
...༻◐༺...
Gamal baru saja masuk ke kamar dimana Selia berada. Raut wajahnya begitu sendu. Perdebatan dengan Zara tadi masih membuat perasaannya sesak.
Gamal sangat heran, kenapa Zara masih saja keras kepala. Padahal sudah jelas gadis itu tidak bahagia dengan kehidupannya bersama Anton.
Nafas dihela cukup panjang oleh Gamal. Dia perlahan duduk ke ujung kasur. Dalam keadaan menutup wajah dengan kedua tangan. Entah kenapa dirinya merasa frustasi terhadap sikap Zara.
Di sebelah Gamal, ada Selia yang bercermin sambil sibuk mengeringkan rambut.
"Gimana? Bubur ayamnya ada?" tanya Selia.
"Eh. Maaf, Sel. Aku nggak nemu bubur ayam pas ke depan tadi." Gamal beralasan sekenanya. Meskipun begitu, dia bergegas meraih ponsel. Mencoba memesankan makanan enak untuk Selia.
"Kau tenang saja. Aku akan memesankan sup dan steak kesukaanmu," ujar Gamal sembari tersenyum tipis.
"Bagus deh. Kenapa nggak dari tadi aja? Kamu kan nggak perlu capek-capek pergi keluar," pungkas Selia. Dia meletakkan alat pengering rambut, lalu duduk ke sebelah Gamal.
Selia menatap lekat Gamal dari samping. Dia menopang dagu dengan satu tangan.
Merasa risih akan tatapan Selia, Gamal lantas menoleh. "Kenapa? Aku ganteng banget ya," katanya. Tujuan Gamal hanya ingin membuat Selia berhenti menatap. Suasana hati lelaki itu sedang buruk. Mengingat perdebatan yang dilakukannya dengan Zara tadi terbilang intens.
Bukannya berhenti, Selia justru semakin mendekat. Dia bediri dan duduk ke pangkuan Gamal.
"Sel..." Gamal membuang muka. Ia sedang tidak berminat bermain-main. Apalagi dengan gadis yang sama sekali tidak ingin disentuhnya.
"Kamu kenapa sih? Gugup ya?" Selia menghadapkan wajah Gamal ke arahnya. Dia terkekeh. Kemudian mengecup bibir Gamal sambil memejamkan mata.
Gamal tetap memasang wajah datar. Belum selang dua detik, Gamal mendorong Selia. Dia menghentikan aktifitas ciuman yang terjadi.
Selia mengerutkan dahi. Dia heran, kenapa Gamal selalu menolak ciumannya. Dan ini sudah yang kedua kalinya.
"Kamu nggak suka sama aku?" tukas Selia.
"Bukan begitu. Kita kan belum nikah," jawab Gamal asal.
"Aku tahu. Tapi posisimu sudah jelas akan menjadi suamiku. Jadi aku tidak masalah dengan ini." Selia semakin merapatkan dirinya ke badan Gamal. Jidat mereka saling menempel satu sama lain.
Selia kembali memagut bibir Gamal. Dia memegangi wajah lelaki itu agar ciumannya mendapat balasan.
__ADS_1
Karena Selia terus memancing, Gamal akhirnya merespon. Dia balas memagut bibir gadis tersebut. Namun itu tidak berlangsung lama, karena jasa pengantar makanan tiba-tiba datang.
Gamal menjadikan kedatangan jasa pengantar makanan sebagai alasan untuk menjauhi Selia. Dia beranjak untuk membukakan pintu dan membayar semua makanan yang dipesan. Kegiatan Gamal dan Selia saat itu langsung berubah menjadi sesi makan malam.
Saat sibuk menikmati hidangan bersama Selia, ponsel Gamal berdering. Dia berhenti makan sebentar, lalu memeriksa ponsel.
Deg!
Jantung Gamal berdebam keras. Tatkala menyaksikan nama Zara tertera di layar ponsel. Ada sepercik rasa senang yang dia rasakan.
"Aku angkat telepon dulu." Gamal meminta izin kepada Selia. Gadis itu lantas mengangguk.
Selia tidak bisa melakukan protes, karena dia lebih sering meninggalkan Gamal gara-gara panggilan telepon. Selia mengira Gamal mendapat panggilan penting terkait pekerjaan.
Saat sudah di balkon, barulah Gamal mengangkat panggilan Zara. Pendengarannya langsung menangkap suara tangisan.
"Ra? Kamu kenapa nangis?" tanya Gamal cemas.
"Aku setuju, Mal... ayo kita jadikan hubungan kita lebih serius. Aku sudah tidak tahan..." lirih Zara dari seberang telepon.
Gamal merasa kaget sekaligus senang. Walaupun begitu, dia juga merasa khawatir dengan tangisan Zara.
"Apa aku terdengar baik-baik saja?" Zara mendengus sejenak dan melanjutkan, "kita bertemu tengah malam di kamar nomor 20. Aku akan diam-diam pergi saat Anton tertidur."
