
...༻◐༺...
"Kau kenapa sangat ceroboh akhir-akhir ini?! Kau tahu sendiri kan, kalau perusahaan Reynald merupakan perusahaan besar?! Bagaimana kau bisa lupa?!" omel Gamal sembari memasang pose berkacak pinggang. Sebenarnya kecerobohan Elena tidak hanya terjadi sekarang, tetapi juga di beberapa waktu sebelumnya. Ini sudah yang kedua kalinya gadis itu melupakan jadwal meeting.
"Maafkan aku, Tuan... aku tidak akan mengulanginya lagi," sesal Elena dalam keadaan kepala menunduk.
"Aku akan memaafkanmu. Dan ingat! Ini adalah kesempatan terakhir untukmu. Andai kau ceroboh nanti, maka aku tidak akan segan-segan memecatmu!" tegas Gamal seraya mengarahkan jari telunjuk ke wajah Elena.
"Te-terima kasih, Tuan..." gagap Elena. Ia segera pergi meninggalkan ruangan Gamal.
Seorang karyawan bernama Aldi tiba-tiba datang. Dia merupakan orang yang bertugas mengurus properti bangunan milik perusahaan. Kebetulan juga dia mendapat tugas khusus dari Gamal untuk mencarikan rumah panti dan sebuah apartemen.
"Tuan, rumahnya sudah siap. Kita tinggal menyuruh anak-anak panti untuk pindah ke sana," ujar Aldi memberitahukan.
"Oke. Terima kasih, Al. Mulai dari sini, biar aku yang mengurus semuanya. Aku akan mengirimkan bonus untukmu," sahut Gamal. Membuat Aldi otomatis mengukir senyuman lebar.
Selepas Aldi pergi, Gamal langsung memesan jasa angkut ke panti asuhan. Dia juga tidak lupa memberitahukan Zara agar bisa menyuruh Wida bersiap-siap.
Zara yang baru menjemput Zafran, segera pergi ke panti asuhan. Mereka ingin memberikan bantuan sebisa mungkin.
Sesampainya di panti asuhan, Zara membantu Wida berkemas. Serta memilah-milih barang yang perlu dibawa ke tempat baru.
Satu per satu barang diangkut ke dalam truk. Sedangkan anak-anak panti dipersilahkan menaiki bus yang telah dipesankan oleh Gamal.
"Bunda, aku juga boleh naik bus kan?" tanya Zafran.
"Tentu saja boleh. Ayo sana pergi! Bunda akan segera menyusul." Zara dengan senang hati mengizinkan.
Zafran berhore penuh semangat. Dia berlari ke arah bus. Namun langkahnya harus terhenti ketika sosok Anton muncul. Lelaki itu mengajak Zafran bicara.
"Ra!" panggil Wida dengan tatapan cemas. Bagaimana tidak? Anton terlihat datang dengan dua teman premannya. Yaitu Ical dan Boby.
Zara buru-buru menyusul Zafran. Dia tidak akan membiarkan putranya bicara kepada Anton. Dengan cepat Zara memposisikan Zafran ke belakang badannya.
__ADS_1
Anton berseringai melihat sikap Zara. Dia mengamati keadaan panti asuhan yang tampak begitu sibuk.
"Ah... dari sini aku bisa menyimpulkan. Kau pasti sedang menjalin hubungan dengan lelaki lain. Bukankah begitu?" pungkas Anton sinis.
"Pantas saja dia tidak takut denganmu, Bos! Ternyata ada orang yang membantu," ucap Ical. Ia terlihat memainkan bilah lidi yang tergigit oleh giginya.
Anton melayangkan tatapan tajam kepada Zara. Lalu memegangi dagu perempuan itu.
Zara tidak terima. Dia langsung menjauhkan tangan Anton dari dagunya.
"Pergilah! Hubungan kita sudah berakhir! Aku akan mengirimkan surat cerai kepadamu secepat mungkin!" tegas Zara.
Anton tak acuh dengan pengusiran kasar Zara. Dia membalas, "Siapa laki-laki itu, Dek?"
"Pergilah, Anton! Jangan ganggu Zara dan Zafran lagi! Mereka sudah cukup banyak memberimu kesempatan. Tapi kau saja yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan--"
"Cuh!" Anton memotong ucapan Wida dengan meludahkan saliva ke tanah. Hal tersebut menunjukkan ketidakpeduliannya.
Zara memegang erat kedua tangan Zafran. Mereka melangkah mundur saat Anton mendekat lagi.
Walau terlihat kasar dari luar, hati Anton sebenarnya sangat rapuh. Dia menyayangi Zara dan Zafran. Namun kebiasaan kasar dan mabuknya tidak akan pernah bisa dihilangkan. Hal itu karena pekerjaan yang digelutinya berkaitan erat dengan kekerasan. Dia sering memukuli banyak orang.
