
...༻◐༺...
Zara memikirkan Gamal di sepanjang perjalanan. Dia tidak lupa menjemput Zafran terlebih dahulu, lalu pulang ke rumah.
Waktu sudah menunjukkan jam 09.10 malam. Zara hanya terlalu lama menunggu Zafran yang keasyikan berwisata bersama anak-anak panti.
Setelah makan, Zara mengajak Zafran tidur. Anak itu tidak membutuhkan waktu lama untuk terlelap. Mengingat energinya sudah terkuras habis akibat kegiatan jalan-jalan.
Berbeda dengan Zara. Sedari tadi dia tidak bisa tertidur. Mengantuk pun tidak. Gambaran tentang kedekatan Gamal dan Selia terus terbayang dalam ingatan.
Dug!
Dug!
Dug!
Zara mendengar suara pintu digedor. Dia yakin kalau yang datang adalah Anton. Jujur saja, Zara sangat ingin membiarkan Anton menggila sendiri. Ia tidak mau repot-repot membukakan pintu. Tetapi saat mengingat sudah dua kali Anton menghancurkan pintu karena didobrak, Zara tak punya pilihan lain.
Ceklek...
Zara membuka pintu dengan pelan. Anehnya kali ini Anton tidak mabuk. Hanya ada rokok yang tersemat di jari-jemarinya.
"Akhirnya istriku ada di rumah lagi. Aku hari ini sengaja tidak mabuk agar bisa memanjakanmu," ujar Anton sembari melangkah masuk.
Mata Zara membola. Dia mulai merasakan firasat tidak enak. Terlebih Anton terlihat memancarkan tatapan sensual.
"Aku lagi datang bulan, Mas!" Zara yang mengerti tatapan Anton, langsung menolak. Sebab dia sudah memuaskan semua hasratnya bersama Gamal tadi siang. Zara merasa lelah jika harus melakukannya lagi. Terutama dengan lelaki seperti Anton.
"Jangan bohong kamu!" Anton tak mau percaya. Dia sudah melepas kancing baju yang dipakainya.
"Mas nggak percaya? Mau aku kasih lihat darahnya? Atau perlu pembalutnya?!" Zara bersikeras. Entah kenapa hari ini hatinya terus diselimuti rasa jengkel.
Anton tertohok. Sebagai lelaki, dia tentu tidak bersedia menyaksikan apa yang disebutkan Zara. Dirinya lantas kembali mengenakan baju.
__ADS_1
"Ya sudah... kalau nggak mau, siapkan makan malam untukku saja!" titah Anton seraya duduk ke sebuah kursi.
Zara menyiapkan makanan yang telah dimasaknya tadi. Dia menemani Anton dalam diam. Memasang tatapan kosongnya lagi.
"Besok ada acara perkawinan temanku di luar kota. Kamu harus ikut denganku," ujar Anton.
"Tapi--"
"Kali ini aku tidak mau mendengar alasan apapun!" potong Anton, memaksa. Ia menyesap teh hangat sejenak dan melanjutkan, "oh iya. Zafran dititipkan aja ke bibimu yang ada di panti. Aku nggak mau dia rewel."
"Kenapa ditinggal?! Aku nggak mau--"
"Sekali-kali aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu! Jangan membantah!" untuk kali kedua, Anton kembali memotong perkataan Zara. Dia bahkan menyalangkan mata agar sang istri langsung tunduk kepadanya.
Zara mengepalkan tinju di kedua tangan. Entah sudah berapa kali hatinya mengelu-elukan kalimat tidak tahan. Zara benar-benar seperti terjebak dalam lubang hitam yang terus membelenggu.
Walaupun begitu, Zara tetap mencoba berpikir positif. Mungkin pergi bersama Anton lebih baik. Zara berharap dapat menemukan sisi lain Anton yang akan membuatnya tetap bertahan. Selain itu, dia tidak mau bertemu dengan Gamal dalam beberapa waktu. Setidaknya sampai rasa kecewa Zara mereda.
Di sisi lain, Gamal tengah duduk santai di kursi pijat. Dia memandangi langit-langit pelafon dengan tatapan sayu.
