Affair Dengan Cinta Pertama

Affair Dengan Cinta Pertama
Bab 66 - Akibat Perselingkuhan


__ADS_3

...༻◐༺...


Baik Zara maupun Selia, tidak ada yang mau mengalah. Keduanya saling mencengkeram kalung berlian sekuat tenaga.


Zara benar-benar dibuat geram akan sikap Selia. Hingga akhinya satu kakinya bergerak untuk menginjak kaki gadis itu.


"Aaaa!" Selia reflek mengerang kesakitan. Saat itulah Zara dapat mengambil kalung berlian sepenuhnya. Lalu memberikannya kepada pramuniaga agar dibungkuskan.


"Dasar pelakor!" cerca Selia sembari mengarahkan jari telunjuk kepada Zara.


Zara tak acuh. Dia bergegas membayar dan mendapatkan kalung yang di inginkannya. Lalu beranjak pergi dari toko perhiasan. Mulutnya perlahan tersenyum miring.


Kini Selia mengamuk sendiri. Dia kalah telak dengan pergerakan Zara yang gesit.


Di sisi lain, Gamal baru kembali bekerja ke perusahaan. Dia menemukan keadaan saham benar-benar anjlok. Semua kesuksesan sudah di ambil alih oleh keluarga Baskara.


Rapat besar-besaran dilakukan oleh seluruh petinggi perusahaan. Termasuk Afrijal sendiri. Mereka harus mencari jalan keluar akibat krisis yang terjadi.


Proses rapat dilakukan nyaris seharian. Gamal dan yang lain masih menemukan jalan buntu.


Sebagai orang yang berbuat ulah, Gamal jadi merasa bersalah. Dia ingin membantu dengan maksimal. Namun belum menemukan jalan keluar.


Gamal bahkan sengaja lembur hari itu. Dia berusaha menemukan cara untuk membangkitkan saham perusahaan. Mengingat dirinya juga pernah menangani perusahaan krisis saat memimpin Relangga Group.


Ponsel Gamal berdering. Ia mendapatkan telepon dari Zara.


"Apa kau lembur? Padahal ini hari pertama bukan?" tanya Zara dari seberang telepon.


"Benar. Aku hanya berusaha mencari jalan keluar. Saham perusahaan mengalami krisis yang parah. Semuanya sudah di dominasi perusahaan milik keluarga Baskara," jelas Gamal sembari mengusap kasar wajahnya.


"Pulanglah. Ini sudah terlalu malam, sayang. Kau juga harus berisitirahat. Bagaimana mualmu? Sudah berhenti kan?"


"Agak berkurang dibandingkan sebelum-sebelumnya. Ya sudah, aku akan bersiap untuk pulang." Pembicaraan Gamal dan Zara berakhir.


Gamal segera mengambil jasnya. Kemudian beranjak dari kantor.


Di perjalanan, Gamal singgah ke mini market. Seperti biasa, dia selalu ingin membawa sesuatu saat pulang ke rumah. Kebiasaannya itu tidak berubah. Padahal hari sudah menunjukkan jam sepuluh malam.

__ADS_1


Gamal memilah-milih belanjaan yang dia mau. Lalu barulah melakukan pembayaran ke meja kasir.


Betapa terkejutnya Gamal, tatkala menyaksikan Aldi menjadi kasir di mini market. Aldi sendiri merupakan salah satu karyawan Relangga Group. Entah apa alasannya Aldi bisa sampai bekerja di mini market.


"Aldi? Kau kerja di sini?" kelopak mata Gamal melebar.


Aldi memasang raut wajah datar. Matanya menilik Gamal dari ujung kaki hingga kepala. Mantan direkturnya itu masih tidak berubah. Dengan setelan jas rapi dan mahal seperti biasa.


Padahal setahu Aldi, Gamal dikabarkan didepak dari keluarga Laksana karena berselingkuh. Kabar tersebut sudah tersebar luas kepada semua karyawan di Relangga Group. Mereka juga tahu kalau wanita selingkuhan Gamal adalah Zara.


"Bagaimana kabarmu? Kenapa kau bekerja di sini?" Gamal bertanya lagi karena Aldi tidak kunjung menjawab.


"Kenapa?! Semua ini gara-garamu dan pekerja cleaning service itu!" sahut Aldi ketus.


Gamal terhenyak. Dia tidak bisa memahami apa yang dimaksud Aldi.


"Kenapa aku?" dahi Gamal berkerut.


"Karena kau lebih memilih selingkuh, maka otomatis kau didepak dari keluarga Laksana. Dan bila itu terjadi, maka Relangga Group pasti akan jatuh. Perusahaan itu sudah ditutup! Sekarang banyak sekali karyawan yang menganggur!" Aldi memberitahukan segalanya dengan gamblang.


"Maafkan aku..." lirih Gamal. "Aku dan Zara tidak menyangka akan membuat Relangga Group ditutup," sambungnya.


