Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 55 - Perihal Warisan


__ADS_3

...༻◐༺...


Afrijal duduk di balkon seorang diri. Pagi yang cerah tak bisa memercikkan senyuman di wajahnya. Secangkir kopi hangat juga belum mengenai lidahnya.


Dari arah belakang, seorang pria bernama Hendra datang. Dia merupakan sekretaris pribadi Afrijal.


"Tuan Gamal kemarin benar-benar menikahi wanita itu!" seru Hendra sembari menyatukan dua tangannya di depan badan. Dia memang ditugaskan membuntuti Gamal selama beberapa hari terakhir.


Afrijal mendengus kasar. Ia merasa kecewa dengan pilihan putranya.


"Apa kau sudah menghubungi Sasya dan Karin?" tanya Afrijal.


"Sudah. Mereka tetap tidak bersedia, Tuan. Katanya mereka juga harus mengurus bisnis sendiri di tempatnya masing-masing," jelas Hendra.


Sekarang Afrijal hanya bisa memijit-mijit dahi. Dia merasa kecewa kepada semua anaknya. Sasya dan Karin sendiri adalah dua kakak Gamal. Jadi bisa dibilang, Gamal adalah satu-satunya anak lelaki yang dimiliki Afrijal. Dua kakak perempuan Gamal itu sudah mempunyai keluarga masing-masing. Mereka bahkan tidak tinggal di Indonesia lagi.


Setelah mengusir Gamal pergi, Afrijal justru merasa pusing. Bagaimana tidak? Dia sudah merencanakan masa depan dirinya dan Gamal sejak lama.


Niat Afrijal adalah menikahkan Gamal dengan Selia, lalu menyerahkan semua warisannya kepada anak bungsunya tersebut. Selanjutnya, barulah dia melakukan pensiun.


Tetapi sekarang Gamal telah pergi. Afrijal tidak menyangka rencana yang sedemikian rupa dia susun, jadi berantakan karena kedatangan seorang pengganggu.


Tania tiba-tiba datang membawakan sepiring kue kering. Dia segera duduk ke sebelah Afrijal.


"Aku tidak menyangka Gamal mengabaikan kita. Semuanya gara-gara wanita itu. Kira-kira apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya menjauh?" celetuk Afrijal. Membuat Tania reflek mengernyitkan kening.


"Apa kau bercanda? Kau masih ingin menjauhkannya dari Gamal? Kenapa kau sangat membenci Zara?! Mereka hanya saling mencintai! Itu saja," ujar Tania yang heran dengan sikap Afrijal yang belum berubah.


"Aku membencinya, karena masalah selalu datang saat dia muncul. Dia hanya wanita pembawa sial. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kita menerima dia menjadi menantu!"


"Kau sangat berlebihan. Justru karenamu masalah ini terjadi. Andai kau tidak mendesak Gamal menerima perjodohan, semuanya tidak akan begini!" balas Tania. "Harusnya kau bisa mengerti terhadap hubungan yang dijalani Gamal dan Zara."


Afrijal menyeringai. "Aku tidak mengerti, karena aku bukan penyelingkuh seperti kau!" tukasnya.

__ADS_1


Tania tertohok. Dia langsung menundukkan kepala. Tania sadar dirinya tidak bisa membantah lagi ucapan Afrijal.


"Anak dan ibu sama saja!" komentar Afrijal lagi.


"Tapi Sasya dan Karin tidak bersedia menerima warisanmu. Mereka juga punya bisnis tersendiri. Jadi kalau kau tidak mau bisnis dan hartamu terbengkalai, membawa Gamal kembali adalah jalan satu-satunya. Kau pikir dirimu akan hidup selamanya?!" tukas Tania. Dia bergegas meninggalkan Afrijal. Dia tidak mau terus makan hati karena kalimat pedas suaminya.


...***...


Gamal keluar lebih dulu dari kamar mandi. Dia segera duduk menghempas ke sofa. Mulutnya tidak berhenti tersenyum. Sungguh, Gamal tidak pernah merasa sebahagia ini. Memikirkan Zara akan tetap terus bersama sebagai istri, merupakan impian terbesarnya.


Tak lama kemudian, hidangan untuk sarapan di antarkan ke kamar. Gamal menerima makanan tersebut dari seorang pelayan. Kebetulan seluruh biaya telah sepenuhnya ditanggung oleh Raffi dan kawan-kawan.


"Cepetan, sayang! Sarapan kita udah datang!" teriak Gamal.


"Bentar lagi!" sahut Zara yang tidak kalah nyaring. Dia bergegas mengenakan handuk kimono. Lalu berlari menghampiri Gamal. Rambut pendek sebahunya terlihat masih basah.


