Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 36 - Mandi Bersama


__ADS_3

Ingat ya, novel ini rate 21+. Yang belum cukup umur harap menjauh!


...༻◐༺...


Belum sempat bicara, panggilan mendadak terputus. Selia bahkan tidak sempat bicara sama sekali. Gamal semakin heran dengan sikap gadis itu.


"Apa dia sengaja cari muka? Kalau begitu aku tidak akan khawatir," gumam Gamal. Dia langsung menonaktifkan ponselnya. Gamal tidak mau mendapatkan gangguan dari Selia. Apalagi sekarang ada Zara dan Zafran bersamanya.


"Mukamu kenapa? Kayak ada yang ditahan gitu. Mau berak?" tegur Zara. Sedari tadi dia mengamati Gamal dari depan pintu kamar. Zara perlahan duduk ke sofa.


Gamal terkekeh. "Apaan sih. Nggak ada kok," jawabnya. Manik hitam Gamal segera melirik ke arah kamar. Memastikan keberadaan Zafran.


"Zafran?" tanya Gamal.


"Dia udah tidur. Kenapa?" sahut Zara. Dia dapat mengendus keinginan tersembunyi Gamal.


"Bagus deh." Gamal tersenyum. Lalu merebahkan kepala ke pangkuan Zara.


Gamal menatap lekat Zara. Ia membelai rambut perempuan di hadapannya itu. "Mandi bareng yuk. Kita nggak pernah cobain begituan," tukasnya.


Zara memutar bola mata jengah. "Sudah kuduga. Pasti niatnya mesum," tanggapnya. Meskipun begitu, dia tidak bisa menahan senyuman yang terpancar di wajah.


Gamal langsung merubah posisi menjadi duduk. Lalu mendekatkan mulut ke telinga Zara.


"Kamu nggak mau?" bisik Gamal.


Zara terkekeh. Dia bangkit dari sofa. Kemudian beranjak meninggalkan Gamal. Zara terlihat masuk ke kamar mandi lebih dulu.


Gamal tersenyum lebar saat melihat Zara langsung menerima ajakannya. Tanpa ba bi bu, lelaki itu bergegas menyusul.


Pintu kamar mandi dibuka oleh Gamal. Kedatangannya tidak menimbulkan suara sedikit pun. Zara bahkan tak mendengar. Wanita itu tidak bergeming dalam keadaan membelakangi.


Zara terlihat baru menanggalkan pakaian. Kini dia hanya mengenakan bra dan celana pendek sepangkal paha.


Melihat hal tersebut, Gamal buru-buru ikut melepas pakaian. Tidak tanggung-tanggung, dia langsung menanggalkan seluruh kain yang menutupi tubuhnya.


Gamal sudah tak sabar. Ia memeluk dari belakang, lalu menggigit ujung bahu Zara.


"Aaaa!" Zara kaget bukan kepalang.

__ADS_1


"Hush! Jangan teriak-teriak! Nanti Zafran bangun," cicit Gamal. Dia mengusap-usap wajah berulang kali ke ceruk leher Zara.


Sentuhan Gamal membuat Zara tak bisa berkata-kata. Tubuhnya merespon suguhan nikmat tersebut.


Gamal dan Zara saling terdiam. Pertanda kalau keduanya lebih menikmati momen yang sedang terjadi.


Bibir Gamal yang terasa hangat dan kenyal, menjelajah tengkuk sampai punggung Zara. Lelaki itu berhenti sejenak. Lalu melepas pengait bra yang dikenakan Zara. Selanjutnya, Gamal memutar Zara untuk menghadapnya.


Kegiatan ciuman bibir terjadi. Gamal dan Zara saling mellumat satu sama lain. Suara kecup-mengecup mulai memecah kesunyian. Lidah keduanya saling beradu. Menyebabkan mulut mereka tampak merekat kuat. Seakan tak bisa dilepaskan.


Di satu sisi, tangan Gamal bermain-main pada buah dada Zara. Ulahnya sukses membuat gairah Zara kian memuncak.


Zara dan Gamal sesekali memiringkan kepala. Deru nafas keduanya mulai memburu. Walaupun begitu, mereka sama sekali tidak mau berhenti. Setiap sentuhan malah terasa candu.


Lama-kelamaan Gamal dan Zara semakin meliar. Gamal sigap mengangkat Zara. Hingga kedua kaki Zara mengunci erat di pinggulnya. Sesi ciuman mereka terus berlanjut. Bahkan lebih intens dibanding sebelumnya.


"Mmmph..." Zara bergumam dalam hasrat. "Mmmph..." sekali lagi dia mengeluarkan suara.


Gamal menurunkan Zara sejenak. Tangannya dengan cepat melepas semua celana yang menutupi alat vital Zara. Setelahnya, Gamal mendudukkan wanitanya itu ke wastafel.


