
...༻◐༺...
Saat Zara menjauh, mata Anton langsung mendelik. Dia tak terima gadis itu beranjak.
Anton dengan sigap menarik Zara mendekat. Lalu melumatt bibir istrinya itu dengan buas. Dua tangannya sibuk mengacak-acak setiap jengkal tubuh Zara.
Ciuman kecil yang diberikan Zara benar-benar adalah kesalahan besar. Dia tak seharusnya berbuat begitu. Karena gairah Anton akan memuncak dalam sekejap.
"Mmmph..." Zara menekan dada Anton. Dia sudah terlampau puas berhubungan intim semalaman. Zara sama sekali tidak berniat untuk melakukannya lagi. Apalagi dengan lelaki seperti Anton.
Zara memberontak sekuat tenaga. Dia bertekad tidak mau kalah. Hingga salah satu kakinya reflek menginjak kaki Anton.
"Aargghh!!" ciuman Anton sontak terlepas. Dia menggeram kesakitan.
"Aku dengar banjir sudah surut. Kita harus pulang sekarang!" imbuh Zara. Dia segera bersiap-siap untuk kembali pulang. Dirinya bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Anton mengusap kasar wajahnya. Dia sangat ingin sekali marah. Namun sikap Zara membuatnya terpaksa menahan amarah. Anton berjanji akan membicarakan semuanya saat pulang ke rumah.
Di sisi lain, Gamal baru saja masuk ke kamar nomor 9. Selia yang tadinya duduk, langsung berdiri tegak. Tatapan matanya memancarkan banyak pertanyaan.
"Kau kemana? Aku kira kau pulang lebih dulu." Dahi Selia berkerut dalam.
Gamal justru tersenyum. Dia yang merasa bahagia, memberikan kecupan singkat ke kening Selia. Sikapnya sama persis seperti Zara.
"Aku olahraga. Aku tidak bisa tidur semalaman." Gamal memberikan alasan.
Selia mendengus lega. Dia merasa terenyuh karena ciuman di kening. Gadis itu terpana menatap lelaki di hadapannya. Meskipun begitu, Selia terfokus ke pakaian Gamal yang tidak basah.
Jika Gamal memang berolahraga, maka pakaiannya pasti akan dibahasi keringat. Tetapi pada kenyataannya, pakaian Gamal tampak kering. Setetes keringat bahkan tak terlihat.
"Kau benar-benar berolahraga? Kenapa tidak berkeringat sama sekali?" tanya Selia. Mengedipkan kelopak matanya dua kali. Walau dia tersentuh dengan ciuman Gamal, dia tetap ingin menemukan kepastian.
"Hehehe... habis olahraga, aku sempat duduk sebentar. Menunggu pagi. Maaf ya, Sel..." Gamal terkekeh malu.
"Dasar! Kenapa aku nggak di ajak." Selia memanyunkan mulut. Dia lagi-lagi menunjukkan raut wajah yang menurutnya menggemaskan.
"Aku tidak tega membangunkanmu. Kau tertidur sangat nyenyak," tanggap Gamal. Dia segera melangkah masuk ke kamar mandi.
Selia menggelengkan kepala. Ia mempercayai Gamal begitu saja. Membiarkan calon suaminya tersebut masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, semua orang sarapan terlebih dahulu. Gamal duduk bersebelahan dengan Selia. Di seberang meja ada Zara dan Anton yang tampak sibuk menikmati hidangan.
__ADS_1
Hening menyelimuti suasana. Anton terlihat cemberut. Gamal yakin, Anton dan Zara pasti sedang bertengkar.
"Mal, kamu mau cobain puding vanilla nggak?" Selia menyodorkan sendok berisi puding. Berharap Gamal akan menyuap makanan itu.
Gamal terkesiap. Sebelum bertindak, dia melirik ke arah Zara terlebih dahulu. Gadis itu tampak menundukkan kepala.
"Mal?" panggil Selia. Tangannya masih tergantung di udara.
Gamal yang merasa tidak enak, akhirnya menyuap puding dari Selia. Saat itulah Zara reflek membuang muka. Apalagi ketika menyaksikan Selia tersenyum senang.
"Enak kan?" ujar Selia.
Gamal tersenyum singkat. "Makasih ya..." ucapnya.
Setelah sibuk mengurus Gamal, Selia menatap Anton dan Zara secara bergantian. Aneh dengan sikap dua sejoli yang sedari tadi hanya saling terdiam.
"Kak Anton sama Kak Zara kok diam aja," cetus Selia.
Zara menoleh ke arah Anton. Suaminya itu mengabaikan teguran Selia. Menyadari Anton terus diam, akhirnya Zara memilih angkat suara.
