
...༻◐༺...
Cintya mengernyitkan kening, tatkala tidak melihat cincin di jari manis Gamal. Dia penasaran kenapa calon suami Selia itu tidak memakai cincin.
Belum sempat Cintya berucap, Selia bicara lebih dulu. "Ini! Aku menemukannya di meja tempat makan kita tadi," ucapnya sembari bangkit dari kursi. Dia segera memasangkan cincin ke jari manis Gamal.
"Makasih..." Gamal tidak tahu harus bagaimana. Dia terus menatap Selia dengan penuh selidik.
"Mulai dari sekarang, cincinnya jangan ditaruh sembarangan lagi ya." Cintya memberikan nasihat.
Gamal lantas hanya tersenyum kecut. Dia mengajak Selia untuk bicara empat mata. Keduanya bicara di depan ruangan Firman.
"Kau kenapa?!" timpal Gamal.
"Kenapa kau marah?! Di sini harusnya aku yang begitu!" Selia mengacungkan jari telunjuk ke wajah Gamal.
"Terus? Yang tadi itu apa?!"
"Aku nggak mau bikin ibuku sedih. Jadi untuk sementara, kita harus berpura-pura dulu kalau semuanya masih baik-baik saja," balas Selia. "Setidaknya lakukanlah ini sebagai permintaan maafmu. Kalau ayahku sudah sehat, terserah kau mau melakukan apa. Aku tidak peduli."
Gamal mengusap kasar wajahnya. Dia memang berniat akan menerima resiko apapun. Termasuk apa yang di inginkan Selia sekarang. Jadi Gamal tidak punya pilihan selain setuju.
Selia berbalik badan. Seringai tipis terukir di wajahnya.
Tidak tahan dengan sikap Selia, Gamal memilih pergi dari rumah sakit. Dia juga baru mendapat kabar, kalau rumah untuk anak-anak panti telah siap. Hanya perlu menyiapkan fasilitas serta kebutuhan tertentu.
Sementara itu, Zara sedang telentang bersama Zafran. Dia menemani sang putra bermain mainan baru.
Sedari tadi Zara hanya sibuk menatap lekat Zafran. Dia sangat senang saat mendengar perhatian Zafran kepadanya.
"Sayang, kamu sayang nggak sih sama ayah?" Zara menanyakan perihal Anton.
Zafran mengangguk yakin. "Dulunya sayang banget. Tapi sekarang udah nggak lagi. Ayah jahat sama Bunda!" ujarnya.
Senyuman seketika muncul di semburat wajah Zara. Dia perlahan memeluk Zafran dengan perasaan tulus. Sungguh, Zara sudah tidak sabar untuk membangun keluarga baru bersama Gamal. Tanggapan Zafran sekarang merupakan lampu hijau baginya.
Tidak lama kemudian, Zara dan Zafran tertidur. Mereka terlelap saat hari sudah larut malam. Keduanya bahkan tidak menyadari kedatangan Gamal.
"Zafran?" panggil Gamal seraya mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Langkahnya langsung terhenti ketika melihat Zara dan Zafran asyik tertidur.
__ADS_1
Gamal mematung di depan pintu. Senyuman merekah diwajahnya. Dia merasa tenang saat menyaksikan Zara dan Zafran memejamkan mata. Keduanya terlelap dalam damai.
Nafas dihela oleh Gamal. Dia lelah memikirkan apa yang terjadi seharian ini. Momennya bersama Zara adalah satu-satunya hal yang membahagiakan.
Gamal memutuskan ikut rebahan bersama Zara dan Zafran. Dia memilih posisi di sebelah Zara. Memeluk perempuan itu dari samping. Perlahan Gamal ikut terlelap.
Satu malam berlalu. Zara menjadi orang yang pertama bangun. Dia mengerjapkan mata berulang kali. Wajah Gamal yang tampak begitu dekat, membuatnya harus membuka mata lebar-lebar.
Belum sampai di sana, tubuh Zara seolah menjadi guling untuk Gamal dan Zafran sekaligus. Posisinya benar-benar dihimpit oleh dua orang kesayangannya tersebut.
Zara tidak bisa menahan diri untuk tidak tergelak kecil. Sepercik momen sederhana itu memberikan kebahagiaan tak terkira. Kebahagiaan yang telah lama dicari Zara.
Ketika Zara menoleh ke kanan, dia dapat melihat wajah tampan Gamal. Sementara di sebelah kirinya, Zara bisa menyaksikan wajah polos Zafran yang tak kalah tampan dari Gamal.
'Begini ya rasanya terjebak dalam kebahagiaan. Tubuhku pegal, tapi hatiku rasanya bahagia banget,' batin Zara sambil senyum-senyum sendiri.
Tanpa sepengetahuan Zara, Gamal terbangun. Dia berhasil memergoki Zara tersenyum sendiri. Alhasil muncul niat jahil dalam diri pria itu.
