
...༻◐༺...
Setelah memasukkan hadiah Raffi, Zara memeriksa hadiah dari Danu. Mulutnya langsung mengembangkan senyuman puas.
"Nah! Ini baru dibutuhkan banget. Kayaknya yang pintar di sini Danu deh," ungkap Zara sembari meraih hadiah dari Danu. Yaitu berupa ember besar yang berisi segala peralatan dapur. Dari mulai kompor, piring, panci, wajan dan banyak lagi.
"Kau benar. Ini dibutuhkan banget!" Gamal segera turun tangan untuk membantu Zara.
Kini semua barang sudah dimasukkan ke dalam rumah. Dua kamar yang ada sudah di isi ranjang semua. Sedangkan ranjang ketiga dibiarkan mengisi ruang tengah.
Gamal sibuk berbenah selagi Zafran bermain sendirian. Putranya tersebut bahkan telah bergabung dengan teman baru di halaman depan.
Sementara Zara bertugas membuat hidangan untuk makan malam. Dia menggunakan seluruh peralatan yang diberikan Danu.
Tidak terasa waktu berlalu. Siang berubah menjadi malam. Gamal dan keluarga kecilnya tidur lebih awal karena kelelahan.
Di luar terdengar suara petir yang menggema. Gamal dibuat terbangun olehnya. Ia segera menengok jam tangan yang diletakkannya dekat bantal.
Waktu menunjukkan jam sebelas malam. Hujan mulai turun disertai petir yang sesekali menyambar.
Gamal mencoba kembali tidur. Ia menghimpitkan diri ke badan Zafran. Kebetulan anak itu menempati posisi tengah di antara dirinya dan Zara.
Hujan turun dengan deras. Sangat deras hingga Gamal merasakan ada air menghantam wajahnya.
Gamal otomatis membuka mata kembali. Dia langsung melihat ke atas pelafon. Ternyata atap rumahnya bocor.
"Astaga! Pantas saja rumahnya murah," keluh Gamal sembari beringsut ke ujung kasur. Dia mengambil wadah kecil untuk menanai air yang berjatuhan ke ranjang.
Usai mengatasi kebocoran air, Gamal berusaha kembali tidur. Dia mengambil posisi ke samping Zara. Memeluk istrinya dengan lembut.
Saat Gamal hendak menutup mata, atensinya mendadak tertuju ke atas pelafon. Dia menyaksikan ada kebocoran kedua. Airnya sedari tadi mengenai rambut dan bantal Zara.
Dengan cepat Gamal kembali ke dapur. Dia mengambil ember kecil lainnya.
Gamal memindahkan Zara untuk menjauh dari tetesan air. Lalu meletakkan ember yang dia ambil ke tempat jatuhnya air.
Khawatir kebocoran akan semakin banyak, Gamal akhirnya memilih untuk tetap terjaga. Dia terus menatap dua orang kesayangan yang masih tertidur.
"Huhh... syukurlah mereka tidak terbangun. Biar aku saja yang menderita. Aku sudah meninggalkan kalian berdua tujuh tahun lamanya..." gumam Gamal.
__ADS_1
Lama-kelamaan, tetesan air kian banyak. Gamal jadi gelagapan sendiri. Dia berupaya keras untuk membuat Zara dan Zafran tidur dengan nyenyak.
Sungguh, Gamal tidak pernah seperti itu seumur hidupnya. Ia selalu tidur di kamar mewah. Sekarang segalanya telah berubah.
Walaupun begitu, Gamal tidak mengeluh sama sekali. Dia merasa pantas mendapatkannya. Dirinya malah bertekad ingin bekerja lebih keras.
"Besok aku akan mencari pekerjaan dan dapat uang banyak-banyak. Supaya Zara dan Zafran bisa hidup enak!" ucap Gamal. Dia sudah berada di ruang tengah. Rupanya di sana juga mengalami banyak kebocoran.
"Hidupku enak kalau bersamamu." Suara Zara mengagetkan Gamal. Entah sejak kapan dia terbangun dari tidur. Yang jelas, Zara sukses mendengar gumaman Gamal barusan.
Gamal sontak menoleh. "Loh kok bangun? Tidur lagi gih. Biar aku yang urus semua ini," ujarnya seraya melangkah lebih dekat.
"Nggak, aku mau bantuin kesayangan aja," sahut Zara sambil menggeser ember kecil yang luput dari tetesan air hujan.
Gamal terenyuh. Ia senang Zara memilih untuk menemaninya.
Bukannya semakin reda, hujan malah tambah deras. Petir juga kian menggema. Air yang bocor jadi semakin banyak.