Aldi yang tadinya membuang muka, perlahan menatap iba Gamal. Dia sebenarnya tidak membenci Gamal. Aldi hanya kecewa karena terlalu banyak berharap kepada lelaki itu.


"Semua tidak sepenuhnya salahmu. Sebelum kau jadi direktur, Relangga Group memang sudah di ambang kehancuran. Kau hanya memberikan harapan kepada kami dalam sesaat," ungkap Aldi. Dia menghitung semua barang belanjaan Gamal. Lalu memasukkannya ke dalam plastik.


Gamal mengangguk lemah. Dia menatap nanar Aldi. Dirinya ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur mantan karyawannya itu. Akan tetapi Gamal tak bisa menjanjikan apapun. Ia tidak dapat berjanji jika segalanya masih belum pasti. Alhasil Gamal memilih pergi saja.


"Terima kasih." Hanya kalimat itu yang terucap di mulut Gamal. Dia beranjak dengan perasaan kalut.


Gamal jadi merenung ketika dalam perjalanan. Dia mendapatkan sentilan kehidupan. Gamal tidak menyangka banyak orang yang menderita akibat kelakuan buruknya. Berselingkuh memang mudah dijalani. Namun memiliki dampak yang sangat buruk. Dampak paling besarnya adalah menyakiti hati banyak pihak yang tak bersalah.


Sesampainya di rumah, Gamal langsung menghampiri Zara ke kamar. Memeluk erat istrinya dengan perasaan kalut.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Zara bertanya saat mendengar dengusan hidung Gamal. Dia yakin, sang suami sedang menangis.


"Aku baik-baik saja," jawab Gamal seraya melepas dekapan. Kemudian menghapus cairan bening yang hampir menetes dari sudut matanya. Gamal mampu menahan tangisnya dengan baik. Dia bertekad merahasiakan nasib Relangga Group kepada Zara. Gamal tidak mau menambah pikiran istrinya. Terlebih Zara sedang hamil sekarang.

__ADS_1


"Kau kenapa? Kok nangis?" Zara menangkup wajah Gamal. Menunjukkan ekspresi cemas dengan paras cantiknya.


"Aku hanya sedikit pusing," jawab Gamal. Mencoba tersenyum agar Zara tidak khawatir.


"Kau mau aku siapkan air hangat untuk mandi? Mau aku mandikan?" tawar Zara. Mencoba menghibur Gamal.


"Apaan sih. Mau balas dendam ya kamu?" Gamal beranjak ke depan kamar mandi. Ia melepas pakaian satu per satu.


"Nggak kok. Tawaranku tulus. Aku siapkan bathtub-nya dulu ya," ujar Zara sambil melenggang masuk ke kamar mandi.


"Ya ampun, sayang. Aku..." Gamal tidak bisa menghentikan Zara. Istrinya tersebut sudah sibuk berkutat dengan air dan sabun di bathtub.


Gamal akhirnya tidak punya pilihan lain selain menerima. Dia masuk ke kamar mandi dan memperhatikan Zara menyiapkan bathtub.


Setelah menuang sabun, Zara menyuruh Gamal untuk masuk ke bathtub. Sementara dirinya terlihat menanggalkan dress yang dikenakan. Hingga hanya menyisakan bra dan celana pendek sepangkal paha.


Gamal masuk ke bathtub dalam keadaan masih mengenakan boxer. Menyaksikan hal itu, Zara sigap bergerak.


"Aduh... kenapa pakai celana coba?" kritik Zara sambil melepas paksa boxer yang dikenakan suaminya. Dia sempat-sempatnya menepuk pantat Gamal yang sudah telanjang.


Gamal terkekeh geli atas segala perlakuan sang istri. Dia merasa diperlakukan seperti anak kecil.


Usai melepas seluruh pakaian, Gamal berendam dalam bathtub. Dia membiarkan Zara membilas tubuhnya.


"Kau harusnya ikut bergabung denganku," ujar Gamal. Dia masih tampak lesu.


"Aku baru saja mandi tadi. Kau datang terlalu lambat." Zara menjawab sembari menggosok dada bidang Gamal. Dia menyadari kesenduan yang ditunjukkan sang suami.


Zara tersenyum licik. Muncul niat balas dendam dalam dirinya. Jari-jemarinya segera bergerak untuk menggelitiki perut Gamal yang berotot. Zara melakukannya sambil tertawa puas. Namun Gamal sama sekali tak bergeming.


"Kamu nggak geli?" tanya Zara heran.


Gamal pura-pura tertawa sebentar. Dia melakukannya agar Zara tidak kecewa. Padahal dirinya benar-benar tidak merasa geli dengan gelitikan.


"Jangan bohong! Tawamu terdengar dipaksa." Zara cemberut. "Ya udah mandi sendiri gih!"


"Loh kok dibilang bohong? Aku beneran geli loh. Sayang, Jangan ngambek dong!" seru Gamal. Tetapi Zara terlanjur beranjak dari kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2