
...༻◐༺...
Zara dan Gamal sedang berada dalam perjalanan pulang. Mereka menggunakan bus umum seperti biasa.
Gamal yang tadinya sempat bahagia, mendadak jadi sendu. Terutama saat melihat ada sepasang pengemis ayah dan anak. Gamal mendadak mengkhawatirkan perihal ekonomi. Dia baru teringat kalau kehamilan Zara akan menggunakan banyak biaya.
"Sayang, kau kenapa tiba-tiba murung?" senggol Zara dengan nada berbisik. Membuat Gamal langsung menoleh.
"Tidak apa-apa." Gamal enggan menjelaskan.
Zara memicingkan mata. Merasa aneh dengan suasana hati Gamal yang mendadak berubah. Setelah dipikir-pikir, dia yakin itu akibat pengaruh kehamilan simpatik.
"Semuanya akan membaik. Jika kau mencemaskan tentang pekerjaan, aku yakin kau akan segera mendapatkannya." Zara menautkan tangannya ke jari-jemari Gamal. Usahanya sukses membuat Gamal merekahkan senyuman. Walau senyuman lelaki itu lebih samar dari biasanya.
Zara dan Gamal menjemput Zafran bersama. Mereka langsung memberikan kabar tentang kehamilan kepada anak itu.
Zafran otomatis melompat kegirangan. Dia yang telah lama mendambakan seorang adik, akhirnya punya harapan yang jelas.
Ketika pulang ke rumah. Gamal langsung beristirahat. Semakin dia punya banyak kegelisahan, maka bertambah pula mual yang dirinya derita. Hal itu bertambah parah pada pagi hari. Saat Gamal ingin pergi mencari kerja. Kegiatannya jadi terganggu.
"Aarghh! Kenapa harus aku yang mengalami ini? Sialan!" keluh Gamal yang baru saja kembali dari kamar mandi. Menghampiri Zara dan Zafran yang sedang menikmati sarapan.
"Sayang..." panggil Zara. Mencoba menegur. Dia tidak mau mendengar kata-kata buruk ketika Gamal ada di hadapan Zafran.
"Aku capek kalau harus begini seharian!" Gamal duduk menghempas ke kursi. Dia memegangi kepalanya dengan satu tangan.
"Ayah kenapa?" Zafran mengedipkan mata dengan alun. Dia menatap polos ayahnya yang tengah gelisah.
"Ayah lagi pusing. Zafran sebaiknya siap-siap pergi ke sekolah. Biar Bunda yang antarin," ujar Zara sembari mengarahkan bola matanya ke arah Gamal.
Di saat Zafran beranjak, Zara duduk mendekati Gamal. "Sayang, kalau kau tidak bisa pergi hari ini, tidak apa-apa. Lagi pula aku juga berniat mencari pekerjaan agar bisa membantu," tuturnya lembut. Niat Zara hanya ingin meredakan kekalutan sang suami.
"Apa?! Cari pekerjaan? Nggak! Kamu nggak boleh kerja! Lagian kamu kan lagi hamil, bagaimana bisa aku membiarkannya!" balas Gamal mengomel. Dahinya berkerut dalam. "Kau tidak perlu cemas! Aku akan mendapat pekerjaan secepatnya!" ucapnya seraya beranjak dari kursi. Tanpa menyentuh makanan yang ada di meja.
"Sayang! Kamu harusnya sarapan dulu!" seru Zara. Namun Gamal melangkah begitu saja keluar dari rumah.
__ADS_1
Zara menghela nafas panjang. Dia menundukkan kepala. Berusaha memahami suasana hati Gamal. Zara termangu cukup lama. Sampai suaminya tiba-tiba kembali. Lalu melayangkan sebuah kecupan ke keningnya.
"Sayang? Kenapa--" belum sempat selesai bicara, Gamal sudah berlalu pergi. Pria itu juga membawa Zafran untuk di antar ke sekolah.
Zara melihat kepergian suami dan anaknya dari teras. Ia duduk di sana sambil mengembangkan senyuman. Meski Gamal tidak bicara, dia senang dengan kecupan singkat yang diberikan lelaki itu.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil datang. Atensi Zara sontak tertuju ke arah mobil tersebut. Matanya membola saat menyaksikan sosok Selia keluar dari mobil.
"Oh, jadi di sini rumahmu dan Gamal?" Selia berucap sambil membanting keras pintu mobil. Hingga membuat Zara berjengit akan hal itu.
Walau merasa bersalah, Zara mencoba memberanikan diri. Mengingat Gamal pernah menyarankannya untuk tidak bersikap seperti wanita yang mudah ditindas.
"Selia! Bagaimana kau tahu kalau kami di sini?" Zara bergegas berdiri. Terutama ketika Selia kian mendekat ke hadapan.
