Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 56 - Tiga Buah Ranjang


__ADS_3

...༻◐༺...


Setelah bertemu Selia, Zara jadi terus melamun. Bahkan saat sedang dalam perjalanan menuju rumah panti. Kebetulan mereka harus menjemput Zafran.


"Udah, jangan dipikirin... kau nggak merasa bersalah sama Selia kan?" tanya Gamal. Dia dan Zara sedang berada di dalam bus.


"Sedikit." Zara menjawab singkat.


"Aku rindu Zara yang tidak kenal takut," balas Gamal. Dia menatap Zara dengan sudut matanya. "Jangan berani pas di ranjang doang dong," cicitnya.


Zara sontak tersipu malu. Sikunya langsung menyenggol Gamal. "Apaan sih," katanya. Takut orang-orang sekitar akan mendengar.


Pembicaraan mereka berakhir di sana. Gamal dan Zara tiba di rumah panti. Keduanya harus bersiap-siap untuk pindah ke rumah baru.


Zafran langsung berlari ke pelukan Zara. Ketika sedang berada dalam dekapan ibunya, Zafran melirik ke arah Gamal. Dia tersenyum manis.


Setelah puas melampiaskan rindu, Zara perlahan melepas pelukan. Saat itulah Zafran berjalan ke hadapan Gamal.


"Om, kata Bi Wida dan Bunda, aku harus panggil Om dengan sebutan Ayah. Tapi aku nggak akan panggil Om dengan sebutan Ayah, sebelum Om janji nggak akan nyakitin Bunda aku," ujar Zafran. Mendongak untuk menatap Gamal yang memiliki badan tinggi semampai.


Gamal berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Zafran. Dia berucap, "Zafran... kalau Om nanti menyakiti Bunda kamu sedikit saja, Zafran bisa hukum Om dengan cara apapun. Pokoknya Om juga nggak akan memaafkan diri Om sendiri."


"Janji?" Zafran mengacungkan jari kelingking mungilnya.


"Janji!" Gamal dengan senang hati menyatukan jari kelingkingnya dengan milik Zafran. Mulai saat itu, Zafran akan menganggap Gamal sebagai ayahnya.


Zara merasa terenyuh kala menyaksikan interaksi Gamal dan Zafran. Rasanya dia ingin cepat-cepat pindah ke rumah baru. Membangun keluarga inti seutuhnya.


Gamal dan Zara menghabiskan waktu dua jam lebih di rumah panti. Semua barang-barang mereka sudah di angkat ke teras.


Gamal memanggil jasa ojek mobil untuk mengantarnya ke rumah baru. Dia, Zara, dan Zafran, segera pergi saat mobil jemputan sudah tiba.


"Zafran!" seorang anak perempuan bernama Cahya, memanggil. Dia sukses menghentikan langkah Zafran.


"Jangan lupa untuk terus mampir ke sini ya." Cahya memberikan sebuah kado kecil. Dia tersenyum dan menampakkan gigi depannya yang ompong.


"Itu pasti!" Zafran tersenyum lebar.

__ADS_1


Cahya terus melambaikan tangan. Bahkan ketika Zafran sudah berada di dalam mobil. Anak itu seakan tidak rela berpisah dengan Zafran. Rumah yang dipilih Zara dan Gamal, memang kebetulan berada di luar kota.


"Cahya sahabat dekatmu di panti ya?" tanya Gamal.


"Nggak. Dia pacarku kok." Zafran menjawab dengan santai.


Gamal dan Zara reflek bertukar pandang. Keduanya terkejut sekaligus tak percaya.


"Loh, Bunda pikir pacar kamu Ramanda?" Zara mencoba menggoda Zafran.


"Ramanda juga sih. Hilda juga iya," tanggap Zafran sembari membuka hadiah yang tadi diberikan Cahya.


"Astaga... sayang." Zara tergelak bersama Gamal sejenak. Bahkan sopir yang ada di depan ikut merasa gemas dengan perkataan Zafran.


"Emang pacar itu apaan? Kamu paham artinya nggak?" Zara kembali berucap.


"Teman baik kan? Cahya, Ramanda, dan Hilda baik banget sama aku," ungkap Zafran. Asal menyimpulkan dengan otak polosnya.


"Terus teman cowok kamu gimana? Kalau mereka baik, jadi pacar juga dong?" Gamal menimpali. Dia penasaran dengan respon sang putra.


"Justru mereka yang bilang kalau Hilda, Ramanda, dan Cahya pacar aku..." Zafran memajukan bibirnya dengan gamblang. Dia mengeluarkan mainan yang ada dari dalam kado.


"Jangan sampai dia jadi playboy kayak kau dulu," bisik Zara.


