Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 49 - Ciuman Tulus


__ADS_3

...༻◐༺...


Raffi segera mengajak Zara untuk menemui Gamal. Namun saat itu Zara enggan membawa Zafran. Dia takut Zafran akan kena hinaan dari Afrijal.


"Zafran sama Tante Elsa aja ya. Bunda perginya nggak lama kok," ujar Elsa. Dia mengajukan diri untuk membantu Zara.


"Terima kasih, El..." ucap Zara. Dia dan Raffi segera beranjak ke kamar dimana Gamal dirawat. Di sana mereka harus berhadapan dengan dua lelaki yang berjaga terlebih dahulu.


"Aku dokternya. Aku membawa wanita ini atas permintaan pasien," ujar Raffi. Dia mencoba membantu Zara melewati pintu masuk yang dijaga oleh dua lelaki bayaran Afrijal.


Mendengar adanya keributan, Afrijal bergegas keluar. Kini dia dapat melihat kehadiran Zara di depan mata.


"Apa kau tidak lelah dengan penolakanku?! Bukankah aku sudah berulang kali mengusirmu?!" geram Afrijal sambil berkacak pinggang.


"Gamal ingin bertemu dengannya, Om. Mungkin kondisi Gamal akan membaik jika ada Zara di sampingnya." Raffi bicara kepada Afrijal baik-baik. Dia tidak pernah mengerti terhadap emosi yang dimiliki pria paruh baya tersebut.


"Ah! Aku tetap tidak sudi menerimanya!" tegas Afrijal. Dia masih saja memandang rendah Zara. "Pergilah!" usirnya dengan nada lantang.


"Om, bukankah ini berlebihan?!" Raffi akhirnya kesal terhadap sikap Afrijal. Namun ayah kandung dari Gamal itu sama sekali tak acuh.


"Sudahlah, Raf! Ayo kita pergi." Zara memutuskan mengalah. Dia menahan egonya dan membawa Raffi menjauh dari Afrijal.


"Kau kenapa, Ra?! Kau nggak seperti Zara yang aku kenal dulu tahu nggak?! Kok pasrah gini sih!" timpal Raffi.


"Aku nggak pasrah kok. Aku begini karena tahu Gamal akan tetap mencariku. Aku percaya kepadanya. Aku dan Zafran akan menunggu," ujar Zara yakin. Dia segera kembali menemui Zafran.


Raffi hanya geleng-geleng kepala. Memaklumi masalah berat yang dihadapi Gamal dan Zara.


Di waktu yang sama, Gamal tidak tahu kalau Afrijal sudah mengusir Zara. Dia terus menunggu hingga malam tiba. Tetapi Zara tidak kunjung datang.


Merasa ada yang aneh, Gamal yakin kalau Afrijal sudah melakukan sesuatu. Satu-satunya orang yang bisa Gamal minta pertolongan adalah Tania. Ibunya itu sejak tadi hanya diam.


"Mah, ponselku mana ya?" tanya Gamal.


"Tunggu bentar ya." Tania mengambilkan ponsel Gamal yang di simpan dalam tasnya. Dia langsung memberikan ponsel itu kepada Gamal.

__ADS_1


"Tidak! Jangan kasih dia handphone! Gamal harus istirahat!" Afrijal merampas ponsel yang nyaris diberikan kepada Gamal.


"Pah!" Gamal melotot tajam. Sikap Afrijal memang sudah mencapai tahap berlebihan.


"Setelah kau sembuh. Aku akan membiarkan kau mengelola perusahaan di London. Kau tinggal di sana saja selamanya!" perintah Afrijal. Ia yakin Gamal tidak akan menolak. Afrijal tahu betul betapa terikatnya Gamal dengan kemewahan.


"Tidak, Pah. Aku akan tetap di sini dan menikahi Zara. Itulah pilihanku," pungkas Gamal.


"Kalau itu pilihanmu, maka kau bukan bagian keluarga Laksana lagi!" balas Afrijal.


"Pah! Jangan ngomong begitu..." Tania tidak terima dengan perkataan Afrijal yang semaunya saja. Sebagai seorang ibu, dia tentu tidak mau dirinya dipisahkan dari Gamal. Terlebih Tania sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang putra.


"Baiklah kalau itu mau Papah. Aku akan terima. Mungkin aku bukanlah anak yang baik bagimu." Persetujuan Gamal membuat Tania semakin kaget. Dia tidak tahu harus membujuk siapa. Keduanya sama-sama keras kepala.


Deg!


Afrijal menyalangkan mata. Dia sebenarnya terkejut terhadap keputusan Gamal. Afrijal tidak menyangka putranya itu sangat ingin menikahi Zara. Gamal bahkan tidak ketakutan seperti sebelum-sebelumnya. Meskipun begitu, Afrijal tidak mau mengalah. Dia ingin memberi pelajaran seberat mungkin.


