Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 51 - Hati-Hati Di Jalan


__ADS_3

...༻◐༺...


Dua minggu berlalu. Gamal telah keluar dari rumah sakit. Dia sepenuhnya benar-benar pulih. Sekarang Gamal sedang sibuk mengambil barang-barang di apartemen. Hal serupa juga dilakukan oleh Zara dan Zafran.


Gamal mengambil celana yang dipakainya saat menemui Anton terakhir kali. Dia merogoh saku celana tersebut. Hingga kalung berlian yang pernah diberikannya untuk Zara terpampang nyata.


Gamal segera menghampiri Zara. Lalu memasangkan kalung berlian ke leher perempuan tersebut.


Zara terkesiap. Dia langsung memperhatikan benda yang mengalung di leher. Matanya membulat saat menyaksikan kalung berlian yang dikiranya sudah hilang.


"Loh, ini kan..." Zara menoleh ke arah Gamal. Menuntut penjelasan.


"Aku sempat mengambilnya saat meminta tanda tangan Anton. Apa kau rela jika kalung ini dijual? Aku ingin memakai uangnya untuk membeli rumah baru kita," tutur Gamal.


"Tentu saja rela! Kan sudah kubilang, kau lebih penting dari pada kalung berlian ini." Zara mencubit pipi Gamal. Kemudian mengembangkan senyuman.


"Ish! Jangan mancing-mancing deh. Aku bawa ke ranjang nih!" balas Gamal sembari melepas cubitan Zara.


"Apaan sih," komentar Zara sambil terkekeh bersama Gamal.


"Ayolah... kita ke ranjang. Main kuda-kudaan," goda Gamal. Jari telunjuknya terus berusaha mencolek dagu Zara. Ulahnya sukses membuat wanita itu semakin menggelakkan tawa.


"Om sama Bunda mau main kuda-kudaan? Aku mau ikut!" seru Zafran yang rupanya mendengar obrolan Gamal dan Zara. Dia berlari menghampiri keduanya.


Zara agak kaget menyaksikan respon Zafran. Dia akhirnya kembali tertawa sampai terpingkal-pingkal. Kuda-kudaan yang dimaksud Gamal tentu berbeda dengan pemahaman Zafran.


Sama seperti Zara, Gamal juga sedikit terkejut. Meskipun begitu, dia tidak sampai tertawa seperti Zara. Gamal justru berkata, "Ra, anak kita mau ikut kuda-kudaan juga. Gimana coba?"


"Gamal!" Zara tak bisa berkata-kata lagi.


Akibat kesalahn Gamal sendiri, Zafran terus menuntut untuk bermain kuda-kudaan. Alhasil Gamal tidak bisa menolak. Dia mempersilahkan Zafran menaiki punggungnya. Anak itu kegirangan. Zafran juga tidak lupa memainkan pedang-pedangan miliknya.


Di waktu yang sama, Zara baru mendapatkan pesan dari pihak pengadilan. Setelah melakukan sidang perceraian dua kali, dia akhirnya tiba di persidangan terakhir. Zara segera memberitahukan kabar itu kepada Gamal.


Sidang terakhir akan dilaksanakan besok. Sekarang Gamal dan Zara sudah selesai berbenah. Mereka segera pergi ke rumah panti. Tempat itu akan menjadi kediaman mereka untuk sementara.


...***...


Zara duduk tenang di ruang sidang. Dia tidak sendiri. Ada Wida yang selalu menemani semenjak sidang pertama.


Tidak lama kemudian, Anton muncul sambil dikawal oleh seorang polisi. Lelaki itu tampak lesu dalam balutan seragam tahanan berwarna oranye.

__ADS_1


Saat melihat Zara, pupil mata Anton langsung membesar. Seakan sudah menemukan hal terpenting dalam hidupnya. Lelaki itu tidak berhenti memandangi Zara.


Berbeda dengan Zara. Dia reflek membuang muka. Jujur saja, Zara merasa kasihan. Tetapi mau bagaimana lagi? Dirinya dan Zafran tidak akan bahagia jika memilih tetap bersama Anton.


Anton dan Zara duduk tidak begitu jauh. Hanya berhelatkan dua buah kursi yang kosong.


"Dimana Zafran? Kenapa kau tidak pernah membawanya?" tanya Anton.


"Mana mungkin aku membawanya ke sini. Dia sangat bahagia sekarang. Aku tidak mau mengusik kebahagiaannya dengan cara membawanya ke sini." Zara berucap tanpa melihat lawan bicara. Dia enggan menatap Anton.


"Aku sayang sama kamu, Dek. Kau masih bisa merubah pikiranmu." Untuk yang kesekian kalinya Anton membujuk.


"Maaf, Mas. Keputusanku sudah bulat." Zara menjawab tegas. Selanjutnya, sidang di mulai. Pihak hukum yang terkait sudah berdatangan.


