
...༻◐༺...
Semua orang sudah berada di dalam mobil. Gamal dan Selia duduk di depan, sedangkan Anton dan Zara ada di kursi belakang.
"Ini semua gara-gara kelakuan anak remaja itu." Selia memulai pembicaraan di dalam mobil. "Kalian pernah dengar berita tentang anak remaja yang bakar hutan nggak? Banjir jadi tambah parah gara-gara kelakuan dia!" ucapnya lagi.
Mendengar topik pembicaraan Selia, Gamal dan Zara reflek bertukar pandang melalui kaca spion. Sebab mereka sama-sama tahu siapa anak remaja yang dibicarakan Selia. Dia tidak lain adalah Gamal.
Saat masih SMA dulu, nakalnya Gamal tidak ketolongan. Dia nyaris di penjara karena tidak sengaja membakar hutan dengan puntung rokok yang menyala. Walaupun begitu, fakta tersebut disembunyikan sangat rapat oleh Afrijal. Sehingga tidak banyak orang yang tahu.
Hanya Gamal dan orang-orang terdekatnya yang tahu. Termasuk Zara sendiri. Insiden itu juga menjadi momen terakhir Zara berpacaran dengan Gamal. Tepat sebelum Afrijal mengajak Zara untuk melakukan kesepakatan.
"Iya, aku pernah dengar. Itu anak kayaknya lebih bandel dari aku. Bayangkan saja. Dia udah bikin penduduk kota sengsara. Semua orang pasti ingat setelah insiden kebakaran hutan itu terjadi. Kabut asap ada dimana-mana." Anton merespon ucapan Selia. Keduanya tidak sadar kalau orang yang mereka bicarakan ada di depan mata.
Gamal hanya bisa mencengkeram setir kuat-kuat. Dia melakukannya untuk melampiaskan kekesalan.
"Bener banget. Setelah kabut asap hilang, diganti sama banjir. Aku harap anak itu diberi pelajaran yang setimpal di penjara," sahut Selia. Perkataanya membuat Gamal menggertakkan gigi dibalik mulut yang mengatup. Pria itu sedang mencoba bersabar.
"Tapi sepertinya anak itu berasal dari orang kaya deh. Soalnya namanya dirahasiakan sama media," kata Anton yang masih saja meneruskan topik pembicaraan tentang kebakaran hutan.
"Mungkin saja anak itu sudah berubah. Lagi pula bencana banjir nggak cuman hanya disebabkan sama minimnya pepohonan. Sampah yang dibuang sembarangan bisa juga menjadi penyebabnya." Zara angkat suara untuk membela Gamal.
"Tapi tetap saja tindakan membakar hutan itu salah," tanggap Selia. Dia tetap pada pendiriannya.
"Manusia tidak bisa lepas dari kesalahan." Zara kembali menyahut.
"Aku tahu. Tapi manusia punya otak kan? Jadi mereka pasti tahu batasan-batasan yang tidak boleh dilewati." Selia mulai tidak suka dengan perlawanan Zara yang terkesan sinis.
"Kau bicara, seperti tidak pernah melakukan kesalahan." Hati Zara mulai geram.
"Ya, aku memang anak baik." Selia tak mau kalah.
"Wow... kau pasti jelmaan malaikat. Gamal sangat beruntung sekali." Percakapan Zara dan Selia mulai memanas. Apalagi saat Zara melemparkan kalimat sarkastik tersebut.
"Kau menyindirku?" Selia akhirnya menoleh ke belakang. Menatap Zara dengan perasaan kesal.
__ADS_1
"Sel..." Gamal memegangi lengan Selia. Dia sengaja melakukannya dengan lembut, agar gadis itu berhenti berdebat dengan Zara.
"Udah, udah... jangan pada bertengkar." Anton angkat suara, setelah Gamal menegur Selia.
Selia mendengus sebal. Dia dan Zara akhirnya menutup mulut. Secara alami keduanya berhasil menurunkan emosi masing-masing. Apalagi ketika mobil mereka telah tiba di sebuah hotel.
Zara, Selia dan Anton keluar lebih dulu dari mobil. Lalu memasuki area hotel. Mereka menghampiri meja resepsionis untuk memesan kamar.
Sementara Gamal, harus memarkirkan mobil ke tempat khusus berupa basement. Dia mendapat pesan dari Selia.