Ponsel mendadak berdering. Gamal langsung mengangkat panggilan yang tidak lain dari Selia. Gadis itu mengajak Gamal pergi ke pesta pernikahan teman besok.
"Baiklah, sampai jumpa besok." Gamal memutuskan setuju. Toh dia malas menemui Zara untuk sementara. Gamal terlalu kecewa terhadap respon Zara saat terakhir kali.
...***...
Keesokan harinya, Wida datang sendiri untuk menjemput Zafran ke rumah Zara. Dia harus melakukan itu, agar Zafran tidak melihat kepergian kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya, Ra. Aku selalu mendoakan suamimu bisa cepat sadar. Aku yakin, dia sebenarnya sayang kepadamu," tutur Wida. Satu tangannya menyentuh pundak Zara.
"Udahlah, Bi. Maafin aku yang udah sering banget merepotkan Bibi." Zara menundukkan kepala sambil memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.
"Jangan bilang begitu terus! Aku kan sudah menganggapmu seperti anak sendiri," balas Wida. Dia dan Zafran segera beranjak pergi.
__ADS_1
Kini Zara hanya perlu menunggu Anton. Suaminya itu pergi untuk menyewa sebuah mobil.
Sekian menit berlalu. Anton terlihat datang dengan mengendarai mobil. Dia menyuruh Zara masuk.
Hening menyelimuti suasana. Zara dan Anton memang lebih sering berdebat dibandingkan melakukan pembicaraan ringan. Kini mereka sedang dalam perjalanan.
"Siapa yang nikah?" Zara jadi orang pertama yang mengawali pembicaraan.
"Teman SMP-ku. Kami dekat banget. Jadi susah kalau nggak datang. Namanya Tomi. Lebih muda tiga tahun dariku," terang Anton seraya sibuk mengemudi.
Dahi Zara berkerut. "Lebih muda tiga tahun?" tanya-nya tak mengerti.
"Aku nggak naik kelas selama bertahun-tahun. Suamimu ini paling disayang guru pas waktu sekolah loh," kata Anton yang tak bisa menahan tawa kecil.
Zara hanya tersenyum singkat. Perkataan Anton sama sekali tidak lucu baginya.
Setelah memakan waktu lebih dari tiga jam, Zara dan Anton tiba di tempat tujuan. Lokasi pernikahannya sendiri dilaksanakan di sebuah villa besar. Tempat acaranya berada di luar ruangan.
Sebelum masuk, Zara merapikan rambut dan dressnya terlebih dahulu. Kebetulan dia mengenakan dress selutut berwarna lilac. Gadis itu sengaja membuat rambutnya sedikit bergelombang.
"Untung kau cantik. Teman-temanku pasti iri. Maaf ya, Dek. Itu alasanku yang sebenarnya mengajakmu ke sini." Anton melingkarkan satu tangan ke pinggang Zara. Akibat sentuhan tak terduga tersebut, Zara tersentak.
Zara tersenyum kecut. Anton langsung menyeretnya melangkah masuk ke tempat acara.
Ketika sudah berada di acara pernikahan, kedatangan Anton langsung disambut heboh oleh teman-temannya. Zara tidak menyangka, Anton juga memiliki banyak teman dari kalangan orang-orang kaya.
Zara hanya diperkenalkan sebentar oleh Anton. Dia terpaksa bersikap senormal mungkin. Apalagi saat Anton nekat mencium pipinya di depan banyak orang.
"Aku mau gabung sama teman-teman dulu. Kamu makan duluan aja gih!" setelah puas memanfaatkan Zara, Anton pergi menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Zara sekarang sendirian. Dia melenggang ke tempat berbagai hidangan disediakan.
Saat itu potongan daging yang ada di masakan rendang tinggal satu. Zara bergegas mengambil daging yang tersisa. Tetapi sayang, dia terlambat. Daging yang tersisa sudah diambil oleh orang lebih dulu.
__ADS_1
Zara menggertakkan gigi kesal. Namun sesuatu hal mengejutkan terjadi. Sebuah tangan memberikan potongan daging rendang ke piringnya.
"Makasih..." Zara tersenyum sambil menatap orang yang memberikan daging. Betapa kagetnya Zara, tatkala melihat sosok yang ada di dekatnya sekarang.