"Zafran, ayo kita pulang. Kamu tidak kasihan sama Ayah?" karena tidak bisa membujuk Zara, Anton berusaha bicara kepada Zafran.
"Hentikan, Mas. Aku dan Zafran tidak akan pernah menginjakkan kaki ke rumahmu lagi!" ujar Zara. Dia lagi-lagi melindungi Zafran dari Anton. Zara membiarkan Zafran bersembunyi di balik badannya sekali lagi.
"Bi, sebaiknya kita pergi sekarang." Zara mencoba menjauh dari Anton. Tindakannya tentu tidak akan dibiarkan begitu saja. Anton dengan cepat memerintahkan dua temannya untuk membawa Zara dan Zafran. Hingga dua ibu dan anak itu berakhir diseret dengan paksa.
"Anton! Hentikan!" Wida berusaha membantu Zara. "Kalau begini, kami akan melaporkanmu ke polisi!" ancamnya.
"Kau pikir aku takut, hah?! Aku punya banyak teman dari kepolisian!" tanggap Anton yang terkesan seperti menantang.
Dari arah belakang, sebuah mobil nampak berhenti. Mobil itu sontak menjadi pusat perhatian. Termasuk Anton dan kawan-kawan.
__ADS_1
Sosok Gamal keluar dari mobil. Saat itulah mata Anton terbelalak tak percaya. Dia jelas mengenal siapa Gamal. Lelaki yang tidak lain adalah tunangannya Selia. Anton tentu kaget dengan kehadiran Gamal. Ia sama sekali tak menduga.
"Gamal!" pekik Zara. Dia saling melemparkan pandangan penuh arti dengan Gamal.
Anton masih terpolongo. Melihat bagaimana Zara dan Gamal bertukar pandang, dia menyadari ada sesuatu yang spesial di antara keduanya. Terjawab sudah teka-teki dibalik sikap aneh Zara saat di hotel. Ternyata selingkuhan Zara tidak lain adalah Gamal.
Gamal tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia berjalan lurus dan mencoba membawa Zara dan Zafran pergi. Akan tetapi Ical dan Boby tidak bersedia melepaskan. Alhasil Gamal tidak punya pilihan selain melayangkan tinju ke wajah dua preman itu secara bergantian.
Sekarang Zara dan Zafran terlepas dari kekangan dua teman Anton.
"Gamal, udah! Jangan begini!" Zara berusaha menghentikan Gamal. Dia memegangi pria itu sekuat tenaga.
Untung saja usaha Zara tidak sia-sia. Gamal sekarang berhenti melayangkan tinju.
"Sialan! Dia memukul kami, Bos!" adu Boby yang tidak terima dirinya dipukul.
Anton masih mematung di tempat. Ia merasa sakit hati. Apalagi ketika mengingat kejadian di hotel tempo hari. Saat Zara tiba-tiba menghilang dari kamar. Entah kenapa Anton menyimpulkan kalau desahhan pasangan yang dia dengar malam itu adalah Gamal dan Zara.
Kini atensi Anton hanya tertuju ke arah Zara dan Zafran. Dia memancarkan binar nanar dimatanya. "Zara, Zafran... ayo kita pulang..." ajaknya penuh harap.
Zara dan Zafran menoleh. Hal serupa juga dilakukan Gamal. Mereka memasang ekspresi datar yang sulit diartikan.
Gamal sigap menarik tangan Zara dan Zafran. Sehingga dua ibu dan anak itu dapat bersembunyi di balik tubuhnya.
"Mereka tidak akan kembali kepadamu. Kau sebaiknya menyadari kesalahanmu dan memulai hidup baru," pungkas Gamal dengan raut wajah serius.
"Sayang, kau dan Zafran sebaiknya pergi," saran Gamal.
Zara malah mengerutkan dahi. Dia merasa tidak enak dengan panggilan sayang Gamal. Zara tahu lelaki itu sengaja memanas-manasi Anton.
"Mal, kamu jangan mancing-mancing Anton dong." Zara berbisik ke telinga Gamal. Namun lelaki tersebut tak hirau.
Gamal justru tersenyum. Dia melirik Anton dengan sinis. Gamal bergegas mengajak Zara dan Zafran pergi.
__ADS_1
Zara mendengus kasar. Dia dan Zafran akhirnya mengikuti arahan Gamal. Mereka pergi dengan mobil dalam sekejap. Di ikuti oleh bus dan truk yang mengangkut penghuni panti asuhan.
Sementara Anton, dia masih saja termangu seperti orang bodoh. Setelah tak terlihat bertahun-tahun, air mata Anton akhirnya meluruh ke pipi. Lelaki itu benar-benar sakit hati.