"Coba rasakan ini." Gamal menyuapi Zara sesendok kue tiramisu.


Telepon mendadak berbunyi. Gamal menjadi orang yang menerima panggilan tersebut. Pekerja hotel meminta Gamal dan Zara agar tidak pulang dulu. Sebab direktur hotel ingin menemui tamu VIP-nya. Katanya itu merupakan ritual khusus yang dilakukan oleh direktur, saat kamar VIP termewah di tempati oleh tamu. Selain ingin berterima kasih, pihak hotel juga hendak memberikan pelayanan terbaik.


Gamal dan Zara setuju-setuju saja. Keduanya justru terfokus pada keadaan kamar yang berhamburan.


"Ah... aku malas bersih-bersih." Zara meletakkan kepala ke pundak Gamal.


"Sama." Gamal sependapat.


"Ya udah, kita biarin aja. Kan ada tukang bersih hotel. Kita siap-siap pulang aja," usul Zara seraya melepas handuk kimono. Kemudian segera mengenakan dress.


Gamal dan Zara menunggu direktur hotel cukup lama. Akibat merasa terlalu lama, mereka akhirnya memilih pulang saja.


"Apaan sih! Capek nunggu aja. Aku udah nggak sabar ketemu Zafran!" gerutu Zara. Dia dan Gamal beranjak dari kamar.


"Kita sepertinya di bohongin," ucap Gamal. Dia menggenggam tangan Zara. Kemudian mengajak berjalan menyusuri koridor.

__ADS_1


Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang dikenal Gamal dan Zara. Wanita itu kian mendekat. Ketika sosok tersebut sudah ada di hadapan, mereka membulatkan mata.


Wanita itu tidak lain adalah Selia. Dia mengenakan setelan rapi dan di iringi beberapa pekerja hotel yang lain. Gamal baru ingat, kalau Selia memang bekerja di bisnis perhotelan. Namun setahunya, hotel yang dia datangi sekarang bukanlah milik Selia. Atau dia tidak tahu kalau gadis itu mempunyai hotel lebih dari satu?


Sama seperti Gamal dan Zara, Selia juga dibuat kaget. Langkahnya langsung terhenti. Apalagi ketika menyaksikan Zara berpegangan tangan dengan Gamal. Selia tidak menyangka, nama Zara yang sempat disebut Gamal adalah wanita kenalannya. Parahnya dia masih mengetahui Zara sebagai istri Anton.


Zara menundukkan kepala. Dia menggenggam tangan Gamal lebih erat. Entah kenapa dirinya merasa malu. Mengingat Gamal lebih memilih bersamanya dibanding Selia.


"Kita pergi sekarang!" Gamal tidak mau basa-basi. Dia mengajak Zara untuk cepat-cepat pergi. Sebelum Selia sempat melontarkan banyak kalimat hinaan.


"Jadi dia wanita itu!" seru Selia. Saat Gamal dan Zara melingus melewatinya. Bahkan tanpa melirik sedikit pun.


"Kalian benar-benar kotor! Aku yakin, rumah tangga kalian tidak akan pernah bahagia!" Selia seolah memberikan kutukan kepada Gamal dan Zara.


"Hei, wanita murahan! Kau tidak kasihan dengan Kak Anton?! Apa yang terjadi kepadanya sekarang, hah?!" pekik Selia. Dia tidak tahu kalau Anton sudah masuk penjara.


Gamal dan Zara memilih bungkam. Keduanya justru buru-buru memasuki lift dan menghilang dari penglihatan Selia.


"Aargghh!!" geram Selia sambil menghentakkan salah satu kakinya. Dia malah melotot kepada salah satu bawahannya.


"Kenapa kalian tidak memberitahu nama tamu VIP kita?!" timpal Selia. "Mulai sekarang, aku ingin semua barang-barang yang ada di kamar itu diganti!" lanjutnya, menitahkan.


Semua bawahan Selia gelagapan. Hanya satu orang yang berani bersuara. Dia bertanya, "Lalu kita apakan barang yang ada di kamar itu?"


"Buang saja! Kalau perlu dibakar!!" tegas Selia. Dia melangkah cepat ke arah lift.


Seluruh pekerja hotel merasa heran. Baru kali ini mereka melihat Selia marah besar. Mereka juga kasihan kepada gadis tersebut.


"Bos kita kasihan banget. Kayaknya laki-laki tadi mantan tunangannya deh."


"Iya, aku juga yakin begitu. Nggak tahu malu banget ya mereka? Kenapa harus di hotel ini coba? Keterlaluan sih kalau mereka sengaja."


Begitulah obrolan singkat yang dilakukan pekerja hotel. Mereka segera melaksanakan perintah Selia.

__ADS_1


__ADS_2