'Kamar kita ada di nomor 9.' Seperti itulah bunyi pesan singkat yang dikirimkan Selia.
"Kita? Satu kamar dong,' batin Gamal. Dia berhenti melangkah hanya untuk sekedar membaca pesan.
Saat memikirkan dirinya dan Selia, Gamal langsung teringat akan Zara. Dia yakin Anton hanya memesan satu kamar. Terlebih hubungan mereka adalah pasangan suami istri.
Entah kenapa Gamal dibuat gelisah. Perasaan tidak rela muncul begitu saja.
'Kenapa aku nggak terima ya? Padahal dari awal aku sudah tahu Zara sudah bersuami. Dia juga tiap hari pulang ke rumah Anton. Kenapa aku panik saat mendengar Zara satu kamar sama Anton?' Gamal berdecak kesal. Dia menampakkan raut wajah gelisah. Kemudian berjalan ke depan meja resepsionis.
"Ada yang bisa dibantu, Mas?" tanya resepsionis wanita dengan rambut digelung tersebut.
Gamal sontak tersadar. Dia langsung berucap, "Aku pesan satu kamar!"
"Bukannya Mas datang sama Mbak yang tadi ya? Mbak-nya udah pesan kamar tadi. Dan--"
"Aku tetap pesan satu kamar lagi." Gamal bersikeras. Dia paham kalau si resepsionis hanya bermaksud memberitahu. Namun Gamal sudah mantap membulatkan pilihan.
"Ya sudah kalau begitu." Sang resepsionis setuju saja. Dia segera mengambilkan kunci kamar.
Gamal melakukan pembayaran dengan kartu. Kemudian memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Uang apa ini, Mas? Kan semuanya udah dibayar pakai kartu." Sang resepsionis tak mengerti.
"Untuk menutup mulutmu." Gamal menjawab singkat. Dia segera beranjak memasuki lift.
__ADS_1
Sementara resepsionis yang tadinya bingung, dia akhirnya mengerti. Tangannya cepat-cepat mengambil uang tips yang diberikan oleh Gamal.
Gamal akhirnya masuk ke kamar dimana Selia berada. Gadis itu menyambut dalam keadaan hanya mengenakan handuk kimono.
"Aku mau berendam di bath up dulu. Kamu mau mandi duluan? Soalnya aku butuh waktu lama kalau berendam di bath up." Selia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Kamu duluan aja." Gamal sama sekali tak masalah. Selia lantas tersenyum dan masuk ke kamar mandi.
Gamal duduk ke ujung kasur. Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Zara.
'Lagi ngapain?' begitulah bunyi pesan yang dikirim Gamal. Kebetulan Zara langsung membacanya. Gadis itu sedang merasa bosan. Di sebelahnya ada Anton yang asyik mendengkur.
'Mau mandi, tapi malas.' Zara membalas pesan Gamal.
'Aku sempat pesan satu kamar lagi. Kalau kau mau, datangi saja kamar nomor 20. Letaknya ada di lantai tiga.' Pesan baru dari Gamal membuat Zara membulatkan mata. Dia yang tadinya telentang malas, reflek merubah posisi menjadi duduk.
Di akhir, Gamal dan Zara sepakat untuk bertemu. Sebelum pergi, keduanya tentu tidak lupa memberitahu pasangan masing-masing.
"Sel, aku mau beli makanan hangat ke depan. Kamu mau nggak?" imbuh Gamal. Berseru di depan pintu kamar mandi.
"Boleh. Beliin aku bubur ayam kalau ada!" sahut Selia.
Gamal merespon dengan kata oke. Lalu beranjak keluar kamar.
Di sisi lain, Zara sedang sibuk mengguncang pelan tubuh Anton. Setelah berulang kali mengguncang, barulah Anton terbangun. Itu pun hanya sekedar setengah sadar.
"Kenapa... ah!" keluh Anton sembari menggaruk kepala dengan sebal.
"Aku mau beli makanan keluar. Mas mau sesuatu nggak? Biar nanti aku beliin," tawar Zara.
"Hmmm... beliin aku mie ayam," kata Anton.
Zara mengangguk. Ia lekas-lekas pergi meninggalkan kamar. Zara mendatangi lantai tiga. Gadis itu mengetuk pintu kamar bernomor 20.
Tidak perlu menunggu lama, pintu langsung dibukakan oleh Gamal. Alhasil Zara melangkah masuk ke dalam kamar.
__ADS_1