"Baiklah kalau itu maumu! Ayo kita pergi! Biarkan saja dia bersama wanita itu di sini!" kata Afrijal sembari menatap selintas ke arah Tania.


"Ayo! Dia sudah bukan anak kita lagi!" seru Afrijal. Dia beranjak keluar ruangan tanpa menoleh ke belakang lagi. Benar-benar meninggalkan Gamal seorang diri.


Gamal terpaku memandangi pintu. Dia sebenarnya merasa tidak nyaman berbuat begitu kepada sang ayah. Tapi mau bagaimana lagi? Gamal tidak akan membiarkan Zara dan Zafran menderita. Jika dua ibu dan anak itu kesulitan, maka dirinya juga harus terlibat.


Beberapa saat kemudian, Zara dan Zafran datang. Kehadiran keduanya membuat Gamal langsung tersenyum.


Zara memeluk Gamal begitu saja. Dia menghamburkan tangis dengan sejuta cinta.


Zafran menatap iba kepada Gamal. Anak itu bisa menyimpulkan kalau Gamal sedang sakit.


"Om Gamal sakit apa?" tanya Zafran.


Mendengar pertanyaan Zafran, Zara dan Gamal berhenti saling memeluk. Keduanya menoleh ke arah Zafran di waktu bersamaan.


"Perut Om sakit. Tapi sebentar lagi sembuh kok," jawab Gamal seraya memperlihatkan perutnya yang dibalut perban.

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh ya, Om..." ucap Zafran.


"Om akan cepat sembuh, kalau Zafran mau tidur sama Om di sini." Gamal memberi ruang untuk Zafran di kasur yang sedang dia rebahi.


Zafran tersenyum simpul. Tanpa pikir panjang, dia langsung naik ke kasur Gamal. Lalu rebahan di sebelah lelaki yang merupakan ayah kandungnya itu.


Zara membiarkan Gamal dan Zafran menikmati waktu satu sama lain. Ketika Zara hampir beranjak, Gamal dengan cepat menghentikan.


"Jangan pergi!" ujar Gamal. Dia ingin Zara tetap bersamanya.


"Aku hanya ingin ke toilet." Zara terkekeh melihat tingkah Gamal. Dia pergi ke toilet saat Gamal melepas lengannya.


Ketika kembali, Zara menemukan Zafran sudah tertidur. Namun tidak untuk Gamal. Lelaki itu masih membuka lebar matanya. Gamal justru menyuruh Zara mendekat.


Gamal menceritakan segalanya kepada Zara. Termasuk posisi Gamal yang tidak lagi menjadi bagian keluarga Laksana. Gamal juga memberitahu kalau harta yang dimilikinya akan ditarik oleh Afrijal. Termasuk apartemen yang sekarang ditinggali Gamal dan Zara.


"Ra, aku lelaki miskin sekarang. Apa kau masih menginginkanku untuk jadi suamimu?" tanya Gamal. Dia perlahan duduk menghadap Zara.


"Apa alasanku menolakmu? Kau sudah rela melawan ayahmu demi diriku. Apapun yang terjadi, perasaanku kepadamu nggak akan berubah!" sahut Zara. Dia menggenggam lembut jari-jemari Gamal.


"Kau yakin? Bukannya kau dulu tergila-gila sekali sama hartaku?" balas Gamal. Bermaksud bercanda.


Zara memutar bola mata jengah. Dia paham dengan candaan Gamal. "Ya ampun, itu kan dulu. Sekarang yang terpenting adalah masa depannya Zafran," ucapnya.


"Oh iya, aku berhasil mendapat tanda tangan Anton! Sebentar lagi kami akan resmi bercerai!" cetus Zara. Dia tiba-tiba teringat dengan surar perceraian.


"Yang benar?" Gamal memastikan.


"Lihat!" Zara mengambil surat perceraian dari dalam tas. Dia memamerkannya kepada Gamal.


"Syukurlah! Kalau begitu kita bentar lagi akan nikah dong." Kabar yang diberikan Zara, sukses membuat Gamal antusias. Keduanya tergelak kecil bersama. Saling memancarkan tatapan penuh cinta.


Gamal mengaitkan rambut Zara ke daun telinga. Dia mendekat, lalu memagut bibir Zara dengan lembut.


Zara tentu tidak menolak. Dia membalas ciuman Gamal. Ciuman mereka kali ini di ikuti oleh perasaan tulus. Memang tidak semua sentuhan disebabkan oleh naf*su, tetapi terkadang karena keinginan saling menenangkan dan rasa aman. Segala masalah yang sempat terjadi seolah sirna dalam sekejap.

__ADS_1


__ADS_2