Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 62 - Berkibarnya Bendera Permusuhan


__ADS_3

...༻◐༺...


Gamal menatap tak percaya. Apalagi Selia dengan gamblangnya mengukir senyuman. Sekarang Gamal tahu kenapa dirinya diterima bekerja. Ternyata semuanya karena campur tangan Selia.


"Apa kau bercanda?!" entah kenapa Gamal merasa begitu jengkel melihat Selia. Dia merasa dipermainkan oleh gadis itu. Kebahagiaannya seketika sirna.


"Sopankah kau bicara begitu kepada direktur?" balas Selia. Dia melenggang ke hadapan Gamal. Melipat tangannya ke dada dengan angkuh.


"Terserah apa katamu. Tapi jika kau direkturnya, aku akan langsung mengundurkan diri." Gamal mencoba bergegas pergi. Akan tetapi Selia dengan cepat menghentikan. Ia meraih lengan Gamal sekuat tenaga.


"Bukankah harusnya kau berterima kasih? Apa kau tidak lelah berjalan tak tentu arah di jalanan? Aku saja lelah melihatmu begitu!" tukas Selia.


"Dengar! Andai aku ingin mendapat pekerjaan dengan bantuan koneksi, aku sudah melakukannya dari awal. Kau pikir aku tidak punya teman? Jika aku mau, mungkin aku sudah minta bantuan Raffi dan yang lain!" Gamal benar-benar lelah terhadap sikap Selia. Akibat hal itu, rasa mualnya kembali menyerang. Gamal ingin cepat-cepat keluar.


Untuk kali kedua, Selia menahan kepergian Gamal. Ia memaksa lelaki itu berbalik menghadapnya. Lalu memberikan ciuman di bibir tanpa permisi. Sungguh disayangkan, Selia melakukannya bukan di waktu yang tepat.


Karena ingin muntah, Gamal sigap mendorong Selia. Hingga dia menumpahkan cairan dari mulutnya. Semburan tersebut sontak mengenai separuh wajah Selia.


"Aaaarkkhh!!!" Selia berteriak jijik. Dia bahkan menghentakkan dua kakinya berulang kali.


Sementara Gamal buru-buru meninggalkan Selia. Selain masih merasa mual, dia juga sudak muak berurusan dengan Selia.


Para karyawan berdatangan untuk memeriksa Selia. Mereka berusaha membantu sebisa mungkin.


Salah satu karyawan meminjamkan Selia baju ganti. Gadis itu sedang berada di toilet. Menatap cermin dengan tatapan kosong. Sekarang perasaan sukanya kepada Gamal langsung dikuasai oleh dendam dan kebencian.


Selia memang bukan tipe gadis yang menerima kekalahan dengan mudah. Itu sudah terlihat dari sikap memimpinnya saat menjalani hubungan dengan Gamal. Apalagi jika hatinya terlanjur sakit dan terhina, maka tekad Selia akan semakin menggebu.

__ADS_1


"Jika aku tidak bisa mengalahkan Zara, bagaimana kalau aku hancurkan saja semuanya. Aku hanya perlu seorang wartawan sekarang." Sebuah ide cemerlang terlintas dalam benak Selia.


...***...


Afrijal baru mendapat pemberitahuan kalau semua perusahaan dari keluarga Baskara telah menarik diri. Mereka berhenti bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga Laksana.


Keluarga Baskara sendiri merupakan kubu dari pihak Selia. Setelah apa yang dilakukan Gamal, mereka menghindari keluarga Laksana. Hubungan yang awalnya harmonis berubah menjadi permusuhan. Apalagi keadaan Firman masih belum sepenuhnya sembuh.


Baik keluarga Laksana maupun Baskara, keduanya merupakan keluarga pengusaha terbesar dibidang properti bangunan. Dan Selia akan memanfaatkan nama pamor tersebut untuk mengganggu Gamal sekaligus mendapat keuntungan sendiri.


Selia baru menghubungi seorang wartawan. Dia yang awalnya ingin merahasiakan segalanya dari media, kini berubah piliran. Selia menceritakan apa yang dia alami. Bahwasanya Gamal telah lama berselingkuh dengan wanita yang sudah bersuami.


Selia yang mempunyai banyak pengikut di media sosial, memanfaatkan hal itu untuk meluapkan kekesalan. Dia mencurahkan hati lewat tulisan. Sehingga semua orang menganggap kalau Selia merupakan gadis yang malang.


Parahnya ayah dan ibu Selia mendukung pernyataan putri mereka. Sehingga opini mengenai keluarga Laksana semakin menjadi-jadi. Bahkan terkesan dilebih-lebihkan.