"Kami hanya ingin cepat-cepat pulang. Anak kami sudah menunggu," ujar Zara. Dia menyempatkan diri untuk bertukar pandang dengan Gamal.
Selia mengangguk dan ber-oh saja. Sesi sarapan kembali berlanjut. Selia mengajak Gamal mengobrol. Keduanya benar-benar seperti pasangan yang akan menikah.
Tanpa diduga, Zara merasakan sentuhan tak terduga dibetis. Ujung kaki Gamal yang terbalut dengan sepatu itu menyentuh lembut kulitnya. Aktifitas mereka tersembunyi dari balik meja.
Zara membulatkan mata. Mencoba menegur sikap nakal Gamal. Lelaki itu malah tergelak sambil menutup mulut dengan satu tangan.
"Kau kenapa tertawa?" tanpa diduga, Anton berhasil memergoki. Menurutnya Gamal tertawa tanpa alasan yang jelas.
"Maaf." Gamal menjawab singkat. Dia berdalih dengan cara bangkit dari tempat duduk. Gamal mencoba menghubungi orang yang mengurus mobil Anton.
Setelah memastikan mobil Anton sudah diperbaiki, Gamal mengajak semua orang untuk pergi. Mereka singgah ke bengkel. Di sana Gamal harus berpisah dengan Zara.
"Terima kasih ya, Sel. Mal..." ungkap Anton. Dia memasang senyuman yang dipaksakan.
Sementara Zara hanya melemparkan senyuman ramah. Dia dan Anton segera pergi dengan mobil yang telah diperbaiki.
Di perjalanan, Anton sesekali melirik Zara. Dia melihat istrinya sibuk melihat keluar jendela.
"Bisakah kita bicarakan masalah tadi sekarang?" celetuk Anton. Dia sudah tidak sabar. Dirinya terlanjur digerogoti penasaran yang tak tertahan.
__ADS_1
"Nanti saja. Pas kita udah di rumah ya," jawab Zara lembut. Ia juga tidak lupa merekahkan senyuman. Auranya sangat berbeda dari biasanya. Gadis itu lebih berseri dan menenangkan. Membuat jantung Anton berdebar tidak karuan.
Seakan terhipnotis akan sikap Zara yang bersahaja, Anton menurut. Dia mengangguk dan berniat membicarakan semuanya saat pulang.
Setibanya di rumah, Zara turun dari mobil lebih dulu. Di iringi Anton setelahnya.
Zara langsung beranjak ke kamar. Dia menyiapkan koper. Lalu membuka lemari. Zara berniat memilih-milih pakaian miliknya dan Zafran.
Satu per satu pakaian dimasukkan Zara ke dalam koper. Dia merapikannya dengan sangat baik.
Dari balik pintu, Anton mendadak muncul. Matanya terbelalak saat melihat apa yang dilakukan Zara.
"Kau mau kemana?!" timpal Anton tak percaya.
Zara berhenti dari kegiatannya sebentar. Kemudian berjalan ke hadapan Anton.
"Aku mau cerai, Mas!" pungkas Zara.
"A-apa kau bilang?!!" Anton sontak terperangah. Nafasnya langsung naik turun dalam tempo cepat.
"Aku akan mengajukan semuanya ke pengadilan. Untuk sementara, aku dan Zafran akan pergi." Zara kembali sibuk mengambil pakaian dari dalam lemari.
"Jangan coba-coba pergi dariku!!" tegas Anton. Kedua tangannya mengepalkan tinju.
Zara tak acuh sama sekali. Dia baru selesai memasukkan semua pakaian ke dalam koper.
"Kau tidak perlu repot mengurusku dan Zafran lagi." Zara berucap sambil melewati Anton. Dia juga tidak lupa membawa kopernya.
Anton mematung. Dia merasa syok dengan keputusan Zara. Anton tidak menyangka istrinya tiba-tiba meminta cerai.
"Dek!" sadar Zara beranjak dari kamar, Anton bergegas mengejar. Dia mencegat kepergian gadis itu.
"Katakan kenapa kau mendadak ingin bercerai?! Apa kau melacur lagi, hah?!" timpal Anton dengan tatapan getir.
Zara menggertakkan gigi. Ia sigap melepas cengkeraman Anton. Zara tidak suka lelaki itu mengulik tentang pekerjaan buruknya di masa lalu.
"Mas nggak pernah ngaca ya?! Sadar nggak sih, kalau Mas itu nggak pernah menjadi suami yang baik buat aku?! Sadar nggak, Mas?!" sungut Zara. Kini dia tidak bisa menahan diri lagi.
..._____...
Catatan Author :
__ADS_1
Ada yang mau double up?
Komen, vote, dan kasih dukungan yang banyak ya... 😉