Gamal mengeratkan pelukannya. Sengaja merebut Zara dari dekapan Zafran.
Tanpa diduga, Zafran mempertahankan pelukannya. Dia seolah tahu kalau sang ibu sedang direbut dari pelukannya.
"Jangan sakiti Bundaku!" pekik Zafran. Dia berucap dalam keadaan masih memejamkan mata.
Gamal sontak kaget dengan teriakan Zafran. Dia akhirnya mengalah dan reflek merubah posisi menjadi duduk. Gamal tidak terima Zafran menganggap dirinya akan menyakiti Zara.
"Om tidak--"
"Pssst..." Zara langsung menutup mulut Gamal dengan jari telunjuk. Dia melepas pelukan Zafran dengan hati-hati. Lalu berbisik kepada Gamal, "Zafran mengigau..."
Gamal mengangguk paham. Belum sempat dia bicara, Zara mendadak mengecup singkat bibirnya.
Mata Gamal membulat. Dia tidak bisa menbendung senyuman lebar. Gamal dan Zara saling bertukar pandang. Tatapan penuh cinta terpancar dari manik hitam mereka masing-masing.
Gamal menyatukan jidatnya dengan dahi Zara. Menggenggan jari-jemari wanita itu dengan lembut.
"Ra, mau nikah sama aku nggak?" tanya Gamal dengan nada suara pelan. Dia duduk tegak karena serius dengan perkataannya.
Zara tersenyum lembut. "Mau, tapi gimana caranya?" balasnya.
__ADS_1
"Itulah masalahnya. Kita bisa nikah siri nggak?" Gamal serius dengan ucapannya.
"Masalahnya aku masih belum urus perceraianku sama Anton. Kalau nekat nikah sama kamu, aku poligami dong," tanggap Zara.
"Nggak apa-apa lah. Kan bentar lagi kamu mau cerain Anton?"
"Sabar dulu, sayang... kita lakukan semuanya secara bertahap. Ngomong-ngomong aku sudah memberitahukan tentangmu pada Zafran," ujar Zara. Membuat Gamal tidak sabar mendengar cerita selanjutnya.
"Gimana respon dia?" tanya Gamal.
Zara segera menceritakan bagaimana respon Zafran. Walau anak itu sepenuhnya tak mengerti, tetapi setidaknya Zara tahu kalau Zafran lebih memilihnya dibanding Anton. Jadi menurutnya Gamal punya kesempatan besar.
Gamal menoleh ke arah Zafran. Kemudian mengusap puncak kepala anak kandungnya itu.
"Aku akan menghubungi pengacara terpercayaku. Dengan begitu, surat perceraianmu dapat di urus secepat mungkin," cetus Gamal. Dia bangkit dari kasur. Meraih ponsel dari atas nakas.
"Baiklah." Zara setuju.
Gamal beranjak keluar kamar. Dia sibuk mengurus segala hal yang berkaitan untuk masa depannya. Sementara Zara, bergegas membangunkan Zafran. Anak itu harus bersiap untuk sekolah.
Zara dan Gamal mengantarkan Zafran ke sekolah bersama-sama. Mereka sudah mulai merasa seperti keluarga.
Setelah mengantar Zafran, Gamal dan Zara pergi ke perusahaan. Karena hubungan keduanya masih harus disembunyikan, Zara terpaksa meminta turun di pinggir jalan.
"Yakin tidak apa-apa? Menurutku ini terlalu jauh. Harusnya kau turun di dekat kedai Pak Tio!" Gamal enggan membiarkan Zara berjalan seorang diri di trotoar.
"Ya ampun. Jangan lebay! Aku udah sering jalan sendiri kali!" Zara mencoba memaklumi sikap berlebihan Gamal. Lalu beranjak pergi begitu saja.
Sekarang Gamal terpaku memandangi Zara melenggang maju. Entah kenapa dia sudah merasakan rindu, meski baru beberapa detik berpisah.
Puas menatap Zara yang kian menjauh, Gamal menjalankan mobilnya. Dia tidak lupa menekan klakson saat mendahului Zara.
Sesampainya di kantor, Gamal langsung disibukkan dengan banyaknya deadline yang menumpuk. Padahal dia hanya cuti sekitar dua hari.
Kala sedang sibuk mengurus laporan-laporang di meja, Elena mendadak masuk. Gadis itu terlihat gelagapan.
"Kau kenapa?!" tanya Gamal.
"Maaf, Tuan. Aku lupa memberitahu kalau ada jadwal meeting dengan PT. Reynald jam delapan pagi tadi. Dan aku baru menerima kabar, kalau mereka membatalkan kerjasama dengan kita..." Elena memberitahu dengan ekspresi masam.
__ADS_1
Mulut Gamal menganga lebar. Dia mengusap wajah dengan perasaan kesal. Setahunya PT. Reynald adalah perusahaan terbaik yang telah bersedia untuk memberi kesempatan kerjasama. Namun sekarang, pupus sudah kesempatan itu.