Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 29 - Paksaan Anton


__ADS_3

...༻◐༺...


Sebelum Zara datang, Gamal sudah lebih dulu tiba di kamar nomor 20. Dia duduk sejenak. Menghadap ke arah jendela yang menampakkan bulir-bulir air hujan.


Sebuah panggilan dari Raffi tiba-tiba masuk. Gamal bergegas mengangkat panggilan tersebut.


"Hasil tes DNA sudah keluar! Zafran terbukti sebagai anak kandungmu!" seru Raffi dari seberang telepon.


Gamal sama sekali tidak kaget mendengar kabar dari Raffi. Kini dia punya bukti kuat. Dimana Zara tidak akan mampu lagi membantah.


"Thanks, Raf. Untuk sementara kirimkan saja aku buktinya lewat foto. Nanti aku akan mengambil hasilnya saat kembali pulang," ujar Gamal.


"Emang kau ada dimana?" tanya Raffi.


"Di luar kota. Aku dan Selia terjebak banjir."


Tok!


Tok!


Tok!


Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu. Gamal yakin pelakunya adalah Zara. Dia segera menghentikan obrolan dengan Raffi. Lalu membukakan pintu untuk Zara. Gadis itu langsung melangkah masuk.


Gamal membalikkan badan. Ia kembali melangkah ke depan jendela. Dirinya tengah menunggu foto hasil tes DNA dari Raffi.


"Kita sebaiknya nggak usah lama-lama di sini. Aku takut salah satu dari kita akan terkena masalah," cetus Zara sembari berderap mendatangi Gamal. Dia perlahan memeluk pria itu dari belakang. Memejamkan mata seakan berada di tempat ternyaman.


"Akhirnya..." lirih Zara. Dia mengeratkan dekapannya.


Bertepatan dengan itu, foto yang di inginkan Gamal sudah dikirimkan oleh Raffi. Dia perlahan melepas pelukan Zara. Kemudian berbalik menghadap gadis itu.


Zara menatap penuh tanya. Dia tahu kalau Gamal ingin membicarakan sesuatu yang serius.


"Kamu bisa jelaskan ini?" Gamal memperlihatkan foto hasil tes DNA kiriman dari Raffi.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Zara. Dia tentu tidak langsung mengetahui maksud Gamal.


"Karena kau tidak mengaku, aku diam-diam melakukan tes DNA dengan Zafran. Hasil tes membuktikan kalau dia jelas adalah anak kandungku. Sekarang aku ingin penjelasan darimu!" tukas Gamal. Dia tidak sabar menyaksikan bagaimana tanggapan gadis di hadapannya.


"A-aku..." Zara bingung harus bicara apa. Atensinya terpaku ke hasil tes DNA yang ada di layar ponsel Gamal.


"Kenapa kamu nggak pernah kasih tahu aku, Ra? Kenapa?!!! Kamu tega tau nggak!" Emosi Gamal memuncak. Menurutnya Zara terlampau tega. Memisahkan dirinya dengan Zafran selama kurun waktu tujuh tahun.


"Aku punya alasan, Mal!!" sahut Zara. Dia akhirnya membalas tatapan Gamal.


"Apa?!! Coba kasih tahu aku alasannya, hah!" desak Gamal sembari mengguncang histeris pundak Zara.


"Apapun alasannya, yang jelas kita akan sulit untuk bersama. Suamiku, ayahmu... mereka tidak akan membiarkan hubungan kita berjalan mulus." Zara begitu pesimis.


"Semuanya tidak akan terjadi jika kau takut untuk mencoba! Apa kau mau terus-terusan hidup bersama suamimu yang kasar itu?! Selamanya?! Kau yakin?!" Gamal menimpali Zara habis-habisan.


"Aku nggak tahu! Beri aku waktu buat mikir! Kalau kau begini, kau sama aja kayak Anton!" sembur Zara. Matanya mulai berembun. Ia bernafas lebih cepat karena mencoba menahan emosi yang memuncak.


"Aku begini karena serius sama kamu!!" balas Gamal. Kali ini dia menangkup wajah Zara. "Plis, Ra... kita bisa perjuangkan hubungan ini sama-sama. Aku nggak bisa melakukannya kalau hanya sendiri..." tuturnya. Gamal meredam amarah karena tak tega melihat Zara menangis.


"Tapi kita tidak akan tenang jika terus sembunyi begini," tanggap Gamal. Dia mencoba meyakinkan lagi.


"Aku tahu... karena itulah aku berniat mengakhirinya. Mungkin itu yang terbaik." Zara melangkah mundur. Sengaja menjauh dari Gamal.