Mengetahui Zara sangat ingin bercerai, Anton tak punya pilihan lain. Dengan terjadinya sidang akhir, dia dan Zara resmi bercerai.


Sekarang Zara mendengus lega. Dia akhirnya sudi menatap Anton. Lalu berjalan ke hadapan lelaki itu. Menyodorkan tangan untuk menawarkan salam.


"Aku harap Mas bisa menemukan wanita yang mencintai dengan tulus. Dan bila Mas sudah menemukannya, perlakukanlah dia dengan lembut dan penuh kasih," imbuh Zara.


Anton menyalami Zara. Dia membalas, "Aku ingin wanita itu kau..."


Zara tersenyum kecut. Dia beranjak tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Zara membiarkan Wida pulang lebih dulu. Ia berkilah ingin membeli sesuatu. Padahal Zara ingin menyendiri sebentar.


Taman adalah tempat yang dipilih Zara untuk menyepi. Dia menangis di sana. Walau Zara membenci dan sangat kecewa kepada Anton, bukan berarti dirinya tidak punya hati nurani. Mengingat Anton juga yatim piatu sepertinya.


'Aku sudah berkali-kali memberinya kesempatan. Mungkin inilah yang terbaik. Mas Anton juga harus belajar dari kesalahan,' batin Zara. Dia memejamkan mata sambil terus meluruhkan cairan bening di pipi.


Zara tidak tahu, sudah berapa kali dirinya menangis. Satu hal yang pasti, dia merasa lega setelah melampiaskannya dengan tangisan.


Perlahan Zara memegangi dadanya. Kalung berlian yang tertutup oleh bajunya, membuat Zara tersenyum. Ia mengamati kalung itu dengan perasaan haru.


Saat memikirkan hubungannya dengan Gamal, Zara langsung merasa tenang. Dia bergegas menghapus air mata. Kemudian beranjak dari taman.


Zara menghubungi Gamal dan menanyakan dimana lelaki itu sekarang. Setelah tahu dimana tempat Gamal berada, Zara segera menyusul.


Di sisi lain, Gamal tersenyum ketika menerima kabar baik dari Zara. Kini dia sedang bersama Tirta dan Danu. Melihat-lihat bangunan yang akan menjadi tempat acara pernikahannya akan dilaksanakan.


Gamal tidak berhenti senyum-senyum sendiri. Dia sudah tidak sabar membangun rumah tangga bersama Zara.

__ADS_1


"Mal, kau sama Zara mau pakai tema apa?" tanya Danu.


Gamal tak acuh. Dia sibuk tenggelam dalam pikiran sendiri.


Melihat tingkah Gamal, Danu menyenggol Tirta dengan siku. Keduanya mentertawakan gelagat Gamal.


"Mal! Kesambet setan ya?!" tegur Tirta.


Gamal langsung menoleh. "Jangan gila deh!" tanggapnya.


"Idih! Situ sendiri yang gila. Senyum-senyum sendiri aja," sahut Danu. Dia dan Tirta mengikik bersama.


"Gimana aku nggak bahagia coba? Zara udah resmi pisah sama suaminya." Gamal mengangkat dua alisnya bersamaan.


Danu dan Tirta hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Keduanya kembali melihat-lihat sekitar.


Bersamaan dengan itu, Zara datang. Dia langsung berlari ke pelukan Gamal. Zara sedang merasa emosional.


Gamal berusaha memahami. Ia membiarkan Zara berbuat sesuka hati. Sampai wanita itu memberikan ciuman beruntun ke bibir. Zara melakukannya tanpa rasa malu.


"Kalian nggak pernah berubah. Ayo kita ke belakang, Ta!" Danu yang sedari tadi menyaksikan, ingin cepat-cepat beranjak. Dia pergi bersama Tirta ke halaman belakang.


Gamal dan Zara mengabaikan kedua temannya. Mereka justru lanjut berciuman dengan lebih intens. Zara bahkan sampai melangkah mundur. Sebab pagutan Gamal begitu menggebu.


Zara mendorong Gamal sejenak. Mencoba mengatur nafas yang mulai sulit dikontrol. Tautan bibirnya sontak terlepas dari mulut Gamal.


"Mau main kuda-kudaan sekarang?" tawar Zara.


"Gila! Di sini?" Gamal dibuat kaget.


Zara menarik sudut bibirnya ke atas. Lalu menyeret Gamal untuk mencari tempat tertutup.


..._____...


Song Of Anton ~


Hati-hati Di Jalan by Tulus


Kukira kita akan bersama. Begitu banyak yang sama. Latarmu dan latarku. Kukira takkan ada kendala. Kukira inikan mudah. Kau aku jadi kita.


Kau melanjutkan perjalananmu...

__ADS_1


Ku melanjutkan perjalananku...


*Mulai sini kita ucapkan perpisahan sama Anton ya. Karena karakternya tidak akan mengganggu lagi :)


__ADS_2