"Loh kok aku. Bukannya kau yang sering gonta-ganti pacar?" balas Gamal.


"Enak aja. Pacar pertamaku itu kamu loh. Kamu lupa ya, pas kita putus dulu? Kamu langsung pacarin cewek yang namanya Olive!" Zara tak mau kalah.


Gamal akhirnya tidak bisa berkata-kata. Dia dulu memang seorang playboy. Terutama saat masih menginjak SMA.


"Tapi itu dulu, sekarang nggak lagi. Aku juga nggak akan biarin Zafran begitu!" cetus Gamal bertekad. Dia melirik ke arah Zafran.


"Aku akan ingat ucapanmu itu." Zara mengarahkan jari telunjuk ke wajah Gamal.


"Aku sayang kamu!" Gamal sengaja melantunkan kalimat jitu agar Zara berhenti mengungkit tentang masa lalu. Saat waktu berselang cukup lama, mereka tiba di tempat tujuan.


Gamal, Zara, dan Zafran langsung memeriksa rumah baru mereka. Satu per satu ruangan dijelajahi. Rumahnya terbilang sangat sederhana. Namun cukup mampu menjadi tempat yang nyaman untuk berlindung.

__ADS_1


Ketika Zara dan Zafran sibuk melihat-lihat halaman belakang, Gamal diam-diam memeriksa dompet. Dia melihat persediaan uangnya tinggal sedikit. Apalagi setelah memakai jasa ojek mobil tadi. Biayanya mahal karena Gamal menempuh perjalanan cukup jauh.


Gamal merasa harus secepatnya mendapat pekerjaan. Dia ingin menjadi kepala keluarga yang baik.


Puas melihat-lihat, Gamal, Zara, dan Zafran, saling membantu merapikan barang. Terutama pakaian mereka masing-masing. Keadaan rumah masih kosong melompong dari perabotan.


"Kita harus ngumpulin uang buat lengkapin semuanya," ungkap Zara. Dia mengaitkan tangan ke lengan Gamal. Meletakkan kepala ke pundak suaminya itu.


"Kita lakukan semuanya pelan-pelan," jawab Gamal.


Baru mengeluhkan perihal perabotan, dua buah truk tiba-tiba datang. Kendaraan tersebut membawa banyak barang perabotan. Ternyata semua itu adalah hadiah pernikahan dari Raffi dan kawan-kawan.


"Mereka mau bantu seberapa banyak coba? Aku merasa berhutang banyak," komentar Gamal yang merasa tidak enak.


"Mendingan kamu ngomong baik-baik sama Raffi. Nggak baik kalau kita morotin uang mereka terus." Zara sependapat dengan Gamal. Meskipun begitu, mereka akan menerima barang-barang yang terlanjur datang.


Pertama, Gamal dan Zara mendapat hadiah berupa tiga buah ranjang dari Tirta. Dia bahkan mendapat catatan dari temannya tersebut.


...'Aku tahu kalau kau dan Zara suka main di ranjang. Biar punya banyak cadangan, aku kasih tiga sekalian. Enjoyyy...'...


Pesan dari Tirta membuat Gamal terkekeh. "Tapi nggak perlu sampai tiga kali! Kampret banget Tirta," gumamnya.


"Gila! Rumah kita penuh sama ranjang," seru Zara seraya geleng-geleng kepala.


"Udah, ini berguna kok. Biar kita bisa main dimana-mana," tanggap Gamal. Zara sontak memukul pantatnya.


"Hush! Zafran nanti dengar lagi. Nanti dia tanya kita mau main apa," tukas Zara sambil menatap Zafran yang asyik melompat-lompat di atas ranjang.


Gamal dan Zara segera berdalih ke hadiah berikutnya. Yang tidak lain dari Raffi dan Elsa.


Hadiah dari Raffi dan Elsa berupa televisi dan kulkas besar. Zara tersenyum kecut saat melihat penampakan alat elektronik itu.


"Nah, ini baru bagus. Kepintaran Raffi nggak perlu diragukan." Gamal senang melihat hadiah dari Raffi.


"Iya sih, tapi kau mikirin bayar listriknya nggak sih?" ucap Zara.


Gamal yang tadinya tersenyum, langsung merubah raut wajahnya menjadi datar. "Benar juga ya," imbuhnya sambil mengelus-elus dagu dengan jari-jemari.

__ADS_1


"Mending jangan di pakai dulu sebelum uang kita mencukupi, oke?" walau di hadapi masalah keuangan, Gamal dan Zara berusaha saling mengerti. Lagi pula itu merupakan dampak dari pilihan mereka sendiri. Apapun yang terjadi, mereka bertekad bertahan sampai akhir.


__ADS_2