Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 58 - Mual


__ADS_3

...༻◐༺...


Selepas bertemu Anton, Selia mendapat panggilan kerja ke luar kota. Dia langsung pergi karena merasa terburu-buru.


Di sisi lain, Gamal sudah rapi dengan setelan hitam putih. Ia akan melakukan tes kerja. Kebetulan hari ini adalah tes wawancara terakhir.


Perlu waktu sekitar dua jam untuk menunggu, Gamal dapat menyelesaikan wawancara dengan baik. Hasil akhir nanti akan diberitahu melalui panggilan telepon.


Gamal menghela nafas panjang. Dia yang dulunya sering menguji calon karyawan, sekarang harus menjalani wawancaranya sendiri. Nasib memang tidak ada yang bisa menebak.


Langkah Gamal bergerak maju menyusuri jalanan trotoar. Satu tangannya bertengger di perut. Entah kenapa sejak tadi pagi dia merasa mual.


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil tidak asing berhenti. Gamal yakin kalau pemilik mobil itu adalah Selia.


Benar saja, sosok Selia keluar dari mobil. Dia melepas kacamata hitamnya dengan angkuh.


Gamal menatap sinis. "Apa kau mau menghinaku lagi? Aku akan menerimanya kali ini. Tapi setelahnya, jangan pernah lagi muncul di depanku!" ujarnya serius.


"Tidak. Aku mau ngomong sama kamu. Ayo kita ke cafe itu." Selia menunjuk sebuah cafe terdekat.


"Bicaralah di sini. Aku tidak mau membuang waktu," sahut Gamal malas.


"Begitukah sikapmu? Apa kau sama sekali tidak bersalah? Ayahku sekarang harus pakai kursi roda tahu nggak?" timpal Selia.


Gamal sontak tertohok. Masalah Anton serta kebahagiaan yang dia miliki sekarang, membuatnya lupa mengenai nasib Firman. Raffi bahkan tidak memberi kabar apapun kepadanya.


Meskipun begitu, Gamal tahu kalau dirinya tidak diterima di keluarga Baskara. Jadi sia-sia saja jika Gamal bersikeras untuk mencoba. Apalagi hanya sekedar memberikan bantuan.


"Bukankah yang terpenting dia masih sehat? Aku yakin dia akan membaik," kata Gamal.


"Kau tidak tahu apa-apa. Ayo ikut aku!" Selia memaksa Gamal untuk ikut. Dia sengaja berjalan lebih dulu.


Gamal mendengus kasar. Dia terpaksa mengekori Selia. Tangannya dengan cepat meraih handphone dari saku celana. Lalu bergegas mengirim pesan kepada Raffi. Gamal meminta penjelasan dari temannya tersebut.


Selia dan Gamal masuk beriringan ke dalam cafe. Mereka segera duduk saling berhadapan.

__ADS_1


Selia menatap Gamal yang sudah lama tak terlihat. Sungguh, rasa sukanya masih belumlah pudar. Jantung Selia bergemuruh. Lelaki macho seperti Gamal memang merupakan tipe idamannya. Namun sayang, lelaki itu menyukai wanita lain.


'Perlukah aku memperjuangkan cintaku? Aku tidak mau kalah dengan wanita rendahan seperti Zara. Aneh sekali Gamal lebih memilihnya dibanding aku," batin Selia.


Gamal sedari tadi sibuk dengan ponsel. Menunggu balasan pesan Raffi yang tak kunjung masuk. Dia tidak sadar dengan gadis yang sibuk memandanginya dari depan.


Bukannya mendapat pesan dari Raffi. Gamal malah mendapat pesan dari Zara. Istrinya itu mengirimkan semangat berupa foto bersama Zafran. Pemandangan tersebut otomatis membuat Gamal tersenyum lebar.


Puas berkutat pada ponsel, Gamal menatap Selia. Dahinya berkerut. Terutama saat melihat Selia tampak melamun.


"Sel? Apa kau akan diam aja sampai harinya malam?" tukas Gamal.


Selia tersentak. Dia segera memasang raut wajah arogan. Mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.


"Aku melihat kau mendaftar kerja ke perusahaan partner bisnisku. Aku tidak menyangka, kau rela jadi miskin hanya karena wanita itu," imbuh Selia sembari melipat tangan ke depan dada.


"Itukah yang ingin kau bicarakan? Mengomentari hidupku?" Gamal tercengang. Dia tahu dirinya salah. Akan tetapi tingkah Selia benar-benar sangat menyebalkan. Bersikap baik atau tidak, respon Selia terkesan sama saja.


