Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 67 - Ide Zara


__ADS_3

...༻◐༺...


Di pagi hari, semua orang berkumpul di meja makan. Mereka sedang menikmati hidangan yang kebetulan dibuat oleh Zara.


Afrijal sedari tadi hanya menatap makanannya. Dia lebih memilih menikmati kopi yang dibuatkan Bi Nur. Afrijal melirik Zara dengan perasaan kesal. Apalagi saat ingatannya terus menyangkut pautkan kekrisisan perusahaan dengan wanita tersebut.


"Aku benar-benar bingung dengan nasib perusahaan, Pah. Berita yang disebarkan Selia sangat berdampak besar," ujar Gamal. Lalu menyesap kopi buatan istrinya.


"Aku tahu. Mungkin lebih baik kita diamkan saja beberapa waktu. Kita bekerja seperti biasa dan tidak melakukan apapun," sahut Afrijal datar.


Zara mendengar obrolan di antara Gamal dan Afrijal. Bola matanya lantas bergerak menatap dua lelaki itu secara bergantian. Dia mengulum bibirnya sebentar. Bersiap untuk angkat suara.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" ungkap Zara. Semua orang otomatis menatap ke arahnya.


"Kenapa, sayang?" tanya Gamal.


"Apa kelebihan perusahaan milik keluarga Baskara?" Zara justru berbalik tanya.


"Semua pembeli properti bangunan kebanyakan dimiliki oleh orang-orang kaya. Parahnya, karena berita yang menyebar, sebagian calon pembeli kita beralih ke perusahaan mereka. Sasaran perusahaan kita jadi berkurang. Banyak gedung yang terbengkalai," jelas Gamal.


Dahi Zara berkerut. Ia berucap, "Bukannya aku mau ikut campur dengan urusan perusahaan. Tapi bagaimana kalau kalian merubah sasaran pembelinya? Di Indonesia lebih banyak orang kelas menengah dari pada orang kaya. Bagaimana kalau kalian merubah sasaran saja? Merubah harga bangunan lebih murah dan sesuai untuk mereka."


Afrijal dan Gamal reflek bertukar pandang. Mereka tidak pernah terpikir dengan apa yang di usulkan Zara tersebut. Sebab kebanyakan properti bangunan, memang ditujukan untuk orang-orang kaya. Contohnya seperti apartemen dan komplek perumahan elit. Kebetulan juga keluarga Baskara memiliki sasaran yang sama.


"Itu agak susah dilakukan. Karena fasilitas bangunan yang ada memang ditujukan untuk orang-orang kaya. Karena itulah perusahaan Baskara menjadi saingan terberat kita," jawab Gamal.


"Aku hanya mengusulkan pendapatku. Aku hanya merasa tidak adil semuanya didominasi oleh orang-orang kaya." Zara tersenyum canggung. Lalu segera membantu Bi Nur membereskan piring-piring kotor.


Zara menundukkan kepala. Dia tahu Afrijal masih membencinya. Zara dapat mengetahuinya karena sang mertua tak pernah menyentuh makanan buatannya.


"Sudahlah, Ra. Biarkan Bi Nur melakukan pekerjaannya." Tania mencoba menghentikan Zara. Namun menantunya itu lebih memilih membantu Bi Nur.

__ADS_1


Akibat perkataan Zara tadi, Afrijal jadi berpikir keras. Perkataan menantunya tersebut ada benarnya.


"Pah? Papah mikirin usulan Zara tadi?" Gamal berhasil membuyarkan lamunan Afrijal.


"Aku pikir tidak ada salahnya kita mencoba," tanggap Afrijal.


"Tapi kalau kita merubah sasaran pembeli, maka otomatis kita juga harus melakukan renovasi pada properti bangunan kita."


"Hanya sedikit. Apa salahnya mencoba. Setelah dipikir-pikir, perkataan istrimu ada benarnya juga. Aku juga terpikir mencari pembeli dan penyewa untuk properti bangunan kita nanti. Aku yakin, orang-orang kelas menengah lebih memilih kebutuhan mereka dari pada mementingkan berita di internet." Afrijal merasakan sepercik harapan.


"Baiklah kalau begitu." Gamal tersenyum cerah. Dia perlahan melirik ke arah Zara yang tengah sibuk menyiapkan buah pencuci mulut.


Afrijal dan Gamal akhirnya mencoba merealisasikan ide yang diberikan Zara. Mereka melakukan renovasi ke beberapa bangunan. Lalu memasarkannya dengan harga yang disesuaikan dengan orang-orang kelas menengah.


Persiapan dilakukan memakan waktu sekitar setengah bulan lebih. Gamal juga tidak lupa sesekali mencari informasi terkait perusahaan milik keluarga Baskara. Akibat mendapat kesuksesan besar, perusahaan mereka menaikkan harga dan fasilitas properti bangunan.