Saat Gamal melakukan penyatuan, Zara menggigit bibir bawahnya sendiri kuat-kuat. Membiarkan dua kakinya terbuka lebar.


Wajah Zara memerah padam. Keningnya mengernyit dalam. Sungguh, sentuhan Gamal benar-benar membuat sekujur badannya menggila.


"Lebih cepat, sayang..." seru Zara lirih.


Tak perlu menjawab dengan kata-kata, Gamal melakukan apa yang disuruh Zara. Lelaki itu memaju mundurkan pinggulnya lebih laju. Membuat desahhan Zara semakin parah. Sambung-menyambung dan terus berkoar tanpa henti.


Sama seperti Zara, Gamal juga tidak mampu menahan lenguhan. Mulutnya terus menganga sambil menatap wanita yang sibuk mengerang di hadapannya.


Pemandangan yang dilihat Gamal, menyebabkan gairahnya mendidih. Dia ingin Zara merasakan lebih dari sekedar itu. Alhasil Gamal menggigit bibir bawah Zara dengan pelan. Benar saja, usahanya berhasil membuat tubuh Zara melekuk ke depan. Wanita itu mendongak dan mengerang panjang.


Bertepatan dengan itu, Selia baru saja selesai menghubungi Gamal. Ia mendapati nomor telepon Gamal tidak aktif.


Tatapan Selia tampak kosong. Air matanya terus berjatuhan melewati pipi. Sedangkan di sebelahnya, ada sang ibu yang tak berhenti menangis.


Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu. Dia tidak lain adalah Raffi. Lelaki tersebut muncul dalam balutan seragam ruang operasi. Wajahnya terlihat serius. Menatap Selia dengan rasa kasihan.


Menyaksikan kemunculan Raffi, Selia langsung berdiri. Dia berlari mendekati lelaki itu.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan ayahku?" tanya Selia sembari menghapus air mata yang meleleh.


"Dia baik-baik saja untuk sekarang. Meskipun begitu, aku tidak bisa menjamin itu akan bertahan berapa lama. Tapi aku akan berusaha mencarikan solusi," jelas Raffi tenang. Dia segera pergi meninggalkan Selia. Menjelaskan keadaan pasien merupakan hal terberat untuk seorang dokter.


Raffi masuk ke dalam ruangannya. Dia berusaha menghubungi Gamal. Berulang kali dirinya menelepon, nomor Gamal selalu tidak aktif.


"Jangan bilang dia lagi sama Zara? Mereka berdua nggak pernah berubah!" keluh Raffi. Dia kali ini mencoba menghubungi Elsa. Istrinya sendiri. Raffi berpikir, mungkin Elsa tahu nomor milik Zara.


"Sayang, kamu punya nomor Zara nggak?" tanya Raffi.


"Zara? Mau ngapain kamu!" balas Elsa penuh curiga.


"Ya ampun, santai dong. Aku cuman mau tanya tentang Gamal aja," Raffi tercengang dengan respon sang istri.


"Emangnya Gamal kenapa?"


Raffi mengatup rapat bibirnya. Dia ingin marah, namun ditahan sebisa mungkin. Raffi sangat malas harus memberikan penjelasan saat berada di keadaan genting. Meski sedang agak kesal, Raffi akhirnya memberitahu kalau calon mertua Gamal sedang sakit.


Elsa langsung mengirimkan nomor telepon Zara kepada Raffi. Dia memang sempat mendapatkan nomor tersebut saat tidak sengaja bertemu dengan Zara.


Kini Raffi mencoba menghubungi Zara. Teleponnya berdering, tetapi tidak mendapat tanggapan sama sekali.


Bagaimana bisa Zara mengangkat panggilan Raffi? Jika dia tengah terlalu asik bercinta dengan Gamal di kamar mandi. Sekarang keduanya sedang mandi bersama di bawah pancuran shower. Mereka saling membalut satu sama lain dengan sabun ber-aroma harum.


Gamal dan Zara tidak berhenti berpelukan. Sesekali mereka akan bercanda gurau. Merubah senyuman menjadi gelak tawa.


Seusai mandi, Gamal dan Zara segera sibuk berkutat dengan handuk. Keduanya sudah sama-sama mengenakan setelan kimono.


Gamal menatap nakal Zara. Dia menarik Zara mendekat. Lalu mengulum bibir Zara untuk yang kesekian kalinya.


Trak...


Pintu tiba-tiba terbuka. Gamal dan Zara reflek saling melepaskan. Betapa kagetnya mereka, saat melihat Zafran sudah berdiri di ambang pintu.


..._____...


Catatan Author :


Oke guys, mulai hari ini sampai hari minggu nanti, author akan up 3 bab perhari. Mohon dukungannya ya...

__ADS_1


__ADS_2