Zara dan Selia saling bertukar pandangan berbeda. Selia menatap dengan penuh kebencian, sementara Zara dengan rasa bersalah.
"Aku..."
Plak!
"Kau puas dengan apa yang kau dapatkan, hah?! Merebut tunanganku, lalu membuat Kak Anton di penjara! Kau tidak pantas bahagia!" Selia meluapkan semua emosi. Dia yang awalnya berencana menyembunyikan amarah, sudah tidak tahan lagi. Kebahagiaan yang terlihat di wajah Gamal dan Zara benar-benar mengusik.
"Kau itu murahan tahu nggak!" kali ini Selia mendorong kasar kepala Zara. Dia melakukannya berulangkali.
Karena terus diserang, Zara akhirnya melakukan perlawanan. Dia sigap memegangi pergelangan tangan Selia.
"Aku tidak tahu bagaimana pendapatmu. Tapi andai kau berada di posisiku, kau pasti akan melakukan hal yang sama. Penderitaan membuatku terpaksa harus merebut Gamal darimu! Aku tahu itu salah, makanya aku membiarkanmu mencaci makiku. Tapi jika kau sudah berlebihan sampai menyerang fisik, aku tidak akan diam!" tukas Zara. Dia sudah tidak bisa menahan kesabaran.
"Arrkkhhhh!!!" Selia berteriak lengking. Dia menjambak rambut Zara sekuat tenaga. Perbuatannya membuat Zara mengerang kesakitan.
Kini Zara tidak punya pilihan selain melakukan pembalasan. Dia balas mencengkeram ribuan helai rambut Selia. Aksi jambak-menjambak pun terjadi. Akibat hal tersebut, tetangga sekitar jadi berdatangan.
Menyaksikan banyak yang berdatangan, Zara dan Selia langsung berhenti saling menjambak. Keduanya berpura-pura hanya bercanda. Sehingga para tetangga mempercayai mereka.
Setelah semua orang pergi, Selia kembali cemberut. Dia mengambil tas dan melangkah menuju mobilnya.
__ADS_1
Selia menarik sudut bibirnya ke atas. Lalu menoleh ke arah Zara yang masih berdiri di teras.
"Bagaimana jika aku bisa merebut Gamal darimu?" cetus Selia yang tampak percaya diri.
"Apa?!" Zara mengernyitkan kening.
"Lupakan." Selia segera masuk ke dalam mobil. Enggan bicara lebih banyak dengan Zara. Dia merasa lega setelah mengomeli Zara habis-habisan. Sekarang dia akan mulai menjalankan rencananya.
Sementara Zara, dia sama sekali tidak menggubris perkataan Selia. Sebab dia lebih percaya dengan cinta Gamal dibanding ancaman gadis itu.
Karena tidak mau memperpanjang masalah, Zara memilih merahasiakan kedatangan Selia dari Gamal. Dia yakin, suaminya itu pasti akan marah.
...***...
Hari demi hari berlalu. Tibalah Gamal mendapatkan panggilan pekerjaan. Setelah mencari dan melakukan tes sana-sini, akhirnya ada juga perusahaan yang mau menerimanya.
Gamal memberikan kabar baik tersebut kepada Zara. Keduanya sama-sama senang mendapatkan kabar tersebut.
"Aku diterima di bagian marketing. Besok aku diperbolehkan mulai bekerja," ungkap Gamal seraya tidak berhenti tersenyum.
"Kau hebat, sayang!" puji Zara. Dia saling berpelukan erat dengan Gamal.
Kebahagiaan yang dirasakan Gamal juga mengurangi rasa mualnya. Dia semakin dibuat senang akan hal itu.
"Makanya jangan terlalu stress, sayang. Itu nggak baik. Mending kamu pikirin hal-hal yang membahagiakan." Zara mengusap pelan pundak Gamal.
"Kau benar. Terima kasih sudah bisa memahamiku," balas Gamal.
"Aku sudah terbiasa memahami temperamen lelaki." Zara membicarakan perihal Anton. Kemarahan kecil Gamal bukan berarti apa-apa baginya.
Di hari pertama kerja, Gamal begitu bersemangat. Dia pergi pagi-pagi sekali agar tidak datang terlambat.
Setibanya di perusahaan, Gamal disuruh untuk menemui direktur terlebih dahulu.
Gamal mengetuk pintu kantor direktur. Dia segera masuk saat orang di dalam ruangan mempersilahkan.
__ADS_1
"Selamat pa..." Gamal terhenyak. Perkataannya langsung terhenti. Bagaimana tidak? Dia menemukan direkturnya adalah Selia. Mantan tunangannya sendiri.