"Mentang-mentang punya pelanggan orang kaya. Jadi mereka merasa tenang bisa menaikkan harga setinggi itu," gumam Gamal. Ia menarik sudut bibirnya ke atas.


Afrijal dan Gamal bahkan sesekali turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan. Setelah semuanya rampung, mereka hanya perlu menyerahkan semuanya kepada tim pemasaran perusahaan.


...***...


Satu bulan berlalu. Afrijal tiba-tiba menghubungi Zara dan meminta untuk bertemu.


Zara sontak merasa kaget. Dia sekarang sedang ada di salon bersama Elsa. Dirinya ingin buru-buru pergi.


"Kau mau kemana? Kita belum selesai kan?" tanya Elsa sembari mengernyitkan kening.


"Papahnya Gamal pengen ketemu sama aku sekarang," sahut Zara seraya merapikan pakaian.


"Hah? Yang bener? Kau nggak buat kesalahan apa-apa kan?" Elsa merasa cemas. Sebab Zara sudah menceritakan kebencian Afrijal terhadapnya.

__ADS_1


"Aku nggak tahu." Zara jadi ragu untuk pergi.


"Ya sudah, temuin aja dulu. Nggak ada salahnya kan?" usul Elsa.


Zara lekas mengangguk. Dia segera pergi menemui Afrijal.


Zara disuruh datang ke sebuah restoran. Kebetulan sekarang sudah jam tujuh malam. Dia merasa aneh menyaksikan suasana restoran sepi dari pelanggan. Zara bahkan disambut ramah oleh para pelayan. Ia dibimbing mendatangi meja makan yang ada di balkon. Di sana sudah ada Afrijal dan Gamal yang menunggu.


Melihat kedatangan Zara, Gamal langsung berdiri. Dia bergegas membawa Zara untuk bergabung. Saat itu Zara juga melihat Afrijal tersenyum lembut kepadanya. Sebuah senyuman yang telah lama tidak Zara lihat. Semenjak tujuh tahun Afrijal menyuruhnya pergi. Apa sekarang lelaki itu punya niat yang sama? Tetapi kenapa ada Gamal bersamanya? Terlebih keduanya terlihat memancarkan ekspresi bahagia. Seolah ada sesuatu yang terjadi.


"Ada apa ini?" alis Zara nyaris bertautan.


"Aku akan memesan makanan. Aku akan biarkan Papah bicara sama kamu," ujar Gamal. Dia beranjak dari meja sejenak. Kini hanya tinggal Afrijal dan Zara berdua.


"Ke-kenapa, Om?" akibat sikap dingin Afrijal, Zara masih tidak berani memanggilnya dengan sebutan Papah.


"Aku mau minta maaf atas segala apa yang pernah kulakukan kepadamu... aku melakukan semuanya karena aku terlalu terpaku melihat statusmu sebagai wanita biasa. Aku harusnya sadar lebih dulu. Bahwasanya kau memang sudah ditakdirkan untuk jadi pendamping Gamal..." mata Afrijal tampak berembun. Dia merasa bersalah mengingat semua perlakuannya kepada Zara.


Senyuman mengembang di wajah Zara. "Sebelum Om minta maaf, aku sudah memaafkan lebih dulu. Aku bahkan nggak pernah membenci Om. Aku tahu kalau apa yang Om lakukan itu demi kebaikan Gamal," tuturnya lembut.


"Terima kasih. Maafkan aku karena terlambat menyadarinya..." Afrijal menundukkan kepala. Sebagai orang tua, dirinya merasa malu.


"Sudahlah, Om. Tidak apa-apa." Zara mencoba menenangkan.


Hening menyelimuti suasana dalam sesaat. Afrijal berupaya menenggelamkan perasaan kalutnya. Hingga dia bisa melanjutkan obrolannya lagi dengan sang menantu.


"Ra, mulai sekarang panggil aku Papah ya?" imbuh Afrijal.


Tak perlu berpikir lama, Zara langsung mengangguk. Dia merasa senang dengan perubahan sikap Afrijal. Walau dirinya masih belum tahu penyebabnya.


"Oh iya, kami sudah melakukan usulanmu tempo hari. Kami sudah merubah sasaran pembelinya. Kau tahu apa yang terjadi? Saham perusahaan kita sukses besar!" Afrijal melebarkan kelopak matanya.

__ADS_1


"Benarkah?" Zara tak bisa membendung senyuman. Kebahagiaan bertambah dua kali lipat.


"Hebatnya, perusahaan kita sekarang juga berhasil mengalahkan perusahaan Baskara! Semuanya karenamu, sayang!" Gamal muncul dari belakang Zara. Memeluk mesra istrinya tersebut dari belakang. Kemudian memberikan kecupan singkat ke pipi Zara.


__ADS_2