
...༻◐༺...
Orang yang memberikan Zara daging tidak lain adalah Gamal. Pria itu tampak mengenakan kemeja berwarna navy. Dia sangat tampan dan berkharisma. Membuat Zara lagi-lagi terkesiap.
"Ke-kenapa kau di sini?" tanya Zara yang agak terkejut.
"Orang yang menikah adalah temannya Selia. Lalu kau?" Gamal menjawab sambil mengambil segelas air putih.
"Orang yang menikah adalah temannya Anton," ujar Zara. Pembicaraannya dan Gamal berakhir di situ. Mereka sama-sama beranjak mencari tempat duduk. Sayangnya, hanya ada satu meja yang kosong. Gamal dan Zara terpaksa makan di meja yang sama.
Gamal dan Zara saling membisu. Hanya ada suara denting peralatan makanan, serta riuh banyak orang bicara.
Gamal sesekali mencuri pandang. Ia tidak bisa menampik kecantikan Zara.
"Kau terlihat mesra dengan suamimu," celetuk Gamal yang sudah lebih dulu menghabiskan makanan. Ia mengelap mulut dengan serbet berwarna putih. Gamal tidak bisa menahan diri untuk tidak bicara.
Zara baru mengangakan mulut karena hendak bicara. Akan tetapi Gamal lebih dulu bersuara.
"Tapi kau tampak risih dengan suamimu sendiri," tambah Gamal. Dia mengukir seringai di semburat wajah.
Zara mengerjapkan matanya dengan cepat. Ia merasa tertohok dengan ucapan Gamal. Dirinya memilih bungkam dan tak berniat sama sekali melakukan bantahan.
Dari kejauhan, Selia nampak mendekat. Gamal lantas beranjak meninggalkan Zara. Dia memilih menghampiri Selia lebih dulu. Membiarkan gadis itu bergelayut manja dalam gandengannya.
Zara langsung cemberut. Dia sangat benci melihat Selia bersikap begitu manja kepada Gamal. Zara sekarang melampiaskan kekesalan dengan cara menyuap makanan lebih cepat. Butiran nasi bahkan dibuat berhamburan olehnya.
Dari arah belakang, Anton tiba-tiba datang. Dia menyeret Zara menjauh dari meja makan. Kelakuannya berhasil membuat Zara kaget. Gadis itu bahkan belum selesai menelan makanan yang ada di mulut.
"Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang!" ujar Anton seraya memegang erat jari-jemari sang istri.
Zara ikut saja. Dia tak bisa melampaui kekuatan Anton yang memaksa. Dirinya hanya bisa melajukan langkah kaki untuk mengikuti.
Anton membawa Zara berbaur ke dekat pelaminan. Di sana dia menyapa seorang perempuan yang dikenal Zara. Perempuan yang ternyata adalah Selia. Gamal terlihat masih bergandengan tangan dengannya.
Baik Zara maupun Gamal, keduanya sama-sama terkejut. Apalagi saat Selia dan Anton saling menyapa dengan akrab.
"Kak Anton nggak berubah," ucap Selia sambil tidak berhenti tersenyum lebar.
__ADS_1
"Apanya yang nggak berubah? Kegantengannya atau kebaikan hatinya?" tanggap Anton yang bermaksud bercanda.
"Idih! Kak Anton kepedean banget sih." Selia menanggapi sembari terkekeh geli.
Di sisi lain, Zara dan Gamal hanya saling bertukar pandang tak percaya. Takdir sepertinya tidak membiarkan mereka berpisah. Padahal sudah jelas keduanya sama-sama sedang tidak ingin bertemu.
"Eh, kenalkan dulu, Kak. Ini tunanganku, Gamal." Selia memperkenalkan Gamal kepada Anton. Ia juga tidak lupa memberitahukan siapa Anton dengan cara berbisik ke telinga Gamal.
"Wah... jangan lupa undang kami nanti ya." Gamal dan Anton saling bersalaman sejenak. "Hati-hati, Mal. Selia suka gigit," tambahnya sambil menutup sudut bibir dengan satu tangan. Anton sekali lagi tergelak kecil bersama Selia.
"Oh iya, kenalkan juga istriku. Namanya Zara. Cantik bukan?" Anton menarik Zara mendekat. Lalu melingkarkan tangan ke pinggul Zara.
Mata Gamal langsung mendelik. Ingin rasanya dia melayangkan tinju ke wajah Anton.
"Hai, Kak! Aku salut sama Kakak. Mau aja jadi istri Kak Anton yang super bandel ini," tanggap Selia. Dia menyapa Zara dengan ramah.
"Apaan sih kamu, Sel! Biar bandel gini, banyak yang suka sama aku loh," protes Anton. Tidak terima dengan pernyataan Selia. Keduanya lagi-lagi melanjutkan candaan yang tak berujung.
Gamal dan Zara sekali lagi saling menatap. Saat itulah keduanya tidak kuasa menahan senyuman geli. Mereka hanya merasa lucu dengan suasana yang ada. Sungguh sebuah kebetulan yang aneh.