"Baiklah. Aku senang sekali mendengar keputusanmu. Sampai bertemu nanti." Pembicaraan Gamal dan Zara berakhir di situ. Gamal segera kembali melanjutkan makan malam.
"Bagaimana? Tidak ada masalah dengan pekerjaanmu kan?" tanya Selia.
"Semuanya berjalan lancar." Gamal menjawab singkat. Dia merekahkan senyuman yang lebih cerah dibanding sebelumnya.
"Ya, aku yakin begitu. Aku bisa melihatnya dari senyumanmu," balas Selia.
Seusai makan malam, Gamal dan Selia menghabiskan waktu dengan cara menonton televisi. Sesekali Selia akan menerima telepon yang berkaitan dengan pekerjaan.
Gamal sedari tadi terus memastikan keadaan Selia. Dia sudah tidak sabar menunggu gadis itu tertidur. Gamal ingin cepat-cepat pergi ke kamar nomor 20.
Di sisi lain, Zara baru saja menghubungi Wida. Ia ingin mengetahui keadaan Zafran. Zara juga tidak lupa mengatakan kalau dirinya akan pulang terlambat.
"Bunda! Bunda! Kenapa belum pulang? Aku kangen..." rengek Zafran dari seberang telepon. Suaranya yang polos dan lucu, membuat Zara merasa rindu.
__ADS_1
"Sayang, Bunda nggak bisa pulang sekarang. Kamu sama Nenek Wida dulu ya. Bunda janji, kalau pulang nanti, pasti akan memberikan apapun yang Zafran mau!" ujar Zara. Berusaha menghibur sang putra.
Anton yang baru saja keluar dari kamar mandi, berdecak. "Sok-sokan mau kasih Zafran apapun. Punya uang aja kagak!" remehnya.
Zara tidak menggubris perkataan Anton. Dia berderap menuju kamar mandi. Akan tetapi Anton sigap merampas ponsel dari tangan Zara.
"Zafran! Sekarang Ayah sama Bunda nggak bisa pulang. Jalanan lagi tergenang banjir. Jadi kemungkinan kami akan pulang besok. Itu pun kalau banjirnya sudah surut." Anton mengambil alih untuk bicara dengan Zafran.
"Mas! Kembalikan ponselku!" Zara mencoba merebut kembali ponselnya. Namun Anton malah menjauhkan benda itu dari jangkauan Zara. Dia masih lanjut mengobrol dengan Zafran.
Zara menghela nafas berat. Dia lantas menunggu Anton sampai selesai bicara.
"Nanti kalau Ayah pulang, ayo kita main kuda-kudaan sama Paman Ical dan yang lain ya." Anton berseru penuh semangat. Entah kenapa kedekatannya dan Zafran membuat Zara khawatir.
Tak lama kemudian, Anton mengembalikan ponsel Zara. "Cepat siapkan mie ayamku. Aku lapar!" suruhnya sembari duduk ke sofa.
Zara menurut saja. Hubungannya dan Anton memang selalu begitu. Selepas bertengkar hebat, maka mereka akan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
'Mungkin ini malam terakhir aku menyiapkan makanan untukmu, Mas..." batin Zara. Dia menuang mie ayam yang tadi sempat dibelinya ke dalam mangkok.
Waktu menunjukkan jam 11.30. Anton sudah asyik mendengkur. Saat itulah Zara diam-diam memakai sepatu. Lalu pergi melewati pintu.
Zara mengirim pesan kepada Gamal. Dia memastikan posisi lelaki itu.
'Aku sudah di kamar nomor 20 sejak jam setengah sepuluh tadi.' Begitulah pesan yang diterima Zara dari Gamal.
Ketika tiba di lantai tiga, Zara bergegas pergi ke kamar nomor 20. Seolah memiliki telepati yang kuat, Gamal membuka pintu sebelum Zara sempat mengetuk.
"Gamal!" tak perlu basa-basi, Zara langsung mendekap Gamal dengan erat.
Rasa haru, rindu, dan aman, semuanya hanya ada pada Gamal. Zara meluruhkan tangis. Dia melepas pelukan sejenak. Kemudian memberikan kecupan bertubi-tubi ke bibir Gamal.
"Ayo kita berjuang sama-sama!" cetus Zara.
Gamal terkesiap. Perhatiannya tertuju ke arah kepala Zara yang terluka. "Kepalamu kenapa?" tanya-nya cemas.
"Ini hanya luka kecil. Percayalah, aku pasti akan baik-baik saja jika bersamamu," ungkap Zara.
"Akhirnya kau bersedia, Ra. Apapun akan aku lakukan untukmu!" Gamal mengusap air mata Zara. Ia mengulum dalam mulut gadis itu. Satu tangannya dengan cepat mendorong pintu. Hingga pintu bernomor 20 itu tertutup rapat.
__ADS_1