"Tidak. Aku minta maaf atas segala hinaanku tempo hari. Sampaikan juga semuanya kepada Zara. Aku tidak bermaksud menyinggung kalian," tutur Selia yang tiba-tiba berubah.


Gamal memicingkan mata. Dia mengendus ada yang aneh dengan Selia. Dirinya yakin, gadis itu pasti merencanakan sesuatu. Mengingat komentar Selia sebelumnya tidak begitu bersahabat.


"Sel, aku sarankan untuk tidak menemuiku lagi. Aku dan Zara tentu merasa bersalah kepadamu. Anggaplah kesulitan yang kami hadapi sekarang adalah balasannya." Gamal bicara dengan baik-baik. Ia tidak tahu apa rencana Selia. Namun dirinya tidak mau gadis tersebut membuang banyak waktu untuk sesuatu yang tidak penting.


"Tapi kau tidak terlihat kesulitan sama sekali. Wajahmu malah semakin berseri. Kau juga mudah tersenyum dari biasanya," jawab Selia.


Gamal membuang muka dari Selia. Lalu bangkit dari tempat duduk. Rasa mual kembali menyerang. Membuatnya berniat mau pamit saja.


"Mau kemana? Aku belum selesai. Minumanmu juga belum datang." Selia nampaknya tak terima Gamal pergi.


"Kau bisa menikmatinya sendiri." Gamal menjawab singkat. Dia bergegas keluar dari cafe.


Ketika sudah di luar, Gamal memuntahkan semuanya dari mulut. Selanjutnya, barulah dia beranjak pulang.


Selia menghembuskan nafas berat. Dia justru semakin kesal menyaksikan pengabaian Gamal. Gadis itu mengambil ponsel dan menelepon seseorang.

__ADS_1


"Ren, boleh aku minta bantuan nggak? Aku ingin tahu alamat calon karyawanmu dengan nama Gamal Laksana. Dia salah satu kenalanku." Selia tidak perlu waktu lama untuk menemukan kediaman Gamal sekarang.


...***...


Gamal pulang saat hari telah sore. Dia membawa buah tangan untuk istri dan anaknya. Itu memang sudah menjadi kebiasaan khas Gamal ketika baru pulang dari luar.


"Sayang, kalau nggak punya uang nggak usah beli buah tangan. Kebiasaan banget," sambut Zara yang terpaksa mengurus martabak pembelian sang suami.


"Martabaknya murah kok," sahut Gamal. Dia melepas kemeja. Lalu langsung menghempaskan diri ke ranjang yang ada di ruang tengah.


"Zafran mana?" tanya Gamal.


Zara baru keluar dari dapur. Dia sudah memindahkan martabak ke dalam piring. Zara juga tidak lupa membuat segelas teh.


"Zafran lagi tidur. Dia kelelahan karena main-main hampir seharian." Zara meletakkan martabak dan teh ke atas meja. Dia berbalik menatap Gamal.


"Ya ampun, kau mending mandi dulu deh. Nanti ranjangnya ikut-ikutan bau!" ujar Zara sambil memungut kemeja Gamal yang berserak di lantai.


"Masa? Aku masih harum loh..." balas Gamal.


"Sayang..." Zara mendesak dengan tatapan.


"Sini dong. Suaminya lagi kecapekan malah diomelin." Gamal menepuk ranjang yang dia rebahi. Lelaki itu sedikit bergeser untuk memberikan Zara ruang.


"Nggak! Nanti keterusan." Zara mencoba pergi. Namun Gamal sigap mengehentikan. Dia membawa sang istri ke dalam dekapan.


Gamal membawa Zara ikut telentang bersamanya. Kemudian memeluk erat wanita itu bak bantal guling.


"Sayang... kamu bau banget!" protes Zara seraya terkekeh.


"Biar bau tapi tetap ganteng kan?" Pelukan Gamal semakin menjadi-jadi. Tangannya menggelitiki perut Zara yang sensitif dengan rasa geli. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Sebab Gamal lagi-lagi diserang mual.


Tanpa basa-basi, Gamal berlari ke kamar mandi. Dia muntah lagi. Zara yang cemas, segera menyusul.


"Sayang, kamu kenapa? Tadi siang nggak makan ya?" tanya Zara sambil mengusap punggung Gamal.

__ADS_1


"Makan kok. Aku dapat jatah dari perusahaan..." jawab Gamal. Dia membasuh mulut dengan air.


"Terus kenapa dong. Jangan-jangan karena tadi malam? Kau pasti masuk angin. Ya udah, mending kamu nggak usah mandi dulu. Biar aku pijitin. Aku beli minyaknya dulu," kata Zara. Ia buru-buru pergi untuk membeli minyak urut ke kedai terdekat.


__ADS_2