Tidak butuh waktu lama, artikel tentang perselingkuhan Gamal tersebar di internet. Bukan hanya itu saja, berita tidak benar tentang bisnis keluarga Laksana bertebaran dimana-mana. Memberi dampak negatif pada perusahaan utama Afrijal yang bernama PT. Laksana.


Akibat sebuah berita, nama keluarga Laksana jadi kena imbas. Saham perusahaan juga semakin menurun.


Afrijal tidak tahu harus bagaimana. Sudah pusing memikirkan perihal warisan, sekarang masalah pekerjaan menjadi tambahan beban. Terlebih dia sendirian sekarang.


"A-apa yang harus aku lakukan, Tuan?" tanya Hendra dengan terbata-bata. Dia tahu betapa mengerikannya Afrijal saat marah.


"Cari seseorang untuk menghilangkan semua artikel itu!" titah Afrijal tanpa berpikir panjang.


"Bu-bukankah itu sia-sia? Selia sudah membeberkannya melalui cuitannya di media sosial." Hendra memberikan pendapat.

__ADS_1


"Lakukan saja!!" tegas Afrijal. Membuat Hendra bergegas melaksanakan perintahnya.


Tania menyaksikan Afrijal dari kejauhan. Dia juga baru mengetahui berita tentang Gamal di internet. Tania segera menghampiri Afrijal.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang, hah? Nama baik anak kita sudah tercoreng. Tidak! Bukan saja dia, tapi keluarga kita juga. Jadi tidak ada gunanya kau terus mempertahankan egomu! Putra dan cucu kita pasti lebih menderita sekarang!" Tania mencoba meyakinkan sang suami. Air mata perlahan berderai di pipinya. Tania duduk sejenak untuk menenangkan diri. Ia mengisakkan tangis.


Afrijal hanya terpaku ke arah jendela. Pikirannya benar-benar kalut. Terlebih semua anak-anaknya tidak ada di sisinya. Afrijal tidak bisa membantah, jika dibanding dua kakak perempuannya, Gamal memang lebih berbakti dan setia kepada orang tua.


Walau Gamal sempat kehilangan arah saat sekolah, tetapi segalanya berubah ketika Afrijal dan Tania memberikan perhatian. Gamal merupakan anak baik jika dibimbing dengan baik sejak awal.


"Lagi pula... apa kau tidak pernah kesepian? Kita sudah tua. Kumohon... maafkan Gamal dan terimalah Zara, Pah... aku sangat mencemaskan mereka sekarang," mohon Tania di sela tangisnya. Karena tidak kunjung ditanggapi Afrijal, dia beranjak masuk ke kamar.


Mendengar ucapan Tania, Afrijal sedikit terpengaruh. Dia jadi penasaran bagaimana kabar Gamal setelah dirinya menyuruh Hendra berhenti mencari tahu.


Afrijal mengambil ponsel dari meja. Dia menghubungi Hendra yang terlanjur pergi.


"Cepat cari tahu tempat tinggal Gamal sekarang!" ujar Afrijal. Dia hanya perlu menunggu.


Di waktu yang sama, Gamal dan Zara sedang duduk berdampingan di ubin ruang tengah. Kebetulan Zafran masih sekolah. Sedangkan Gamal enggan pergi keluar karena artikel yang beredar.


"Maafkan aku... ini semua karena aku..." Zara yang sedari tadi menahan air mata, akhirnya menangis. Dia menyalahkan dirinya sendiri.


"Sayang, jangan ngomong gitu..." Gamal buru-buru memeluk Zara. Dia sama kalutnya seperti sang istri. Mengingat dirinya juga masih belum mendapat pekerjaan tetap. Selain itu persediaan uang yang mereka miliki juga kian menipis.


"Ini salahku... harusnya aku tidak mengajakmu menjalani hubungan rahasia... harusnya aku tetap jadi cleaning service di perusahaanmu..." Zara masih saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Kau salah! Jika kau tetap begitu, maka otomatis Anton akan terus menyiksamu. Ayolah, sayang... aku tidak mau kau menyesali apa yang sudah kita pilih sekarang." Gamal melepas pelukannya. Lalu memegangi wajah Zara. Mengusap cairan bening yang berjatuhan di pipi istrinya itu.

__ADS_1


"Ketahuilah... kita memang ditakdirkan bersama. Hanya saja, Tuhan seolah menghukum dengan cara mempertemukan kita di waktu yang salah. Ini akan baik-baik saja, aku janji... lagi pula berita seperti itu lama-kelamaan akan dilupakan orang." Gamal menghela nafas berat. Dia menempelkan jidatnya ke dahi Zara.


"Semuanya akan baik-baik saja." Gamal mengucapkan kalimat tersebut berulangkali. Tidak hanya untuk Zara, tetapi juga dirinya sendiri.


__ADS_2