"Apa?!" Gamal terperangah tak percaya. Dia tidak menyangka Zara lebih memilih mengakhiri segalanya. Gadis itu tidak jadi menghabiskan waktu bersama Gamal. Dia berjalan cepat menuju pintu keluar.


"Aku akan tetap menunggu! Aku yakin kau akan berubah pikiran secepatnya! Lelaki seperti Anton tidak pantas bersamamu! Dia tidak pantas menjadi ayahnya Zafran. Kau tahu itu!" ucap Gamal. Tepat sebelum Zara keluar dari kamar. Ia terdiam ketika pintu tertutup rapat.


Kesenangan yang dikira akan terjadi, berubah menjadi kekalutan. Zara merasa sesak saat memikirkan nasibnya dan Zafran. Dia sebenarnya setuju dengan pendapat Gamal. Anton memang tidak pantas menjadi ayahnya Zafran. Tidak akan pernah!


Zara termangu di dalam lift. Tatapannya tampak kosong, tetapi tidak pikirannya. Kala pintu lift terbuka, Zara segera melangkah keluar. Dia beranjak dari hotel untuk membeli makanan yang di inginkan Anton.


Selang sekian menit, Zara kembali ke kamar dimana Anton sedang berada. Sang suami terlihat sudah bangun dari tidur. Kebetulan Anton sedang mengenakan celana pendek. Karena sering pergi jauh dan berkelahi, dia memiliki tubuh yang cukup atletis. Namun sama sekali tidak menggoda bagi Zara. Terlebih Anton terlalu sering bertindak kasar.


"Kau masih datang bulan?" tanya Anton.

__ADS_1


"Masih." Zara menjawab singkat. "Ini, aku sudah belikan mie ayam untukmu," sambungnya. Berusaha merubah topik pembicaraan.


"Simpan saja! Aku ingin berurusan denganmu dulu." Anton bergerak mendekati Zara. Dia membuat sang istri duduk ke kasur.


"Ma-mas, kan aku sudah bilang kalau aku sedang datang bulan!" Zara memperingatkan dengan tergagap.


"Bagian atasnya tidak apa-apa. Aku sudah tidak tahan. Kau harus melakukan kewajibanmu sebagai istri." Tangan Anton mulai bergerak untuk melepas dress Zara. Hingga hanya menyisakan bra dan celana pendek.


"Mas! Aku nggak mau!" Zara berupaya keras memberontak. Tetapi Anton justru melepas bra Zara dengan beringas. Kemudian memaksa Zara telentang di kasur.


"Mas!!!" pekik Zara. Memancarkan tatapan memohon yang cukup dalam.


Seperti biasa, Anton tak peduli. Dia hanya sibuk menikmati tubuh Zara dengan penuh gairah.


Zara membuang muka dari Anton. Sekarang dia hanya bisa merengek. Sentuhan yang terasa seperti neraka harus diterimanya lagi. Sungguh, Zara tidak sanggup jika harus begitu selamanya.


Terlintaslah dalam benak Zara tentang pembicaraannya tadi dengan Gamal. Dia tidak bisa terus merahasiakan masalah seorang diri. Zara telah berada di titik jenuh. Selama tujuh tahun membina rumah tangga, tidak ada perubahan sama sekali dari Anton. Lelaki itu tidak pernah sadar dari sikap bejatnya.


Setelah puas mencumbu, Anton memaksa Zara untuk membantunya memuaskan hasrat. Dia menyuruh Zara untuk memanjakan alat vitalnya yang sudah menegang.


"Cepat lakukan! Jangan sampai aku memukulkan kepalamu ke dinding! Dan berhentilah menangis, jala*ng!!" ancam Anton.


Bukannya menuruti Anton, Zara bergegas mengenakan pakaian. Dia berhenti menangis dan menunjukkan raut wajah yang marah.


"Hei! Kau mau kemana, hah?!" Anton mencengkeram rambut Zara. Menyebabkan kepala gadis itu sontak mendongak.


"Cuh! Aku bilang, aku nggak mau!!" hardik Zara. Dia akhirnya mengambil langkah berani. Zara bahkan menyempatkan diri meludahi wajah Anton.


"Aaargghh!" Anton sontak marah besar. Ia mendorong Zara ke arah tembok. Lalu beranjak masuk ke kamar mandi. Anton tidak punya pilihan selain menyelesaikan aktifitas intim seorang diri.


Zara jatuh terduduk di lantai. Dia merasakan ada sesuatu yang basah di bagian kepala. Zara perlahan menunduk. Saat itulah dia dapat melihat tetesan darah berjatuhan ke lantai. Tangisan gadis itu akhirnya pecah kembali.


Selama tujuh tahun bersama Anton, baru sekarang Zara mendapatkan luka di kepala.


"Gamal... Zafran..." panggil Zara di sela-sela tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2