Selia dan Anton setuju untuk menikmati makanan penutup bersama-sama. Keduanya ternyata merupakan teman dekat saat masih SMP. Anton diketahui menyukai Selia ketika sekolah dulu.
Selia tergelak sebentar. Lalu menatap Gamal. "Kamu ngijinin nggak?" tanya-nya penuh harap.
"Boleh. Nikmati waktumu, Sel. Aku paham kok gimana rasanya ketemu teman lama." Gamal menganggukkan kepala. Dia membiarkan Selia bersenang-senang dengan Anton dan beberapa teman lama. Sementara dirinya dan Zara duduk bersebelahan. Tepat berhadapan dengan Anton dan Selia.
Gamal mengambil ponsel dari saku celana. Dia mengirimkan pesan kepada Zara.
'Kita ngapain? Jadi patung?' begitulah bunyi pesan yang dikirim Gamal.
Zara membaca dan langsung membalas, 'Mau ke toilet?'
'Aku nggak mau tertipu dua kali.' Gamal masih berkirim pesan dengan Zara. Keduanya mengikik diam-diam di balik telapak tangan. Mereka berusaha keras menutupi semuanya dari orang-orang sekitar. Terutama dari Anton dan Selia.
Lama-kelamaan Gamal dan Zara melupakan kekecewaan yang sempat berkalut. Secara alami mereka kembali berbaikan. Lagi pula, keduanya akan semakin bosan jika terus saling berdiam diri.
Zara menarik kursinya lebih dekat dengan Gamal. Dia berdehem dan berlagak minum agar gelagatnya tidak ketahuan Selia serta Anton.
__ADS_1
Gamal memutar bola mata sejenak. Dia mengerti kenapa Zara tiba-tiba mendekat. Sebelum gadis itu bergerak, Gamal melakukan serangan lebih dulu.
Tangan Gamal menyingkap dress Zara. Dia mendaratkannya tepat ke pangkal paha. Menjamah lembut kulit putih dan mulus tersebut.
Zara sontak berjengit. Dia tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Darah disekejur tubuhnya berdesir hebat karena sentuhan Gamal. Zara mencengkeram serbet putih yang ada di meja.
Melihat respon Zara, Gamal tersenyum puas. Tanpa sadar mereka sudah menciptakan dunianya sendiri. Anton dan Selia yang sibuk berceloteh, bagaikan angin lalu saja.
Aktifitas intim Gamal dan Zara tersembunyi di balik meja. Anton dan Selia tidak bisa melihat apa-apa.
Gamal menatap Zara sambil menopang kepala dengan satu tangan. Lirikannya sungguh mematikan. Tepat di bawah meja, tangan nakal Gamal masih bertengger di pangkal paha Zara.
'Awas saja!' Zara kembali mengirimi Gamal pesan melalui ponsel.
Ketika sibuk membaca pesan, tangan Zara sigap menyentuh bagian bawah perut Gamal. Gadis itu melakukannya sambil memasang raut wajah datar.
"Sialan!" rutuk Gamal kaget.
Zara otomatis melepaskan pegangannya. Dia lekas membuang muka agar tidak ketahuan.
"Kamu kenapa, Mal?" Selia tentu cemas, saat mendengar Gamal mengumpat nyaring.
Gamal tertawa hambar seraya memegangi organ intim. Wajahnya memerah padam akibat merasa sedikit terangsang. Meskipun begitu, Gamal segera beralasan untuk menjawab pertanyaan Selia. "Aku kebelet. Mau ke toilet dulu," imbuhnya.
Gamal bangkit dari tempat duduk. Dia benar-benar pergi ke toilet. Di sana Gamal menyempatkan diri mengirim pesan kepada Zara.
...'Kenapa langsung pegang ke sana?! Curang kamu, Ra! Lihat aja nanti pembalasanku!'...
Kala membaca pesan Gamal, Zara hanya bisa tertawa kecil. Dia tersenyum lebih cerah dibanding biasanya. Membuat Anton yang tak sengaja melihat, menaruh rasa curiga.
"Dek? Kenapa senyum-senyum sendiri?" timpal Anton. Selia yang duduk di sebelah, lantas ikut berdalih.
Zara gelagapan. Dia langsung berhenti tersenyum. Walaupun begitu, otaknya langsung aktif untuk mencari-cari alasan tepat.
"Aku melihat foto Zafran. Bi Wida mengirimkannya kepadaku," kilah Zara.
"Zafran?" Selia menatap Anton penuh tanya.
__ADS_1
"Dia anakku dan Zara," sahut Anton santai. Dia kembali menoleh ke arah Zara.
"Mana fotonya? Aku ingin lihat!" cetus Anton. Menyebabkan Zara membulatkan mata. Dia tentu tidak memiliki foto Zafran yang di inginkan Anton. Hanya ada pesan gilanya dan Gamal yang tertera di layar ponsel.