekerjaan. Segalanya semakin sulit saat tidak ada sekretaris yang membantu. Dia terpaksa meminta bantuan karyawan lain.
Selepas bekerja seharian penuh, Gamal berakhir terduduk menyandar ke kursi. Dia memandangi ke arah meja sekretaris yang kosong. Kemudian terlintas sebuah ide dalam benaknya.
__ADS_1
Gamal berseringai. Dia segera mengambil telepon dan memberitahu karyawan HRD-nya.
"Tolong umumkan kepada seluruh karyawan, kalau aku menginginkan posisi sekretaris di isi secepatnya! Aku tidak menerima orang baru. Aku hanya mau mengangkat salah satu pekerja di perusahaan kita!" titah Gamal. Untuk kali kedua, dia tersenyum miring.