"Bundaa..." Zafran akhirnya ikut terbangun. Dia mengusap-usap bajunya yang basah akibat tetesan air. Hingga dia mulai tersadar. Zafran perlahan mengedarkan pandangan.
"Sini, sayang..." Zara menuntun Zafran mendekat.
"Rumah kita kok kehujanan?" ujar Zafran yang masih celingak-celinguk melihat sekeliling.
Zafran berlari ke pelukan ibunya. Di sana Zara segera membuka karpet kecil. Lalu meletakkan bantal ke pangkuannya. Membiarkan Zafran ditidurkan di sana.
"Sayang, kamu juga harus tidur. Kau besok akan sibuk mencari kerja kan?" cetus Zara. Mengajak sang suami untuk bergabung bersamanya.
"Nanti dulu ya. Aku bersihin lantai yang basah dulu." Gamal masih saja sibuk sendiri.
"Besok sajalah bersihinnya," saran Zara.
Mengetahui Gamal tidak mau ikut, Zafran membuka mata. Dia menatap lelaki dewasa yang mempunyai wajah hampir serupa dengannya itu.
"Ayah, ayo ikut sama aku dan Bunda ke sini..." pinta Zafran. Dia akhirnya menyebutkan kata ayah untuk Gamal. Hal tersebut tentu membuat Gamal berhenti dari kegiatan.
Gamal reflek menatap Zara. Istrinya itu langsung mengangguk. Seolah menuntut Gamal untuk segera bergabung.
"Baiklah, kalau itu mau Zafran." Gamal kegirangan. Dia dengan senang hati ikut duduk.
__ADS_1
Zafran tersenyum senang. Dia kembali memejamkan matanya.
Zara mendelik ke arah Gamal. Dahinya berkerut saat Gamal duduk ke sebelah.
"Kenapa duduk? Tidur aja bareng Zafran. Biar aku saja yang berjaga. Kita gantian biar adil," kata Zara.
"Enggak. Kau aja yang tidur sama Zafran," sahut Gamal. Dia memaksa kepala Zara menyandar ke pundaknya.
Zara tersenyum tulus. Ia berhenti menyandar ke pundak Gamal. Lalu memegangi dagu sang suami. Membuat wajah Gamal menghadapnya.
Perlahan Zara mengecup bibir Gamal dengan lembut. Mereka saling berciuman. Tanpa memikirkan Zafran yang entah sudah tertidur atau tidak.
...***...
Jika hujan turun di malam hari, maka pagi yang cerah akan menyapa. Selia melangkah cepat dengan sepatu haknya. Ia mengunjungi lapas kepolisian. Selia baru saja mendapat kabar kalau Anton sedang berada di penjara.
Setelah mendapat perizinan dari polisi, Selia dipersilahkan menemui Anton. Wajahnya terlihat terus cemberut. Seakan kemarahannya belum bisa pudar.
"Kak Anton! Bagaimana Kakak bisa berakhir di sini?" tanya Selia. Bersikap seakan cemas.
"Aku menebus kesalahanku, Sel. Ada perlu apa?" Anton menjawab datar.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Aku baru saja tahu kalau ternyata wanita yang selama ini berhubungan dengan Gamal adalah istrimu," jelas Selia sambil menatap iba Anton.
"Mantan istri. Kami baru saja bercerai." Anton mengoreksi ucapan Selia yang menurutnya salah.
"A-apa?" Selia merasa tak percaya.
"Aku memang pantas mendapatkan semua ini. Aku bukan suami yang baik untuk Zara. Aku sepenuhnya--"
"Tidak! Kenapa Kak Anton ngomong begitu?! Harusnya Zara dan Gamal yang pantas berada di posisi kita! Mereka tidak pantas bahagia!" potong Selia. Kekesalannya mulai dominan.
"Jika kau benar-benar mencintai Gamal, seharusnya kau merelakannya, Sel." Anton mencoba menasihati.
"Justru karena aku membenci Gamal, aku tidak rela dia bahagia. Aku yakin dari lubuk hati terdalam, pasti Kak Anton membenci Zara!" Selia melebarkan kelopak matanya.
"Tidak! Aku sama sekali tidak membenci Zara!" bantah Anton tegas.
"Jangan bohong, Kak! Kenapa Kak Anton jadi lemah gini?"
__ADS_1
"Jangan usik kehidupan Zara dan Zafran. Biarkan saja mereka," ujar Anton dengan tatapan nanar.
Selia membalas tatapan Anton dengan binar kecewa. Dia berucap, "Aku tidak bisa berjanji. Mantan istrimu sudah membuatku malu dan sakit hati."